Penggembala dari Dua Dunia - 3

Ilustrasi dua tokoh di padang rumput tepi Sungai Cimanuk saat senja. Seorang pemuda bernama Candrakara mengenakan baju putih biru muda dan kain batik biru berdiri membelakangi Batari, perempuan berkebaya merah bersanggul bunga melati. Di langit tampak cahaya jingga dan bulan utuh — simbol pertemuan dua dunia.
Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning

 

Bab 3 – Keputusan Batari

 

Kabut pagi menyingkap perlahan dari atas pepohonan. Di antara kabut yang lembut itu, seberkas cahaya samar menari-nari, seperti sisa cahaya lilin yang enggan padam. Itulah ruh Batari Melati — tak sepenuhnya berada di dunia, tapi juga belum benar-benar meninggalkannya. Setengah jiwanya terikat pada tanah tempat jasadnya bersemayam, sementara setengahnya lagi melekat pada sosok penjaga yang telah mengabdi sejak masa leluhur: sang jin penjaga, Nyi Lembayung.

 

Angin berdesir pelan, membawa harum melati dari reruntuhan tempat Batari dulu gugur. Ruh itu tampak diam, namun dari matanya memancar kerinduan yang tak terucap — bukan hanya pada kehidupan yang pernah ia miliki, tetapi juga pada seseorang yang kini tanpa sadar sedang ia jaga dari kejauhan: Candrakara.

 

“Dunia ini tak lagi sama,” bisik Batari lirih. “Aku dan dia kini terpisah oleh lapisan waktu dan wujud.”

 

Suara jin penjaga menjawab dari balik kabut, dalam nada yang tenang namun bergetar oleh penghormatan.

 

“Tuan putri, bahkan ruh seagung dirimu tak seharusnya menanggung kesedihan seperti itu. Dunia manusia hanyalah fana, sedang kau adalah cahaya abadi.”

 

Batari menunduk. Ada lembut duka di sorot matanya. “Aku tahu,” ujarnya. “Tapi entah mengapa, sejak ruhku melihat Candra, hatiku bergetar seperti dulu ketika aku masih bernapas. Ada sesuatu dalam dirinya... entah apa, tapi aku merasa... seolah takdirku belum selesai.”

 

Nyi Lembayung mendekat, tubuhnya seperti asap yang membentuk wujud seorang perempuan tua berbusana hitam berikat kepala.

Ia berlutut di hadapan sang putri. “Bila itu perasaan yang datang dari sisa kehidupanmu, biarlah hamba yang menjaganya, agar tak mengganggumu dalam perjalanan menuju Sang Cahaya.”

 

Batari tersenyum tipis, menatap jin penjaganya dengan rasa haru. “Kau sudah lama bersamaku, Lembayung. Aku tahu tak seharusnya aku masih memikirkan dunia. Tapi ada sesuatu pada Candrakara... sesuatu yang menautkan kami. Mungkin... bagian dari takdir lama yang belum rampung.”

 

Jin itu menundukkan kepala lebih dalam. “Hamba tahu, Tuan Putri. Leluhurmu dulu juga berjanji pada garis darahnya sendiri, bahwa akan ada satu pertemuan antara cahaya dan tanah. Mungkin... Candrakara adalah jawabannya.”

 

Batari menarik napas panjang, meski sebenarnya ruh tak butuh udara. “Lembayung, bila waktu itu tiba, bila aku harus pergi dan kembali menjadi debu, sudikah engkau memenuhi satu titah dariku?”

 

“Apapun itu, Tuan Putri. Hamba akan mematuhinya.”

 

Batari menatap jauh ke arah timur, di mana fajar mulai merekah. “Aku akan memisahkan setengah energiku untukmu. Dengan kekuatan itu, kau akan bisa membimbing Candrakara — ajari dia menjadi manusia yang kuat hatinya, yang bijak menimbang, dan lembut dalam tutur kata. Saat aku tak lagi di sini, kaulah penjaga untuknya.”

 

“Menjaga manusia?” Lembayung sedikit tertegun. “Apakah dia begitu penting bagimu, Tuan Putri?”

 

“Lebih dari yang bisa aku jelaskan.”

Batari tersenyum tipis. “Ia bukan hanya manusia, Lembayung. Ia adalah cermin dari masa lalu yang pernah aku perjuangkan. Dalam dirinya, aku melihat kesetiaan, keberanian, dan luka yang sama seperti yang dulu aku rasakan. Bila aku bisa menebus sesuatu, biarlah lewat hidupnya.”

 

Ruh itu lalu menatap cincin emas yang melingkar di jari manis tangan kanannya — satu-satunya peninggalan dari dunia manusia. Ukiran di permukaannya tampak berpendar, seolah menyimpan janji kuno.

 

“Sampai waktuku tiba,” katanya dengan suara tegas namun lirih, “aku akan berpisah darimu, wahai Lembayung. Karena aku tak memiliki keturunan, kuperintahkan kau untuk menjadi penjaga Candrakara. Jagalah ia, dan teruskan penjagaan itu sampai keturunan Candrakara memiliki anak perempuan. Saat itulah, penjagaanmu akan menemukan ujungnya.”

 

Nyi Lembayung terdiam lama. Angin berhenti. Burung-burung pun seperti menahan napas.

Akhirnya ia berlutut, menunduk sampai wajahnya hampir menyentuh tanah.

 

“Hamba sudah menjadi penjaga leluhurmu bahkan sebelum engkau lahir, Tuan Putri. Semua perempuan dalam garis darahmu adalah manusia yang suci dan berhati luhur. Hamba menghormati mereka — dan engkau, lebih dari siapa pun. Maka titahmu adalah kehormatan bagi hamba. Aku akan melakukannya.”

 

Batari menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih... saat waktuku tiba, aku akan mengumpulkan sisa energiku agar bisa berbicara padanya — bukan sebagai ruh, tapi sebagai Batari Melati yang pernah hidup. Aku ingin menyerahkan cincin ini padanya... agar ia tahu, dunia tidak benar-benar terpisah.”

 

Lembayung mengangguk. “Dan hamba akan memastikan ia menerima pesanmu, Putri.”

 

Hening sejenak.

Hanya suara embun yang jatuh dari daun ke tanah.

 

---

 

Hari-hari berlalu di antara dua dunia yang tak saling bersentuhan. Candrakara terus datang ke sungai tempat pertama kali ia melihat Batari. Ia duduk di batu besar, mendengarkan arus air mengalir, berharap bisa merasakan kehadiran yang dulu meneduhkan hatinya.

Kadang, angin berhembus lembut menyentuh wajahnya — dan dalam hembusan itu, ada wangi melati samar.

 

Di tempat lain, Batari memperhatikan dari balik kabut, menatap sosok manusia itu dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.

Rasa hangat yang tak semestinya tumbuh di antara dua dunia mulai bersemi.

 

“Andai aku masih hidup,” bisik Batari dalam hati, “aku ingin mengenalnya seperti manusia mengenal manusia.”

 

Lembayung mendengar bisikan itu, tapi tak berani menegur. Ia tahu betapa dalam perasaan yang disembunyikan sang Putri.

Dan di suatu malam ketika bulan bundar memantulkan cahayanya ke permukaan air, Candrakara kembali ke tepi sungai. Ia merasa dipanggil oleh sesuatu — oleh getar yang tak kasat mata.

 

“Batari...” panggilnya perlahan.

 

Cahaya samar muncul dari permukaan air. Ruh Batari menampakkan diri, lembut seperti kabut, namun kali ini lebih nyata. Ia menatap Candra dengan mata yang basah oleh kerinduan tak bernama.

 

“Candra...” suaranya bergetar, seolah menyentuh hati langsung.

“Aku hanya ingin melihatmu sekali lagi.”

 

Candrakara terdiam, langkahnya tertahan. “Kau... kau tampak berbeda malam ini.”

 

“Aku telah memutuskan sesuatu,” ujar Batari. “Waktuku di dunia ini hampir usai. Tapi sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu... bahwa kau akan menjadi orang yang kuat dan bijaksana.”

 

Candra menatapnya tak mengerti. “Kenapa aku? Siapa aku bagimu, Batari?”

 

Batari hanya tersenyum — senyum yang menyakitkan karena penuh rahasia. “Kau adalah yang terakhir melihatku. Itu saja sudah cukup bagiku.”

 

Candra hendak bicara lagi, tapi angin bertiup kencang, membawa suara samar seperti doa.

 

“Sampai waktuku tiba, Candrakara...

ingatlah, setiap air yang mengalir di sungai ini akan membawa namaku padamu.”

 

Cahaya di sekeliling Batari mulai redup. Tapi sebelum ia benar-benar lenyap, cincin emas di jarinya berpendar terang. Ia menatapnya untuk terakhir kalinya, lalu memandang ke arah Lembayung yang berdiri di balik kabut.

 

“Sekarang, lakukan titahku. Bimbinglah dia.”

 

Lembayung menunduk dalam, lalu menghilang bersama Batari ke dalam kabut, meninggalkan Candrakara yang berdiri di bawah bulan, memandangi air yang berkilau lembut seolah memantulkan wajah seseorang yang tak lagi ada.

 

---

 

Sejak malam itu, Candra berubah.

Ia mulai sering berbicara dengan dirinya sendiri, seperti berdoa di tepi sungai. Ia tak tahu bahwa setiap bisikannya dijawab oleh Lembayung dalam bentuk petunjuk — suara hati yang membimbingnya dari dalam.

 

Setiap kali ia menutup mata, ia melihat sosok Batari tersenyum lembut sambil membawa sekuntum melati.

Dan di dalam mimpinya, suara itu terus bergema:

 

 “Menjadi kuat bukan berarti tak pernah menangis, Candra...

 tapi tahu kapan harus melangkah, dan kapan harus melepaskan.”

 

Batari telah membuat keputusan.

Ia melepaskan dunia manusia, tapi meninggalkan cintanya dalam bentuk pelajaran — agar seseorang yang dicintainya bisa menjadi manusia yang lebih bijak daripada dirinya sendiri.

 

Dan di dasar reruntuhan, terbaring tubuh Batari Melati yang telah menyatu dengan bumi.

Namun pada jari tangan kanannya, cincin emas itu masih melingkar di jari manisnya... menunggu waktu ketika takdir kembali mempertemukan dua dunia yang terpisah oleh kehidupan dan kematian.

 

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar