![]() |
| Ilustrasi perempuan cantik misterius sedang berjalan di samping parit besar - Blog Cerita Kemuning |
Halo, teman-teman pembaca setia Cerita Kemuning. Kali ini aku ingin berbagi sebuah kisah yang dulu pernah diceritakan Almarhum Kakekku, ketika aku masih duduk di bangku SMP. Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tapi cerita misteri yang sudah lama hidup di kampung kami, diwariskan dari mulut ke mulut.
Cerita ini tentang sosok perempuan cantik yang selalu mengenakan kebaya dan kain samping. Konon, siapa pun yang berhasil merebut kain sampingnya akan mendapat kekayaan berlimpah. Tapi... tak ada satu pun yang berhasil mendekatinya, sebab auranya saja sudah membuat siapa pun gemetar ketakutan.
Aku masih ingat, gara-gara cerita ini aku tak pernah berani ke kamar mandi malam-malam sendirian. Hehe. Nah, sekarang aku tuliskan kembali kisah itu untuk kalian. Selamat membaca cerpen “Kain Samping Perempuan Cantik”
---
Kain Samping Perempuan Cantik
Di kampung kecil di kaki bukit, ada sebuah parit besar yang airnya mengalir jernih dari mata air di bawah pohon tua bernama Ki Hujan. Pohon itu menjulang gagah, daunnya rimbun, dan akarnya seakan menjadi penopang bumi. Konon, di sanalah bermukim para penghuni tak kasatmata yang menjaga sumber air untuk pemandian umum.
Namun, bukan hanya Ki Hujan yang menyimpan cerita. Ada kisah lain yang turun-temurun dibisikkan dari mulut ke mulut: kisah tentang seorang perempuan cantik yang selalu muncul di sekitar parit besar itu.
Perempuan itu digambarkan luar biasa elok. Rambut hitam panjangnya terurai sampai punggung, berkilau seperti disisir embun pagi. Ia selalu mengenakan kebaya halus dan sehelai kain samping yang dililit rapi dari dada hingga menutupi lutut. Sosoknya berjalan perlahan, kadang menunduk, kadang melangkah anggun seperti sedang menuju pesta.
Namun, keindahan itu menyimpan misteri. Konon, siapa saja yang berhasil mendapatkan kain samping yang ia kenakan akan digelontorkan kekayaan tak terkira. Uang, emas, dan segala kemewahan akan mengalir tanpa henti. Tapi syaratnya satu: kain itu harus direbut tanpa sepengetahuannya.
Tentu saja banyak orang tergiur. Beberapa pemuda kampung pernah nekat menunggu di dekat parit saat malam hari. Mereka mengaku melihat sosok itu berjalan pelan, hanya terlihat dari belakang. Dari jauh saja, bulu kuduk langsung berdiri. Ada yang gemetar, ada yang sampai tak bisa melangkah, bahkan ada yang jatuh pingsan hanya karena melihat kibasan rambutnya yang bergoyang setiap kali ia berjalan.
Suatu sore, kakek bercerita sambil menyalakan rokok lintingnya. Aku duduk di sampingnya, menahan rasa ingin tahu.
“Kakek, memangnya ada yang pernah berhasil ngambil kainnya?” tanyaku, setengah berbisik.
Kakek terkekeh, lalu menggeleng pelan. “Teu aya. Pamorna kuat teuing. Ti tukang wae ningalikeunana, awak geus rontok kabeh.”
(Tidak ada. Auranya terlalu kuat. Dari belakang saja melihatnya, badan sudah gemetar semua.)
Aku menelan ludah. “Berarti kalau ketemu...?”
Kakek menatapku serius. “Ulah sok hayang nu instan, Neng. Lamun kahayangna meunang emas jeung banda, bisa-bisa nyawa nu ngalayang.”
(Jangan suka ingin yang instan. Kalau hanya mengejar emas dan harta, bisa-bisa nyawa yang hilang.)
Mama yang sejak tadi mendengarkan ikut menimpali. “Itu sebabnya, kalau malam jangan suka keluyuran dekat parit. Biarin saja kalau orang dewasa bilang itu hanya cerita. Tapi untuk anak-anak, lebih baik percaya.”
Cerita itu begitu melekat di ingatanku. Waktu aku masih duduk di bangku SMP, setiap kali ingin ke kamar mandi malam-malam, aku tak pernah berani pergi sendiri. Aku selalu minta ditemani nenek, mama, atau bahkan adikku yang baru berusia delapan tahun. Bayangan perempuan cantik dengan kain sampingnya seakan mengintai di sudut gelap belakang rumah.
Orang-orang bilang, hingga kini belum ada satu pun yang berhasil merebut kain samping itu. Sosok perempuan cantik itu masih tetap menjadi misteri. Ada yang percaya ia jelmaan penunggu Ki Hujan, ada yang bilang ia hanya ilusi, ada pula yang bersumpah pernah benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Yang jelas, cerita tentang perempuan berkebaya itu tetap hidup. Ia menjadi bagian dari mitos kampung kami, sekaligus pengingat bahwa tidak semua yang cantik dan memesona bisa begitu saja kita dekati. Ada kalanya, keindahan hanyalah tabir dari sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
---
Apakah di kampungmu juga ada cerita serupa? ☺
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar