![]() |
| Ilustrasi: perempuan dan sungai — simbol perjalananku dalam menulis dan menerima hidup - Blog Cerita Kemuning |
Ada satu hal yang sering aku ulang-ulang dalam hati: hidup ini bukan perlombaan siapa yang paling bahagia, tapi perjalanan siapa yang paling mau belajar.
Dan bagiku, belajar itu bisa lewat banyak cara—lewat jatuh cinta, lewat kecewa, lewat kehilangan, bahkan lewat menulis.
Aku selalu percaya bahwa setiap orang punya dunia masing-masing. Ada yang dunianya musik, ada yang tenggelam di angka-angka, ada yang bersemangat setiap kali bicara tentang bisnis atau desain. Aku? Aku punya tiga dunia. Dunia pertamaku bernama Ade Runi—putriku, alasan paling lembut sekaligus paling kuat yang membuat aku ingin terus melangkah. Dunia keduaku adalah fotografi, tempat aku belajar menangkap keindahan dalam hal-hal sederhana. Dan dunia ketigaku, yang sedang aku pelajari dengan sepenuh hati sekarang, adalah menulis.
Menulis, bagiku, bukan sekadar mengetik di layar laptop atau ponsel.Bukan juga soal berapa banyak pembaca yang akan menyukai tulisanku—walaupun ya, awalnya sempat berharap tulisanku ramai pembaca. Tapi kalau ramai dan ternyata ceritanya terasa hambar, malah bikin aku ngomel sendiri: “Kemuning, peras otakmu sedikit lagi, kayak waktu kamu memeras cucian baju dan baju putrimu tadi!” 😆. Jadi sekarang aku lebih fokus bikin tulisan yang hidup dulu. Lagipula, kalau ada yang baca dan bilang, “Tulisanku relate banget,” aku bisa senyum seharian. Namanya juga manusia, bukan malaikat konten.
Menulis adalah tentang menata isi kepala dan hati sendiri. Kadang aku menulis dengan perasaan riang, kadang dengan air mata yang menetes diam-diam. Tapi apa pun bentuknya, setiap kalimat yang kutulis seperti doa yang kubisikkan untuk masa depanku sendiri.
Ketika Kata Menjadi Rumah
Aku mulai menulis dengan niat sederhana: agar aku bisa punya tempat pulang selain ingatan. Dulu, aku sering merasa kehilangan arah. Terlalu banyak hal yang terjadi—perpisahan, kekecewaan, luka yang tidak sempat sembuh, dan diam yang menumpuk di dada. Tapi begitu aku menulis, entah kenapa rasanya seperti duduk di depan jendela sore hari sambil menyeruput kopi moccachino hangat. Ada tenang yang tidak bisa dijelaskan.
Aku tidak pernah berencana menjadi “penulis besar”. Aku
hanya ingin menjadi seseorang yang bisa jujur dengan dirinya sendiri. Setiap
kali aku menulis, aku seperti berbicara dengan diriku di masa lalu—versi diriku
yang masih takut, yang masih bingung, yang dulu mungkin terlalu berharap pada
orang lain. Lewat tulisan, aku menenangkan dia, memeluk dia, dan berkata, “Kita baik-baik saja sekarang.”
Menulis membuatku sadar bahwa setiap orang punya ceritanya masing-masing. Ada yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu, ada yang masih mencari makna dari sebuah perpisahan, dan ada juga yang diam-diam berdoa agar esok lebih baik. Dan lewat tulisanku, aku ingin bilang: “Nggak apa-apa kalau kamu sedang berjuang. Aku juga kok.”
Tentang Mood, Niat, dan Laptop yang Kadang Jadi Sahabat
Aku sering melihat banyak penulis, juga seniman di bidang lain, tampak begitu mudah melahirkan karya. Tinggal buka laptop, ketik, selesai. Atau ada yang cukup membawa kertas dan pulpen, lalu terciptalah sebuah lagu lengkap dengan nadanya. Ada juga yang datang membawa kanvas, kuas, dan cat warna—dan entah bagaimana, lahirlah sebuah lukisan yang bahkan tak terpikir oleh pemikiran lempengku ini.
Dari situ aku semakin paham, bahwa manusia memang diciptakan dengan takdir dan jalannya masing-masing. Tak mungkin ada karya besar yang dikenal orang kalau tidak ada niat untuk mencoba dan terus belajar. Dan aku juga semakin mengerti, bahwa ilmu tidak selalu hanya didapat dari sekolah. Karena menulis, sama seperti karya seni lainnya, bukan cuma soal jari yang menekan-nekan papan ketik, tapi tentang hati yang sedang ingin bicara.
Ada hari-hari di mana aku membuka laptop, menatap layar kosong, dan berkata dalam hati: “Hari ini aku ingin menulis sesuatu yang baik.” Lalu, lima menit kemudian aku malah scrolling media sosial dan lupa apa yang mau kutulis.
Ada juga hari-hari di mana aku menulis lewat ponsel, di sela waktu menunggu anak tidur siang, atau ketika sedang duduk di kamar sendirian. Aneh, tapi di momen-momen seperti itu justru ide datang dengan lancar. Mungkin karena saat itu aku tidak sedang memaksa, hanya membiarkan pikiranku mengalir.
Menulis itu seperti bercakap dengan diri sendiri. Kadang penuh logika, kadang absurd. Tapi yang penting bukan seberapa cepat kita menulis, melainkan seberapa tulus kita ingin menyampaikan sesuatu. Karena kalau niatnya baik, biasanya kalimat akan menemukan jalannya sendiri.
Dan, ya, menulis tetap butuh mood. Aku bukan tipe orang yang bisa menulis dengan ekspresi datar atau perasaan kosong. Kalau sedang sedih, tulisanku jadi lembut. Kalau sedang bahagia, kalimatnya bisa jadi panjang dan penuh tawa. Tapi aku nggak pernah memaksa. Karena buatku, mood bukan alasan untuk berhenti, melainkan cara untuk lebih jujur dalam menulis.
Ketika Menulis Menjadi Doa
Pernah suatu malam, aku menulis sambil menangis. Bukan karena sedih, tapi karena tiba-tiba aku merasa didekap oleh rasa syukur. Tulisanku malam itu tentang ibuku—perempuan yang paling banyak mengajarkan aku tentang arti sabar dan cinta tanpa syarat. Dari beliau aku belajar, bahwa setiap luka bisa berubah jadi doa kalau kita mau mengikhlaskannya.
Sejak itu, aku punya prinsip kecil dalam menulis: tulislah yang baik-baik saja.
Bukan berarti aku menutup mata dari hal buruk, tapi karena aku percaya apa pun yang kita tulis akan kembali ke diri kita. Kalau aku menulis tentang kebaikan, berarti aku sedang mendoakan kebaikanku juga. Kalau aku menulis tentang maaf, berarti aku sedang belajar memaafkan masa laluku sendiri. Dan kalau aku menulis tentang cinta, berarti aku sedang menyiapkan ruang untuk cinta yang baru—entah untuk seseorang, atau untuk versi terbaik diriku di masa depan.
Menulis bagiku seperti ritual kecil. Tidak sakral, tapi punya makna. Aku tidak butuh lilin atau musik tertentu, cukup suasana hati yang jujur. Kadang aku mulai dengan satu kalimat sederhana: “Hari ini aku ingin bercerita…” dan dari situ semua mengalir.
Antara Realita, Fantasi, dan Ingatan
Walaupun aku suka menulis yang manis-manis, bukan berarti aku tidak pernah menulis tentang hal-hal yang lebih gelap. Kadang aku menulis kisah horor atau fantasi, bukan karena aku ingin menakut-nakuti, tapi karena aku sedang mengingat masa kecilku—cerita-cerita dari almarhum kakek, dari tetangga, atau dari malam-malam saat listrik padam dan semua orang berkumpul sambil bercerita.
Menulis fantasi membuatku merasa bebas. Tidak ada batasan antara kenyataan dan imajinasi. Sementara menulis tentang masa lalu membuatku lebih mengenal diriku. Kadang, di antara semua kisah itu, aku menemukan serpihan kecil dari diriku sendiri yang dulu pernah hilang.
Tapi aku selalu kembali pada satu hal: aku ingin menulis yang baik-baik. Karena aku menulis bukan untuk melarikan diri dari hidup, tapi untuk memahami hidup.
Dan meski banyak kisah pahit yang pernah kulalui—termasuk kegagalan dalam hubungan rumah tangga karena terlalu banyak campur tangan keluarga dari pihak pasangan, aku tidak mau menulis dengan nada dendam. Aku hanya ingin bercerita, bahwa setiap orang punya ujiannya masing-masing. Dan tidak semua hal harus kita pahami atau campuri. Kadang, cukup tahu batas dan belajar menghormati ruang hidup orang lain, itu sudah bentuk kasih sayang yang paling dewasa.
Tentang Belajar dan Tidak Menggurui
Aku masih belajar. Dunia menulisku masih baru, tapi aku menikmatinya. Aku belajar mengenal gaya sendiri, belajar memilih kata yang pas, belajar menulis tanpa perlu membuat orang lain merasa kecil. Aku ingin setiap tulisanku terasa hangat, bukan seperti ceramah tapi seperti obrolan di sore hari—tenang, jujur, dan punya makna.
Aku tidak tahu akan sampai sejauh apa nanti. Tapi aku tahu satu hal: aku ingin terus menulis. Karena menulis membuatku lebih menghargai proses, bukan hasil. Setiap paragraf adalah bukti kecil bahwa aku sedang berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik.
Kadang aku tersenyum sendiri membaca tulisan-tulisan lamaku. Ada kalimat yang membuatku malu, ada juga yang membuatku ingin memeluk diri sendiri. Tapi bukankah itu yang disebut “tumbuh”? Belajar dari versi lama kita, tanpa menyesalinya?
Penutup: Dunia Ketiga yang Kubangun dengan Doa
Sekarang, setiap kali aku membuka laptop atau ponsel, aku tahu aku sedang memasuki dunia ketigaku. Dunia di mana aku bisa menjadi siapa pun, bercerita tentang apa pun, dan menuliskan doa dalam bentuk kata-kata.
Menulis membuatku lebih sabar, lebih peka, dan lebih mengenal arti syukur. Karena setiap cerita, sekecil apa pun, punya makna bagi seseorang di luar sana. Mungkin tulisanku belum sempurna, tapi tidak apa-apa. Yang penting aku menulis dengan hati, bukan untuk mencari pengakuan, melainkan untuk berbagi rasa.
Aku menulis agar putriku kelak tahu, ibunya pernah berjuang dengan caranya sendiri—bukan dengan pedang, tapi dengan pena. Agar ia tahu bahwa kisah manis tidak harus selalu datang dari dunia yang sempurna, tapi dari hati yang mau belajar menerima dan memperbaiki.
Dan mungkin, ketika suatu hari nanti ia membaca tulisanku, ia akan tersenyum lalu berkata pelan,
"Terima kasih,
Mama. Dunia ketigamu ini ternyata indah sekali."
---
🕊️
Catatan penulis:
Menulis tidak selalu tentang ingin didengar. Kadang, menulis hanya tentang ingin memahami. Dan kalau di antara kalimat yang kutulis hari ini ada sebaris kata yang bisa membuat seseorang merasa lebih baik—itu sudah cukup bagiku.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---
![]() |
| Untukmu, putriku — alasan terindah di balik setiap kata yang kutulis - Blog Cerita Kemuning |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar