Penggembala dari Dua Dunia - 1

Ilustrasi dua tokoh di padang rumput tepi Sungai Cimanuk saat senja. Seorang pemuda bernama Candrakara mengenakan baju putih biru muda dan kain batik biru berdiri membelakangi Batari, perempuan berkebaya merah bersanggul bunga melati. Di langit tampak cahaya jingga dan bulan utuh — simbol pertemuan dua dunia.
Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning


Bab 1 – Cahaya di Padang Rumput

 

Di lembah luas di tepi Sungai Cimanuk, matahari sore meluruh perlahan. Sinar keemasannya menimpa hamparan padang rumput yang menggelombang lembut tertiup angin.

Di antara desir alang-alang dan suara jangkrik yang mulai bangkit dari balik semak, tampak seorang pemuda berjalan perlahan menuntun kerbaunya.

Langkahnya tenang, seperti telah menyatu dengan irama alam. Dialah Candrakara, anak satu-satunya dari pasangan Ki Wreda dan Nyi Raras — keluarga sederhana yang hidup di pinggiran hutan bambu.

 

Candra dikenal ramah dan sopan. Ia menolong siapa pun yang butuh tenaga, dari menimba air hingga memperbaiki atap rumah tetangga. Namun, di balik senyum teduhnya, ia memendam rasa ingin tahu yang besar tentang sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa jelaskan: suara halus yang kerap memanggilnya setiap kali senja turun.

 

Rumah Candra terletak di antara dua bukit kecil, diapit jalan setapak menuju sungai. Setiap pagi ia membawa kerbau-kerbaunya keluar kandang, menggiringnya ke padang rumput di bawah cahaya mentari, dan setiap sore ia mengembalikannya sebelum matahari sepenuhnya tenggelam.

Namun hari ini, hatinya terasa berbeda—seperti ada desir halus di dada, memanggil-manggil dari arah sungai.

 

“Jangan pulang terlambat, Nak,” pesan Nyi Raras, sambil menyiapkan air hangat dan daun sirih di mangkuk tanah liat.

Candra hanya mengangguk dan tersenyum. “Ya, Bu. Aku tak akan lama.”

 

Ia selalu berkata demikian, meski tahu langkah kakinya sering melambat menjelang senja. Ada sesuatu di sana, di ujung padang rumput dekat sungai—cahaya yang tak ia mengerti.

 

---

 

Hari menjelang sore. Bayangan pohon-pohon makin panjang, sementara gumpalan awan berarak seperti tirai putih di langit barat. Kerbau-kerbau mulai menguak pelan, tanda haus.

Candra menepuk punggung salah satunya. “Sebentar lagi, kita ke sungai.”

 

Begitu tiba di tepi air, ia melihat sesuatu yang aneh.

Seekor anak kerbau, Si Lembu Suta, hewan kesayangannya, tak terlihat bersama rombongan. Ia menoleh ke segala arah. Hanya angin sore yang menjawab, menggerakkan ujung rumput dan daun-daun bambu yang saling bergesekan.

 

“Lembu Suta?” panggilnya perlahan.

Tidak ada jawaban. Hanya riak air sungai yang memantulkan cahaya keperakan.

 

Dengan langkah hati-hati, Candra menuruni tebing kecil dan menyeberangi batu-batu besar yang separuh terendam air.

Ia mengikuti jejak basah menuju rumpun bambu di sisi seberang. Dan di sanalah matanya menangkap kilau putih—seolah pantulan bulan muncul terlalu cepat sebelum malam datang.

 

Kilau itu berpendar lembut, tidak menyilaukan. Di tengah sinar temaram sore, Candra melihat bayangan seorang perempuan duduk di bawah rumpun bambu, menatap permukaan sungai yang beriak lembut.

Rambutnya panjang, jatuh seperti arus air, dan kain yang dikenakannya berwarna lembayung muda—warna yang tak biasa dipakai gadis desa.

 

Candra terdiam. Suara detak jantungnya terasa keras di telinga.

Ia hendak memanggil, tapi lidahnya kelu.

Seketika angin berhembus dari arah hulu sungai, membawa aroma lembut melati liar yang tumbuh di tepi batu.

Bayangan itu menoleh sejenak—seakan menyadari kehadirannya—namun sebelum Candra sempat berkata apa pun, sosok itu memudar, lenyap bersama embusan angin sore.

 

Yang tersisa hanyalah daun bambu yang bergetar dan riak air yang memantulkan wajahnya sendiri.

 

---

 

Malam itu, di rumah yang diterangi lampu minyak, Ki Wreda duduk bersila di depan tungku yang nyalanya meredup. Asap dupa mengepul perlahan, membentuk lingkaran samar di udara.

Candra duduk berhadapan dengan ayahnya, menunduk sopan.

 

“Candra,” suara Ki Wreda berat tapi tenang, “kau tampak gelisah. Ada apa?”

 

Candra ragu sejenak. “Aku hanya... melihat sesuatu di tepi sungai. Seperti bayangan seorang perempuan, tapi kemudian hilang.”

 

Ki Wreda terdiam lama, matanya menatap bara arang. “Sungai itu bukan hanya air yang mengalir, Nak. Ia adalah batas. Tempat di mana dua dunia bertemu, tapi tak seharusnya bersentuhan.”

 

Candra memandang wajah ayahnya, mencoba membaca makna dari setiap katanya.

Ki Wreda melanjutkan pelan, “Kau telah cukup umur untuk tahu. Batas itu rapuh di waktu senja. Jangan ke sana saat matahari belum benar-benar tenggelam.”

 

“Tapi kenapa, Ayah?” tanya Candra, suara mudanya bergetar.

Ki Wreda menatap anaknya lama sekali, lalu hanya berkata, “Karena tak semua yang tampak adalah manusia, dan tak semua yang hilang ingin ditemukan.”

 

Hening mengisi ruangan. Hanya suara bambu yang berderit tertiup angin malam.

Dari dapur, Nyi Raras mendengarkan percakapan itu sambil menggenggam mangkuk air doa. Ia tak ikut bicara—hanya menunduk, bibirnya bergetar mengucap kalimat lirih yang tak sampai terdengar.

 

---

 

Malam semakin larut. Bulan separuh menggantung di langit, memantulkan cahaya ke lantai bambu rumah itu.

Candra berbaring di bale kecil di depan jendela, menatap keluar.

Suara sungai terdengar sayup, bercampur dengan desir angin dan nyanyian kodok sawah.

 

Di sela kantuknya, ia teringat kembali bayangan perempuan di bawah bambu itu. Lembut, tenang, tapi meninggalkan sesuatu di dadanya—sebuah rasa yang belum sempat ia beri nama.

Ia menutup mata, dan sebelum benar-benar tertidur, ia merasa seperti mendengar bisikan samar terbawa angin:

 

“Aku menunggu yang tak pulang…”

 

Candra membuka mata seketika, namun yang ia lihat hanya bulan separuh di langit, menggantung di atas padang rumput yang berkilau oleh embun malam.

 

Dan di kejauhan, suara kerbau-kerbaunya terdengar pelan, seolah memanggilnya pulang.

 

---

 

Di luar rumah, Nyi Raras menatap bulan dengan mata basah.

“Anakku…,” bisiknya, “semoga jalan yang terbuka untukmu tidak membawa kesedihan, tapi cahaya.”

Ia tahu sesuatu telah berubah malam ini—bahwa langkah kecil anaknya di tepi sungai sore tadi telah mengetuk pintu antara dua dunia.

 

Dan sejak malam itu, setiap kali angin berembus dari arah sungai, akan tercium wangi samar melati, seolah membawa kabar dari alam yang tak kasat mata.

 

---

 

Aroma tanah, embun, dan melati sore menjadi pertanda. Dunia manusia baru saja disentuh oleh dunia lain. Dan di tengahnya, seorang penggembala bernama Candrakara menatap cahaya di padang rumput, tanpa tahu bahwa cahaya itu akan menuntunnya menuju takdir yang tak dapat dielakkan.

 

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar