Pergaulan Anak Usia 5 Tahun Juga Perlu Diperhatikan

Ilustrasi perempuan berambut merah memandangi gerimis di balkon, sementara putrinya tidur di kamar klasik serba putih.
Ibu yang termenung ditemani gerimis, sementara putrinya terlelap dengan tenang. 🌧️💚 - Blog Cerita Kemuning


Belajar Berteman, Belajar Mengerti, dan Belajar Bahwa Tidak Semua Keinginan Harus Dituruti


Ternyata menjadi ibu itu bukan cuma soal memastikan anak makan, mandi, tidur, dan tidak memasukkan benda aneh ke mulut. 😭 Ada satu hal yang diam-diam juga harus diperhatikan: pergaulan anak.

Anakku masih 5 tahun. Sementara beberapa teman bermainnya sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Kelihatannya sepele, cuma anak-anak main bersama. Tapi ternyata usia dan kematangan mereka berbeda.

Anakku masih moody-an. Namanya juga anak 5 tahun. Di rumah pun tidak punya saingan. Jadi kalau menginginkan sesuatu, kadang maunya dituruti. Kalau tidak dituruti, ekspresinya bisa berubah secepat cuaca. Lima menit lalu tertawa, lima menit kemudian sudah seperti pemeran utama sinetron yang baru kehilangan warisan. 😭

Tapi tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia berpikir bahwa semua orang harus mengikuti kemauannya.

Aku menasihatinya perlahan. Tidak dengan bentakan atau ceramah panjang yang mungkin masuk telinga kanan lalu keluar lewat pintu belakang. Aku berusaha menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin bahwa kalau bermain bersama teman, kita harus belajar bergantian, mendengarkan, meminta maaf, dan menerima kalau keinginan kita tidak selalu dituruti.

Karena menurutku, kemampuan bersosialisasi itu juga perlu dilatih sejak kecil.

Dan ternyata bukan hanya anakku yang perlu belajar.

Suatu hari, aku sedang duduk manis menunggu anak bermain. Lalu aku melihat ada anak yang menjahili temannya. Sandalnya disembunyikan oleh dua anak lain.

Buatku, jahil dan bercanda itu dua hal yang berbeda.

Bercanda seharusnya membuat semua orang tertawa. Kalau hanya satu pihak yang tertawa sementara yang lain bingung, kesal, atau bahkan menangis, menurutku itu sudah bukan bercanda lagi.

Akhirnya aku tunjukkan di mana sandalnya.

Sederhana saja.

Aku tidak punya niat mengambil hati anak-anak itu. Tidak sedang mencari simpati. Tidak juga ingin dianggap sebagai ibu paling baik sedunia. Aku cuma berpikir, kalau yang dijahili itu anakku, aku tentu berharap ada orang dewasa yang mau membantunya.

Sesederhana itu.

Tapi eh, tapi, tapi, tapiiii...

Besoknya, ketiga anak itu, termasuk anak yang kemarin aku tunjukkan letak sandalnya yang disembunyikan oleh dua temannya, malah ikut-ikutan membuang muka kepadaku.

Yang biasanya berkata "permisi", kali ini lewat begitu saja.

Aku sampai berpikir, Lho? Sandal siapa yang kemarin aku selamatkan dari persembunyian berjamaah? 😂

Aku tidak meminta dihormati secara berlebihan. Tidak meminta mereka menyapa aku setiap bertemu. Apalagi sok akrab.

Namun jujur, hatiku terasa ngenes.

Mereka masih kecil.

Aku malah merasa kasihan.

Karena kalau benar mereka sudah mulai belajar bahwa kebaikan orang dewasa bisa dibalas dengan menjauh hanya karena sesuatu yang tidak mereka sukai, aku justru berharap mereka mendapatkan lingkungan yang mengajarkan hal berbeda.

Yang lebih membuatku sedih adalah ketika anak-anak seusia itu sudah mulai bisa saling memengaruhi dengan cara yang kurang baik.

Aku pun hanya bisa menghela napas.

Naudzubillahimindalik.

Semoga bukan itu yang menjadi kebiasaan mereka.

Aku tidak mau membesar-besarkan kejadian kecil. Anak-anak masih belajar. Mereka masih sangat muda dan masih mungkin salah memahami banyak hal.

Mungkin hari ini mereka belum mengerti.

Mungkin besok mereka akan mengerti.

Dan mudah-mudahan, semakin bertambah usia, semakin bertambah pula pengetahuan mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang pikirannya terbuka, hatinya luas, dan mampu memahami bahwa tidak semua orang akan selalu berada di posisi yang sama.

Sebab hidup ini seperti roda.

Hari ini kita mungkin berada di atas. Besok bisa saja di bawah. Hari ini kita dibantu. Besok mungkin kita yang harus membantu orang lain.

Dan untuk anakku sendiri, aku hanya punya satu doa sederhana:

Semoga Allah menjauhkanmu dari pertemanan yang membuatmu kehilangan kebaikan dalam dirimu. Dan semoga kamu tidak pernah menjadi seperti orang yang menyakiti atau merendahkan orang lain.

Bukan berarti kamu harus menjauhi semua orang.

Bukan pula berarti kamu harus membalas perlakuan buruk dengan perlakuan buruk.

Belajarlah tetap baik, tetapi juga belajar mengenali batas.

Karena menjadi anak baik bukan berarti harus selalu mengalah.

Dan menjadi orang dewasa yang peduli juga bukan berarti harus disukai semua orang.

Aku pun belajar dari kejadian kecil ini.

Kadang niat kita tulus, tetapi tetap bisa disalahpahami. Tidak apa-apa.

Yang penting Allah tahu niat kita.

Untuk anak-anak itu, semoga hati kalian selalu bahagia dan penuh syukur. Semoga pikiran kalian semakin terbuka, pengetahuan kalian semakin luas, hidup kalian dipenuhi kebaikan, dan langkah kalian selalu diberi keberuntungan.

Aamiin.

Dan untuk anakku...

Semoga kamu tumbuh menjadi manusia yang baik, tetapi tidak polos. Lembut, tetapi tidak mudah dipermainkan. Pemaaf, tetapi tahu kapan harus menjaga jarak.

Karena dunia ini luas, Nak.

Temanmu akan banyak.

Tidak semuanya baik.

Tidak semuanya buruk.

Dan tugas Ibu bukan memilihkan seluruh temanmu sampai kamu dewasa, melainkan membekalimu supaya kelak kamu mampu memilih sendiri mana yang layak kamu pertahankan. ❤️


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---


Pemahamanku tentang Bermasyarakat Ternyata Masih Seperti Jalan di Gang Sempit

Ilustrasi perempuan berbaju oranye memancing ikan koi di taman sebagai gambaran perjalanan memahami kehidupan bermasyarakat.
Kadang yang perlu kita benahi bukan orang lain, melainkan cara kita melihat, berpikir, dan berbicara tentang mereka 🐳 - Blog Cerita Kemuning


Belajar Memahami Orang Lain Tanpa Kehilangan Diri Sendiri


Aku pernah berpikir bahwa aku sudah cukup memahami bagaimana kehidupan bermasyarakat bekerja. Ternyata setelah benar-benar menjalaninya, pemahamanku masih seperti jalan di gang sempit: baru beberapa langkah, sudah ketemu belokan. Kadang lurus sedikit, eh tiba-tiba mentok tembok. Mau balik juga malu. 😁

Selama ini aku lebih banyak mengenal kehidupan bermasyarakat dari cerita yang sampai ke keluargaku. Ada cerita tentang orang ini, orang itu, begini dan begitu. Ada pula gosip yang entah berangkat dari mana, lalu ketika sampai di telinga kami sudah berubah bentuk seperti cerita bersambung yang episodenya tidak pernah tamat.

Karena mendengar banyak cerita, tanpa sadar aku membangun dugaan sendiri.

Aku mengira, mungkin orang-orang memang berpikir seperti itu. Mungkin mereka memang punya cara pandang tertentu. Mungkin kalau seseorang melakukan sesuatu, maksudnya memang seperti yang diceritakan.

Ternyata belum tentu.

Ketika aku sendiri mulai lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang, aku baru menyadari bahwa manusia memang rumit. Apa yang menurut seseorang benar, belum tentu benar bagi orang lain. Apa yang menurutku biasa saja, mungkin dianggap aneh oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Dan di situlah aku mulai memahami bahwa sawang sinawang memang bukan sekadar istilah yang enak didengar.

Kita sering melihat kehidupan orang lain dari luar, lalu merasa sudah tahu seluruh ceritanya.

Padahal kita hanya melihat satu potong.

Satu rumah.

Satu percakapan.

Satu ekspresi wajah.

Satu kebiasaan.

Satu kejadian.

Lalu otak kita dengan rajinnya menyusun cerita lengkap.

Hebat juga otak manusia. Netflix kalah cepat. 😂

Aku sendiri akhirnya sadar bahwa aku pun bisa melakukan hal yang sama.

Bukan karena ingin merendahkan orang lain. Bukan karena merasa lebih baik. Kadang hanya karena spontanitas. Melihat sesuatu, lalu pikiran langsung menyimpulkan atau mulut langsung berbicara sebelum otak sempat mengadakan rapat koordinasi.

Nah, rapat koordinasinya sering terlambat. Mulut sudah jalan duluan. 😭

Dari situ aku belajar bahwa hidup bermasyarakat ternyata membutuhkan lebih banyak kesadaran daripada yang kukira.

Kita tidak hanya perlu menjaga perilaku ketika sedang marah. Justru ketika sedang santai dan merasa tidak punya maksud buruk pun kita tetap perlu berhati-hati.

Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana orang lain menangkap ucapan kita.

Bisa saja menurut kita itu hanya kalimat biasa. Tetapi bagi orang lain, mungkin ada bagian tertentu yang terasa menusuk. Sebaliknya, kita juga sering mengalami hal yang sama. Seseorang mungkin melakukan sesuatu tanpa maksud apa-apa, tetapi kita sudah terlanjur menafsirkannya macam-macam.

Maka aku semakin merasa bahwa prasangka memang harus dikendalikan mulai dari rumah.

Bukan hanya prasangka terhadap orang lain, tetapi juga prasangka yang kita buat di dalam kepala sendiri.

Kalau aku tidak suka urusanku dicampuri, berarti aku juga harus belajar tidak mencampuri urusan orang lain.

Kalau aku tidak suka hidupku dibicarakan, berarti aku juga harus berhati-hati agar tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai bahan pembicaraan.

Kalau aku tidak suka orang membuat kesimpulan tentang diriku hanya berdasarkan apa yang mereka lihat, berarti aku juga harus belajar tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Sederhana, sebenarnya.

Tapi menjalankannya yang kadang seperti memasak tanpa minyak: kelihatannya gampang, ternyata ada saja dramanya. 😂

Aku juga mulai memahami bahwa berbicara seperlunya ternyata bukan berarti kita menjadi orang yang dingin.

Kita tetap bisa ramah.

Tetap bisa tersenyum.

Tetap bisa menyapa.

Tetap bisa menghargai orang lain.

Tetapi tidak semua hal harus kita komentari.

Tidak semua masalah orang harus kita pikirkan.

Tidak semua cerita harus kita cari ujungnya.

Karena kalau semua masalah orang mau kita pikirkan, masalah sendiri saja sudah antre panjang. Masa mau ditambah punya tetangga satu RT dalam kepala? 😭

Ada hal-hal yang memang lebih baik dibiarkan menjadi milik orang lain.

Mereka punya kehidupan mereka.

Aku punya kehidupanku.

Mereka punya cara berpikir sendiri.

Aku juga punya cara berpikir sendiri.

Dan mungkin salah satu kedewasaan dalam bermasyarakat adalah ketika kita mampu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan melihat sesuatu dengan kacamata yang sama.

Aku tidak harus membuat semua orang memahami caraku.

Mereka juga tidak harus memahami semua alasanku.

Selama aku tidak berniat merugikan, merendahkan, atau menyakiti orang lain, dan ketika tanpa sengaja aku melakukan kesalahan, aku mau menyadarinya serta memperbaikinya, aku akan berusaha untuk tetap menjaga sikap dan tidak mengulanginya lagi.

Dan ketika aku sudah berusaha ramah dan sopan, tetapi dibalas dengan sikap jutek atau cuek, ya sudah.

Tenangkan pikiran.

Tidak perlu mengejar.

Tidak perlu bertanya-tanya, “Aku salah apa?” sampai kepala berasap.

Mungkin memang tidak cocok.

Mungkin dia sedang punya masalah.

Mungkin memang tidak ingin dekat.

Atau mungkin aku memang tidak perlu tahu.

Dan kalau memang tidak cocok, bukankah Indonesia ini luas? 😁

Masih banyak manusia di luar sana. Masih banyak tempat yang bisa kita datangi. Masih banyak orang yang mungkin lebih cocok dengan cara kita berinteraksi.

Kita tidak perlu memaksa semua pintu terbuka.

Ada pintu yang cukup kita ketuk dengan sopan, lalu kalau tidak dibukakan, kita pergi dengan tenang.

Bukan karena kalah.

Tetapi karena kita tahu bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan berdiri di depan pintu orang lain sambil bertanya-tanya kenapa mereka tidak mau membukanya.

Pada akhirnya, aku merasa bahwa belajar bermasyarakat adalah belajar mengendalikan dua hal: pikiran dan ucapan.

Pikiran supaya tidak terlalu cepat membuat kesimpulan.

Ucapan supaya tidak terlalu cepat keluar sebelum dipikirkan.

Aku mungkin masih seperti orang yang berjalan di gang sempit. Masih sering bertemu belokan yang tidak kuduga. Masih bisa salah membaca keadaan. Masih bisa salah memahami orang. Mungkin begitu juga dengan orang lain terhadapku.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa jalan itu memang sempit, sehingga aku harus lebih berhati-hati ketika berjalan.

Tidak semua yang kulihat harus kusimpulkan.

Tidak semua yang kudengar harus kupercaya.

Tidak semua yang kupikirkan harus kuucapkan.

Dan tidak semua orang harus kupahami sampai tuntas.

Begitu pula sebaliknya.

Orang lain juga tidak wajib memahami seluruh diriku.

Aku hanya perlu terus belajar menjadi manusia yang lebih sadar: ramah tanpa berpura-pura, tegas tanpa menyakiti, menjaga diri tanpa mencurigai semua orang, dan tidak mencampuri kehidupan orang lain karena aku sendiri tahu rasanya ketika hidupku dicampuri.

Mungkin inilah bagian dari belajar dewasa.

Bukan menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Tetapi menjadi manusia yang ketika sadar telah salah, mau berhenti sebentar, melihat ke dalam diri, lalu belajar berjalan lagi.

Pelan-pelan.

Lewat gang yang sempit itu.

Sampai suatu hari mungkin jalannya terasa lebih lapang.

Atau jangan-jangan gangnya memang tetap sempit, hanya kita yang sudah belajar berjalan tanpa menabrak kanan-kiri. 😁


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 


Memilih Menghindar Bukan Berarti Takut

Ilustrasi semi-lukisan perempuan berambut merah duduk termenung di kursi ayunan balkon saat senja, mengenakan gaun hijau stabilo dengan latar langit jingga dan pot-pot kaktus.
Kadang, jalan memutar bukan tanda takut. Itu hanya cara menjaga hati agar tetap tenang - Blog Cerita Kemuning


Jalan Memutar Demi Hati yang Lebih Tenang


Pernah nggak sih, baru lihat wajah seseorang beberapa detik saja, eh... baterai kesabaran langsung turun dari 100% jadi mode hemat daya?

Aku pernah.

Bukan karena masih ada rasa. Tenang, ini bukan sinetron yang mantan datang sambil hujan-hujanan. Justru kebalikannya. Rasanya seperti lihat notifikasi tagihan pas saldo lagi senyum tipis.

Ada orang yang kalau muncul, otak langsung memutar ulang semua kenangan yang pengin dilupakan. Bukan karena dia penting, tapi karena jejak kelakuannya masih membekas.

Akhirnya aku mengambil keputusan yang menurutku paling waras.

Kalau masih ada jalan lain, ya ambil jalan lain.

Iya, sesederhana itu.

Dulu aku mengira menghindar itu tanda kalah. Sekarang aku sadar, menghindar dari orang yang membawa energi negatif itu sama pentingnya seperti menghindari gorengan kalau minyaknya sudah hitam pekat. Bukan takut, tapi tahu risikonya.

Lagian, hidup ini sudah cukup bikin pusing. Masa iya kita sengaja antre buat tambah pening?

Yang lucu, kadang masih ada saja orang yang merasa dirinya pusat semesta.

Baru melirik sedikit, sudah merasa semua orang pasti senang diperhatikan.

Maaf ya...

Tidak semua tatapan itu membuat orang berbunga-bunga. Ada juga yang justru bikin seseorang dalam hati berkata, "Ya Allah, semoga habis ini kami tidak satu arah lagi."

Aku belajar satu hal.

Tidak semua hubungan harus dipelihara hanya karena ada embel-embel keluarga, kenalan lama, atau tetangga.

Kalau kehadiran seseorang lebih banyak membawa rasa tidak nyaman daripada manfaat, menjaga jarak bukan dosa.

Itu bentuk menjaga diri.

Sebagai perempuan, apalagi seorang ibu, aku lebih memilih menyimpan tenagaku untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Anak.

Pekerjaan.

Rumah.

Masa depan.

Bukan untuk meladeni orang yang bahkan kehadirannya saja sudah mengganggu ketenangan hati.

Dan ada satu hal yang menurutku masih sering salah dipahami masyarakat.

Kalau melihat perempuan yang sudah menyandang status janda, sebagian orang mendadak merasa punya hak untuk memandang seenaknya, bercanda seenaknya, bahkan menggoda tanpa diminta.

Entah siapa yang mengajarkan logika seperti itu.

Status janda bukan undangan terbuka untuk bersikap kurang ajar.

Janda juga manusia.

Punya batas.

Punya harga diri.

Punya hak untuk merasa tidak nyaman.

Kalaupun memang ada perempuan yang suka menggoda laki-laki, ya itu urusan pribadi orang tersebut.

Sama seperti laki-laki.

Ada yang sopan.

Ada yang tidak.

Tidak adil kalau karena ulah segelintir orang, semua janda kemudian diberi cap yang sama.

Padahal kenyataannya, banyak janda yang justru sedang sibuk bekerja, membesarkan anak, memperbaiki hidup, dan berusaha bertahan tanpa merepotkan siapa pun.

Mereka tidak sedang mencari perhatian.

Mereka hanya sedang menjalani kehidupan.

Jadi kalau suatu hari kalian melihat seorang janda memilih memutar jalan, diam, atau menghindari seseorang, jangan buru-buru menyebutnya sombong atau penakut.

Bisa jadi itu bukan karena ia lemah.

Bisa jadi ia sudah terlalu lelah menghadapi orang-orang yang tidak tahu cara menghargai batas.

Menurutku, kedewasaan bukan selalu soal berani menghadapi.

Kadang, kedewasaan adalah tahu kapan harus pergi.

Toh tidak semua pertarungan layak dimenangkan.

Ada yang lebih indah.

Yaitu pulang dengan hati yang tetap tenang.

Kalau kamu bertanya, "Apa salahnya memilih jalan memutar?"

Jawabanku sederhana.

Tidak ada.

Karena jalan memutar kadang bukan tentang menghindari seseorang.

Melainkan tentang menjaga diri sendiri.

Sekarang aku ingin bertanya kepada kalian.

Kalau ada seseorang yang kehadirannya hanya membawa rasa tidak nyaman, apakah kita masih wajib menyapanya hanya demi terlihat sopan?

Dan satu hal lagi...

Jangan pernah menganggap status janda sebagai alasan untuk merendahkan, menggoda, atau memandang perempuan dengan sebelah mata.

Sebab status hanyalah bagian dari perjalanan hidup.

Yang menentukan nilai seseorang tetaplah akhlaknya.

Tidak semua janda pandai menggatal.

Tapi semua manusia seharusnya pandai menjaga adab.


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---


Ada Hari Saat Aku Tidak Ingin Melakukan Apa Pun

Ilustrasi semi lukisan seorang ibu berambut merah dan putrinya duduk santai di beanbag biru aqua sambil berbincang hangat di sudut balkon rumah.
Kadang, mendengarkan dengan tenang adalah bentuk cinta yang paling sederhana. 💙🌼 - Blog Cerita Kemuning


Kadang aku cuma ingin jadi manekin yang dipajang di etalase, diam, cantik, dan tidak ditanya apa-apa.


Pernah gak sih, bangun tidur, badan sebenarnya gak pegal, gak sakit, gak habis maraton, tapi rasanya... "aduh, hari ini jangan suruh aku jadi manusia dulu, deh."

Aku lagi pengen jadi manekin.

Berdiri? Bisa.

Duduk? Bisa.

Senyum? Ya, kalau diatur.

Disuruh mikir? Nah... jangan dulu.

Kalau dulu, sebelum ada Seruni, aku benar-benar bisa menghilang dari dunia. Dari matahari masih semangat menyinari bumi sampai dia capek dan pulang, bahkan sampai besok paginya lagi, aku bisa tetap di kamar. Bukan karena lagi sedih. Bukan juga habis dimarahi siapa-siapa.

Aku cuma... diam.

Bahkan HP kadang cuma jadi pajangan. Mau buka media sosial malas. Mau nonton malas. Mau baca malas. Mau tidur juga belum tentu tidur. Ya pokoknya lagi ingin diam saja.

Aneh ya?

Padahal kalau dipikir-pikir, otakku tetap berisik.

Lucunya, badanku sedang diam, tapi isi kepala malah rapat RT tanpa notulen.

Ada suara yang ngomong nanti harus begini.

Ada yang ngingetin belum itu.

Ada yang tiba-tiba ingat kejadian lima tahun lalu yang sebenarnya gak penting.

Ada yang mengkhayal kalau besok tiba-tiba jadi miliarder.

Pokoknya lengkap.

Makanya aku sering bilang, aku ini bukan sedang capek badan. Otakku saja yang sedang bilang, "Aku izin rebahan dulu ya."

Dulu aku bisa menuruti mode itu sesuka hati.

Sekarang?

Sekarang ada Seruni.

Jadi walaupun aku sedang mode mute, dunia tetap berjalan.

Seruni tetap bangun.

Seruni tetap lapar.

Seruni tetap ngajak ngobrol.

Seruni tetap bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang sederhana, tapi di kepalaku yang sedang loading rasanya seperti soal ujian nasional.

"Mama, kenapa awan jalan?"

Di kepala normal mungkin langsung muncul jawaban.

Di kepala yang lagi mode manekin?

"..."

CPU sedang memproses.

Loading 3%...

Loading 7%...

Loading gagal.

Untungnya anak-anak itu sabar. Kadang mereka malah sudah sibuk sendiri sebelum jawaban kita selesai dipikirkan.

Lalu waktunya makan.

Waktunya mandi.

Waktunya ngaji.

Waktunya menemani cerita yang isinya bisa loncat dari kucing, es krim, dinosaurus, sampai tiba-tiba bertanya apakah semut punya ibu.

Dan aku tetap menjalaninya.

Pelan-pelan.

Walaupun otakku sedang seperti komputer jadul yang kebanyakan membuka tab.

Banyak orang mengira kalau sedang seperti ini berarti sedang malas.

Mungkin iya.

Atau mungkin tidak juga.

Aku sendiri tidak tahu.

Yang aku tahu, kalau memang sudah mulai mengerjakan sesuatu, aku akan serius mengerjakannya.

Makanya aku tidak terlalu khawatir.

Karena fase ini selalu datang, lalu pergi lagi.

Besok atau lusa biasanya aku sudah bisa heboh lagi.

Sudah bisa semangat bikin artikel.

Sudah bisa ketawa sendiri.

Sudah bisa punya ide sampai bingung mau nulis yang mana dulu.

Makanya sekarang aku tidak terlalu melawan.

Aku membayangkan diriku sedang mengapung di sungai.

Aku bisa berenang.

Aku tahu caranya.

Tapi hari ini aku sedang ingin mengapung saja.

Mengikuti arus sebentar.

Mendengar suara air.

Merasakan angin.

Tidak sedang menyerah.

Tidak sedang tenggelam.

Hanya sedang memberi kesempatan pikiranku untuk tidak sibuk menjadi pahlawan setiap hari.

Bukankah alam juga begitu?

Pohon tidak selalu berbunga.

Langit tidak selalu biru.

Angin tidak selalu kencang.

Kadang semuanya mengambil jedanya masing-masing.

Mungkin manusia juga begitu.

Apalagi perempuan.

Mood bisa berubah hanya karena hormon sedang rapat bulanan.

Belum lagi musim kemarau yang panasnya seperti matahari sedang balas dendam kepada genteng rumah.

Ditambah angin yang bertiup ke mana-mana.

Entah kenapa, suasana seperti ini bikin aku ikut melambai-lambai seperti daun mangga.

Kadang semangat.

Kadang ingin rebahan.

Kadang ingin minum es.

Kadang ingin kaya raya.

Yang terakhir itu kayaknya permanen.

Kalau dipikir-pikir lucu juga ya.

Dulu aku bisa diam seharian karena memang tidak ada yang memanggil.

Sekarang, walaupun ingin diam, tetap ada satu suara kecil yang memanggil,

"Mamaaa..."

Dan anehnya, suara itu justru yang membuatku tetap bergerak.

Bukan bergerak dengan penuh semangat seperti tokoh utama film aksi.

Lebih mirip NPC yang sedang menjalankan misi harian.

Pelan.

Sederhana.

Tapi tetap maju.

Aku tidak sedang mengeluh.

Aku baik-baik saja.

Aku hanya sedang berada di hari ketika pikiranku ingin memakai mode hemat daya.

Besok mungkin sudah normal lagi.

Kalau belum juga?

Ya tidak apa-apa.

Kita jalani saja.

Nikmati saja.

Syukuri saja.

Karena hidup ini ternyata tidak selalu soal berlari sekencang mungkin.

Kadang hidup juga mengajarkan bahwa diam sebentar bukan berarti kalah.

Mengapung sebentar bukan berarti tenggelam.

Dan menjadi manusia yang sedang "mute" sesaat bukan berarti kehilangan arah.

Siapa tahu, setelah cukup diam, kita justru menemukan tenaga baru untuk kembali berenang.

Jadi... ada yang sama sepertiku?

Atau jangan-jangan, kalian juga pernah diam menatap tembok lima belas menit, lalu lupa sebenarnya sedang memikirkan apa?


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 

Jangan Mau Jadi Layangan

Ilustrasi semi lukisan perempuan berkebaya merah biru memandangi berbagai layangan tradisional di museum layangan bergaya Eropa sebagai simbol refleksi hubungan manipulatif.
Aku tidak lagi melihat layangan dengan takut. Kini aku hanya melihatnya sebagai pelajaran hidup - Blog Cerita Kemuning


Kadang yang ingin memegang benang hidup kita datang sambil membawa senyum.


Kalau dipikir-pikir sekarang, aku sering ketawa sendiri.

Bukan karena masa laluku lucu. Justru setelah semuanya berlalu, aku baru sadar kalau pola mereka hampir sama. Bedanya cuma bungkusnya.

Ada yang romantis.

Ada yang agamis.

Ada yang kelihatannya paling dewasa.

Ada juga yang datang dengan semangat ingin menjadi pahlawan.

Kalau dibuka satu per satu, isinya kok ya mirip. Rasanya seperti beli gorengan di warung yang berbeda, eh ternyata minyaknya masih saudaraan.

Dulu aku tipe perempuan yang betah di rumah. Lebih suka menghabiskan waktu di rumah daripada keluyuran. Aku juga bukan tipe yang gampang akrab dengan semua orang. Tapi kalau sudah nyaman, ya... bisa cerewet sampai lupa waktu.

Mungkin karena itu aku terlihat "aman" di mata sebagian orang.

Atau... kelihatan seperti perempuan yang mudah diatur?

Entahlah.

Yang jelas, ada satu kalimat yang ternyata sering sekali mampir di hidupku.

"Kalau butuh apa-apa bilang aja sama aku."

Kalimat itu sebenarnya indah.

Tidak ada yang salah.

Kalau diucapkan dengan tulus, itu bentuk perhatian.

Masalahnya, kadang setelah kalimat itu muncul bab lanjutan yang tidak tertulis.

Pelan-pelan kita dibuat terbiasa meminta bantuan.

Pelan-pelan dibuat merasa tidak mampu.

Pelan-pelan dibuat berpikir bahwa tanpa dia, hidup akan berantakan.

Sampai akhirnya hubungan itu terasa seperti layangan.

Masih bisa terbang.

Tapi arah anginnya bukan kita yang menentukan.

Yang memegang benangnya orang lain.


---


Aku pernah punya pasangan yang sering berkata, "Kamu kan sudah dewasa."

Aku mengangguk.

Lalu disambung lagi, "Harusnya kamu sudah mikir mandiri."

Aku mengangguk lagi.

Tapi beberapa saat kemudian muncul kalimat berikutnya.

"Kalau ada apa-apa bilang aja sama aku."

Awalnya terdengar seperti perhatian.

Lama-lama aku sadar, ada yang terasa janggal.

Aku diminta mandiri.

Tapi juga diajak bergantung.

Kalau dipikir sekarang, lucu juga.

Aku ini orang dewasa, tapi rasanya seperti mau beli cilok saja harus dapat restu kerajaan.

Capek.

Akhirnya aku memilih pergi.


---


Beberapa tahun kemudian...

Eh, ketemu lagi pola yang hampir sama.

Versi ini lebih halus.

Lebih rapi.

Lebih religius.

Bahasanya penuh nasihat.

Aku sempat berpikir, "Mungkin kali ini berbeda."

Ternyata tidak.

Di depan banyak orang, dia terlihat baik.

Di belakang layar, aku justru lebih sering diminta memahami keadaan, menjaga perasaan, menjaga citra, bahkan menjaga image.

Lucunya...

Yang diminta menjaga image bukan yang punya image.

Aku.

Sampai suatu hari aku diberi pilihan.

Kalau mau lanjut, ya terima semuanya.

Kalau tidak mau, ya sudah.

Aku pulang tanpa banyak bicara.

Beberapa waktu kemudian, aku memilih mengakhiri hubungan itu.

Lalu muncul kalimat yang sampai sekarang masih kuingat.

"Kamu nggak kasihan sama aku?"

Aku sempat terdiam.

Lalu dalam hati berpikir...

Kalau hubungan hanya bertahan karena rasa kasihan, itu namanya bukan cinta.

Itu program donasi.


---


Lalu hidup membawaku ke pernikahan.

Aku berharap kali ini ceritanya berbeda.

Ternyata...

Ya sudahlah.

Ada bab dalam hidup yang cukup dibaca sekali saja.

Tidak perlu diulang.

Aku memilih mengakhiri pernikahan itu.

Berat?

Jelas.

Menyesal?

Tidak.

Karena ada satu hal yang lebih menyakitkan daripada perpisahan.

Yaitu kehilangan diri sendiri sedikit demi sedikit.


---


Setelah sekian lama sendiri, ternyata tetap saja ada yang datang.

Dan lucunya...

Kalimat pembukanya masih terasa familiar.

Saat aku berkata, "Ya sudah, temenan saja."

Jawabannya bukan, "Baik, aku menghargai keputusanmu."

Melainkan...

"Yakin nggak bakal nyesel nolak aku?"

Aku membaca pesan itu.

Lalu senyum kecil.

Bukan karena ingin mengejek.

Tapi karena rasanya seperti mendengar lagu lama diputar lagi.

Dulu mungkin aku akan bingung.

Sekarang?

Aku cuma bergumam, "Wah... naskahnya ternyata masih dipakai."


---


Dari semua pengalaman itu, aku belajar satu hal.

Manipulasi tidak selalu datang dengan bentakan.

Kadang justru datang memakai senyuman.

Kadang dibungkus perhatian.

Kadang dibalut kata-kata manis.

Kadang memakai embel-embel, "Demi kebaikanmu."

Yang paling sulit dikenali adalah ketika kita dibuat merasa semua keputusan ada di tangan kita.

Padahal pilihannya sudah diarahkan.

Kalimat favoritnya biasanya begini.

"Terserah kamu."

Tapi ketika kita benar-benar memilih...

Muncullah jurus pamungkas.

"Kasihan aku."

"Kamu bakal nyesel."

"Kamu belum kenal aku."

"Kamu egois."

Kalau sudah begini, aku malah ingin bertanya sambil senyum.

"Lho... tadi katanya terserah aku?"


---


Sekarang aku tidak lagi marah pada masa lalu.

Aku juga tidak membenci mereka.

Setiap orang punya cerita.

Punya luka.

Punya cara masing-masing menjalani hidup.

Aku tidak ingin menjadi hakim bagi siapa pun.

Aku hanya bersyukur karena akhirnya belajar sesuatu yang sangat berharga.

Bahwa cinta tidak seharusnya membuat kita kehilangan suara.

Bahwa pasangan bukan pemegang remote hidup kita.

Bahwa bantuan itu indah, selama tidak dijadikan tali pengikat.

Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling berkuasa.

Melainkan dua orang yang sama-sama berjalan, tanpa saling menyeret.


---


Aku juga pernah bertanya kepada Allah SWT.

"Ya Allah... apa aku memang tidak beruntung soal pasangan?"

Jawabannya tidak datang dalam bentuk suara.

Tetapi pelan-pelan aku mengerti.

Mungkin Allah SWT bukan sedang menghukumku.

Mungkin Allah SWT sedang mengajariku mengenali manusia.

Dulu aku mudah percaya.

Sekarang aku belajar mengamati.

Dulu aku mudah tersentuh oleh kata-kata.

Sekarang aku lebih melihat tindakan.

Karena kata-kata bisa disusun seindah puisi.

Tetapi sikap... hampir selalu berkata jujur.


---


Kalau hari ini ada yang bertanya, "Apa kamu kapok mengenal orang baru?"

Jawabanku sederhana.

Tidak.

Aku hanya tidak ingin lagi menjadi layangan.

Aku ingin berjalan berdampingan.

Bukan ditarik.

Bukan diarahkan.

Bukan diterbangkan sesuka hati orang lain.

Kalau memang nanti Allah SWT mempertemukan dengan seseorang yang tepat, semoga dia datang bukan untuk memegang benang hidupku.

Melainkan menggenggam tanganku.

Karena ternyata, tangan yang saling menggenggam jauh lebih menenangkan daripada benang yang terus-menerus ditarik ulur.

Dan buat kamu yang mungkin diam-diam pernah mengalami cerita yang mirip denganku...

Percayalah.

Menjadi betah di rumah bukan berarti lemah.

Menjadi lembut bukan berarti mudah diatur.

Dan memilih pergi dari hubungan yang tidak sehat bukan berarti kalah.

Kadang, itu justru kemenangan paling sunyi yang hanya kita dan Allah SWT yang benar-benar tahu.

Oh ya...

Kalau ada yang masih penasaran kenapa aku betah di rumah, jawabannya sederhana.

Di rumah ada teh hangat, kasur empuk, dan ketenangan.

Sementara di luar... kadang ada yang datang bawa bunga, tapi diam-diam lagi nyari benang layangan. 😄


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 


Diet Cuma Wacana

Ilustrasi perempuan berambut merah cabai duduk santai di sofa ruang keluarga dengan nasi goreng pedas dan es kopi moccachino, ilustrasi diet cuma wacana.
Ketika niat diet harus berhadapan dengan nasi goreng pedas dan segelas moccachino. 🌶️☕😊 - Blog Cerita Kemuning


Antara Sambal, Kopi, dan Niat yang Sering Kalah


Ada yang sama seperti aku?

Setiap kali bercermin, rasanya semangat diet langsung membuncah. Mulai membayangkan berat badan turun, baju lama muat lagi, dan badan terasa lebih ringan. Bahkan, di kepala sudah tersusun rencana yang begitu rapi. Besok makan lebih sehat. Besok kurangi gorengan. Besok berhenti minum kopi.

Tapi masalahnya... "besok" itu sepertinya hobi sekali pindah ke hari berikutnya.

Lucunya, semakin bertambah usia, aku semakin paham dengan tubuhku sendiri. Aku memang tipe orang yang kalau lagi banyak pikiran malah jadi lebih lahap makan. Tapi ternyata bukan itu saja. Ada dua kebiasaan lain yang juga sering bikin dietku jalan di tempat, yaitu makanan pedas dan kopi. Berkali-kali aku membuktikan, saat berhasil mengurangi keduanya, berat badanku ikut turun. Sayangnya, mengurangi itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani.

Kalau aku berhenti makan pedas dan berhenti minum kopi, berat badanku bisa turun lumayan drastis.

Iya, sesederhana itu.

Sayangnya, mengetahui penyebab bukan berarti mudah menjalaninya.

Justru di situlah perjuangan sebenarnya dimulai.

Aku ini pecinta makanan pedas. Bukan sekadar suka, tapi benar-benar menikmati sensasi pedas yang menggigit tenggorokan. Ada kepuasan yang aneh setiap kali sambal mulai terasa membakar lidah. Rasanya seperti makan jadi lebih hidup.

Yang lebih parah lagi, menjelang datang bulan.

Entah kenapa, rasa ingin makan pedas itu meningkat berkali-kali lipat. Rasanya seperti ngidam. Dari pagi sudah kepikiran sambal. Lihat cabai di dapur saja rasanya sudah bahagia.

Kalau sedang seperti itu, niat diet biasanya langsung melambaikan tangan.

"Besok aja dietnya."

Kalimat yang sudah terlalu sering aku ucapkan.

Padahal aku tahu akhirnya seperti apa.

Perut mulai protes.

Lambung terasa tidak nyaman.

Kadang sampai diare.

Saat sakit, aku selalu berjanji pada diri sendiri.

"Udah deh, kapok. Habis ini nggak makan pedas lagi."

Janji itu terdengar sangat meyakinkan.

Saking yakinnya, aku sendiri hampir percaya.

Tapi setelah badan mulai enakan...

Ya sudah.

Balik lagi.

Sambal lagi.

Pedas lagi.

Seolah-olah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.

Kalau dipikir-pikir memang lucu. Manusia memang sering begitu ya? Sudah tahu sesuatu itu tidak baik untuk dirinya, tetap saja diulang lagi.

Bukan karena tidak sadar.

Tapi karena rasa nikmatnya sering kali lebih kuat daripada niatnya.

Lalu ada satu lagi "musuh" dietku.

Kopi.

Aku memang berusaha menjaga tubuh dengan rutin minum jamu, biasanya sekitar seminggu sekali. Walaupun rasanya tidak selalu bersahabat di lidah, aku tetap percaya jamu punya banyak manfaat untuk kesehatan.

Masalahnya...

Setelah minum jamu, pikiranku malah terbang ke secangkir kopi moccachino.

Aduh.

Membayangkan aromanya saja sudah bikin air liur menetes.

Wangi kopi itu memang punya kekuatan yang sulit dijelaskan. Belum lagi rasa manis berpadu pahitnya yang pas. Ditambah busa lembut di atasnya.

Selesai sudah.

Diet kembali kalah.

Kadang aku sampai menertawakan diri sendiri.

Niatnya hidup sehat.

Yang dicari malah kopi.

Sebenarnya aku bukan tipe orang yang mengejar bentuk tubuh sempurna. Bagiku, tubuh sehat jauh lebih penting daripada angka di timbangan.

Hanya saja, berat badan yang terlalu naik juga membuat badan terasa cepat lelah. Naik tangga sedikit ngos-ngosan. Bangun tidur rasanya pegal. Kadang pakaian favorit juga mulai terasa sempit.

Di situ biasanya semangat diet muncul lagi.

Lalu menghilang lagi.

Begitu terus seperti lingkaran yang tidak ada habisnya.

Mungkin memang aku tidak sendirian. Banyak orang punya hubungan yang rumit dengan makanan favoritnya. Ada yang sulit lepas dari gorengan, ada yang tidak bisa hidup tanpa minuman manis, dan ada juga yang seperti aku, selalu kalah oleh sambal dan kopi.

Kalau dipikir lagi, mungkin diet memang tidak harus selalu sempurna. Mungkin yang lebih penting adalah belajar mengurangi sedikit demi sedikit daripada memaksa berhenti total lalu menyerah di tengah jalan.

Siapa tahu nanti sambalnya cukup satu sendok, bukan setengah mangkuk.

Kopinya cukup sesekali, bukan setiap hari.

Setidaknya masih ada kemajuan, walaupun pelan.

Untuk saat ini, aku masih sering gagal.

Masih sering bilang mau diet besok.

Masih sering tergoda aroma kopi.

Masih sering mencari sambal ketika makan.

Tapi tidak apa-apa.

Namanya juga proses belajar berdamai dengan diri sendiri.

Kalau suatu hari nanti aku benar-benar berhasil konsisten menjalani pola makan yang lebih sehat, aku pasti akan datang lagi ke blog ini dan tertawa mengingat tulisan ini.

Kalau ternyata belum berhasil juga...

Ya sudah.

Mungkin aku akan menulis artikel berikutnya dengan judul, "Dietku Masih Wacana, Episode Selanjutnya."

Semoga saja sebelum artikel itu terbit, aku sudah berhasil berdamai dengan sambal dan secangkir kopi moccachino yang sampai hari ini masih sering menang melawan niat dietku. 


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 



Kali Ini Aku Tidak Akan Main-Main Memilih Pasangan Hidup

Ilustrasi semi lukisan perempuan berambut merah duduk di meja kerja sambil memandang taman bunga dari balkon, dengan kertas-kertas dan pena di atas meja.
Kadang yang berubah bukan kemampuan untuk mencintai, melainkan keberanian untuk memilih siapa yang pantas tinggal - Blog Cerita Kemuning


Karena Aku Tidak Lagi Berjalan Sendiri


Ada masa ketika seseorang memilih pasangan hanya karena merasa cocok. Ada juga yang memilih karena sedang jatuh cinta. Bahkan ada yang memilih hanya karena takut sendirian.

Aku pernah berada di fase itu. Fase ketika hati lebih sering berbicara daripada logika. Ketika kata-kata manis terdengar seperti janji masa depan. Ketika perhatian kecil terasa seperti bukti keseriusan.

Tapi hidup ternyata guru yang cukup tegas.

Sekarang, di usiaku yang sudah tidak lagi belasan atau awal dua puluhan, aku tidak punya kemewahan untuk sekadar mencoba-coba. Aku tidak punya waktu untuk menebak-nebak isi hati seseorang. Aku juga tidak ingin menghabiskan energi pada laki-laki yang bahkan belum tahu apa tujuan kedatangannya.

Kalau ingin datang, datanglah dengan niat yang jelas.

Kalau hanya ingin mengisi waktu luang, maaf... aku sudah terlalu sibuk membangun masa depan.

Bukan hanya masa depanku.

Tapi juga masa depan Seruni.

Karena hidupku sekarang bukan lagi tentang "aku", melainkan tentang "kami."


---


Aku Tidak Lagi Mencari Rama-Rama


Dulu mungkin aku masih bisa tertawa mendengar rayuan receh. Masih bisa menganggap candaan-candaan yang sedikit menggoda sebagai sesuatu yang lucu.

Sekarang?

Entah kenapa justru terasa melelahkan.

Laki-laki yang terlalu banyak bercanda soal hubungan intim atau seks sejak awal perkenalan bukan lagi tipe yang menarik bagiku.

Bukan karena aku tidak punya selera humor.

Justru karena aku tahu ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan.

Bagaimana cara membangun keluarga.

Bagaimana menyelesaikan masalah.

Bagaimana menghargai perempuan.

Bagaimana menjadi ayah.

Bagaimana bertanggung jawab.

Bagiku, kedewasaan seseorang sering terlihat dari apa yang ia pilih untuk dijadikan bahan obrolan.

Kalau dari awal isi pembicaraannya sudah ke arah yang membuatku tidak nyaman, mungkin memang kami tidak berada di jalan yang sama.


---


Aku Tidak Butuh Laki-Laki yang Masih Bingung dengan Hidupnya


Mungkin terdengar cukup tegas.

Tapi memang begitu adanya.

Aku tidak ingin membangun rumah bersama seseorang yang bahkan belum selesai membangun dirinya sendiri.

Aku ingin mengetahui pekerjaannya.

Aku ingin tahu bagaimana ia bertanggung jawab terhadap hidupnya.

Aku ingin melihat apakah ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Bukan karena aku mengejar kemewahan.

Aku hanya ingin melihat kesungguhannya.

Bagiku, pekerjaan bukan tentang gengsi.

Penghasilan bukan tentang pamer.

Tetapi keduanya adalah bentuk tanggung jawab.

Laki-laki yang bekerja dengan sungguh-sungguh, berusaha mencari nafkah dengan cara yang baik, selalu memiliki nilai lebih di mataku.

Karena keluarga tidak dibangun hanya dengan kata "sayang".

Rumah tangga juga membutuhkan usaha, kerja keras, dan tanggung jawab.


---


Mendekatiku Berarti Siap Menerima Seruni


Inilah bagian yang tidak bisa ditawar.

Aku datang bersama Seruni.

Kami satu paket.

Tidak ada istilah hanya mencintaiku tetapi mengabaikan anakku.

Kalau seseorang ingin mengenalku lebih jauh, maka ia juga harus siap mengenal dunia kecil yang paling berharga dalam hidupku.

Seruni bukan penghalang.

Ia justru alasan terbesar mengapa aku semakin berhati-hati.

Aku ingin seseorang yang ketika melihatku, ia juga melihat masa depan bersama Seruni.

Seseorang yang tidak merasa terganggu dengan keberadaan anakku.

Seseorang yang tidak sekadar menerima, tetapi benar-benar menyayanginya.

Karena bagaimanapun juga, Seruni adalah bidadari kecil yang Allah SWT titipkan kepadaku.

Dan titipan itu akan selalu menjadi prioritas utamaku.


---


Tidak Ada Lagi Kode-Kode


Aku sudah lelah dengan hubungan yang isinya saling menebak.

Tidak ada lagi kode-kode.

Tidak ada lagi tarik ulur.

Tidak ada lagi pura-pura tidak peduli.

Kalau memang serius, katakan serius.

Kalau memang ingin mengenalku untuk tujuan baik, sampaikan baik-baik.

Aku lebih menghargai kejujuran daripada permainan perasaan.

Karena usia mengajarkan satu hal.

Yang benar-benar ingin tinggal, tidak akan membuatmu bingung.


---


Aku Mencari Rumah, Bukan Roller Coaster


Aku tidak sedang mencari hubungan yang penuh drama.

Aku tidak sedang mencari laki-laki yang membuat jantung berdebar karena ketidakpastian.

Aku mencari ketenangan.

Rumah.

Tempat pulang.

Seseorang yang ketika berbicara membuatku merasa aman.

Yang ketika berjanji benar-benar berusaha menepatinya.

Yang ketika berkata "aku ada", benar-benar hadir.

Karena cinta yang dewasa ternyata tidak selalu gaduh.

Sering kali justru tenang.


---


Ada Beberapa Hal yang Tidak Bisa Aku Tawar Lagi


Kalau ditanya seperti apa laki-laki yang akan sangat aku pertimbangkan menjadi suami, jawabanku sederhana.

Bukan harus paling tampan.

Bukan harus paling kaya.

Tetapi ia harus memiliki hati yang baik.

Tidak pelit.

Punya pekerjaan yang jelas.

Bertanggung jawab.

Tulus.

Menyayangiku.

Menyayangi Seruni.

Menghormati keluargaku tanpa membiarkan keluarganya mengendalikan seluruh keputusan hidupnya.

Aku percaya seorang laki-laki tetap harus berbakti kepada orang tuanya.

Itu hal yang mulia.

Tetapi ketika nanti membangun rumah tangga, ia juga harus mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya sendiri.

Bukan sekadar mengikuti semua keputusan orang lain.

Karena rumah tangga akan sulit bertumbuh jika kemudinya selalu dipegang banyak tangan.


---


Aku Tidak Takut Hidup Sederhana


Banyak orang mungkin mengira aku sedang mencari laki-laki mapan karena takut hidup susah.

Padahal bukan itu.

Aku tidak takut memulai dari nol.

Aku juga tidak takut hidup sederhana.

Yang aku takutkan adalah hidup tanpa arah.

Aku takut menjalani rumah tangga bersama seseorang yang tidak punya tanggung jawab.

Aku takut melihat anakku tumbuh dalam ketidakjelasan.

Aku takut mengulang luka yang seharusnya bisa dihentikan.

Karena pengalaman hidup membuatku sadar, cinta saja tidak selalu cukup.

Rumah tangga membutuhkan komitmen.

Kejujuran.

Kesetiaan.

Kerja keras.

Dan rasa saling menjaga.


---


Penutup


Kalau suatu hari nanti Allah SWT mempertemukanku dengan seseorang, semoga ia datang bukan hanya membawa bunga atau kata-kata indah.

Semoga ia datang membawa niat baik.

Membawa tanggung jawab.

Membawa ketenangan.

Dan membawa kasih sayang yang mampu memelukku sekaligus memeluk Seruni.

Kalau belum bertemu, tidak apa-apa.

Aku tidak sedang berlomba dengan usia.

Aku sedang menjaga masa depan.

Karena kali ini, aku benar-benar tidak akan main-main dalam memilih pasangan hidup.

Aku sudah belajar banyak dari perjalanan yang panjang.

Dan sekarang, yang aku cari bukan sekadar seseorang untuk mencintaiku.

Melainkan seseorang yang siap menjadi rumah bagi kami berdua.

Aku dan Seruni.


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---