Penggembala dari Dua Dunia - 2

Ilustrasi dua tokoh di padang rumput tepi Sungai Cimanuk saat senja. Seorang pemuda bernama Candrakara mengenakan baju putih biru muda dan kain batik biru berdiri membelakangi Batari, perempuan berkebaya merah bersanggul bunga melati. Di langit tampak cahaya jingga dan bulan utuh — simbol pertemuan dua dunia.
Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning

 

Bab 2 – Rumpun Bambu di Tepi Sungai

 

Sore itu, langit tampak ragu antara jingga dan kelabu. Udara lembab dari Sungai Cimanuk membawa bau tanah basah, bercampur semilir angin yang menelusup lembut ke sela-sela daun bambu. Di tepi sungai itu, Candrakara berjalan pelan di belakang kawanan kerbaunya. Lonceng kecil di leher hewan-hewan itu berdenting samar, seperti nada yang menenangkan, mengiringi langkah-langkahnya pulang.

 

Namun sore itu, seekor anak kerbau berhenti di tengah jalan. Ia menguak pelan, menatap ke arah rumpun bambu yang menjulang di sisi sungai. Candrakara menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“Sudah, ayo pulang. Hari hampir gelap,” katanya lembut.

 

Tapi langkahnya sendiri terhenti.

 

Ada sesuatu di sana.

Di bawah bayangan daun bambu yang menunduk, tampak sosok perempuan duduk di atas batu besar. Ia menatap air yang mengalir dengan pandangan kosong, wajahnya redup diterpa cahaya sore. Rambutnya hitam pekat, berkilau keperakan terkena cahaya matahari yang hampir tenggelam. Baju kebaya merahnya tampak lembut, kontras dengan pucat kulitnya yang nyaris seputih bulan.

 

Candrakara terpaku. Ada sesuatu yang aneh dari gadis itu. Ia begitu tenang, tapi juga terasa jauh — seperti bukan bagian dari dunia yang sama.

 

Ia ingin bertanya, namun lidahnya kelu.

Angin tiba-tiba berembus pelan, menebar wangi melati yang samar. Daun-daun bambu bergemerisik, dan dalam sekejap, sosok itu memudar — hilang bersama udara sore.

 

Candrakara menatap lama ke arah tempat itu. Batu besar tempat perempuan tadi duduk kini kosong, hanya menyisakan jejak cahaya tipis yang berpendar di air.

 

Ia menarik napas dalam-dalam. “Mungkin hanya bayangan...” gumamnya, meski hatinya tahu apa yang dilihatnya bukan sekadar pantulan sore.

 

---

 

Malam itu di rumah, suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan. Nyi Raras duduk di depan tungku, menjerang air untuk Ki Wreda yang tengah duduk bersila di amben bambu. Wajah suaminya tampak murung, sementara di pangkuannya tergolek keris tua dengan sarung kayu jati yang sudah pudar.

 

“Dia mulai sering pulang terlambat,” ucap Ki Wreda perlahan. “Katanya karena kerbaunya tak mau pulang. Tapi aku tahu, bukan itu.”

Nyi Raras terdiam, tangan tuanya berhenti mengaduk air jahe.

“Dia sering ke sungai itu lagi, kan?” tanya Ki Wreda tanpa menatap.

Nyi Raras hanya menunduk. “Kadang anak muda hanya butuh tempat menenangkan diri. Biarkan saja, Aki Wreda.”

“Tidak,” sahut Ki Wreda cepat. “Sungai itu bukan tempat biasa. Di sana batas antara dunia belum tutup saat senja.”

 

Hening menggantung di antara mereka. Api di tungku berkeredap lembut, dan di luar, angin meniup daun-daun jati yang kering.

Nyi Raras memejam mata. Ia tahu benar apa yang dimaksud suaminya. Sejak kecil, ia pun sering mendengar kisah tentang Batari Melati sang putri bangsawan yang jasadnya hilang bersama runtuhnya istana di seberang sungai. Banyak yang bilang, arwahnya masih menunggu di antara bambu dan air, dijaga oleh sesuatu yang tak kasat mata.

 

Ia berdoa lirih, “Semoga anak kita dilindungi, Sang Hyang Widhi. Jangan biarkan ia terseret oleh yang tak bisa ia pahami.”

 

---

 

Keesokan harinya, Candrakara kembali menggiring kerbaunya seperti biasa. Tapi kali ini langkahnya lebih pelan. Entah mengapa, ada dorongan halus di dadanya untuk kembali ke tempat itu.

 

Sore menjelang, cahaya jingga turun perlahan di antara batang-batang bambu. Sungai berkilau, seolah menelan warna langit. Seekor bangau putih berdiri di batu, lalu terbang menjauh ketika ia mendekat.

 

Dan di sanalah ia melihatnya lagi.

Gadis itu — duduk di tempat yang sama, dengan wajah yang sama teduhnya.

 

Kali ini Candrakara memberanikan diri mendekat. Ia berhenti beberapa langkah dari batu itu, mencoba menyapa dengan suara serendah mungkin.

“Permisi… kau dari desa mana?”

 

Gadis itu menoleh perlahan. Matanya bening, seperti air yang menampung cahaya bulan.

“Desa?” ia mengulang pelan, seolah asing dengan kata itu. “Aku dari seberang.”

“Seberang sungai?”

Ia mengangguk, tapi senyum tipisnya membuat Candrakara tak yakin.

 

Angin kembali berembus. Rambutnya bergerak lembut, tapi dedaunan di sekitarnya tetap diam. Tidak ada suara, hanya wangi melati yang menguar semakin kuat.

Candrakara menelan ludah. “Aku sering melihatmu duduk di sini. Kau menunggu seseorang?”

Gadis itu menatap air. “Mungkin. Tapi aku sendiri tak tahu siapa yang kutunggu.”

 

Jawaban itu membuat Candrakara semakin penasaran. Ia hendak bertanya lagi, namun gadis itu menatapnya dengan pandangan lembut.

“Namamu siapa, penggembala kerbau?”

“Candrakara,” jawabnya cepat.

Ia tersenyum samar. “Indah. Cahaya bulan di tangan Sang Hyang Widhi.”

Candrakara mematung. Ia belum pernah mendengar seseorang menafsirkan namanya seindah itu.

 

Sebelum sempat ia bertanya nama gadis itu, bayangan sore memanjang, dan tiba-tiba angin berputar kuat. Wajah gadis itu mulai pudar — seperti debu diterpa cahaya.

“Besok sore,” katanya lirih sebelum lenyap. “Kita akan bertemu lagi di bawah rumpun bambu ini.”

 

Candrakara menatap kosong ke arah yang sama.

Batu itu kembali sepi, dan hanya air sungai yang terdengar bergemuruh lembut.

 

---

 

Sejak sore itu, setiap hari Candrakara kembali ke tepi Sungai Cimanuk. Ia menggiring kerbau dengan sabar, dan saat mentari mulai turun, ia duduk menunggu di bawah bambu.

Tiga sore berlalu tanpa ia melihat gadis itu. Tapi pada sore keempat, ia muncul kembali, seperti wangi melati yang tiba-tiba datang tanpa sebab.

 

“Kau datang lagi,” ucap Candrakara pelan.

“Bukankah kau juga menungguku?” jawabnya dengan nada menggoda, namun matanya teduh seperti dulu.

 

Mereka berbicara lama sore itu. Tentang sungai, tentang langit, tentang apa saja yang tidak penting tapi terasa hangat. Gadis itu banyak diam, seolah menikmati setiap kata yang diucapkan Candrakara.

Namun ada hal yang selalu aneh: setiap kali bayangan mereka jatuh di air, hanya bayangan Candrakara yang terlihat.

 

Hingga akhirnya, dengan keberanian yang tumbuh dari rasa penasaran, ia bertanya, “Siapa namamu?”

Gadis itu menatapnya lama. “Aku… Batari.”

“Batari?”

Ia mengangguk. “Itu yang mereka panggil padaku.”

“Siapa ‘mereka’?”

Gadis itu hanya tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Angin. Dan sungai.”

 

Candrakara tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya merasa, nama itu begitu indah, begitu cocok dengan wajahnya.

Ia tak tahu, bahwa nama itu dulu pernah disebut oleh para sesepuh desanya dengan nada hormat dan takut.

 

---

 

Malamnya, Candrakara termenung di beranda. Bulan menggantung penuh di langit, dan bayangan pohon menari di tanah.

Ki Wreda keluar dari dalam rumah, menatap anaknya yang duduk diam.

“Kau sering menatap sungai itu akhir-akhir ini,” katanya.

Candrakara menunduk. “Aku hanya… suka tempat itu, Ayah.”

“Tempat itu bukan untuk disukai. Banyak yang hilang di sana.”

Candrakara menoleh, menatap wajah ayahnya yang keras tapi menyimpan ketakutan samar. “Apa maksud Ayah?”

Ki Wreda menatap bulan. “Dulu, di seberang sungai, berdiri istana megah. Tapi istana itu runtuh, dan tak ada yang tahu kemana jasad tuannya pergi. Sejak itu, banyak yang bilang ada penunggu. Kadang menampakkan diri sebagai gadis. Cantik, tapi bukan manusia.”

 

Candrakara membeku. Ia tahu cerita itu. Tapi mendengarnya dari mulut ayahnya sendiri membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

“Ayah percaya itu?”

“Aku percaya apa yang bisa kulihat. Dan aku tahu, dunia ini tidak hanya dihuni manusia. Jangan pergi ke tepi sungai saat senja, Candrakara. Di sana batas antara dunia belum tutup.”

 

Candrakara mengangguk, tapi hatinya tak bisa berhenti memikirkan sosok yang menatapnya dengan mata selembut air.

 

---

 

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras di sore hari. Sungai Cimanuk meluap, airnya berwarna cokelat tua, dan suara derasnya menggema hingga desa. Tapi Candrakara tetap pergi, membawa seikat rumput di pundak, meski Nyi Raras berteriak memintanya tinggal di rumah.

 

Saat tiba di tepi sungai, ia basah kuyup. Rumpun bambu bergoyang keras diterpa angin. Ia menatap sekeliling, tapi tak ada siapa-siapa.

 

Lalu, dari balik kabut hujan, samar ia melihat sosok Batari berdiri di tengah batu besar itu, tak basah sedikit pun. Ia menatap Candrakara dengan senyum lembut, tapi mata itu kini penuh duka.

“Kenapa kau tetap datang?” suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.

“Karena aku ingin tahu siapa kau sebenarnya.”

Batari memejamkan mata. “Aku bukan dari dunia yang sama denganmu.”

“Aku tahu,” jawab Candrakara, “tapi kenapa aku merasa seperti sudah mengenalmu lama?”

 

Batari membuka mata. Air hujan menembus tubuhnya tanpa meninggalkan bekas. “Karena mungkin... sebagian diriku memang pernah mengenalmu.”

 

Angin berhenti sejenak. Suara hujan perlahan mereda, hanya menyisakan titik-titik air yang jatuh dari ujung daun bambu.

Untuk pertama kalinya, Candrakara melihat jelas di jari manis tangan kanan Batari — melingkar sebuah cincin emas berukir, berkilau lembut seperti cahaya bulan yang tersangkut di air.

 

Ia menatapnya lama sebelum bertanya pelan,

“Apakah kau sedang menunggu… suamimu?”

 

Batari menoleh, mata beningnya memantulkan kilat di langit.

“Suami?” suaranya nyaris seperti hembusan napas. “Apa maksudmu, Candra?”

 

Candrakara, dengan sopan, menunjuk cincin itu — hanya dengan isyarat halus ibu jarinya.

Batari menunduk perlahan, tersenyum tipis.

“Ini?” katanya, sambil mengangkat tangan kanannya sedikit.

 

Candrakara mengangguk.

 

“Ini bukan milik siapa pun,” bisik Batari. “Ini tanda sebuah janji.”

Ia menatap cincin itu sejenak, lalu menggenggam tangannya sendiri — seolah berusaha menahan sesuatu yang tak ingin lepas.

 

“Janji?” tanya Candrakara, suaranya hampir tak terdengar. “Janji pada siapa, Batari?”

 

Batari mengangkat wajahnya. Di matanya, ada kilau sendu yang tak bisa dijelaskan.

“Janji pada masa yang belum sempat selesai,” ujarnya perlahan. “Untuk menjaga sesuatu… yang pernah hidup, dan belum ingin pergi.”

 

Petir menyambar di kejauhan. Cahaya putih membelah langit, menyilaukan sejenak.

Saat pandangan Candrakara pulih, Batari sudah memudar bersama kabut hujan.

 

Hanya suaranya yang tertinggal, sayup seperti bisikan air:

“Jangan cari aku besok, Candrakara… dunia mulai mengingat.”

 

---

 

Malam itu, Candrakara tak bisa tidur. Suara bambu di belakang rumahnya bergemerisik pelan, seperti berbisik-bisik memanggil namanya.

“Candrakara…”

“Candrakara…”

 

Ia terbangun dan menatap ke luar jendela. Bulan purnama menggantung di langit, dan dari arah sungai, samar tercium wangi melati — begitu kuat hingga ia nyaris menangis tanpa sebab.

 

Nyi Raras yang terbangun mendapati anaknya duduk di depan pintu, memandang jauh ke arah Sungai Cimanuk. Ia menatap wajah Candrakara, lalu berbisik lirih di hatinya:

Garis takdirmu telah bergerak, anakku. Semoga cahaya bulan yang kau bawa tak padam di tengah dua dunia.

 

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Ki Wreda bermimpi tentang bambu yang tumbuh dari air, dengan daun-daunnya yang berbisik nama anaknya berkali-kali.

 

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar