Ketika Energi Terkuras, Tapi Cerita Harus Tetap Hidup

Ilustrasi perempuan berambut merah duduk santai di sofa dekat jendela, menatap langit mendung dengan ekspresi lelah namun tenang.

Tenang di luar, lelah di dalam—tapi tetap penuh syukur - Blog Cerita Kemuning.



Belajar Menjadi Ibu yang Hadir, Meski Baterai Sering Berkedip Merah.

---

Ada fase dalam hidup yang datang tanpa aba-aba. Tiba-tiba saja, hari-hari yang biasanya bisa aku genggam dengan tenang, berubah jadi lebih riuh. Lebih padat. Lebih... melelahkan.

Akhir-akhir ini, fokusku terasa pecah ke mana-mana.

Semua bermula dari satu hal baik: kegiatan baru untuk Runi.

Aku senang, tentu saja. Sebagai ibu, melihat anak mulai punya dunia kecilnya sendiri itu seperti melihat benih yang mulai tumbuh. Ada rasa haru yang tidak bisa dijelaskan. Tapi, di balik itu, ada satu hal yang diam-diam menguras: energi.

Ternyata, bersosialisasi di lingkungan pengajian anak-anak itu bukan sekadar datang, duduk, lalu pulang.

Ada interaksi. Ada obrolan. Ada dinamika yang tak terlihat, tapi terasa.

Dan jujur saja, untuk orang sepertiku—yang lebih nyaman dengan sunyi daripada ramai—ini bukan hal ringan.

---

Saat Dunia Jadi Lebih Ramai dari Biasanya

Pengajian anak-anak itu hangat. Penuh tawa kecil, suara anak-anak yang berlarian, dan ibu-ibu yang saling bertukar cerita.

Harusnya menyenangkan, ya?

Dan memang, menyenangkan... dalam porsinya.

Tapi ketika itu jadi rutinitas baru, aku mulai merasakan sesuatu yang lain.

Capek.

Bukan capek fisik semata. Tapi capek yang seperti menggerogoti dari dalam. Seperti baterai yang dipakai terus tanpa sempat diisi ulang dengan benar.

Aku mulai lebih cepat mengantuk.

Kadang siang hari, mataku berat sekali. Padahal pekerjaan belum selesai. Ide tulisan masih berserakan di kepala, tapi tubuhku seperti bilang, “sudah, cukup dulu.”

Dan aku tahu, ini bukan malas.

Ini murni karena energiku terkuras.

---

Dunia Kemuning yang Mulai Sedikit Berantakan

Biasanya, aku punya ritme.

Menulis. Mengedit. Memikirkan ide. Menyusun kata demi kata seperti merangkai bunga.

Tapi belakangan, ritme itu sedikit goyah.

Draft tulisan yang biasanya rapi, sekarang banyak yang setengah jadi. Ide yang biasanya langsung kutangkap, sekarang sering terlewat begitu saja.

“Ah, nanti saja,” kataku.

Dan “nanti” itu sering tidak datang tepat waktu.

Aku merasa sedikit kehilangan pegangan di dunia yang selama ini aku bangun dengan pelan-pelan: dunia Kemuning.

Rasanya seperti rumah yang tetap berdiri, tapi ada beberapa sudut yang mulai berdebu karena tak sempat dibersihkan.

Dan itu jujur membuatku gelisah.

---

Menjadi Ibu Itu, Nyatanya Tidak Pernah Setengah-Setengah

Di sisi lain, aku melihat Runi.

Dia mulai mengenal teman. Mulai berani duduk bersama anak-anak lain. Mulai punya cerita yang bukan hanya tentang rumah.

Dan setiap kali dia tersenyum, aku tahu: ini semua tidak sia-sia.

Menjadi ibu memang tidak pernah bisa setengah-setengah.

Kita tidak bisa bilang, “hari ini aku ingin fokus ke diri sendiri saja.” Karena selalu ada mata kecil yang menatap, selalu ada tangan kecil yang butuh digenggam.

Dan aku memilih untuk tetap hadir.

Meski kadang hadir dengan energi yang tersisa setengah.

Meski kadang sambil menahan kantuk.

Meski kadang sambil berkata dalam hati, “sebentar ya, mama lagi capek.”

---

Lowbat Bukan Berarti Harus Berhenti

Aku mulai menerima satu hal penting:

Lowbat itu bukan kegagalan.

Itu sinyal.

Sinyal bahwa aku butuh jeda. Butuh ruang. Butuh napas.

Dulu, aku sering memaksa diri untuk tetap produktif. Tetap menulis meski kepala sudah berat. Tetap aktif meski hati ingin diam.

Sekarang, aku belajar lebih lunak pada diri sendiri.

Kalau capek, ya istirahat.

Kalau ide belum datang, ya tunggu.

Karena ternyata, memaksakan diri justru membuat semuanya semakin berantakan.

---

Belajar Mengatur Ulang Energi, Bukan Waktu

Selama ini, kita sering diajarkan untuk mengatur waktu.

Tapi aku sadar, yang lebih penting untukku adalah mengatur energi.

Ada hari di mana aku hanya punya sedikit energi sosial. Maka aku tidak memaksakan diri untuk terlalu banyak berbicara.

Ada hari di mana aku punya energi lebih untuk menulis. Maka aku manfaatkan sebaik mungkin.

Aku mulai mengenali ritmeku sendiri.

Pelan-pelan.

Tidak sempurna, tapi cukup.

---

Tetap Ingin Bercerita, Apa Pun Keadaannya

Di tengah semua ini, ada satu hal yang tidak ingin aku lepaskan:

Bercerita.

Menulis bukan hanya tentang produktivitas bagiku. Ini tentang bernapas. Tentang memahami diri sendiri. Tentang menyimpan kenangan agar tidak hilang begitu saja.

Tentang menjadi “aku” di tengah peran sebagai “mama.”

Aku ingin tetap menulis tentang keseharianku sebagai mamaknya Seruni.

Tentang lelah yang jujur.

Tentang bahagia yang sederhana.

Tentang hari-hari biasa yang ternyata menyimpan banyak makna.

Mungkin tulisanku tidak selalu rapi.

Mungkin tidak selalu tepat waktu.

Tapi selama masih ada cerita yang ingin keluar, aku akan tetap menuliskannya.

---

Untuk Ibu yang Juga Sering Lowbat

Kalau kamu membaca ini dan merasa, “ini aku banget,” aku ingin bilang satu hal:

Kamu tidak sendirian.

Menjadi ibu, apalagi dengan ritme baru, memang menguras banyak hal. Fisik, emosi, bahkan pikiran.

Tidak apa-apa kalau kamu capek.

Tidak apa-apa kalau kamu butuh jeda.

Tidak apa-apa kalau hari ini kamu tidak seproduktif kemarin.

Kita bukan mesin.

Kita manusia. Yang juga butuh diisi ulang.

---

Penutup: Pelan-Pelan, Tapi Tetap Jalan

Hari-hariku sekarang mungkin tidak serapi dulu.

Lebih ramai. Lebih padat. Lebih melelahkan.

Tapi di dalamnya, ada pertumbuhan.

Ada Runi yang belajar.

Ada aku yang ikut belajar.

Dan mungkin, ini bukan tentang kehilangan ritme.

Tapi tentang menemukan ritme yang baru.

Yang lebih jujur.

Yang lebih manusiawi.

Yang lebih… aku.

Dan selama aku masih bisa menulis, meski dengan baterai yang sering berkedip merah, aku tahu satu hal:

Cerita ini belum selesai.

Dan aku akan tetap menuliskannya.

---

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar