Aroma Ketan dan Kenangan

Ilustrasi Kemuning kecil dan Eyang Putri duduk di depan tungku memanggang ulen.
Aroma ketan, hangatnya kenangan bersama Eyang Putri - Blog Cerita Kemuning


Kalau ada yang bertanya, makanan apa yang paling bisa membuatku ingat masa kecil—jawabannya tidak perlu kupikir lama: ketan.

Aroma gurihnya, teksturnya yang lengket di lidah, dan cara ia melekat di ingatan, seperti benang halus yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

 

Aku lahir dan besar di kaki gunung kecil di Jawa Barat, di sebuah kampung yang kalau pagi-pagi selalu berbau daun pisang bakar dan asap dapur kayu. Waktu itu listrik masih sering padam, televisi masih hitam putih, dan hiburan paling menyenangkan hanyalah bermain di halaman atau duduk di dapur, menonton Eyang Putri memasak.

 

Eyang adalah perempuan yang selalu tampak sibuk tapi tenang. Kalau memasak, gerakannya lembut dan hati-hati—seolah setiap butir beras yang disentuhnya harus dihormati.

Dan dari semua makanan yang beliau buat, yang paling kuingat sampai sekarang adalah ulen.

 

Di kampungku, ulen bukan makanan manis. Ia gurih, padat, dan dibuat dari beras ketan yang ditumbuk halus, dicampur kelapa parut dan sedikit garam. Kadang disangrai di atas wajan sampai kecokelatan, kadang dibakar di atas bara supaya harum.

Kalau sudah matang, Eyang memotongnya kecil-kecil dan menaruh di piring kaleng bergambar bunga mawar.

 

·      “Ulen jangan dimakan terlalu banyak,” kata Eyang sambil tersenyum.

·      “Bisa bikin perut penuh, tapi hangatnya bisa menenangkan hati.”

 

Aku waktu itu masih empat tahun, belum paham maksudnya. Tapi setiap kali aroma ketan goreng bercampur asap kayu bakar memenuhi dapur, ada rasa yang sulit dijelaskan—hangat, nyaman, dan membuat hati tenang.

 

Kadang, saat uap ketan naik dari dandang, aku suka merasa seperti ada bayangan putih yang menari pelan di udara. Bentuknya samar tapi indah.

Dulu aku kira itu malaikat dapur, atau roh baik yang senang kalau ada yang memasak dengan hati gembira.

Eyang hanya tertawa kecil melihatku melongo menatap uap.

 

·      “Itu wangi kenangan,” katanya. “Sekali kamu mengingatnya, nanti akan selalu kembali.”

 

Entah kenapa, kalimat itu menempel kuat di kepalaku sampai sekarang.

 

---

 

Tahun berganti, aku masuk SD, lalu SMP.

Eyang sudah tiada sejak aku kelas lima, tapi setiap kali mencium aroma ketan, aku merasa seperti mendengar suaranya di antara uap dapur.

Dan anehnya, aroma itu selalu bisa menenangkan perasaan, seolah Eyang benar-benar hadir di situ.

 

Aku bukan murid yang terlalu aktif di sekolah, tapi setiap jam istirahat aku punya satu kebiasaan kecil: mencari jajanan ketan.

Di depan sekolah, ada seorang ibu penjual ketan yang ramah. Jualannya sederhana—ketan putih dibulat-bulat, lalu ditaburi kelapa goreng berbumbu bawang putih dan sedikit garam. Orang-orang menyebutnya ketan ura.

 

Setiap kali ibu itu datang, aku sudah siap berdiri paling depan. Kadang uang sakuku habis hanya untuk membeli dua bungkus kecil ketan. Tapi tidak apa-apa, karena setiap suapan terasa seperti pulang ke rumah.

 

Teman-teman sering menggoda,

 

·      “Kamu ini, kalau ketan dijual tiap hari, tiap hari juga beli!”

·      Aku hanya tersenyum, menjawab ringan,

·      “Ya, soalnya aroma ketan itu bikin hati tenang.”

 

Mereka tertawa, tapi aku sungguh-sungguh. Bagi orang lain mungkin hanya makanan biasa, tapi bagiku, setiap aroma ketan seperti pintu kecil menuju masa kecil yang bahagia.

 

---

 

Beberapa bulan sebelum kelulusan, sekolah mengadakan study tour ke Yogyakarta untuk tugas akhir.

Semua murid antusias, termasuk aku. Bukan karena ingin jalan-jalan, tapi entah kenapa, aku yakin akan menemukan jajanan ketan di sana juga.

 

Bus berangkat subuh. Di pangkuanku, Ibu menyiapkan bekal sederhana: nasi uduk, air minum, dan dua potong ulen hangat dibungkus daun pisang.

“Supaya tidak lapar di jalan,” katanya sambil tersenyum.

Aku mengangguk, lalu mencium bungkusannya. Harum ketan bercampur wangi daun pisang yang agak hangus itu membuat dadaku bergetar pelan.

“Eyang, ikut ya,” bisikku dalam hati.

 

---

 

Yogyakarta menyambut dengan panas matahari dan hiruk pikuk wisatawan.

Kami berjalan mengelilingi Candi Borobudur sambil mencatat hal-hal penting untuk laporan sekolah. Tapi di tengah keramaian itu, aku tiba-tiba mencium aroma yang sangat familiar: ketan panggang.

 

Hidungku langsung bergerak, mencari arah bau itu datang.

Di tepi jalan menuju parkiran bus, ada seorang bapak tua berkaus lusuh sedang membalik-balik adonan ketan di atas wajan panggangan berbentuk persegi.

 

·      “Mau coba, Nak?” katanya. “Namanya winko babat, jajanan ketan khas Yogya.”

 

·      “Winko babat?” aku penasaran.

 

·      “Iya, ketan dimasak dengan kelapa, sedikit garam, lalu dibungkus daun pisang. Gurihnya beda.”

 

Aku membeli satu bungkus. Saat gigitan pertama masuk ke mulut, aku langsung terdiam. Rasa gurihnya lembut, hangat, seperti menyusup ke dada.

Di antara suara bising orang dan teriakan penjaja, aku bisa mendengar sesuatu—suara tawa lembut yang pernah kukenal.

 

·      “Enak, ya, Neng?”

 

Aku menoleh cepat. Tapi tidak ada siapa pun di sebelahku.

Hanya angin sore yang berhembus pelan, membawa aroma ketan yang makin kuat.

Aku tersenyum kecil. “Iya, Yang… enak sekali.”

 

---

 

Bertahun-tahun berlalu.

Sekarang aku sudah tiga puluh lima tahun.

Rambutku mulai panjang, pekerjaanku lumayan sibuk, tapi satu hal tidak berubah: aku masih sangat suka makanan dari ketan.

 

Di mana pun ada acara, aku selalu mencari jajanan tradisional.

Kalau ada ulen atau ketan bakar, aku pasti mendekat duluan.

Teman-teman sudah hafal kebiasaanku.

 

·      “Jangan bilang kamu beli ulen lagi?”

 

·      “Hehehe… iya. Tapi cuma sepotong, kok.”

 

·      “Cuma sepotong tapi nanti maag-mu kumat lagi!”

 

·      “Ya nggak apa-apa, namanya juga cinta,” jawabku sambil tertawa. “Sakit sedikit nggak masalah.”

 

---

 

Suatu sore hujan turun pelan. Aku sedang libur kerja dan merasa bosan.

Saat membuka lemari dapur, mataku tertuju pada wadah berisi sedikit beras ketan sisa acara keluarga.

Tanpa pikir panjang, aku mulai menanaknya. Tidak banyak, hanya cukup untuk dua potong ulen kecil.

 

Saat uapnya mulai menari di udara, aroma itu kembali memenuhi rumah.

Hangat, gurih, lembut.

Dan seperti dulu, ada perasaan aneh—seolah waktu berhenti sebentar.

 

Aku duduk di kursi dapur sambil menatap uap putih itu, dan untuk sesaat, aku bisa mencium aroma kain kebaya Eyang, aroma kayu bakar, dan mendengar tawa halusnya di antara gemericik hujan.

 

·      “Masih suka ulen, Neng?”

 

·      “Masih, Yang. Walau asam lambung sering protes.”

 

·      “Hehehe… berarti kamu belum tua. Orang yang masih bisa menikmati ketan, hatinya belum keras.”

 

Aku tersenyum sambil mengangkat potongan ulen panas ke mulut.

Rasanya gurih, sedikit asin, dan membuat hatiku penuh rindu.

 

---

 

Sekarang, setiap kali aku mencium aroma ketan—entah dari warung pinggir jalan, acara pernikahan, atau rumah tetangga—aku selalu merasa seperti sedang disapa oleh Eyang dari dunia yang lebih tenang.

Katanya dulu, “rasa itu tidak pernah mati, cuma pindah tempat.”

Mungkin benar. Karena setiap kali aku makan ketan, rasanya seperti menyalakan lagi kenangan lama yang lembut di hati.

 

Kadang aku bercanda pada diri sendiri,

 

·      “Kalau nanti aku tua, mungkin aku akan buka warung ulen juga.”

 

Aku membayangkan Eyang datang menepuk pundakku sambil tersenyum,

 

·      “Tapi jangan kebanyakan makan, nanti asam lambungmu naik lagi.”

 

Aku tertawa kecil, menatap sisa ulen di piring, lalu berkata pelan,

 

·      “Baiklah, Yang. Tapi kalau rinduku kumat, sepotong saja nggak apa-apa, kan?”

 

Aroma ketan masih memenuhi ruangan—hangat, gurih, dan menenangkan.

Dan di tengah tawa kecilku sendiri, aku sadar,

bahwa ternyata kenangan bisa tinggal selamanya,

selama masih ada sepotong ketan hangat

dan sedikit rasa rindu yang tidak pernah habis.

 

---

 

Tamat

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.



---


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar