![]() |
| Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning |
Bab 4 – Larangan yang Tak Ditaati
Langit sore menggantung muram di atas perbukitan. Awan menggulung seperti lipatan kain abu-abu yang berat, menandakan hujan mungkin turun sebelum malam tiba. Dari kejauhan, terdengar suara gamelan sayup-sayup dari arah desa, mengiringi anak-anak kecil yang berlarian mengejar layang-layang di halaman. Tapi Candrakara tak berada di antara mereka.
Ia duduk di tepi sungai, di bawah rumpun bambu yang kini mulai tampak akrab baginya. Di tangan kirinya, sebatang ranting kecil berputar pelan di antara jari-jarinya. Air mengalir tenang, namun di bawah permukaannya seolah menyimpan bisikan yang hanya bisa ia dengar.
“Pusatkan pikiranmu pada arus air,” suara lembut itu bergema di telinganya, tak jauh, tapi juga tak begitu dekat. “Biarkan alirannya menuntun napasmu.”
Candrakara menutup mata, menarik napas perlahan. Suara itu bukan suara Batari, bukan pula suara manusia biasa. Sudah seminggu ini, setiap sore, ia belajar pada sosok perempuan berwujud samar yang muncul dari bayangan bambu — Nyi Lembayung, sang penjaga yang dikirim oleh Batari untuk membimbingnya.
Nyi Lembayung memiliki wajah halus dan tenang. Tubuhnya tak sepenuhnya padat, kadang tampak seperti asap, kadang seperti bayangan daun yang diterpa cahaya bulan. Tapi matanya jernih — menyimpan sesuatu yang tua, lembut, sekaligus bijaksana.
“Ilmu kebathinan bukan tentang menguasai yang gaib,” kata Nyi Lembayung suatu kali. “Tapi tentang mengenali keseimbangan antara cahaya dan kegelapan dalam diri sendiri.”
Candra membuka mata perlahan, menatap permukaan sungai yang berkilau memantulkan langit senja. Ia mulai mengerti sedikit demi sedikit ajaran itu. Ia bisa merasakan perubahan pada tubuh dan pikirannya — kepekaan yang kian tajam, seolah ia bisa mendengar bisikan angin dan memahami gemerisik dedaunan.
Namun, bersamaan dengan itu, ada hal lain yang tumbuh dalam dirinya: bayangan wajah Batari Melati.
Kadang di sela pelajaran, Nyi Lembayung menatapnya lama — seolah tahu isi hatinya tanpa perlu ditanya. “Kau masih memikirkannya,” katanya lembut, tanpa nada marah.
Candrakara menunduk. “Aku… tak bisa melupakannya, Nyi. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat senyumnya. Aku mendengar suaranya memanggil namaku.”
Nyi Lembayung menghela napas pelan. “Rasa itu suci, Nak. Tapi kau harus tahu, cinta yang terjalin antara dunia yang berbeda adalah ujian, bukan anugerah.”
Candra diam. Ucapannya menusuk dalam, tapi tak mampu memadamkan bara kecil di dadanya. Ia tahu Batari sudah tiada, hanya ruhnya yang tersisa. Tapi entah mengapa, setiap kali ia mengingat tatapan lembut perempuan itu, hatinya seolah dipenuhi cahaya yang tak bisa ia jelaskan.
---
Malamnya, hujan turun deras. Petir berkelebat di langit, mengguncang jendela bambu rumah Ki Wreda. Di dalam, Ki Wreda duduk bersila di depan tungku yang mulai padam. Nyi Raras menutup kendi air di dapur, lalu menghampiri suaminya yang tampak murung.
“Dia pulang terlambat lagi,” gumam Ki Wreda. “Sudah seminggu ini aku biarkan, tapi rupanya anak itu keras kepala.”
Nyi Raras duduk di sebelahnya, menyentuh tangan suaminya pelan. “Mungkin dia hanya butuh waktu, Ki. Sejak hari itu... sejak ia sering ke sungai, ada sesuatu yang berubah padanya. Ia lebih tenang, tapi juga lebih jauh.”
“Justru itu yang membuatku khawatir,” balas Ki Wreda cepat. “Aku tahu apa yang ada di sungai itu. Aku tahu kisah lama tentang putri Batari Melati dan penjaganya. Jangan-jangan anak kita... sudah terikat pada sesuatu yang tak seharusnya.”
Nyi Raras terdiam. Ia tahu, Ki Wreda bukan orang yang mudah percaya takhayul. Jika suaminya berkata demikian, pasti ada tanda-tanda yang ia lihat.
“Besok,” kata Ki Wreda akhirnya, “aku akan menegurnya. Sebelum semuanya terlambat.”
---
Keesokan paginya, kabut tebal masih menutupi sawah. Candrakara baru saja kembali dari sungai, bajunya lembap oleh embun. Ia menaruh tongkat bambu di dekat pintu, lalu duduk di amben. Tapi sebelum sempat meneguk air dari kendi, suara berat ayahnya terdengar.
“Candra.”
Ia mendongak. Ki Wreda berdiri di ambang pintu, wajahnya keras seperti batu.
“Kau dari mana pagi-pagi begini?”
Candrakara terdiam sejenak, lalu menjawab hati-hati, “Dari sungai, Ayah. Aku hanya ingin menenangkan diri.”
“Menenangkan diri?” Ki Wreda melangkah mendekat. “Atau menuruti rasa yang tak pantas?”
Suasana hening seketika. Nyi Raras yang sedang menumbuk rempah di dapur berhenti, tapi tak berani ikut bicara.
“Ayah...” Candra menatapnya, matanya bergetar. “Aku hanya ingin tahu siapa dia. Mengapa aku bisa melihatnya. Mengapa aku... merasa seperti pernah mengenalnya.”
“Cukup!” Ki Wreda membentak. “Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi. Itu bukan perempuan, Candra! Itu ruh yang terikat, mungkin bahkan bukan milik manusia lagi!”
Candra mengepalkan tangan. “Tapi dia tidak jahat, Ayah. Dia tak pernah menyakitiku. Dia—”
“Cinta tidak menghapus batas, Nak!” potong Ki Wreda tajam. “Justru karena kau baik, karena hatimu bersih, makhluk seperti itu mudah mendekatimu. Tapi ingat pesanku: jangan pernah pergi ke sungai menjelang senja. Itu bukan tempatmu.”
Candrakara menunduk. “Baik, Ayah.”
Namun di dalam hatinya, kata “baik” itu hanya janji di permukaan.
---
Senja berikutnya, ia tetap pergi. Diam-diam. Langkahnya ringan menapaki tanah lembap di tepi Sungai Cimanuk. Angin sore berembus pelan, membawa aroma melati yang menenangkan. Tapi kali ini, tak ada Batari. Hanya Nyi Lembayung yang muncul dari kabut tipis, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.
“Candra,” katanya lembut, “kau tahu ayahmu benar.”
Candra menatapnya. “Aku tak bisa diam, Nyi. Setiap kali aku menutup mata, aku melihatnya. Aku mendengar suaranya memanggil. Aku ingin tahu siapa dia, mengapa aku yang bisa mendengarnya.”
Nyi Lembayung menghela napas panjang. “Karena ruhnya terikat pada cincin itu — dan karena jiwamu bersentuhan dengannya.”
Candrakara menatapnya heran. “Cincin?”
Nyi Lembayung mengangkat tangan, dan di udara perlahan muncul bayangan cincin emas berukir, melayang di antara mereka. Cahaya bulan yang menembus awan membuat cincin itu tampak hidup, berdenyut pelan seperti jantung yang berdetak.
“Itu tanda ikatan janji yang belum selesai,” lanjut Nyi Lembayung. “Dan sebagian dari janji itu kini menempel padamu. Karena itulah kau dipilih oleh Batari.”
“Dipi—...lih?” gumam Candra pelan, suaranya tercekat.
“Ya,” kata Nyi Lembayung. “Ia tak bisa bersatu denganmu. Tapi ia ingin jiwamu tumbuh bijaksana, agar suatu hari nanti, ketika dunia sudah membuka jalannya, ia tak lagi menjadi rahasia di antara dua alam.”
Hening turun di antara mereka. Candrakara menatap air yang tenang, tapi pikirannya bergejolak.
“Jadi semua yang kurasakan... bukan kebetulan?”
“Tidak ada yang kebetulan, Candra,” jawab Nyi Lembayung lembut. “Tapi setiap rasa memiliki waktunya sendiri.”
---
Malam itu, Candrakara bermimpi. Ia berjalan di antara reruntuhan istana tua, dinding-dindingnya berlumut, dan suara perempuan memanggil dari kejauhan.
“Candrakara...”
Ia berlari melewati lorong yang dipenuhi cahaya biru. Di ujungnya, ia melihat Batari Melati berdiri di bawah langit tanpa bintang. Rambutnya disanggul rapi dihiasi bunga-bunga, wajahnya tampak sendu namun menenangkan.
“Batari!” serunya.
Batari menoleh perlahan, tersenyum samar. “Kau datang juga.”
“Aku mencarimu. Aku ingin tahu... kenapa kau menungguku.”
Batari menatap ke bawah, suaranya nyaris seperti bisikan. “Karena dunia ini menyimpan utang pada jiwaku. Dan entah bagaimana, kau adalah bagian dari jalan untuk melunasinya.”
Candra menatapnya bingung, tapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, tanah di bawah kakinya bergetar. Dinding istana mulai retak. Dari langit, cahaya putih turun, menyilaukan.
“Bangunlah, Candrakara,” kata Batari dengan suara yang kini menggema seperti dari dua arah — satu lembut, satu berat. “Bangun, sebelum kau ikut terkubur bersama kenangan.”
Ia terbangun dengan napas tersengal, keringat membasahi tubuhnya. Di luar, bulan hampir purnama. Dan di udara... samar tercium wangi melati.
---
Pagi harinya, Candrakara berjalan pelan ke halaman. Ki Wreda sudah menunggu, wajahnya lelah tapi tatapannya tegas.
“Kau bermimpi tentangnya, bukan?” tanya Ki Wreda datar.
Candrakara terdiam, lalu mengangguk pelan.
Ki Wreda menatap jauh ke arah sungai yang diselimuti kabut. “Dulu, ayahku pun pernah bermimpi hal yang sama. Tentang istana yang runtuh dan wangi melati di udara. Itu pertanda, Nak. Bahwa sejarah yang belum selesai sedang mencoba terulang.”
Candra menggenggam tangannya. “Lalu apa yang harus kulakukan, Ayah?”
“Berdoalah,” jawab Ki Wreda lirih. “Dan jangan melawan takdirmu.”
---
Namun menjelang senja, hati Candrakara tetap gelisah. Langit merah tua, angin membawa aroma melati lagi. Ia tahu itu panggilan — bukan dari Batari sepenuhnya, tapi dari sesuatu yang lebih dalam.
Di bawah rumpun bambu, Nyi Lembayung muncul lagi, kali ini dengan wajah sendu.
“Batari mulai memudar,” katanya lirih. “Dunia mulai mengingatnya. Saat itu tiba, ikatanmu dengannya akan diuji.”
Candra menatapnya, matanya bergetar. “Apa artinya semua ini akan berakhir?”
Nyi Lembayung tersenyum tipis. “Tidak semua akhir adalah kehilangan. Kadang, itu hanya bentuk lain dari pertemuan.”
Angin berembus lembut. Bambu berdesir, memantulkan cahaya senja yang terakhir. Candrakara menatap sungai yang mengalir tanpa suara, lalu berbisik pada dirinya sendiri:
“Kalau pun dunia tak izinkan kami bersatu, biarlah aku tetap mengingat namanya. Batari Melati — cahaya yang hidup di antara dua dunia.”
Dan di kejauhan, samar, terdengar bisikan lembut seperti suara yang datang dari balik tirai waktu:
“Aku pun tak akan melupakanmu, Candrakara.”
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar