![]() |
Mengambil jeda sebelum melangkah - Blog Cerita Kemuning |
Selamat Tahun Baru Semuanya!
Tiga puluh menit menjelang pergantian tahun. Tidak ada kembang api di halaman rumah, tidak ada teriakan hitung mundur yang riuh. Yang ada hanya detik jam yang berjalan setia, dan aku yang duduk sebentar—mengambil napas—sebelum benar-benar melangkah ke tahun yang baru.
Aku menulis ini sebagai penanda. Bukan penanda bahwa hidup akan berubah drastis setelah tengah malam, tapi penanda bahwa aku masih di sini. Masih diberi kesempatan. Masih diberi waktu.
Selamat datang, 2026.
Tahun baru sering datang dengan daftar harapan yang panjang. Resolusi yang ditulis rapi, lalu pelan-pelan dilupakan. Aku tidak ingin yang seperti itu. Aku ingin menyambut tahun ini dengan kepala yang lebih tenang dan hati yang lebih jujur.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, doaku masih sama. Doa-doa lama yang kembali kuucapkan, bukan karena aku kehabisan ide, tapi karena memang itulah yang paling kubutuhkan. Doa agar dikuatkan. Doa agar dimampukan. Doa agar aku tidak kehilangan arah.
Aku tahu, tidak apa-apa mengulang doa yang sama. Bukankah kita sering lupa? Bukankah hati manusia memang perlu diingatkan berkali-kali?
Untuk tahun ini, aku ingin fokus ke tahun ini saja. Tidak melompat terlalu jauh ke masa depan yang sering membuat kepala penuh. Satu tahun ke depan terasa cukup. Hari ini, besok, lusa. Pelan-pelan.
Keinginanku sederhana.
Aku ingin mengurangi overthinking dan menambah porsi bersyukur. Aku ingin mengurangi keluhan dan memperbanyak rasa cukup. Aku ingin mengurangi malas, dan belajar lebih rajin—bukan demi terlihat produktif, tapi agar hidup terasa lebih hidup.
Ujungnya tetap sama: bersyukur.
Aku tidak sedang berpura-pura menjadi orang yang selalu positif. Aku hanya sedang belajar berdamai. Berdamai dengan keadaan, dengan diri sendiri, dengan hidup yang jalannya tidak selalu lurus.
Hidupku tidak sempurna. Rasanya tidak perlu dijelaskan panjang-panjang, karena mungkin banyak dari kita yang berada di titik serupa. Ada rencana yang tidak jadi, ada harapan yang tertunda, ada luka yang tidak langsung sembuh.
Tapi sejauh ini, aku belajar satu hal: selalu ada hikmah, meski sering datang belakangan. Hikmah itu tidak selalu berbentuk jawaban. Kadang hanya berupa kekuatan untuk bertahan satu hari lagi.
Aku yakin aku tidak sendirian. Bukan hanya karena dunia ini luas dan manusia jumlahnya miliaran, tapi karena aku percaya Alloh SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian.
Alloh SWT memberi ujian kepada semua makhluk hidup. Hanya saja, kita sebagai manusia diberi akal untuk merenung dan belajar darinya. Itu keistimewaan sekaligus tanggung jawab.
Bersyukur saat mendapat nikmat, dan bersabar saat mendapat ujian—kalimat ini sering terdengar indah. Tapi aku tahu, menjalaninya tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika hati terasa berat, ketika sabar terasa jauh, dan syukur terasa seperti kewajiban yang dipaksakan.
Di hari-hari seperti itu, aku belajar untuk jujur. Jujur bahwa aku lelah. Jujur bahwa aku takut. Dan jujur bahwa aku butuh pertolongan Alloh SWT.
Dan pertolongan itu selalu datang. Tidak selalu dalam bentuk masalah yang langsung selesai, tapi dalam bentuk kekuatan untuk bertahan. Dalam bentuk hati yang perlahan dilapangkan.
Kalau aku masih bisa berdiri sampai hari ini, itu bukan karena aku kuat. Itu karena Alloh SWT yang memampukan. Alhamdulillah.
Tahun-tahun berlalu, dan aku sampai di titik ini—bersama bayiku. Bayiku yang kini sudah pandai bicara. Sudah punya banyak ekspresi. Marah, kesal, tertawa, bahagia, semuanya hadir apa adanya.
Aku sering memperhatikannya dalam diam. Cara dia menari tanpa takut salah. Cara dia tertawa tanpa beban. Cara dia marah, lalu lupa beberapa menit kemudian. Dari anak kecil, aku belajar banyak hal tentang hidup.
Dan tentu saja, ada momen yang selalu membuat hatiku luluh tanpa aba-aba. Ketika dia berkata, “I love you, Mama.”
Aku menjawab dengan kalimat yang sama setiap kali, “I love you, too. And I love you more, sayangku. Sayangnya Mama Ning.”
Di momen itu, aku sering berhenti sejenak dan berpikir: ternyata hidup yang tidak sempurna pun bisa terasa penuh.
Alhamdulillahi’alla kullihal.
Memasuki tahun 2026, aku tidak berani meminta hidup tanpa masalah. Aku hanya berharap diberi hati yang lebih lapang saat menghadapi apa pun yang datang. Diberi pikiran yang lebih jernih agar tidak mudah tenggelam dalam prasangka sendiri.
Aku berharap kita semua diberi kesehatan. Karena sering kali, kesehatan baru terasa penting ketika kita kehilangannya.
Aku berharap kita semua diberi rezeki yang cukup dan berkah. Rezeki yang membuat hidup berjalan, bukan rezeki yang membuat hati lalai.
Aku berharap apa yang kita semogakan bisa terwujud, dalam bentuk terbaik dan di waktu terbaik menurut Alloh SWT. Karena sering kali, yang kita anggap tertunda ternyata sedang disiapkan.
Dan aku berharap, sepanjang tahun ini, kita semua berada dalam perlindungan Alloh SWT. Dari yang tampak maupun yang tidak tampak. Dari hal-hal yang kita khawatirkan maupun yang tidak sempat kita pikirkan.
Aamiin.
Sebagai penutup tulisan pertama di tahun 2026 ini, aku ingin mengajak kita semua berhenti sejenak. Menundukkan hati. Mengingat bahwa di luar sana, ada saudara-saudari kita yang sedang menghadapi musibah akibat bencana alam.
Di berbagai tempat di dunia, ada yang kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, bahkan kehilangan orang-orang tercinta. Ada doa-doa yang mungkin sedang naik dengan suara gemetar, ada air mata yang jatuh dalam diam.
Mari kita kirimkan doa terbaik untuk mereka. Semoga mereka diberi ketabahan, kekuatan, dan perlindungan. Semoga Alloh SWT mengganti setiap kehilangan dengan kebaikan yang tidak disangka-sangka. Semoga mereka dikelilingi oleh orang-orang baik yang saling menguatkan.
Kadang kita tidak selalu bisa hadir secara nyata. Tidak selalu mampu berbuat banyak. Tapi doa adalah bentuk kepedulian yang tidak pernah sia-sia.
Semoga tahun 2026 menjadi tahun di mana kita lebih lembut pada diri sendiri, lebih peka pada sekitar, dan lebih sadar bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mau terus belajar bersyukur.
Selamat tahun baru, 2026. Kita jalani bersama, pelan-pelan, dengan hati yang terus belajar cukup.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---
![]() |
| Syukur yang tumbuh bersama waktu - Blog Cerita Kemuning |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar