Tulisan Rumit Kemuning 4

Ilustrasi perempuan berambut merah mengenakan gaun merah sederhana, duduk tenang di dekat jendela dengan cahaya matahari masuk dari luar.

Ada hal-hal yang tetap kuizinkan masuk, dan ada yang cukup kutahu dari balik jendela - Blog Cerita Kemuning



Kenapa aku yang berpenampilan sederhana dan murah senyum selalu dianggap murah lalu gampang didapatkan?

 

  • Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi penulis dan ditulis sebagai refleksi, bukan penghakiman.

 

Ada satu hal kecil yang dulu kuanggap remeh, tapi ternyata di zaman sekarang bisa berubah jadi sumber fitnah kelas berat: senyum. Iya, cuma senyum. Gerakan bibir sederhana, tanpa niat apa-apa, tanpa agenda, tanpa kode rahasia. Tapi entah sejak kapan, senyum dianggap undangan terbuka. Seolah-olah orang yang murah senyum otomatis murah harga diri. Astaghfirullah. Nudzubillahimindzalik.

Aku ini tipe manusia sederhana. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, ya begitu adanya. Bajuku biasa, gayaku aman, rapi, sopan, dan—kata orang—nggak neko-neko. Aku juga gampang senyum. Bukan karena genit. Bukan karena mau cari perhatian. Tapi karena aku tumbuh di lingkungan yang mengajarkan bahwa ramah itu adab, senyum itu sedekah. Dulu. Ya, dulu.

Sekarang ceritanya beda.

Di zaman ini, untuk jadi orang yang gampang tersenyum saja bisa jadi bahan gosip. Bisa jadi bahan tuduhan. Bisa jadi fitnah murahan yang dibungkus asumsi mahal. Senyum sedikit, dibilang genit. Ramah dikit, dibilang cari muka. Diam salah, senyum salah. Jadi manusia normal rasanya kayak ujian hidup level expert.

Aku pernah ada di titik itu. Baru kenal seseorang dua minggu—dua minggu, ya, bukan dua tahun—tiba-tiba mulutnya lancang. Tuduhannya ngawur. Cara berpikirnya sempit. Dan saat itu aku sadar satu hal penting: nggak semua orang pantas dapat keramahan kita.

Jujur saja, awalnya risih. Banget. Dalam hati aku mikir, “Kenapaaa sih? Aku salah apa?” Tapi hidup jalan terus. Aku tarik napas. Aku berdiri tegak. Aku bilang ke diri sendiri, it’s okay, I’m fine, and I am okay. Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan menjelaskan niat baik ke orang yang memang niatnya sudah buruk.

Masalahnya bukan cuma soal senyum.

Ada juga soal penampilan.

Entah kenapa, di kepala sebagian orang, sederhana itu identik dengan nggak tahu apa-apa. Seolah-olah hidup ini cuma ada dua pilihan: tampil wah atau dianggap nggak paham dunia. Logikanya aja sudah pincang, tapi ya begitulah adanya.

“Dia sederhana, pasti nggak ngerti merek.” “Dia dandan biasa, paling nggak tahu gaya.”

Mohon maaf. Bukan nggak ngerti. Aku tahu. Aku tahu merek. Aku tahu gaya. Aku tahu tren. Aku tahu harga. Aku tahu kualitas. Aku juga tahu satu hal yang lebih penting dari semua itu: isi dompet.

Beli barang bermerek dan bergaya itu bukan soal gengsi, tapi soal kesiapan. Selama isi dompetku masih standar, selama itu pula hidupku akan tetap sederhana. Bukan karena terpaksa. Tapi karena sadar diri. Dan menurutku, itu jauh lebih terhormat daripada memaksakan citra demi terlihat “wah” di mata orang lain.

Lagipula, bukankah yang penting itu sopan dan enak dilihat? Kita ini manusia, bukan etalase butik. Selama pakaian bersih, rapi, pantas, dan tidak menyakiti mata orang lain, harusnya cukup. Simple, kan?

Sayangnya, kesederhanaan sering disalahartikan sebagai kelemahan.

Senyum dianggap godaan.

Keramahan dianggap sinyal.

Diam dianggap sombong.

Aku sampai di fase belajar beradaptasi. Bukan dengan mengubah prinsip hidup, tapi dengan mengatur ulang batas. Aku tidak lagi memberi senyum ke semua orang. Aku memilih. Bukan karena benci. Tapi karena waras.

Ada lingkungan yang memang sehat untuk ramah. Ada juga lingkungan yang lebih aman jika kita pasang wajah datar. Dan itu nggak apa-apa. Menjaga diri sendiri bukan dosa.

Kadang, pergi adalah pilihan paling masuk akal. Meninggalkan lingkungan yang isinya penuh prasangka, penuh mulut tajam, penuh asumsi murahan. Demi apa pun, aku nggak mau lagi hidup berdampingan dengan orang-orang seperti itu. Hidupku bukan tempat sampah prasangka orang lain.

Ramah tamah di zaman ini memang sering jadi sumber fitnah. Miris, tapi nyata. Sampai aku mikir, mungkin sistem di beberapa negara itu ada benarnya. Senyum cuma untuk orang yang dikenal. Nggak senyum nggak dianggap sombong. Nggak bilang permisi pun nggak dikomentari “ayam lewat”. Lebih tenang. Lebih damai. Mental lebih aman.

Tapi hidup membawaku ke pemahaman lain seiring bertambahnya usia.

Aku jadi lebih pandai menilai. Lebih jeli memilah. Lebih selektif memilih siapa yang pantas aku sopani, dan siapa yang cukup aku hormati dari jarak aman. Kesopananku sekarang diukur dengan situasi dan kondisi. Bukan karena berubah jadi orang dingin, tapi karena belajar bertahan hidup.

Lucunya, waktu kecil aku tumbuh di antara orang-orang yang sopan dan murah senyum. Teman-teman sekolahku juga begitu. Dunia terasa ramah. Aman. Hangat. Tapi sekarang? Ah, dunia seperti sedang lelah. Orang-orang gampang curiga. Mudah menilai. Susah percaya.

Aku sempat kaget. Aku sempat kecewa. Aku sempat risih. Tapi aku tidak mau berhenti jadi diriku sendiri hanya karena dunia sedang tidak baik-baik saja.

Yang berubah hanyalah caraku menempatkan diri.

Dan satu hal lagi yang sering disalahpahami: kesederhanaanku bukan cerminan mimpiku.

Aku mungkin tampil biasa. Tapi mimpiku tidak kecil. Aku hidup di zaman digital. Informasi ada di mana-mana. Soal merek, gaya, peluang, ide, semuanya tinggal klik. Aku tahu. Aku mengikuti. Aku belajar. Aku hanya memilih untuk tidak memamerkannya.

Karena hidup ini bukan lomba siapa paling terlihat mahal.

Ini perjalanan panjang tentang siapa yang paling bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

Aku bersyukur. Dengan hidup yang sekarang. Dengan pilihan-pilihan yang kuambil. Dengan versi diriku yang tidak silau, tidak silap, dan tidak silat lidah demi validasi orang lain.

Dan kalau hari ini aku masih memilih tampil sederhana, itu bukan karena aku kalah. Tapi karena aku tahu persis ke mana aku melangkah.

Senyumku mungkin tidak lagi untuk semua orang.

Tapi hatiku tetap hangat.

Langkahku tetap tegak.

Dan hidupku—tetap slay, dengan caraku sendiri.

 

---

 

Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

 

---

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar