“Semua Akan Indah pada Waktunya”: Kalimat Manis yang Baru Kupahami Setelah Belajar Bersyukur

Ilustrasi perempuan muda berambut merah dikepang dengan bunga daisy dan mawar, mendayung sampan biru tua di sungai yang luas.
Mengayuh sendiri, tetap melaju di sungai kehidupan - Blog Cerita Kemuning


Tentang iman yang lelah, doa jam empat pagi, dan bahagia yang ternyata tidak datang sendiri.


Awal tahun sering datang dengan janji-janji baru. Tapi tulisan ini tidak lahir dari resolusi atau target apa pun, melainkan dari perjalanan panjang memahami satu kalimat sederhana yang dulu sering kupegang: semua akan indah pada waktunya.


Waktu aku remaja, hidupku mulai tidak baik-baik saja.

Bukan dramatis versi film, tapi versi sunyi yang bikin dada sering sesak tanpa tahu kenapa.

Di masa itu, satu kalimat yang paling sering kudengar—dan paling sering kugenggam—adalah:

 

“Semua akan indah pada waktunya.”

 

Kalimat ini seperti permen. Manis. Mudah ditelan. Menenangkan di awal.

Dan seperti permen juga, efeknya cepat hilang kalau dimakan terus tanpa asupan yang lain.

 

Tapi namanya juga masih muda, masih percaya dunia bekerja seperti poster motivasi.

Aku percaya.

Sungguh-sungguh percaya.

 

Setiap kali lelah, aku bilang ke diri sendiri: percaya lagi.

Setiap kali jengah, aku paksa hati: ayo positif lagi.

Setiap kali marah, aku tarik napas panjang dan bilang: berserah saja, Allah tahu jalannya.

 

Dan aku memang berserah.

Dengan caraku yang paling mampu saat itu.

 

Jam empat pagi.

Aku bangun.

Mandi.

Menunggu adzan Subuh.

 

Ada masa di mana Subuh terasa bukan sekadar ibadah, tapi tempat berlindung.

Di saat dunia masih tidur, aku duduk sendirian dengan mukena dan segala pertanyaan yang tak berani aku ucapkan di siang hari.

 

Setelah sholat, aku pernah sampai di satu titik kelelahan yang jujur sekali.

Doaku tidak puitis.

Tidak indah.

Tidak instagramable.

 

Aku bilang,

“Ya Allah, hidupku sudah seperti medan tempur. Tapi kenapa ‘indah pada waktunya’ itu rasanya belum datang juga?”

 

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang bikin aku sendiri terdiam.

 

“Apa aku tidak pantas bahagia?”

“Atau bahagiaku Engkau simpan untukku nanti saja… di akhirat?”

 

Begitu sampai di situ, aku langsung mikir:

Lah kok pede banget aku, mikir pahala aja belum tentu keterima.

 

Aku sampai nyengir sendiri.

Merasa ke-GR-an dengan iman yang sebenarnya masih bolong-bolong.

 

Di momen-momen seperti itu, aku sadar:

berpikir positif itu melelahkan kalau tidak disertai penerimaan.

Percaya itu berat kalau hati terus memaksa, tapi tidak mengerti.

 

Kalimat “semua akan indah pada waktunya” pelan-pelan berubah.

Bukan lagi janji, tapi seperti teka-teki yang tidak ada keterangan soal.

 

Sampai kemudian, Runi datang ke hidupku.

 

Dan hidup—yang tadinya riuh dengan tuntutan untuk kuat—mendadak punya pusat yang berbeda.

 

Setelah kehadiran Runi, aku mulai sadar satu hal yang sangat mendasar, tapi sering luput:

indah pada waktunya tidak akan pernah terasa indah kalau hatiku penuh keluhan.

 

Ujian boleh datang bertubi-tubi.

Masalah boleh antre seperti orang mau beli sembako murah.

Tapi kalau di sela-selanya tidak ada rasa syukur, bahagia tidak punya tempat untuk mampir.

 

Bahagia bukan tamu VIP yang datang sendiri.

Ia datang kalau disediakan kursi.

 

Pagi itu, ayam sudah berkokok.

Aku masih duduk di atas sejadah.

Memandangi motif Ka’bah yang selalu tampak jauh dan agung itu.

 

Dan pikiran usilku muncul lagi:

“Boro-boro sampai ke Mekah. Bikin senang mama saja belum.”

 

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu, tapi karena sadar betapa seringnya kita memikirkan tujuan besar, sementara tugas kecil di depan mata belum selesai.

 

Di situlah aku paham:

bahagia bukan soal sampai, tapi soal berjalan dengan sadar.

 

Sejak Runi hadir, definisi tenang dan bahagia bergeser.

Bukan berarti hidup jadi mudah.

Bukan berarti masalah angkat kaki.

 

Tapi aku belajar satu hal penting:

tenang dan bahagia datang berbarengan dengan rasa syukur dan sabar—bukan setelah ujian selesai, tapi di tengah ujian itu sendiri.

 

Hidup ini bukan soal pilihan ganda.

Tidak ada A, B, C, atau D.

Tidak ada remedial.

Tidak ada bocoran jawaban.

 

Ini soal esai.

Dan kunci jawabannya memang tidak instan.

 

Aku tidak bilang aku sudah ikhlas.

Tidak juga bilang hatiku selalu lapang.

 

Tawakal itu berat kalau hati penuh marah dan dendam.

Dan aku jujur: hatiku sering marah.

Kadang lelah.

Kadang iri.

Kadang mempertanyakan keadilan dengan nada sinis.

 

Tapi di situ juga aku belajar sadar diri.

Bahwa aku ini manusia biasa.

Bukan wali.

Bukan orang suci.

 

Aku hanya seseorang yang sedang mencari tenang lahir dan batin.

Pelan-pelan.

Sambil terseok.

Untuk persiapan pulang dengan tenang.

 

Karena pada akhirnya, yang kita kejar bukan cuma bahagia dunia.

Tapi husnul khotimah.

 

Dan itu pun—kalau boleh jujur—bukan soal sempurna.

Tapi soal terus kembali, meski sering tersesat.

 

Sekarang, saat aku mendengar lagi kalimat “semua akan indah pada waktunya”, aku tidak lagi menelannya mentah-mentah.

Aku memahaminya begini:

 

Indah itu bukan waktu yang menentukan.

Tapi hati yang siap menerima.

 

Dan kesiapan itu lahir dari syukur yang dilatih, bukan ditunggu.

 

Kalau hari ini hidupmu masih seperti medan tempur, tidak apa-apa.

Kalau doamu masih dipenuhi tanya, juga tidak salah.

Allah tidak anti pertanyaan.

Yang berbahaya justru pura-pura kuat.

 

Kita ini sedang mengerjakan soal panjang.

Boleh capek.

Boleh berhenti sebentar.

Asal jangan menyerah pada keputusasaan.

 

Karena mungkin, “indah pada waktunya” itu bukan tentang hari tanpa luka.

Tapi hari di mana kita belajar berdamai dengan luka itu sendiri.

 

Aamiin.

 

--- 


Tulisan ini pernah dipublikasikan di Medium dan ditulis ulang sebagai refleksi pribadi di blog ini.


---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar