![]() |
Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning |
BAB 7 — Menemukan Cahaya di Dalam Diri Sendiri
Pagi di kampus selalu punya suara sendiri.
Bukan cuma deru motor mahasiswa yang datang tergesa, bukan cuma teriakan pedagang kopi keliling, tapi juga suara langkah-langkah anak muda yang sedang mencari arah hidupnya masing-masing.
Mala berjalan pelan di antara kerumunan itu.
Tas ransel hitam menggantung di bahu kirinya, rambutnya diikat sederhana. Kaos lengan panjang dan jeans—yang entah sejak kapan terasa lebih longgar di pinggang—membuatnya berkali-kali menarik napas kecil, seperti ingin memastikan: iya, ini tubuhku sekarang.
Dulu, langkahnya selalu dibarengi rasa waswas.
Takut dilihat.
Takut dinilai.
Takut bisik-bisik yang tak pernah ia minta.
Sekarang, langkah itu lebih ringan.
Bukan karena dunia tiba-tiba jadi ramah. Tapi karena Mala berhenti menaruh telinga dan hati pada semua suara yang tak penting.
“Aku bukan panggung kalian,” gumamnya lirih, hampir seperti doa.
Di depan gedung fakultas, beberapa mahasiswa duduk melingkar. Ada yang tertawa keras, ada yang sibuk dengan laptop, ada yang sekadar rebahan di rumput sambil menatap langit. Dunia tetap berjalan dengan urusannya masing-masing—dan untuk pertama kalinya, Mala merasa tak harus ikut sibuk memikirkan penilaian orang.
Ia masuk kelas, memilih duduk di dekat jendela.
Angin pagi menyelinap masuk, membawa bau rumput basah dan sisa hujan semalam. Di meja kayu yang penuh coretan angkatan-angkatan lama, Mala membuka buku catatan. Tangannya refleks menyentuh perutnya—bukan untuk mencubit, bukan untuk menghakimi—melainkan sekadar memastikan ia masih di sini, utuh, bernapas.
Tubuh ini bukan musuh.
Ia hanya rumah yang lama tak ia dengarkan.
---
Sore hari, Mala pulang lebih cepat. Jadwal kuliah hari itu longgar. Ia memilih naik angkot, duduk di dekat jendela, memandangi jalanan yang mulai berubah warna keemasan.
Ruko keluarga mereka sudah terlihat dari kejauhan.
Mama—Ceu Hayati—sedang menata buah di etalase. Apel, pir, jeruk, dan beberapa potong pepaya sudah tersusun rapi di wadah kaca. Sejak mendukung “program sehat” Mala, kulkas rumah mereka lebih sering penuh buah daripada gorengan.
Mala tersenyum kecil.
“Assalamu’alaikum. Ma, aku pulang,” sapanya sambil meletakkan tas.
Ceu Hayati menoleh, matanya otomatis memindai Mala dari ujung kepala sampai kaki—kebiasaan yang dulu sering membuat Mala tertekan, tapi kini terasa berbeda.
“Wa’alaikumsalam. Kamu kelihatan capek,” kata Mamanya.
“Iya, tapi capek enak.”
“Duduk dulu. Mama potongin pepaya.”
Mala mengangguk. Ia duduk di bangku dekat kasir, membantu menghitung uang receh sambil menunggu pelanggan.
Tak lama kemudian, suara motor berhenti di depan ruko.
“Assalamu’alaikum.”
Suara itu.
Mala tak langsung menoleh, tapi jantungnya sudah memberi tanda kecil—seperti ketukan halus di pintu yang tak pernah dipaksa untuk dibuka.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ceu Hayati ramah.
Iqbal masuk dengan senyum khasnya. Kemeja kerja masih rapi, helm di tangan. Sorot matanya langsung menangkap sosok Mala yang sedang menunduk menghitung koin.
“Capek, Mal?” tanyanya ringan.
Mala mendongak. Mata mereka bertemu sesaat—cukup lama untuk terasa, cukup singkat untuk tetap sopan.
“Lumayan, Kak,” jawab Mala. “Kuliah hari ini agak panjang.”
Iqbal mengangguk, lalu duduk di bangku kayu di dekat pintu. Seperti biasa, ia tak pernah berlebihan. Tak mendekat terlalu jauh. Tak berkata terlalu banyak.
Tapi selalu ada jarak hangat yang membuat Mala merasa… aman.
“Kampus gimana?” tanya Iqbal lagi.
“Rame. Tapi menyenangkan,” jawab Mala jujur.
Iqbal tersenyum. “Kamu kelihatan nyaman di sana.”
Mala terdiam sesaat.
“Iya,” katanya pelan. “Aku juga baru sadar itu.”
Ceu Hayati pura-pura sibuk menata buah, padahal senyumnya tak bisa disembunyikan.
---
Beberapa hari kemudian, Iqbal menjemput Mala dari kampus.
Bukan dengan pengumuman.
Bukan dengan janji berlebihan.
Hanya pesan singkat:
“Aku lagi lewat depan kampus. Kalau mau pulang bareng, aku tunggu di gerbang.”
Mala membaca pesan itu beberapa kali sebelum membalas.
“Boleh, Kak. Aku sebentar lagi keluar.”
Ia berdiri di depan gerbang kampus dengan perasaan campur aduk. Bukan gugup seperti remaja yang baru jatuh cinta. Lebih seperti seseorang yang belajar membuka jendela setelah lama menutup diri.
Iqbal datang, tersenyum, memakaikan helm dengan gerakan hati-hati.
“Siap?” tanyanya.
“Siap.”
Motor melaju pelan. Angin sore menyentuh wajah Mala, membawa bau aspal hangat dan dedaunan.
“Kamu sekarang sering kelihatan lebih… tenang,” ujar Iqbal tiba-tiba.
Mala menoleh sedikit. “Masa?”
“Iya. Dulu kamu seperti selalu siap membela diri. Sekarang kelihatan lebih berdamai.”
Mala tersenyum di balik helm. “Mungkin karena aku berhenti bertengkar sama tubuhku sendiri.”
Iqbal terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, “Itu tidak mudah.”
“Enggak,” jawab Mala. “Tapi perlu.”
Motor berhenti di lampu merah. Untuk sesaat, dunia seperti memberi mereka ruang kecil untuk bernapas.
“Kak Iqbal,” kata Mala, suaranya tenang tapi tegas, “aku pengin jujur.”
Iqbal menoleh. “Aku dengerin.”
“Aku sekarang fokus ke diriku. Ke sekolah. Ke kesehatan. Aku senang kalau Kakak ada. Tapi aku nggak mau melangkah ke sesuatu yang bikin aku lupa sama tujuan sendiri.”
Iqbal tersenyum—bukan senyum kecewa, bukan senyum menggoda. Senyum orang dewasa yang mengerti batas.
“Itu justru bikin aku lebih hormat sama kamu, Mal,” katanya. “Aku juga nggak mau terburu-buru. Aku cuma pengin nemenin, sejauh yang kamu izinkan.”
Mala mengangguk. Dadanya terasa hangat.
Lampu hijau menyala. Motor kembali melaju.
---
Malam itu, setelah Mala tidur, Ceu Hayati duduk di ruang makan bersama Kang Yudha.
“Pak,” kata Ceu Hayati pelan, “Iqbal makin sering jemput Mala.”
Kang Yudha mengangkat alis. “Kamu keberatan?”
Ceu Hayati menggeleng. “Bukan keberatan. Cuma… Mama masih suka takut. Takut Mala terlalu kurus. Takut dia kenapa-kenapa.”
Kang Yudha menarik napas panjang. “Anak kita sudah besar, Ma. Dan aku lihat dia sekarang lebih sehat. Lebih bahagia.”
Ceu Hayati menunduk. “Aku cuma nggak mau sampai kehilangan dia atau sampai sakit seperti waktu typus dulu.”
Kang Yudha meraih tangan istrinya. “Justru sekarang dia tahu caranya menjaga diri.”
Hening sejenak.
“Kalau soal Iqbal,” lanjut Kang Yudha, “di pabrik, dia dikenal baik. Nggak neko-neko. Aku percaya dia tahu batas.”
Ceu Hayati mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Kita cuma bisa mendoakan yang terbaik,” kata Kang Yudha pelan.
“Amin,” jawab Ceu Hayati.
---
Hari-hari Mala berjalan dengan ritme baru.
Pagi kuliah.
Siang belajar.
Sore bantu Mama di toko.
Malam olahraga ringan atau menonton film—bukan lagi untuk lari, tapi untuk menikmati.
Gosip tetangga masih ada. Tapi seperti suara radio dari rumah sebelah—terdengar, tapi tak lagi masuk ke hati.
Suatu sore, saat Mala menata barang di rak, seorang tetangga berbisik pada temannya, “Sekarang sih kelihatan berhasil. Nanti juga balik lagi.”
Ceu Hayati mendengarnya.
Ia tersenyum, mengambil tomat, dan berkata ringan, “Yang penting anak saya sehat.”
Mala mendengar itu dari kejauhan. Dadanya menghangat.
Ia tahu: ia tak sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi mencari cahaya dari luar.
Ia menemukannya di dalam dirinya sendiri.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar