![]() |
| Kakek berjanggut putih itu tidak menatap dunia—ia menjaganya, dengan tenang - Blog Cerita Kemuning |
Cerita dari rumah masa kecil, tentang hantu yang sopan, iman bocah kampung, dan televisi yang terlalu rajin ganti saluran
Rumah kakek saya dulu berdiri dengan sikap rendah hati. Tidak besar, tidak pula mencolok, tapi kokoh seperti orang tua yang jarang bicara dan tidak suka ikut-ikutan. Dindingnya menyimpan bau kayu tua, lantainya dingin, dan halamannya cukup luas untuk menjemur padi, kursi bambu, serta kenangan yang tidak pernah benar-benar mau pindah.
Di situlah saya tumbuh. Belajar membaca, menulis, takut, lalu belajar berani—dengan cara yang tidak pernah ada di buku pelajaran.
Dan ya, di rumah itu, konon ada seorang kakek berjanggut putih.
Bukan kakek saya. Kakek yang lain.
---
Penghuni yang Tidak Pernah Ikut Rapat Keluarga
Cerita tentang kakek berjanggut putih itu pertama kali saya dengar bukan dari kakek saya sendiri, melainkan dari teman-teman mama. Mereka datang bertamu, menginap, lalu pulang dengan cerita yang bunyinya mirip-mirip, seolah sudah latihan sebelumnya.
“Kami lihat ada kakek mondar-mandir,” kata salah satu.
“Jenggotnya panjang, sampai lutut,” sahut yang lain.
“Pakai baju hitam pangsi, pakai totopong,” tambah yang ketiga, serius sekali.
Lengkap. Tinggal soundtrack.
Kakek berjanggut putih itu, kata mereka, wajahnya teduh. Tidak seram. Tidak melotot. Tidak terbang. Ia hanya berjalan pelan, bertopang iteuk—tongkat kayu yang seolah sudah menyatu dengan tangannya.
Dan yang paling aneh—ia tidak peduli.
Tidak peduli ada tamu. Tidak peduli ada anak kecil. Tidak peduli televisi menyala. Tidak peduli dunia manusia sedang ribut apa.
Ia hanya mondar-mandir. Seperti orang tua yang sudah terlalu lama hidup untuk ikut panik.
---
Tanah yang Lebih Tua dari Ingatan Manusia
Almarhum kakek saya menanggapi semua cerita itu dengan ketenangan yang nyaris bikin kesal.
“Mungkin dia memang sudah di sini dari dulu,” katanya, sambil duduk di kursi bambu.
Dulu, sebelum jadi rumah tinggal, tanah itu adalah kebun bambu yang luas. Tempat yang lembap, sunyi, dan—menurut cerita orang-orang tua—pernah jadi tempat pembuangan batang pisang bekas memandikan jenazah.
Zaman dahulu, memandikan mayat menggunakan potongan batang pisang sebagai alas. Setelah selesai, batang pisang dibuang begitu saja. Tidak ada ritual besar. Hidup dan mati berjalan beriringan, tanpa drama.
Rumah itu pun bukan dibangun dari nol. Kakek membelinya dari seorang teman. Soal ada penghuni sebelumnya atau tidak, kakek saya tidak ambil pusing.
“Yang penting tidak mengganggu,” katanya.
Dan sejauh yang kami tahu, memang tidak pernah mengganggu.
---
Pengalaman Pertama: Buku yang Belajar Sendiri
Masalahnya, saya kecil tidak cuma mendengar cerita. Saya mengalami.
Suatu malam, saya sedang belajar. Buku pelajaran terbuka di sudut meja belajar saya. Angin tidak bertiup. Kipas angin sedang tidak dinyalakan. Pintu dan jendela tertutup rapat.
Tiba-tiba—flaap!
Halaman buku itu membuka satu per satu, cepat, rapi, sampai membentuk kipas.
Saya membeku.
Lalu—plek.
Buku itu menutup sendiri.
Saya menatapnya lama, berharap itu cuma ilusi bocah ngantuk.
Tidak ada siapa-siapa.
Saya menutup buku pelan-pelan.
Dan memilih tidak bercerita ke siapa pun.
Kadang, anak kecil tahu: tidak semua hal perlu dilaporkan.
---
Televisi yang Terlalu Rajin Ganti Saluran
Pengalaman paling legendaris terjadi suatu malam. Saya menonton televisi sendirian. Sudah lewat tengah malam. Acara entah apa, saya lupa. Yang jelas, saya terlalu asyik dan terlalu bandel untuk tidur cepat.
Tiba-tiba—klik.
Saluran pindah sendiri.
Saya bengong.
Saya pencet tombol. Balik lagi.
Beberapa detik kemudian—klik.
Pindah lagi.
Di situ, jantung saya rasanya mau ikut pindah saluran.
“Sumpah, ini kaget maksimal,” batin saya.
Saya tidak teriak. Tidak lari.
Saya melakukan hal paling masuk akal menurut versi bocah kampung yang rajin ngaji:
“Ah… mungkin Alloh SWT lagi nyuruh aku tidur,” pikir saya keras-keras.
“Besok sekolah. Jangan larut-larut. Lewat… dia.”
Siapa dia?
Saya tidak tahu. Tapi saya merasa tidak sendirian.
Karena kakek, nenek, dan adik saya sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Saya langsung matikan televisi.
Masuk kamar.
Baca doa tidur.
Taruh bantal di atas kepala—antisipasi paling realistis yang saya punya saat itu.
Dan tidur.
Dengan iman dan bantal sebagai tameng utama.
---
Lukisan yang Lebih Rajin Mengingatkan daripada Jam Dinding
Ada satu kejadian lagi yang sampai sekarang kalau diingat, saya masih senyum sendiri—antara malu dan bersyukur.
Waktu itu menjelang maghrib. Langit mulai menguning. Suara azan belum terdengar, tapi tanda-tandanya sudah ada. Saya ada di kamar mama. Kamar itu selalu terasa sedikit lebih sunyi, mungkin karena ada beberapa barang lama di dalamnya.
Salah satunya: lukisan mama.
Lukisan wajah mama—entah siapa yang membuat, saya juga tidak pernah benar-benar bertanya. Digantung rapi di dinding. Matanya besar dan coklat, tatapannya tenang. Selama ini biasa saja. Tidak ada yang aneh. Karena itu lukisan wajah mama sendiri.
Masalahnya, sore itu saya sedang malas salat.
Bukan tidak mau.
Hanya… nanti dulu.
Penyakit klasik anak kecil.
Saya duduk, bengong, menunda.
Dan entah kenapa, mata saya tertuju ke lukisan itu.
Saya perhatikan.
Sekilas biasa.
Saya alihkan pandangan.
Lalu menoleh lagi.
Dan di situlah kejadian itu terjadi.
Matanya berkedip.
Bukan lama.
Bukan dramatis.
Satu kedipan singkat—cukup untuk bikin iman saya lari lebih cepat dari logika.
Saya tidak teriak.
Tidak pingsan.
Tidak sok berani.
Saya langsung keluar kamar.
Cepat. Sangat cepat.
Seperti dikejar setan, padahal yang dikejar sebenarnya adalah rasa malas sendiri.
“Bismillah… bismillah…” gumam saya sambil menuju kamar mandi.
Ambil wudhu.
Air terasa dingin.
Hati terasa panas—bukan takut, tapi sadar.
Saya salat maghrib di kamar saya sendiri.
Cepat tapi khusyuk.
Takbirnya serius.
Doanya panjang—karena takut keburu ditegur lagi, lewat media lain.
Selesai salat, saya duduk lama.
Dan baru berpikir pelan:
“Oh… ini bukan nakut-nakutin.”
“Ini diingetin.”
Sejak hari itu, saya punya kesimpulan pribadi:
kalau malas ibadah, semesta bisa jadi sangat kreatif.
Dan mungkin, kakek berjanggut putih itu—atau siapa pun yang mondar-mandir di rumah kami—punya cara sendiri untuk ikut menjaga, tanpa ceramah, tanpa marah, tanpa teriak.
Cukup dengan satu kedipan mata.
---
Dialog Tipis yang Tidak Pernah Dibahas Terang-Terangan
Keesokan harinya, saya memberanikan diri bertanya ke mama.
“Ma… kalau di rumah ini ada yang lain, mereka suka nonton TV juga, ya?”
Mama menatap saya sebentar. Lalu berkata santai,
“Yang penting kamu jangan kurang ajar.”
Selesai.
Tidak ada penjelasan lanjutan.
Di rumah itu, memang begitu caranya. Tidak dibesar-besarkan. Tidak diperkecil-kecil. Semua diletakkan di tempatnya.
---
Kampung yang Sunyinya Terlalu Jujur
Malam di kampung saya dulu sangat sunyi. Kalau bukan suara tukang ronda, ya suara angin dan jangkrik. Udara sejuk. Selimut tebal masih berjasa.
Lalu waktu berjalan. Udara jadi lebih gerah. Selimut ditinggalkan. Dunia ramai bicara soal global warming. Dan akhirnya, datanglah Waduk Jatigede.
Rumah kakek saya ikut tergusur.
---
Ketika Rumah Pergi, Ingatan Tinggal
Kami pindah. Rumah masa kecil itu hilang dari peta, tapi tidak dari kepala. Cerita tentang kakek berjanggut putih ikut terbawa, seperti bayangan yang tidak ribut.
Saya sempat bertanya-tanya:
Kemana dia sekarang?
Ikut pindah?
Atau sudah lebih dulu mencari tempat sunyi?
Lalu saya tersenyum sendiri. Mereka yang tak kasat mata, saya yakin, lebih pintar urusan pindah rumah dibanding manusia.
Dan saya percaya, keyakinan almarhum kakek saya benar:
Kita hidup berdampingan.
Tidak saling mengganggu.
Tidak perlu panik.
Seperti kakek berjanggut putih itu.
Yang mondar-mandir dengan tenang.
Yang tidak ikut ribut.
Yang mungkin—suatu malam—pernah membantu saya tidur lebih cepat demi sekolah keesokan hari.
Dan mungkin peduli akan waktu ibadah saya yang harus tepat waktu.
Dan kalau itu benar,
maka ia bukan hantu yang menakutkan.
Ia cuma tetangga lama
yang terlalu sopan untuk pamit.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar