![]() |
Dua sahabat, satu lapangan, dan dunia yang tak pernah sama - Blog Cerita Kemuning |
Bab 1 - Anak-Anak yang Tidak Tahu Mereka Sedang Berlomba
---
Qirin dan Qirun masih duduk di bangku sekolah dasar ketika orang dewasa di sekitar mereka sudah sibuk menentukan masa depan—tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang mereka mau.
Rumah mereka hanya terpisah dua bangunan.
Kalau dilempar sandal, nyampe.
Kalau dilempar asumsi, nyampenya bisa ke mana-mana.
Qirin tumbuh di rumah yang sunyi tapi hangat. Tidak banyak aturan yang diucapkan keras-keras, tapi semua terasa jelas. Ayahnya perokok berat, ibunya juga. Asap rokok kadang lebih rajin keluar dari jendela rumah Qirin daripada suara pengajian. Tapi di rumah itu, kebohongan terasa asing. Amanah bukan slogan. Rendah hati bukan bahan ceramah.
Kalau sedang susah, mereka tidak teriak.
Kalau sedang senang, mereka tidak pamer.
Kalau melihat urusan orang lain, mereka memilih menutup pintu.
Sementara itu, Qirun dibesarkan di rumah yang terlihat rapi dari luar. Kata-kata tentang Tuhan sering keluar dari sana, mengalun manis, kadang terlalu manis sampai lengket di telinga tetangga. Ibunya Qirun rajin pengajian, rajin bicara, dan rajin tahu urusan orang—terutama urusan keluarga Qirin.
“Bukan gibah ya,” katanya sering, sambil merapatkan kerudung,
“ini cuma keprihatinan.”
Topik favoritnya selalu sama.
Ibunya Qirin.
Rokoknya.
Dan ketidakhadirannya di pengajian.
Padahal jarak rumah mereka cuma dua rumah.
Tapi ibunya Qirun tahu lebih banyak tentang keluarga Qirin daripada Qirin sendiri.
---
Larangan yang Dibungkus Sayang
Sejak kelas tiga SD, Qirun mulai jarang main ke rumah Qirin.
Bukan karena bertengkar.
Bukan karena bosan.
Tapi karena satu kalimat yang diucapkan ibunya dengan nada penuh kasih sekaligus ancaman halus:
“Jangan terlalu sering main ke rumah Qirin. Nanti ketularan.”
Qirun tidak pernah benar-benar tahu apa yang bisa menular dari Qirin.
Kejujuran?
Kesederhanaan?
Atau kebiasaan tidak ikut campur urusan orang?
Ibunya tidak menjelaskan. Yang penting larangan sudah keluar, dan larangan dari orang tua di rumah itu bukan untuk didiskusikan.
Anehnya, meski dilarang main, Qirin justru yang paling sering menolong Qirun—terutama soal PR.
Qirun sering datang sore-sore, berdiri di pagar, pura-pura lewat.
Qirin paham. Ia tidak banyak tanya.
“PR Matematika halaman berapa?” tanya Qirin santai.
Qirun langsung duduk di tanah, membuka buku dengan napas lega, seolah dunia baru saja mengizinkannya hidup satu jam lebih tenang.
---
Anak yang Diajari Menghitung Sebelum Kenyang
Di sekolah, waktu makan adalah waktu paling sunyi bagi Qirun.
Ia duduk sambil memegang uang jajan, menghitung, menimbang, berpikir keras. Bukan soal beli apa—tapi soal menyisakan berapa.
Di rumahnya, setiap pulang sekolah selalu ada pertanyaan wajib:
“Ada sisa nggak uang jajan kamu?”
Kalau ada, uang itu masuk celengan.
Kalau tidak ada, Qirun masuk hutan kecil di belakang desa, mengambil kayu bakar. Sendirian. Tanpa dibantu ayahnya.
Katanya biar kuat.
Katanya biar disiplin.
Katanya biar tahu hidup itu keras.
Yang tidak pernah ditanya:
“Perutmu kenyang nggak?”
Qirun pernah menahan lapar sampai perutnya perih.
Pernah berpikir, makan nanti saja, yang penting tidak dihukum.
Pernah mengira sakit itu wajar, asal disebut mendidik.
Sementara di rumah Qirin, hemat juga diajarkan—tapi dengan arah.
Makan tetap makan.
Kebutuhan tetap dipenuhi.
Tidak jajan berlebihan, tapi tidak menyiksa diri.
Ibunya Qirin sering bilang,
“Hemat itu bukan pelit sama badan sendiri. Kalau badan rusak, ibadah juga repot.”
Di rumah itu, sholat dikerjakan. Puasa dijaga. Memberi kepada sesama dianjurkan. Tapi tidak pernah dipamerkan. Tidak pernah dijadikan alat ukur orang lain.
Akhirat penting.
Dunia diurus seperlunya.
Kesohor? Itu urusan nanti, kalau memang perlu.
---
Lapangan Bola dan Perut yang Berbeda Nasib
Suatu sore, Qirin dan Qirun main bola di lapangan desa.
Mereka berlari, jatuh, tertawa. Untuk sementara, dunia orang dewasa berhenti di pinggir lapangan.
Saat istirahat, Qirun tiba-tiba bertanya,
“Kamu makan apa hari ini?”
Qirin menjawab santai,
“Tadi pagi nasi goreng buatan ibu. Pulang sekolah makan ikan asin sama sambal goreng. Malamnya mungkin sama kayak siang. Kenapa?”
Qirun menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa. Aku cuma nanya.”
“Oh,” kata Qirin.
Lalu diam.
Tidak curiga. Tidak menyelidik. Tidak menilai.
Dalam kepala Qirun, suara lain muncul:
Seandainya aku jadi Qirin, mungkin aku sekarang main bola dengan perut kenyang.
Ia menarik napas panjang.
Tapi nggak apa-apa. Hari ini aku nggak perlu cari kayu bakar. Karena uang jajanku masih ada sisa.
Hidup, bagi Qirun, sudah seperti arena lomba sejak kecil.
Siapa lebih hemat.
Siapa lebih kuat.
Siapa lebih “berhasil”.
Qirin?
Qirin tidak merasa sedang berlomba dengan siapa pun.
---
Masa Depan Versi Orang Dewasa
Dalam perjalanan pulang, Qirun kembali berpikir.
Ibu bilang masa depanku harus lebih baik dari Qirin.
Katanya keluarga Qirin nggak akan pernah maju karena terlalu jujur.
Qirun tidak sepenuhnya paham maksudnya. Yang ia tahu, Qirin selalu tampak tenang. Tidak iri. Tidak sibuk membandingkan.
Orang tua mereka sama-sama bekerja di sawah.
Bedanya, keluarga Qirin mengolah sawah warisan dan hasil jerih payah sendiri. Sedikit, tapi milik mereka.
Keluarga Qirun hanya punya beberapa petak. Selebihnya jadi kuli di sawah orang lain.
Ibunya Qirun sangat anti bekerja ke keluarga Qirin.
Alasannya banyak:
- Gengsi, tapi tidak boleh kelihatan.
- Merasa lebih salehah karena tidak merokok.
- Dan satu hal yang tidak pernah diucapkan terang-terangan:
Ia tidak suka kulit ibunya Qirin yang kuning langsat, bersih, tenang.
Ia ingin selalu terlihat paling eksotis.
Paling benar.
Paling pantas jadi panutan.
Ibunya Qirin tahu semua itu.
Namanya juga tetangga. Kabar berputar lebih cepat dari angin sore.
Tapi ibunya Qirin hanya tertawa.
“Biarlah,” katanya.
“Semua orang punya mata untuk melihat dan mulut untuk bicara.”
Ia tahu, kalau marah, akan ada orang yang senang.
Kalau terpancing, akan ada yang menang.
Ayah Qirin dan ayah Qirun?
Kalau di pos ronda, mereka biasa saja.
Minum kopi, ngobrol sawah, diam soal istri masing-masing.
Begitulah.
Perempuan punya dunia sendiri di dalam kepala.
Kadang lebih ramai dari pasar, kadang lebih ribut dari pengajian. Hehe.
---
Persahabatan yang Tidak Ikut Dididik Salah
Qirin dan Qirun tetap berteman.
Tulus.
Polos.
Tidak tahu mereka sedang dipisahkan perlahan oleh nilai yang salah arah.
Qirin tidak merasa Qirun harus berubah.
Qirun mulai merasa ia harus berubah—bukan karena dirinya, tapi karena tuntutan.
Dan di situlah awal retaknya bukan persahabatan mereka,
melainkan cara mereka memandang hidup.
Qirin berjalan santai.
Qirun mulai berlari—takut tertinggal.
Padahal mereka masih anak-anak.
Dan mereka belum tahu,
bahwa luka paling panjang seringkali tidak datang dari musuh,
melainkan dari didikan yang niatnya baik
tapi caranya keliru.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar