
Mendengarkan lagu, merawat diri - Blog Cerita Kemuning

Ketika Lagu Orang Lain Terlalu Paham Hidupku, Padahal Bukan Aku Pemerannya
Ada satu hal aneh tapi nyata dalam hidupku: aku bisa baik-baik saja sepanjang hari, lalu ambyar hanya karena lagu. Bukan lagu sembarang lagu. Biasanya soundtrack drama Korea Selatan atau film India. Yang liriknya dalam, nadanya pelan, dan entah kenapa… seperti tahu isi kepalaku. Seperti tahu riwayat hidupku. Seperti pernah duduk di ruang tamu rumah tanggaku dan menyimak semua yang tak pernah sempat kuucapkan keras-keras.
Lucunya, ini bukan kisahku. Aku tidak ada di dalam film itu. Aku bukan pemeran utama perempuan yang cantik dengan mata berkaca-kaca. Aku juga bukan perempuan bangsawan yang cintanya terhalang kasta, marga, atau silsilah keluarga. Tapi kenapa rasanya seperti aku? Kenapa dadaku ikut sesak ketika lagu tentang “kasih tak sampai” diputar?
---
Lagu yang Tidak Pernah Sekadar Lagu
Ada orang mendengarkan lagu sambil lalu. Ada yang menjadikannya teman mandi, teman masak, atau teman nyapu. Aku? Aku sering menjadikannya cermin. Lagu-lagu itu memantulkan sesuatu yang tak sempat kuurai dalam kata-kata.
Terutama lagu-lagu soundtrack. Entah kenapa, soundtrack punya nyawa lain. Ia tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari konflik, dari air mata, dari keputusan-keputusan berat yang tak bisa ditarik ulang. Maka ketika lagu itu berdiri sendiri dan kudengar tanpa visualnya, emosinya tetap utuh. Bahkan kadang lebih telanjang.
Soundtrack drama Korea Selatan, misalnya. Mereka jago sekali meramu kesedihan dengan elegan. Tidak berisik, tidak lebay, tapi menusuk. Atau soundtrack film India—yang katanya dramatis—justru sering sangat jujur soal luka hati. Tentang cinta yang harus mengalah. Tentang perpisahan yang dilakukan demi kewarasan.
Dan di titik itulah aku sering bertanya: kenapa aku tersentuh sedalam ini?
---
Malang dalam Percintaan, Padahal Tidak Ikut Casting
Aku sering tertawa sendiri. Ini lagu tentang siapa, tapi kok aku yang nangis? Ini film tentang zaman Joseon, tapi kok hatiku ikut remuk? Aku tidak pernah hidup di istana. Aku juga tidak pernah dipisahkan karena kasta bangsawan. Tapi aku paham rasanya mencintai dan tidak dimenangkan.
Ada lagu-lagu cinta yang bahkan bukan soundtrack apa pun. Lagu pop biasa. Tapi ketika liriknya bicara soal cinta yang terhalang latar belakang pendidikan, status keluarga, atau restu yang tak pernah datang—dadaku langsung akrab dengan rasa itu.
Seakan aku ini veteran patah hati, padahal aku hanya perempuan biasa yang pernah berharap hidupnya sederhana: dihargai, ditemani, dan diberi rasa aman.
Mungkin di situlah jawabannya. Lagu-lagu itu tidak harus menceritakan hidup kita secara detail. Cukup menyentuh satu titik luka yang sama. Satu rasa yang pernah kita simpan rapi karena terlalu lelah untuk menjelaskannya ke siapa pun.
---
Tentang Nokdu dan Lagu yang Terlalu Ideal
Ada satu soundtrack yang sering membuatku tersenyum getir: I’ll Be Your Light yang dinyanyikan Younha dari drama The Tale of Nokdu.
Isinya sederhana. Tentang seseorang yang ingin menjadi cahaya. Ingin melindungi. Ingin mendampingi. Ingin tetap ada, bahkan ketika dunia tidak ramah.
Indah, kan?
Di dramanya, itu masuk akal. Perempuannya menyanyikan lagu itu karena ia tahu cinta laki-laki itu besar. Lebih besar dari egonya. Lebih besar dari ketakutannya. Lebih besar dari dunia yang ingin memisahkan mereka.
Dan di situlah aku tertawa kecil.
Karena di hidupku, pasanganku bukan Nokdu.
Haha. Ya sudahlah.
---
Tentang Patuh, Setia, dan Harga Diri
Aku ini orangnya tradisional. Aku percaya pernikahan bukan arena adu kuat, tapi tempat berteduh. Aku percaya ketika seorang laki-laki mencintai dengan benar—memberi rasa aman, menghargai martabat, dan memperlakukan istrinya sebagai partner hidup—maka seorang perempuan akan patuh dan setia dengan sepenuh hati.
Patuh bukan berarti bodoh. Setia bukan berarti kehilangan diri.
Tapi mari jujur. Jika seorang perempuan tidak dihargai, diperlakukan seperti babu, bahkan lebih parah: dijadikan pembantu di rumah orang tua pasangannya—lalu apa yang diminta darinya? Loyalitas buta?
Maaf. Pembantu sekarang saja digaji tiga sampai empat juta rupiah per bulan. Itu pun ada jam kerja, ada hari libur, ada kontrak. Lalu aku? Tiga puluh ribu sehari, ditambah ejekan, hinaan, dan rayuan halus anakku akan diambil oleh orang lain?
Cinta macam apa itu?
---
Ketika Bertahan Justru Membuat Tidak Waras
Ada fase dalam hidupku ketika aku sadar: jika aku terus bertahan, aku akan hancur. Bukan dramatis. Tapi pelan-pelan kehilangan akal sehat.
Dan aku tidak sanggup berobat ke dokter kejiwaan hanya karena ingin terlihat “istri yang kuat”. Aku memilih jalan yang paling masuk akal saat itu: mengakhiri.
Bukan karena aku lemah. Justru karena aku ingin waras.
Aku ingin anakku tumbuh dengan ibu yang selamat secara lahir dan batin. Aku ingin kami berdua hidup tanpa ketakutan. Tanpa hinaan harian. Tanpa rasa tidak berharga yang diwariskan diam-diam.
Berakhir di Pengadilan Agama bukan kegagalan bagiku. Itu rem darurat. Itu cara menyelamatkan diri.
Dan anehnya, setelah itu, lagu-lagu sedih justru menjadi teman yang jujur.
---
Lagu sebagai Ruang Aman
Mungkin itulah sebabnya lagu-lagu dengan lirik mendalam terasa membekas. Karena mereka tidak menghakimi. Tidak menyuruh kita kuat. Tidak menyuruh kita sabar tanpa batas.
Lagu hanya duduk di samping kita dan berkata, “Aku tahu rasanya.”
Kadang, itu sudah cukup.
Aku tidak iri pada kisah cinta di drama. Aku tidak ingin hidupku seperti film. Aku hanya ingin diakui bahwa perasaanku valid. Bahwa memilih pergi demi kewarasan bukan dosa.
Dan lagu-lagu itu—entah dari Korea Selatan atau India—seperti mengangguk pelan.
---
Penutup yang Tidak Terlalu Bijak
Jadi, kalau kamu seperti aku: mudah tersentuh oleh lagu yang bukan tentangmu, menangis pada kisah yang tidak kau jalani—mungkin kamu bukan lebay. Mungkin kamu hanya manusia yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh.
Dan jika hari ini kamu memilih hidup yang lebih sunyi tapi lebih aman, itu bukan kekalahan.
Itu keberanian.
Lagipula, kita tidak harus menjadi pemeran utama di drama siapa pun.
Cukup jadi ibu yang waras.
Cukup jadi perempuan yang selamat.
Dan kalau perlu menangis karena lagu—ya menangislah.
Itu lebih murah daripada terapi, dan sejauh ini, cukup menolong.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar