
Belajar berdamai dengan tubuh, sambil terus berproses menjadi lebih sehat - Blog Cerita Kemuning

Belajar berdamai dengan tubuh, sambil terus berproses menjadi lebih sehat - Blog Cerita Kemuning
Agenda Ingin Diet Semakin Kacau Setelah Masuk Masa Menyusui
Dulu aku pikir, setelah melahirkan, diet akan jadi perkara yang lebih sederhana. Bayiku sudah di luar perut, logikanya beban juga ikut turun. Ternyata aku keliru—keliru dengan penuh keyakinan. Masya Allah, ternyata hidup pascamelahirkan itu bukan sekadar tentang bayi yang tertidur manis dan ibu yang kembali langsing seperti iklan susu formula. Hidup pascamelahirkan adalah tentang rasa lapar yang datang tanpa aba-aba, tentang tangan yang refleks membuka toples, dan Berkali-kali niat diet masih saja kalah dengan kalimat sederhana yang selalu menang telak di kepalaku, “Duh, pengen sesuatu.” Dan entah sejak kapan, aku memegang satu prinsip hidup yang kelihatannya sepele tapi dampaknya luar biasa: kalau ada masalah apa pun, ya makan dulu.
Sedih? Makan. Capek? Makan. Bingung? Makan. Kurang tidur karena bayi rewel? Jangan ditanya—makan sambil berdiri pun jadi. Makan seolah jadi jeda paling cepat, paling mudah, dan paling bisa diandalkan untuk menenangkan kepala, meski tubuh pelan-pelan menanggung akibatnya.
Masa menyusui mengubah banyak hal. Bukan hanya jam tidur yang jadi barang langka, tapi juga pola makan yang tak lagi bisa dikontrol dengan logika kaku ala jadwal diet dari internet. Aku menyusui, aku lapar. Aku lapar, aku makan. Sederhana, tapi berulang. Nasi tetap masuk, itu sudah pasti. Tapi yang lebih sering membuat rencana dietku berantakan adalah sesi ngemil—yang entah bagaimana selalu terasa mendesak, seolah kalau tidak segera dikunyah, dunia akan runtuh.
Toples besar berisi perkerupukan itu seperti memanggil namaku. Toples-toples kecil berisi kue—yang tadinya niat disimpan buat tamu—selalu berakhir kosong lebih cepat dari perkiraan. Kalau belum kosong, aku masih mencarinya. Seperti detektif, tapi misinya bukan keadilan, melainkan mengosongkan isi toples.
Padahal niat diet itu selalu ada. Serius. Berkali-kali. Aku niat lagi, gagal lagi. Niat lagi, kalah lagi. Setiap kali kalah, aku berdamai dengan diri sendiri sambil menghibur: “Ah, ini kan lagi menyusui.” Dan kalimat itu ampuh. Terlalu ampuh.
Kalau ditarik ke belakang, perjalananku dengan berat badan ini bukan cerita pendek. Saat hamil, berat badanku sempat menyentuh angka 104 kilogram. Angka yang dulu rasanya mustahil, tapi nyatanya bisa juga tercapai. Setelah operasi SC, berat badanku turun jadi 92 kilogram. Masa pemulihan berjalan, luka masih harus dirawat, perban diganti pagi dan sore, obat diminum dengan setengah hati—jujur saja, ukuran obatnya besar-besar sekali. Sumpah. Setiap kali minum obat rasanya seperti menelan tekad.
Tapi di masa itulah, justru berat badanku turun cukup signifikan. Dalam masa pemulihan luka SC, aku berhasil menurunkan sekitar 20 kilogram. Terakhir kontrol, berat badanku ada di angka 72 kilogram. Sebuah pencapaian yang seharusnya dirayakan. Dan memang aku sempat bangga—diam-diam, tentu saja.
Proses pemulihan itu berat, tapi terstruktur. Ada aturan. Ada larangan. Ada jadwal. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Tidak boleh makan berminyak. Tidak boleh sembarangan bergerak. Tidak boleh malas membersihkan luka. Anehnya, justru di bawah tekanan aturan itulah tubuhku patuh.
Luka SC-ku sembuh dalam waktu sekitar empat minggu. Kata mama, dokter obgyn biasanya paling khawatir dengan luka SC yang lama menutup karena penumpukan lemak di perut ibu. Risiko infeksi lebih besar. Karena itu, kebersihan jadi kunci. Dan di titik ini, aku benar-benar bersyukur punya mama yang luar biasa rapi dan disiplin.
Mama merawat aku dan Runi dengan penuh kehati-hatian. Tangannya tak pernah menyentuh bayi tanpa cuci tangan dulu. Dan meskipun beliau perokok, setiap habis dari luar rumah, beliau selalu mengganti pakaian sebelum menggendong Runi. Tidak ada tawar-menawar. Prinsip lama, tapi tepat sasaran. Alhamdulillah, aku pulih dengan baik dan Runi tumbuh sehat.
Lalu datanglah masa “merdeka”.
Saat luka sembuh, perban tak lagi harus diganti, obat tak lagi harus diminum, aku merasa seperti burung lepas dari sangkar. Tidak ada lagi pantangan ketat. Tidak ada lagi larangan makanan berminyak. Dan di situlah tragedi kecil itu dimulai—bau gorengan.
Entah kenapa, setelah sekian lama tidak makan yang berminyak, aroma bakwan yang digoreng rasanya menusuk hidung dengan cara yang tidak sopan. Menggoda tanpa malu. Dan aku ini, produk didikan kakek dan nenek yang menjadikan gorengan sebagai solusi hampir semua masalah hidup. Makan belum lengkap kalau belum ada yang digoreng. Jadi, ya… kamu tahu ke mana arah cerita ini.
Gorengan kembali ke hidupku. Pelan-pelan, lalu rutin. Dan rencana diet? Mulai goyah lagi.
Di tengah semua itu, Runi tumbuh. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Pipinya makin chubby, dan entah kenapa, setiap pipi Runi makin tembam, frekuensi ngemilku ikut naik. Seperti ada hubungan tak tertulis antara pipi anak dan isi toples camilan.
Tapi ada satu titik di mana pikiranku mulai berbelok. Bukan karena timbangan. Bukan karena baju yang mulai sempit. Tapi karena bayangan masa depan yang sederhana tapi menohok: kasihan Runi kalau nanti diejek teman-teman sekolahnya.
“Mamanya Runi gembrot.”
Kalimat itu mungkin terdengar bercanda, dan aku bahkan menertawakannya sekarang. Tapi jujur saja, sebagai ibu, bayangan itu cukup untuk membuat hati mengerut. Bukan soal aku ingin terlihat kurus demi gengsi. Lebih ke soal aku ingin jadi contoh yang baik. Aku ingin Runi tumbuh dengan melihat ibunya berusaha menjaga diri, bukan menyerah pada alasan.
Di titik itu, aku sadar: mungkin aku salah selama ini. Diet yang kupikir harus drastis, ketat, dan penuh larangan justru selalu berakhir gagal. Setiap kali aku ingin berubah cepat, tubuhku melawan. Setiap kali aku ingin hasil instan, pikiranku lelah duluan.
Maka kali ini, aku ingin pelan.
Bukan diet ekstrem. Bukan target turun sekian kilo dalam sekian minggu. Tapi mengurangi porsi makan berat sedikit demi sedikit. Membiasakan diri berhenti sebelum terlalu kenyang. Mengganti sebagian gorengan dengan makanan yang lebih ramah tubuh—meskipun jujur saja, ini masih tahap wacana yang sedang dinegosiasikan dengan hati.
Tujuan utamanya bukan angka di timbangan. Tujuan utamanya adalah sehat. Bisa menyusui dengan nyaman. Bisa bermain dengan Runi tanpa cepat lelah. Bisa hadir penuh, bukan terengah.
Aku tahu perjalanan ini tidak akan lurus. Akan ada hari-hari di mana bakwan kembali menang. Akan ada malam-malam di mana toples kecil itu kosong lagi. Tapi kali ini, aku ingin tetap berjalan, meskipun terseok.
Karena hidup sehat bukan soal sekali niat lalu sempurna. Ia soal bangkit setiap kali gagal—bahkan kalau gagalnya sudah kesekian kali.
Jadi, dengan segala kerendahan hati dan kejujuran, aku ucapkan ini pelan-pelan tapi serius:
Bismillahirrahmanirrahim. Aku harus bisa bergaya hidup sehat.
Doakan aku berhasil ya, teman-teman. Kalau nanti aku terpeleset lagi, semoga aku ingat alasan kenapa aku mulai. Untuk diriku. Untuk Runi. Untuk masa depan yang ingin kujalani dengan tubuh yang lebih bersahabat.
Dan kalau suatu hari nanti aku menulis artikel berjudul “Rencana Diet yang Akhirnya Bertahan”—tolong ingatkan aku, bahwa semuanya dimulai dari pengakuan jujur ini.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar