![]() |
Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning |
BAB 8 — Saat Aku Berani Memilih Diriku Sendiri
Mala kini bukan gadis yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Ia masih Bimala—anak Ceu Hayati dan Kang Yudha, penjaga toko sembako kecil di sudut gang—butuh waktu lama untuk menyadari satu hal:
bertumbuh bukan tentang menjadi orang lain, melainkan menjadi versi paling jujur dari diri sendiri.
Pagi hari, sebelum matahari sepenuhnya naik, Mala sudah terbiasa menyapu halaman ruko. Setelah itu membantu Mamanya menata rak—beras di sisi kanan, minyak goreng di dekat pintu, jajanan anak-anak berjajar warna-warni di etalase.
Siangnya ia belajar.
Sorenya kadang lari kecil ke taman kota.
Akhir pekan, ia pergi bersama teman-teman kampus—kadang ke mal, kadang hanya main Time Zone sampai tertawa lepas karena kalah mesin capit.
Tubuhnya kini tak lagi gembil seperti dulu.
Namun yang paling berubah bukan bentuk badannya—melainkan cara ia memandang dirinya sendiri.
Ia bertenaga.
Ia bahagia.
Ia utuh.
Ceu Hayati memperhatikan semua itu dengan mata seorang ibu yang penuh doa.
“Sekarang kamu pinter bagi waktu ya, Mal,” ujar Mamanya suatu sore ketika mereka menata buah di kulkas.
Mala tersenyum.
“Iya, Ma. Mala belajar dari Mama juga. Hidup itu bukan cuma kerja keras, tapi juga jaga hati.”
Ceu Hayati terdiam sejenak, lalu mengusap kepala putrinya.
“Mama bangga sama kamu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Mala, itu seperti medali emas yang tak tergantikan.
---
Namun hidup, seperti biasa, tak pernah membiarkan seseorang terlalu lama beristirahat dalam damai.
Suatu sore yang tampak biasa berubah menjadi ujian terbesar bagi kepercayaan diri Mala.
Saat itu Mala sedang berjaga di toko. Matahari condong ke barat, cahaya jingga memantul di lantai semen. Rolling door setengah terbuka, angin sore membawa bau gorengan dari warung seberang.
Seorang perempuan masuk.
Cantik.
Lebih dewasa.
Rapi.
Berkacamata.
Mala menyambut seperti biasa.
“Silakan, Kak.”
Perempuan itu berbelanja beberapa kebutuhan kecil. Setelah membayar, ia tak langsung pergi. Justru berdiri sejenak, menatap Mala.
Lalu bertanya dengan suara pelan, tapi jelas,
“Maaf… kamu pacarnya Iqbal yang baru?”
Jantung Mala berdegup.
Ia tetap tersenyum sopan.
“Bukan, Kak. Kak Iqbal cuma sering belanja ke sini dan kadang ngobrol soal kuliah. Maaf, Kakaknya siapa ya?”
Perempuan itu menatap lebih lama. Ada getar halus di balik matanya.
“Saya Rina,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Mantan pacarnya Iqbal.”
Mala terpaku sesaat, lalu menjabat tangan itu dengan sigap.
“Saya Bimala, Kak. Panggil saja Mala.”
Rina tersenyum kaku.
“Saya cuma mau tanya kabarnya lewat kamu. Hehe… mungkin saya belum sepenuhnya move on.”
Mala mengangguk kecil. Dadanya terasa penuh, tapi wajahnya tetap tenang.
“Kak Rina tenang saja. Saya dan Kak Iqbal tidak punya hubungan apa-apa selain pertemanan.”
Namun sebelum suasana sempat reda, suara berat terdengar dari balik rolling door.
“Aku sudah move on.”
Iqbal berdiri di sana.
Matanya tegas. Suaranya lebih dalam dari biasanya.
“Tak perlu lagi cari kabar tentang aku. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa. Dan ini toko—ngapain bahas hal begini di depan Mala?”
Suasana seketika beku.
Rina terdiam. Wajahnya pucat, lalu ia mengangguk kecil.
“Maaf… saya sudah belanja kok. Terima kasih, Mala. Senang berkenalan dengan kamu.”
Ia pergi dengan motor matiknya, meninggalkan senyap yang menggantung di udara.
Mala berdiri kaku.
Iqbal menoleh padanya.
“Kamu nggak apa-apa?”
Mala mengangguk cepat.
“Gak apa-apa, Kak. Kak Rina cuma nanya kabar Kak Iqbal.”
Iqbal menghela napas.
“Lain kali, kalau dia datang lagi, nggak perlu jawab apa-apa soal aku.”
“Baik, Kak.”
Iqbal membeli minuman dingin lalu pamit.
Tak lama setelah ia pergi, ponsel Mala bergetar.
- Itu mantan pacar saya. Dia yang mengkhianati saya dulu. Saya nggak ngerti kenapa dia cari saya lagi. Kamu nggak tanya apa-apa tadi sama saya… kamu benar-benar nggak apa-apa?
Mala tersenyum kecil membaca pesan itu.
Belum sempat membalas, suara Mamanya terdengar,
“Mala, Maghrib, sayang. Tutup tokonya. Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Ih, Mama… lagi baca pesan lucu.”
Ceu Hayati terkekeh.
“Boleh dong Mama lihat?”
“Ah, jangan!” Mala tertawa sambil menutup rolling door.
Malam itu, setelah sholat Maghrib, barulah Mala membalas pesan Iqbal.
- Mala nggak apa-apa, Kak. Cuma kaget sedikit. Kak Rina baik kok.
Balasan datang cepat.
- Besok pulang kuliah aku jemput ya?
- Boleh, Kak. Kalau Kak Iqbal nggak capek.
---
Keesokan harinya, Iqbal sudah menunggu di parkiran kampus.
Ia mengantar Mala pulang—namun alih-alih langsung ke rumah, ia berbelok ke taman kota.
Mala heran.
“Loh, kok ke sini, Kak?”
Mala turun dari motor setelah Iqbal memarkir motor, lalu Iqbal duduk di bangku taman.
“Saya mau bicara.”
Nada suaranya berbeda. Lebih serius.
Kemudian Mala ikut duduk. Angin sore mengibaskan rambutnya.
Iqbal menatap ke depan sejenak, lalu berkata pelan,
“Aku sayang sama kamu.”
Dunia seakan berhenti sebentar.
“Apa nggak bisa kita seriusin hubungan ini?” lanjutnya.
“Aku bisa nunggu kamu sampai selesai kuliah.”
Mala menelan ludah.
“Jujur… Mala nggak percaya diri. Kak Rina cantik banget. Kenapa Kakak mau sama aku? Karena aku sekarang lebih kecil?”
Iqbal tersenyum, menggeleng.
“Bukan karena tubuh kamu. Tapi karena kamu istimewa buat aku. Dari awal malah.”
Ia menatap Mala penuh keyakinan.
“Aku cuma takut kamu merasa terganggu. Makanya aku tunggu.”
Sunyi menggantung.
Lalu Mala berkata pelan,
“Mala juga sayang sama Kak Iqbal.”
Wajah Iqbal langsung bersinar.
“Kamu mau jadi pacar aku?”
Mala mengangguk.
Iqbal mencium punggung tangan Mala dengan penuh hormat.
“Terima kasih.”
“Ih, Kak… malu,” Mala menarik tangannya sambil tertawa kecil.
“Maaf, aku senang banget gak sia-sia penantianku selama ini,” Iqbal terkekeh.
“Mau jajan sesuatu, gak? Aku belum makan,” kata Iqbal sambil berdiri dari bangku taman.
Mala terkekeh kecil. “Siomay Mang Dadang, yuk!”
“Ayo!”
Mereka berjalan menuju motor yang terparkir di pinggir jalan. Iqbal mengenakan helm pada Mala lebih dulu, memastikan talinya terpasang rapi. Tak lama, motor melaju perlahan membelah sore yang hangat. Angin menyentuh pipi Mala, dan untuk pertama kalinya setelah pengakuan itu, dunia terasa lebih ringan.
Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di depan gerobak Siomay Mang Dadang—tempat favorit Mala sejak SMA. Bau kacang goreng dan saus kacang hangat menyambut mereka seperti kenalan lama.
Di perjalanan pulang, mereka saling tersenyum lewat spion.
Sesampainya di ruko, Iqbal turun dan menyalami Ceu Hayati dengan sopan.
“Sebentar, kok tumben, Nak Iqbal nganter sampai dalam toko dan sun tangan lagi. Ada apa ini?” tanya Ceu Hayati sambil menatap serius mereka berdua.
Mala dan Iqbal saling pandang. Detik itu terasa lebih panjang dari biasanya. Senyum kecil tersungging di wajah mereka, canggung tapi hangat.
“Ehm… saya cuma mastiin Mala sampai rumah dengan selamat, Bu,” jawab Iqbal sopan. “Kalau begitu saya permisi dulu. Aku pulang dulu ya, Mala.”
“Iya, Kak. Hati-hati. Makasih,” balas Mala pelan.
Mereka saling mengangguk, lalu bertukar senyum sekali lagi—senyum yang tak lagi sama seperti sebelumnya. Ada rasa baru di sana, rasa yang belum diucapkan di depan orang tua, tapi sudah tumbuh diam-diam di hati masing-masing.
Iqbal melangkah pergi, dan bunyi motornya perlahan menjauh di luar ruko.
Ceu Hayati memandangi punggung Iqbal sejenak, lalu menoleh ke putrinya yang masih berdiri di dekat etalase dengan pipi sedikit merona.
“Mala sama Kak Iqbal jadian, Ma. Dia janji nunggu sampai Mala lulus kuliah.”
Ceu Hayati terdiam sejenak. Lalu matanya berkaca-kaca.
“Masya Allah… Bapak pasti senang dengar ini.”
Ia memeluk Mala erat.
---
Malam itu, Mala berdiri di depan cermin kamarnya.
Ia melihat gadis yang dulu takut dengan tubuhnya.
Takut dengan omongan orang.
Takut dengan cinta.
Kini ia melihat perempuan muda yang berani berkata:
“Aku pantas bahagia.”
Ia tersenyum.
Bukan karena ia lebih kurus.
Bukan karena ia punya pacar.
Tapi karena akhirnya ia berdamai dengan dirinya sendiri.
Dan di situlah kisah ini menemukan ujungnya—
bukan pada cinta,
melainkan pada keberanian untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar