Aku Pahlawan di Hidupku - 5

Dua ilustrasi Bimala: versi tubuh berisi dan versi lebih langsing. Keduanya berkulit kuning langsat, berambut panjang dikuncir kuda, memakai kaos putih dan celana mambo. Latar peach dengan daisy dan biru dengan rose, dipisah tengah sebagai simbol transformasi diri.

Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning



BAB 5 — Satu Tahun, Tubuh yang Lebih Ringan, dan Kepercayaan yang Tumbuh


Waktu berjalan dengan caranya sendiri: pelan, nyaris tak terdengar, tetapi tak pernah berhenti. Tanpa aba-aba, satu tahun berlalu begitu saja. Kalender di dinding rumah mereka berganti lembar, angka tahun dicoret satu per satu, dan tanpa banyak seremoni, Bimala kini duduk di kelas tiga SMA. Libur semester ganjil datang seperti jeda napas panjang sebelum maraton terakhir bernama kelulusan.

Pagi-pagi di rumah itu masih sama. Warung sembako Santosa tetap membuka pintu sejak matahari belum benar-benar tinggi. Bau beras, gula, kopi, dan sabun colek bercampur menjadi aroma khas yang entah bagaimana selalu terasa seperti rumah.

Mala membantu Mama menata barang di rak. Tangannya cekatan, geraknya ringan. Ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya—bukan hanya angka di timbangan yang turun beberapa kilo, tetapi rasa di dalam dada: lebih lega, lebih gesit, lebih berani menatap cermin.

“Ma, stok minyak goreng tinggal dua dus,” kata Mala sambil mencatat di buku kecil.

“Iya, nanti sore Mama pesan lagi. Kamu capek, Nak?”

Mala menggeleng. “Enggak. Rasanya malah lebih enteng sekarang.”

Mama menatapnya sekilas. Tatapan itu penuh selidik, seperti ibu-ibu pada umumnya yang hafal setiap perubahan sekecil apa pun pada anaknya. Lengan Mala memang terlihat lebih ramping, wajahnya tidak segembul dulu, tapi matanya tetap hidup.

“Jangan terlalu maksa, ya,” ucap Mama akhirnya.

“Iya, Ma. Tenang.”

Hari-hari libur itu diisi Mala dengan ritme sederhana: pagi membantu di warung, siang membereskan rumah, sore menunggu Bapak pulang kerja, malam belajar atau menonton film. Ia sengaja menghindari kebiasaan lamanya—ngemil sebelum tidur. Jika lapar datang, ia minum air putih atau mengambil buah dari kulkas. Awalnya berat, godaan datang seperti iklan yang tak bisa di-skip. Tapi ia bertahan.

Tubuhnya merespons dengan jujur. Celana sekolah terasa lebih longgar. Napasnya tak lagi pendek saat naik tangga. Dan yang paling ia syukuri: ia merasa lebih mengenal dirinya sendiri.

Suatu malam, saat makan malam sederhana—sayur bening, tempe goreng, dan sambal—pembicaraan yang sejak lama menggantung akhirnya jatuh ke meja makan.

“Mala,” kata Mama sambil menyendok nasi, “akhir-akhir ini porsi kamu kok sedikit terus?”

Sendok Mala berhenti sesaat di udara. Ia menarik napas pelan.

“Iya, Ma. Mala lagi atur makan.”

Mama langsung menatap Bapak. Tatapan yang sama seperti dulu: campuran cemas dan kenangan lama yang belum sembuh.

“Jangan sampai kayak dulu lagi,” suara Mama melembut tapi mengandung getar.

Bapak meletakkan sendoknya. Ia menatap istrinya, lalu Mala, dengan wajah tenang.

“Hayati,” katanya pelan, “Mala sudah besar.”

Mama menghela napas. “Saya tahu, Pak. Tapi saya trauma. Waktu dia typus itu… kurusnya bukan main.”

“Mala paham, Ma,” potong Mala dengan hati-hati. “Makanya Mala lakuinnya pelan-pelan. Aman. Mala gak pernah nahan makan sampai kelaparan. Cuma ngurangin yang gak perlu.”

Bapak mengangguk, lalu menatap Mala. “Bapak percaya kamu. Kamu gak kelihatan sakit. Kamu kelihatan sehat.”

Mama masih diam. Jemarinya meremas ujung taplak meja.

“Lagipula,” lanjut Bapak sambil tersenyum tipis, “anak perempuan memang begitu. Pubertas. Wajar kalau ingin terlihat menarik. Itu manusiawi.”

“Pak!” Mama menyikut pelan.

Bapak tertawa kecil. “Lho, iya toh?”

Mala ikut tersenyum, meski pipinya memanas.

“Bukan soal mau punya pacar, Pak,” kata Mala jujur. “Mala pengin sehat. Badan montok itu bukan dosa, tapi kalau kebablasan juga bahaya. Mala mau sekolah selesai, mau masa depan yang sehat.”

Ruangan itu hening sejenak. Hanya terdengar bunyi sendok bersentuhan dengan piring.

Mama akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu janji sama Mama,” katanya lirih, “kalau kamu gak kenapa-kenapa.”

Mala mengangguk mantap. “Janji, Ma. Semua dalam pantauan Mama.”

Bapak tersenyum lebar. “Nah, gitu dong. Anak bapak pinter.”

Malam itu ditutup dengan keputusan kecil tapi bermakna besar. Keesokan harinya, kulkas mereka diisi apel, alpukat, pepaya, jeruk, dan pisang.

“Program diet dimulai resmi,” kata Bapak sambil bercanda.

Mama tertawa, meski masih ada sisa takut di matanya. Namun ia mencoba percaya.

Kepercayaan itu terasa hangat di dada Mala.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih ringan. Tidak ada lagi tatapan waswas setiap kali Mala menyisakan nasi. Tidak ada lagi kalimat curiga. Yang ada justru dukungan sederhana.

“Mau buah apa hari ini?” tanya Mama suatu sore.

“Pepaya aja, Ma.”

“Bagus buat pencernaan,” jawab Mama cepat, seperti hafal di luar kepala.

Di sela-sela itu, ada hal kecil lain yang mulai mengusik pikiran Mala.

Iqbal.

Sekarang ia sering datang. Kadang mengobrol dengan Bapak di teras lantai dua, kadang mampir sebentar membeli keperluan, kadang hanya menyapa.

“Assalamu’alaikum,” suaranya selalu datang lebih dulu.

“Waalaikumsalam,” jawab Mala dari balik etalase.

Tatapannya terasa berbeda. Lebih lama. Lebih hangat. Tapi Mala memilih menunduk, berpura-pura sibuk mencatat.

“Bapaknya ada?” tanya Iqbal.

“Belum pulang, Kak.”

“Oh, ya sudah. Nanti saya balik lagi.”

“Siap, Kak.”

Hanya itu. Tak ada drama. Tak ada pernyataan. Hanya perasaan samar yang Mala simpan rapi seperti buku catatan rahasia.

Ia tahu prioritasnya. Liburan ini adalah kesempatan terakhir bernapas sebelum les tambahan, ujian praktik, Ujian Sekolah, dan Ujian Nasional datang bertubi-tubi.

Malam-malam terakhir liburan dihabiskannya dengan menonton film superhero terbaru.

“Ini mungkin terakhir sebelum sibuk,” gumamnya sambil memencet tombol play.

Di layar, para pahlawan berjuang menyelamatkan dunia. Di kamar kecil itu, seorang gadis berjuang menyelamatkan masa depannya.

Dan untuk pertama kalinya, Mala merasa: ia tidak sendirian.

Tubuhnya lebih ringan. Hatinya lebih tenang. Orang tuanya berdiri di belakangnya.

Sisanya—perasaan, mimpi, dan kemungkinan tentang Iqbal—ia biarkan mengalir pelan.

Belum sekarang.

Ia masih punya banyak hal untuk diperjuangkan.

 

--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar