Ketika Hobi Katanya Menentukan Kedewasaan Seseorang

Ilustrasi seorang gadis duduk di ayunan di taman bunga dengan suasana pagi yang cerah dan tenang.

Menikmati yang menenangkan, tanpa berhenti bertumbuh — Blog Cerita Kemuning



Hobi nonton kartun dan anime sering dikira gak akan pernah punya pemikiran dewasa.

 

Ada masa ketika aku sadar, tidak semua hal yang kusukai perlu dipahami atau disetujui orang lain. Beberapa cukup dijalani diam-diam, dinikmati tanpa pembelaan. Termasuk kebiasaanku menonton kartun, anime, dan donghua—hal sederhana yang entah bagaimana sering diseret ke kesimpulan besar tentang kedewasaan seseorang.

 

Tulisan ini bukan pembelaan, apalagi pembuktian. Aku hanya ingin berbagi pengalaman, tentang bagaimana hobi yang dianggap sepele justru mengajarkanku banyak hal: soal batas diri, tentang memilih tenang, dan tentang cara bertahan tanpa harus selalu terlihat kuat.

 

---

 

Aku ini suka sekali nonton kartun, anime, dan sekarang merambah donghua. Dan seperti paket komplit yang datang tanpa diminta, cap itu pun menyusul:

“Ah, kamu mah gak akan pernah punya pikiran dewasa.”

 

Lucu ya. Seolah kedewasaan itu bisa diukur dari playlist tontonan, bukan dari cara seseorang menyikapi hidup. Seolah layar yang menampilkan gambar bergerak otomatis menutup pintu logika, empati, dan kebijaksanaan.

 

Padahal, yang ngomel-ngomel itu sering kali gak pernah ikut perjalanan Son Goku dari bocah berekor yang polos sampai jadi petarung yang bukan cuma kuat, tapi tahu kapan harus menahan diri. Gak pernah benar-benar menyimak bagaimana Ichigo Kurosaki jungkir balik menahan luka—bukan demi gelar pahlawan, tapi demi melindungi dua adiknya, ayahnya yang absurd tapi peduli, dan teman-temannya yang sering sok kuat padahal rapuh.

 

Dan donghua? Jangan diremehkan. Di sana, tokoh utama sering kali hidup dengan luka yang bertumpuk. Bukan cuma luka fisik, tapi luka batin yang paling kejam—datang dari keluarga sendiri. Dikhianati, ditinggalkan, dipatahkan berkali-kali. Tapi alih-alih jadi cengeng atau dendam tanpa arah, mereka memilih jalan panjang: mencari ilmu, berkultivasi, menempuh dunia demi dunia, bahkan planet demi planet. Tujuannya satu: jadi lebih kuat, naik tingkatan, bukan untuk pamer—tapi supaya tidak diinjak-injak lagi.

 

Kalau itu dibilang tontonan anak kecil, mungkin definisi “anak kecil” kita memang perlu dirombak total.

 

Gambar bergerak itu gak melulu soal hal receh. Gak selalu soal tawa kosong atau warna-warni tanpa makna. Bahkan, jujur saja, beberapa di antaranya jelas tidak untuk anak-anak. Isunya berat: kehilangan, pengkhianatan, keadilan, pilihan moral, dan harga yang harus dibayar untuk sebuah prinsip.

 

Dari semua tontonan itu, aku memetik banyak hal. Yang baik aku simpan. Yang buruk aku jadikan rambu. Tokoh jahat? Mereka bukan sekadar antagonis di layar. Mereka adalah pola. Gerak-geriknya mirip manusia nyata. Kalau di dunia nyata aku mencium aroma yang sama—manipulatif, haus validasi, gemar mengendalikan—aku gak menunggu ending. Aku mundur. Pelan, rapi, tanpa drama.

 

Buatku, gak penting jadi populer. Gak penting selalu kelihatan gaul. Yang penting, hidupku gak jadi tempat persinggahan energi negatif. Kalau orangnya toxic, ya gak perlu dipelihara. Hidup ini bukan dunia game, bukan dunia kultivasi. Gak ada fitur auto-heal setiap malam. Luka batin kalau dikumpulkan, bisa jadi tumor emosi.

 

Nonton itu buatku jeda. Fokusku ditarik sebentar dari dunia nyata yang ruwet. Dunia yang kadang ribut tanpa solusi, ramai tanpa arah. Di layar, aku melihat sesuatu yang sederhana tapi langka: keadilan diperjuangkan, kebaikan dijaga, dan tujuan hidup digenggam dengan konsisten.

 

Damai di hati dan pikiran—itu yang sebenarnya dicari. Kalau belum damai? Ya berarti belum selesai belajar. Belum cukup latihan. Dalam donghua, solusinya sering ekstrem: siapa pun yang menghalangi tujuan—bantai.

 

Tenang, aku gak membantai. Aku gak membunuh. Aku cuma menghindar. Gak usah ketemu lagi aja.

Hahaha.

Biar hukum Tuhan yang kerja. Hehehe.

 

Intinya sederhana: hobi tidak menentukan dewasa atau tidaknya cara berpikir seseorang.

 

Aku pernah punya mantan—hobinya motoran. Umurnya jauh lebih tua dariku. Secara sosial? Harusnya dewasa dong. Tapi cara berpikirnya… entahlah. Mungkin dia merasa masih belia. Atau mungkin dewasa itu memang gak otomatis datang bersama umur.

 

Posesifnya parah. Sesak. Hidup rasanya seperti ditaruh di toples kecil tanpa udara. Aku gak merasa lebih baik darinya, tapi setidaknya aku tahu satu hal: aku gak mau hidup dengan topeng. Gak mau repot jaga image. Gak mau capek kelihatan selalu bijak di tongkrongan tapi egois saat beda pendapat.

 

Dia tipe yang gak pernah mau kalah. Diskusi selalu berubah jadi adu kuasa. Energi positifku terkuras habis. Sementara buatku, tidur siang adalah ibadah sunyi. Jeda paling berharga buat otak yang berisik kayak tempat tamasya pas liburan sekolah.

 

Buat dia? Pulang kerja adalah aba-aba untuk ngelayap sampai sore. Dan buatku itu melelahkan. Jalan-jalan memang seru, tapi harus tahu waktu. Aku ini gampang low battery. Bukan rusak, cuma butuh colokan sunyi.

 

Dari dia aku belajar satu pelajaran mahal: kedewasaan gak bisa dilihat dari umur, fisik, atau hobi. Ada orang yang kelihatannya childish—ketawa keras, nonton kartun, pakai kaos gambar anime—tapi visi misinya jelas, hidupnya terarah. Dan jujur saja, aku iri. Hehehe.

 

Lalu apa itu visi dan misi buatku?

 

Bukan presentasi PowerPoint. Bukan jargon motivasi.

Buatku: jalani, nikmati, dan bersyukur yang banyak. Berusaha jadi lebih baik, tanpa berhenti mengulang doa yang sama. Selebihnya? Berserah pada satu kalimat sakti yang sudah ada sejak lama: kun fayakun.

 

Allah SWT bekerja dengan cara-Nya sendiri. Semua yang menyakitkan pasti membawa hikmah. Kadang hikmahnya datang belakangan, kadang datang sambil nyengir: “Tuh kan, untung kamu pergi.”

 

Jadi kalau ada yang masih bilang nonton kartun, anime, atau donghua itu tanda gak dewasa—aku cuma senyum. Kedewasaan bukan soal apa yang kamu tonton, tapi bagaimana kamu hidup. Bagaimana kamu memperlakukan orang lain. Bagaimana kamu menjaga dirimu sendiri.

 

Dan kalau aku memilih menghindar daripada ribut, memilih damai daripada menang debat, memilih tidur siang daripada nongkrong gak jelas—itu bukan kekanak-kanakan.

 

Itu strategi bertahan hidup.

 

Di dunia nyata yang gak punya tombol pause, kadang yang paling dewasa adalah mereka yang tahu kapan harus berhenti, menepi, lalu mengisi ulang hati.

 

Sore makin turun. Teh tinggal setengah. Dan aku masih percaya:

kedewasaan itu sunyi, sederhana, dan sering disalahpahami.

Sama seperti gambar bergerak yang katanya cuma buat anak kecil.

 

Padahal isinya… kehidupan itu sendiri.

 

--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---


Ilustrasi seorang gadis duduk santai di kursi taman, dikelilingi bunga mawar dan daisy dalam suasana hening dan reflektif.
Jeda kecil untuk pikiran yang terus berjalan — Blog Cerita Kemuning


Tidak ada komentar:

Posting Komentar