
Katanya diet, tapi hidup tetap harus dinikmati - Blog Cerita Kemuning

Katanya diet, tapi hidup tetap harus dinikmati - Blog Cerita Kemuning
Agenda Diet yang Selalu Gagal
Katanya diet.
Iya, katanya.
Kalimat ini biasanya lahir dengan penuh harapan, diucapkan dengan suara lirih tapi sok tegas, lalu mati pelan-pelan di hari ketiga—atau bahkan sebelum hari pertama benar-benar dimulai. Diet, bagiku, adalah janji suci yang sering kali kandas oleh hal sepele: mood.
Aku ini tipe manusia dengan suasana hati yang berayun seperti jemuran kena angin sore. Kadang tenang, kadang berkibar liar. Kata orang, rata-rata perempuan punya mood baik dan seimbang cuma dua hari. Entah itu hasil riset atau sekadar gosip turun-temurun, aku tidak tahu. Yang jelas, kalau itu benar, aku mungkin termasuk yang jatahnya minus.
Masalahnya, ketika orang lain sedang kesal, marah, atau bad mood, biasanya mereka kehilangan nafsu makan. Perut mengunci, lidah mogok, nasi terasa seperti styrofoam.
Kalau aku?
Justru kebalikannya.
Saat emosi memuncak, dunia terasa tidak adil, dan hidup tampak seperti sinetron tanpa jeda iklan, yang aku cari pertama kali bukan solusi—tapi makanan.
Bukan makan elegan. Bukan salad hijau dengan dressing tipis-tipis penuh penderitaan. Tapi makan yang niat. Makan yang bisa dipeluk. Makan yang bisa diajak curhat.
Aneh ya?
Saat kesal, bawaannya lapar. Bukan lapar perut semata, tapi lapar batin. Lapar akan rasa gurih, pedas, dan sensasi “ah, setidaknya ini tidak mengkhianatiku”.
Aku sering bertanya-tanya: ini aku doang, atau ada yang senasib?
Karena lucunya, ketika aku sedang good mood, justru nafsu makanku lebih kalem. Tidak semua terlihat menggiurkan. Tidak semua ingin dicicipi. Aku bisa menolak gorengan. Bisa berkata, “Ah, nanti saja.” Bisa minum air putih tanpa merasa dizalimi.
Ironis.
Mood baik membuatku hemat. Mood buruk membuatku rakus tapi bahagia.
---
Diet dan Drama Emosional
Setiap niat diet biasanya diawali dengan ritual klasik:
- Timbangan diinjak dengan mata setengah terpejam
- Nafas ditahan seolah angka bisa berubah karena sugesti
- Lalu muncul kalimat sakral: “Besok aku mulai diet.”
Besoknya?
Mood bangun pagi menentukan segalanya.
Kalau bangun dengan perasaan cerah, burung bernyanyi (walau cuma di imajinasi), dan kopi terasa pas, diet masih punya harapan. Sarapan bisa sederhana. Makan siang terkontrol. Malamnya mungkin cuma buah.
Tapi kalau bangun pagi dengan kepala berat, pikiran ruwet, dan dunia terasa miring sedikit ke kiri…
Diet langsung minta cuti.
Aku bukan tipe orang yang ketika stres jadi tidak mau makan. Aku tipe yang ketika stres justru merasa, “Aku pantas makan enak hari ini.”
Dan entah kenapa, pembenaran itu selalu terdengar masuk akal.
---
Tentang Maag dan Alibi
Di titik tertentu, aku mulai bertanya: jangan-jangan ini ada hubungannya dengan penyakit maagku?
Katanya, maag bisa bikin perut terasa perih, kosong, atau tidak nyaman saat stres. Jadi mungkin, rasa lapar yang datang saat emosi naik itu bukan lapar biasa, tapi sinyal tubuh yang minta diisi agar tidak makin kacau.
Atau mungkin…
Itu cuma alibi yang sangat sopan agar aku bisa makan tanpa rasa bersalah.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, perut dan perasaan ini seperti komplotan lama. Mereka saling kerja sama. Mood jatuh, perut langsung mengirim memo: “Kita butuh sesuatu. Sekarang.”
Dan aku, sebagai manusia lemah, tentu menuruti.
---
Sambal, Penyelamat Hidup
Ada satu fakta penting tentang diriku yang harus diketahui dunia: aku bukan tipe susah makan.
Sungguh bukan.
Asal ada sambal, aku akan makan.
Tidak peduli lauknya apa. Bahkan kalau teman sambalnya cuma lalapan—timun, daun kemangi, atau kubis mentah yang dipetik dengan penuh harapan—aku tetap makan dengan bahagia.
Sambal bagiku bukan sekadar pelengkap. Ia adalah penenang. Terapi. Sahabat setia.
Ada rasa puas yang tidak bisa dijelaskan ketika nasi panas bertemu sambal pedas. Seolah hidup berkata, “Tenang, kamu baik-baik saja.”
Diet apa yang bisa bertahan di hadapan sambal?
Tidak banyak.
---
Agenda Diet yang Selalu Kandas
Aku pernah mencoba berbagai konsep diet:
- Diet mengurangi porsi.
- Diet tidak makan malam.
- Diet makan teratur.
- Diet “yang penting niat”
Semuanya gagal dengan cara yang kreatif.
Biasanya bukan karena lapar berlebihan, tapi karena emosi.
Diet sering kali lupa satu hal penting: manusia itu bukan robot. Ada hati. Ada perasaan. Ada hari-hari di mana satu-satunya kebahagiaan adalah sepiring nasi dengan lauk sederhana.
Dan di situlah dietku tumbang.
Bukan karena aku tidak tahu teori. Aku tahu. Sangat tahu.
Aku tahu pentingnya pola makan seimbang. Aku paham soal kalori, serat, protein, dan jam makan. Aku mengerti bahwa yang penting itu sehat, bukan kurus semata.
Tapi pengetahuan sering kalah oleh kenyataan.
Kenyataannya: makan adalah nomor satu di duniaku.
Dan aku tidak malu mengakuinya.
---
Antara Sehat dan Bahagia
Sebenarnya, tujuan utamanya bukan kurus. Tapi sehat.
Bisa mengatur pola makan. Tidak berlebihan. Tidak sembarangan. Tetap menikmati hidup tanpa harus memusuhi nasi.
Aku tahu itu.
Aku juga tahu bahwa tidak semua orang seperti aku. Ada yang kalau stres justru tidak bisa makan. Ada yang sedih sampai lupa rasa. Ada yang marah sampai perut ikut mogok.
Aku ingin tahu:
Teman-teman pembaca, kalian tim yang mana?
- Tim stres jadi tidak nafsu makan?
- Atau tim stres malah cari camilan seperti aku?
Atau mungkin kebalikannya: saat bahagia justru makan lebih banyak?
Setiap tubuh punya ceritanya sendiri. Setiap perut punya bahasa rahasia.
---
Penutup yang Jujur
Dietku mungkin selalu gagal.
Tapi setidaknya aku jujur.
Jujur bahwa aku manusia dengan mood naik turun. Jujur bahwa makanan sering jadi pelarian. Jujur bahwa sambal adalah cinta sejati.
Mungkin suatu hari nanti, diet dan aku akan berdamai. Bukan saling menyiksa, tapi saling memahami.
Sampai hari itu tiba, aku akan tetap berkata:
“Katanya diet.”
Sambil…
Mengambil nasi.
Dengan sambal.
Dan senyum kecil penuh rasa bersalah—yang cepat hilang setelah suapan pertama.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar