![]() |
| Dulu bertahan. Kini memilih bangkit. Inilah perjalanan Bimala – Blog Cerita Kemuning |
BAB 4 — Hari Ketika Aku Merasa Kecil
Kota besar selalu punya cara untuk membuat seseorang merasa besar… lalu pada detik yang sama, membuatnya merasa amat kecil. Seperti titik air yang jatuh di tengah hujan, hilang sebelum sempat menyadari dirinya pernah ada. Dan hari itu—entah bagaimana—hidup memilih menjatuhkan titik air itu tepat di dada Bimala.
Pagi sebenarnya berjalan biasa. Terlalu biasa, sampai malas untuk dicatat. Sampai satu kejadian kecil yang begitu sederhana, begitu sepele… namun cukup untuk membuat seorang gadis SMA kelas dua merasa seperti tanah di bawahnya amblas.
Itu terjadi saat istirahat sekolah. Mala duduk di bangku belakang kantin, meneguk air putihnya sambil menatap teman-temannya yang sedang bercanda. Dia tidak ikut, bukan karena tak diundang, tetapi karena ia sedang menikmati ruang kecilnya sendiri. Kesendirian yang bukan hukuman, melainkan tempat berteduh.
Sampai dua temannya lewat sambil tertawa. Tawa itu seperti riak air, menuju ke sana ke mari, tapi lama-lama memusat.
“Eh, katanya Mala suka sama kakak kelas yang tinggi itu, ya?”
“Yang rambutnya belah samping itu, loh. Dia kan suka lewat depan kelas.”
“Ya elah, mana mungkin… dia kan doyan yang slim-slim. Lagian Mala mah… ya kamu tahu lah…”
Percakapan itu tidak keras. Tidak ditujukan untuk menyakiti. Cuma lelucon kecil yang mereka pikir tidak didengar oleh siapa pun.
Tapi tawa mereka serupa anak panah kecil. Ringan. Tajam. Dan anehnya, tepat sasaran.
Mala mematung. Air putih dalam mulutnya mendadak hambar. Bangku dingin yang ia duduki tidak lagi terasa nyaman. Rasanya seperti tubuhnya membesar sepuluh kali lipat, memenuhi seluruh ruang. Seolah setiap orang melihatnya.
Kenapa sih… harus gitu?
Apa aku memang selucu itu?
Atau sebodoh itu?
Ia memalingkan wajah. Menunduk. Menarik napas dalam. Ia menghapus air mata sebelum sempat jatuh—seperti memukul nyamuk sebelum menggigit.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mala merasa kecil.
Dan anehnya, saat pulang sekolah, rasa kecil itu seperti mengikuti dari belakang, seperti bayangan yang tak bisa ditinggalkan.
---
Ketika ia tiba di ruko, Mama sedang menurunkan gorengan dari wajan besar. “Ah, Mala pulang! Ini, nyobain dulu gehu mama… pedes tingkat dewa!” kata Ceu Hayati dengan logat Sunda-Jawa yang kadang cadel di beberapa huruf.
Biasanya Mala akan langsung ceria. Tapi hari itu ia hanya tersenyum tipis.
“Tuh wajah kok manyun begitu? Ada apa?”
“Gak apa-apa, Ma. Capek aja.”
Ceu Hayati memahami nada seperti itu. Nada yang hanya keluar ketika Mala sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.
Tapi ibunya tidak menekan. Ia hanya mengangguk kecil. “Ya sudah. Makan dulu, nanti segar lagi.”
Kalimat sederhana. Hangat, tapi hari itu seperti lewat begitu saja.
Sore menjelang. Mama hendak mandi dan sholat Ashar. “Mala, jagain toko dulu ya, sebentar.”
“Iya, Ma,” jawabnya lirih.
Mala duduk di kursi kasir. Hujan turun pelan di luar, seperti mengusap jendela dengan air mata langit. Toko tidak terlalu ramai. Ada beberapa pembeli lewat, tapi tak banyak.
Lalu seseorang masuk.
Seorang laki-laki tinggi, dengan kulit hitam manis dan postur tegap. Usianya mungkin 25 tahun. Rambutnya rapi, wajahnya tenang, tapi suara langkahnya saja sudah membuat rak mie instan serasa berbaris lebih rapi.
Ia mengambil beberapa barang: kopi, sabun, roti tawar, dan air mineral.
Mala tidak memperhatikan secara khusus. Sudah wajar bagi seseorang yang tumbuh di toko sembako untuk tak mudah terpesona oleh wajah siapa pun. Semua orang, secakep apa pun, akan terlihat sama ketika menyerahkan uang 20 ribu lalu menunggu kembalian.
Namun ketika laki-laki itu berdiri di depan kasir dan bertanya, suaranya terasa dalam, seperti gema kecil di dada.
“Maaf,” katanya sopan, “ini ruko milik Pak Yudha Santosa, ya?”
Mala mengangkat kepalanya sedikit. Dan langsung sadar betapa tingginya orang itu.
“Iya, Kak. Ada apa ya? Bapak saya itu,” ujarnya sopan.
“Oh, kamu anaknya Pak Yudha?”
“Iya, Kak. Ada perlu apa ke Bapak saya? Beliau belum pulang, mungkin lembur lagi.”
Laki-laki itu tersenyum kecil. Senyum yang lembut, tanpa maksud apa pun, tetapi cukup untuk membuat jantung Mala telat satu ketukan.
“Oh, enggak. Saya tadi ngobrol sama Pak Yudha di mushola setelah Dzuhur. Saya baru bekerja di pabrik sepatu dan baru pindah ke sini. Baru tahu kalau ini tokonya beliau. Senang bisa kenal Pak Yudha… dan kamu. Saya Iqbal.”
Ia menyodorkan tangan kanannya.
Mala sedikit kaget, tetapi cepat-cepat membalas. Tangannya kecil di dalam tangan Iqbal yang besar dan hangat.
“Saya Mala. Bimala.”
“Senang berkenalan dengan kamu. Titip salam saya buat Bapak dan Ibu, ya. Terima kasih. Saya permisi.”
“Iya, Kak Iqbal. Mala juga senang kenalan. Nanti Mala sampaikan. Belanja lagi ke sini ya, Kak!” katanya sambil senyum—pelajaran promosi yang Mama ajarkan sejak Mala SD.
Begitu Iqbal pergi, Mama turun dari lantai dua.
“Selesai! Kamu mandi, terus sholat Ashar, ya. Setelah itu belajar. Kayaknya Bapak lembur lagi.”
“Iya, Ma.”
Mama tiba-tiba mendekat. “Tadi ngobrol sama siapa? Suaranya gede amat, kayak speaker masjid.”
“Oh, Kak Iqbal. Pekerja baru di pabrik sepatu tempat Bapak kerja. Tadi kenalan. Bapak tadi ngobrol sama dia di mushola. Katanya salam buat Mama sama Bapak.”
“Oh gitu… Waalaikumsalam.”
Mama tersenyum tipis, lalu memeriksa pembukuan yang Mala tulis. Satu menit kemudian, pintu depan terbuka pelan.
“Assalamu’alaikum,” suara berat itu datang.
“Waalaikumsalam,” jawab Mama. “Pak, larut. Ngelembur lagi?”
“Iya. Urusan mesin, Ma. Buat persiapan pengiriman besok.”
“Oh begitu. Tadi ada salam dari Iqbal. Katanya pekerja baru.”
“Waalaikumsalam. Oh iya, dia pekerja baru. Anak itu gagah, hitam manis kayak Bapak, hehe… dia bagian kantor.”
Ceu Hayati tertawa. “Iya iya, saya mah belum lihat, tadi lagi mandi.”
“Ngobrol sama Mala tadi. Tanya-tanya juga.”
“Wah, kebetulan. Mala pasti senang ketemu Iqbal. Orangnya baik, Ma.”
Mama langsung menatap Pak Yudha. “Ah, kenalan aja dulu. Anak kita baru kelas dua SMA. Biar puas masa remajanya dulu, ah.”
Pak Yudha tertawa. “Saya santai, kok. Saya cuma bilang orangnya baik.”
Mama memelototkan mata manja. “Iyaaa… iyaaaa… Bapak mandi dulu sana. Cemilan ada di meja makan.”
“Baiklah, sayangku,” ujar Pak Yudha sambil tersenyum menggoda.
“Dah tua, ah!”
“Tapi masih disayang, kan?”
“Sangat atuh…”
Wajah Mama langsung merah muda. Pak Yudha merasa menang—seperti selalu.
Setelah mandi, Pak Yudha menikmati cemilan buatan istrinya. Sementara itu, Mala mengambil air dingin dari kulkas. Bapaknya memanggil.
“Mala, nih. Mau? Enak, loh!”
“Mala kenyang, Pak. Mau minum air dingin aja. Oh, tadi Kak Iqbal titip salam buat Bapak.”
“Oh iya. Dia bagian kantor. Tadi waktu Dzuhur ngobrol sebentar. Katanya ngontrak di rumah Haji Akong, dua rumah di belakang ruko kita.”
“Ohh, oke. Orangnya baik, Pak.”
“Iya. Kamu suka dia, gak?”
“Pak!!”
Pak Yudha tertawa keras.
“Becandain Mala terus…”
“Ya masa baru ketemu langsung suka. Lagian Kak Iqbal mungkin punya pasangan. Sekolah ah dulu!”
“Hahaha iya iya. Guyon, kok.”
“Mala belajar dulu ya, Pak.”
“Yo wis, monggo, cah ayu.”
Mala tersenyum kecil dan masuk ke kamar. Berdiri di depan cermin. Rambut masih dikuncir, pipi masih tembam… tapi mata itu mulai punya cahaya baru.
“Aku ingin sehat,” bisiknya. “Bukan karena Kak Iqbal. Tapi karena aku sayang sama tubuhku.”
Cermin menyimpan bayangannya.
Dan untuk pertama kali hari itu, Mala tidak merasa kecil.
Ia merasa… cukup.
Dan cukup adalah langkah pertama menuju kuat.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar