Tulisan Rumit Kemuning

Ilustrasi Perempuan duduk tenang di depan bangunan megah, memancarkan keindahan sederhana dan senyum ramah yang menenangkan.
Duduk manis, santai saja—keindahan itu kadang muncul tanpa perlu repot-repot - Blog Cerita Kemuning


Cowok Matre & Harga Diri Perempuan: Sebuah Kisah dari Salah Satu Kota di Bandung

 

Ada masanya seseorang dilempar cap “matre” hanya karena dia punya standar hidup. Lucunya, tuduhan itu sering dilontarkan oleh orang-orang yang justru paling menghitung untung-rugi ketika memilih pasangan. Ironi bergerak seperti angin: tak terlihat, tapi terasa. Dan di balik tuduhan itu, selalu ada cerita panjang yang akhirnya membuat kita tersenyum getir sambil berkata, “Oh… jadi begini rupanya dunia.”

 

Aku pernah kena tuduhan itu. Disindir, dipotong, dibelokkan maknanya. Dari mantan suami sampai keluarganya ikut bersuara, seolah aku ini mesin ATM berwujud manusia. Dan lucunya lagi, sebelum itu, ada pula mantan pacar yang bilang, “Jangan terlalu mahal jadi cewek, nanti gak laku.”

Kalimat yang kurang lebih setara dengan, “Turunin harga dirimu supaya aku mampu beli.”

 

Padahal, jaman berubah. Teknologi melesat. Berita berseliweran. Mahar miliaran? Ada. Seserahan setinggi lemari? Ada. Orang melamar pakai billboard LED segede lapangan? Ada.

Lalu kalau aku—perempuan biasa, lahir dari keluarga petani, bukan sarjana—punya kriteria dalam memilih pasangan, apa salah?

 

Apa perempuan dari keluarga sederhana harus bersikap, “ya sudahlah, yang penting ada yang mau”?

 

Tidak, terima kasih.

 

Aku sudah pernah keluar dari rencana hidup hanya karena tekanan, karena usia yang disebut “kematangan lewat”. Kata nenekku waktu itu, “Perempuan itu jangan telat-telat menikah.” Ya sudah, aku coba patuh. Dan alhasil, aku kejedot. Keras. Sampai harus kenalan dengan yang namanya Pengadilan Agama—sesuatu yang dulu selalu kuhindari dengan teknik ninja-level: pura-pura bodo amat.

 

Tapi begitulah hidup. Kadang kita jalan sambil nunduk, eh malah nabrak tiang. Tapi setelah itu? Kita bangun lagi, bersihin debu, dan bilang, “Ah ya sudah. Toh aku masih punya napas, masih punya anak yang kucintai, masih punya arah.”

 

Aku bersyukur. Bersyukur karena Allah memberiku anugerah paling besar: kesempatan mendampingi putriku sejak dia lahir sampai hari ini. Dan InsyaAllah sampai dia dewasa dan menemukan seseorang yang telah Allah takdirkan. Aamiin.

 

Sekarang… mari kita kembali pada cerita masa SMA. Cerita tentang salah satu kota di Bandung, tempat aku pernah bertemu dengan seorang cowok yang… yah, sebut saja: “unik”.

 

---

 

Awal Pertemuan: Dari Pom Bensin ke Pesan Singkat

 

Waktu itu aku kelas 2 SMA. Usia 17, masih sepolos sepolosnya. Orang tuaku—yang kala itu masih utuh—mendapat tugas mengelola sebuah SPBU swasta di salah satu kota di Bandung. Aku dan adikku menghabiskan liburan semester dengan datang ke sana. Ayah menjemput dengan mobil perusahaan. Bangganya kayak jadi anak presiden versi desa.

 

Di sana, mamaku—yang supel, ramah, gampang banget menjalin pertemanan—langsung terseret arus sosial kayak ikan yang lahir untuk berenang di lautan pergaulan. Mama ini tipe yang baru ngobrol lima menit sudah jadi saudara jauh seseorang. Circle-nya terbentuk otomatis, kayak semut nemu gula.

 

Lewat mama itulah aku dikenalkan pada seorang cowok: langganan isi bensin, anak mama-ini-dan-mama-itu, pokoknya jaringan pertemanan alami ala emak-emak gaul. Ketika aku dikenalkan, aku cuma ngangguk sopan. Maklum, anak pendiam, tidak supel seperti mamaku. Seperti bunga kemuning—cantik, wangi, tapi tidak suka keramaian.

 

Tak disangka, habis perkenalan itu, dia mulai sering main ke SPBU. Kami ngobrol di teras mess. Manis, wajar, tidak ada drama. Zaman itu belum ada WhatsApp, belum ada DM Instagram, belum ada kuota unlimited. SMS pun dihitung per karakter, jadi orang masih hemat kata—ironisnya, kok dia masih lebih hemat kejujuran?

 

Dia minta nomor, aku beri. Kami bertukar pesan lumayan sering.

Lalu dia bilang ingin main ke kampungku bersama kawannya, soalnya kalau sendiri katanya "nggak berani".

Waktu itu aku cuma ketawa. Dalam kepala: Yah, kalau gak berani ya jangan maksain, a.

 

---

 

Persiapan Menyambut: Polosan, Apa Adanya

 

Hari H pun tiba.

Aku bangun subuh. Deg-degan. Unyu banget memang. Remaja polos, belum ngerti make up, belum ngerti bikin citra. Aku cuma pakai celana kolor nyaman, kaos biasa, rambut panjang sepunggung kucepol seadanya.

 

Aku membayangkan kedatangannya akan seperti adegan anime: cowok tinggi, dada bidang, aura maskulin yang membuat kupu-kupu beterbangan. Di kepalaku, tokoh favorit anime yang turun dari layar, tapi tetap manusia. Eh ternyata… realita selalu punya kejutan.

 

Dia datang dengan kawannya. Dua motor. Kupersilakan masuk, kujamu semampunya. Teh manis hangat, kue-kue sederhana. Kami duduk di ruang makan—dengan meja besar sebagai pembatas. Dia memberikan sebungkus wajit Cililin. Lumayan, cemilan enak kalau otak sedang butuh gula.

 

Obrolannya receh. Sederhana. Tidak ada tanda-tanda serius. Tidak ada sorot mata yang bilang “aku mau perjuangkan kamu.” Tapi ya sudah. Aku pun tidak berharap banyak. Usia segitu, cinta adalah bonus; sekolah tetap nomor satu.

 

Setelah itu dia pamit cepat—katanya takut hujan, takut kemalaman. Aku oke saja. Silakan, Nak. Jalan hati-hati.

 

---

 

Perubahan Sikap & Pertanyaan Nyeleneh

 

Setelah kedatangannya, justru pesan-pesannya mulai jarang. Aku tidak mengambil hati. Kupikir dia sibuk. Aku pun sibuk sekolah.

 

Hingga suatu malam, setelah Isya, dia menelepon. Suaranya tidak enak. Ada suara cewek di belakangnya manggil-manggil, “Sayang, buruuan telponnyaaa!”

 

Oke. Merah bendera.

 

Lalu pertanyaannya…

 

“Rumah itu punya siapa?”

“Sawah keluarga kamu ada berapa?”

 

Pertanyaan yang bikin alis langsung naik sampai nyangkut di langit-langit.

Ini orang apa mau melamar atau mau survei harga tanah?

 

Jawabanku simpel:

“Rumah kakek. Kalau sawah… aku gak tahu.”

 

Memang aku gak tahu. Sejak kecil aku disuruh sekolah, bukan disuruh mengurus sertifikat tanah. Lagian masa remaja harusnya bertanya “hobimu apa”, bukan “aset keluargamu apa”.

 

Dan setelah itu, dia bilang, “Kayaknya kita gak bisa lanjut.”

 

Aku jawab enteng, “Silakan, a.”

 

Telepon kututup. Dan sudah. Tamat.

 

Tidak ada drama. Tidak ada nangis. Tidak ada lagu patah hati.

Besoknya aku bangun pagi, lari pagi seperti biasa. Ketemu teman sekolah, ketawa-ketawa, hidup lanjut seperti normal. Bahkan aku sempat lupa kalau “calon pacar” itu pernah eksis.

 

Nenekku bertanya,

“Gimana itu orang Bandung?”

“Udahan, Nek. Bukan jodoh.”

“Oh, wajitnya enak ya.”

 

Iya, Nek. Wajitnya enak. Orangnya kurang.

 

---

 

Kesadaran Paling Penting: Cowok Matre Itu Ada

 

Itu pertama kalinya aku sadar:

cowok matre itu nyata.

 

Selama ini dunia seolah mem-branding perempuan sebagai makhluk matre. Padahal laki-laki yang matre juga ada—dan jenisnya bukan cuma satu. Ada yang halus, ada yang terang-terangan. Ada yang pura-pura peduli tapi fokusnya aset.

 

Aku bersyukur, sangat bersyukur, Allah tunjukkan tabiat orang ini cepat-cepat sebelum semua terlanjur serius. Tidak usah buang air mata. Tidak usah buang waktu. Tidak usah buang pulsa (yang dulu mahal).

 

---

 

Refleksi Hari Ini: Harga Diri Bukan untuk Ditawar

 

Hari ini, ketika mengingat semua itu, aku merasa lega.

Pengalamanku dengan mantan suami yang menuduhku matrealistis, dengan mantan pacar yang menyuruhku “jangan terlalu mahal”, dengan cowok SMA yang ternyata matre… semuanya menyatu menjadi pelajaran hidup.

 

Pelajaran bahwa:

 

Harga diri perempuan bukan katalog promo.

Standar hidup bukan dosa.

Kriteria bukan keangkuhan.

Memilih bukan kesombongan.

 

Tak peduli dari keluarga apa kita berasal. Tak peduli pendidikan kita apa. Perempuan tetap berhak menentukan hidupnya. Kalau ada laki-laki yang minder atau tersinggung karena perempuan punya standar, itu masalah dia, bukan masalah kita.

 

Sekarang, aku sudah melewati banyak hal. Luka-luka lama sudah mengering. Aku hidup dengan syukur.

Aku punya anak yang membersamaiku tiap hari. Aku punya keberanian untuk memulai dari awal. Aku punya ketegasan untuk tidak lagi merendahkan diriku hanya supaya “dipilih seseorang”.

 

Dan kalau nanti ada yang bilang aku matre lagi?

Aku senyum. Lalu jawab dalam hati:

 

“Aku bukan matre. Aku hanya sudah terlalu mahal untuk dibeli oleh orang yang salah.”

 

---

 

Penutup 🍰

 

Kalau kuingat lagi diriku sebelum umur 25, duh… itu Kemuning versi lempeng garis lurus. Hidup boleh berkelok-kelok kayak jalan pegunungan, tapi isi kepalaku lurus macam penggaris baru keluar dari toko.

Kalau ada cowok yang lagi dekat, lalu dia bikin pusing, nggak mau ngerti arah pikiranku, maunya aku yang harus menyesuaikan, harus belajar memahami dia tapi dia ogah memahami aku… ya maaf, aku mundur pelan-pelan sambil ngelus dada: “Nak, hidupku bukan puzzle yang kamu lempar sembarangan.”

 

Karena prinsipku sederhana tapi kok susah banget dicari padanannya:

kalau dia baik, aku akan lebih baik.

kalau dia cinta, aku akan lebih cinta.

kalau dia sayang, aku akan lebih sayang.

 

Dan soal keuangan?

Mari kelola bareng-bareng.

Bukan kayak main petak umpet, satu nutupin, satu nebak-nebak.

 

Kalau ada masalah, mari bicara.

Bukan ngomongin dari belakang.

Kalau melangkah, mari berdua.

Bukan aku yang merangkak sementara kamu jalan duluan.

 

Tapi ya… entah kenapa, model laki-laki kayak gitu kayak legenda urban. Ada katanya… tapi wujudnya jarang tertangkap kamera. Hahaha.

 

Namun begitu, aku tidak kecewa.

Tidak marah.

Tidak menyesali apa pun.

 

Mungkin memang belum waktunya.

Dan seperti biasa, dalam segala hal, aku kembali pada kalimat yang selalu menenangkan hatiku:

 

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal.

Syukron ya Allah.

 

Karena meski jalanku berliku, hatiku tetap menemukan rumahnya.

Dan aku tetap menjadi Kemuning—yang wangi, yang kuat, yang tahu nilai dirinya.

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---

 

Ilustrasi Perempuan berambut merah duduk memandang laut, seperti sedang menimbang hidup sambil nyeletuk, “yang matre biar ombak aja yang bawa pergi."
Rehat manis sambil mikir: hidup ribet? Maaf, saya pilih laut dan ketenangan dulu - Blog Cerita Kemuning

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar