Tulisan Rumit Kemuning 2

Ilustrasi seorang perempuan berambut merah dan bergaun merah berenda kuning emas, sedang duduk di kursi faviliun di tebing dekat laut dan ada taman bunga daisy dan rose di dekatnya.
Harusnya setenang gambar ini, laut di dalam kepalaku - Blog Cerita Kemuning


Mengigau di Antara Ujian: Ketika Tidur Menjadi Tempat Pulang Paling Sunyi

Ada malam-malam ketika tubuh ini rebah, tapi pikiran justru menggelar konser tunggal. Tanpa tiket. Tanpa jeda. Dan tanpa aba-aba. Aku mengigau. Bukan hanya soal mimpi yang bocor ke dunia nyata, tapi tentang hidup yang rasanya seperti ulangan harian tanpa kisi-kisi. Datang bertubi-tubi. Seperti hujan yang tak sempat disapu matahari.

Seiring ujian yang semakin sering menyapa — dari urusan perasaan sampai perut yang bernegosiasi dengan dompet — aku sering bertanya, dengan nada setengah protes setengah pasrah, “Kenapa harus aku? Kenapa ini jadi bagian dari perjalanan takdirku? Kenapa yang pahitnya selalu aku yang menelan?” Pertanyaan itu seperti lagu lama yang diputar ulang, kadang sendu, kadang sinis, kadang ingin ditampar kenyataan sendiri.

Yang jalan-jalan enak jalan-jalan. Yang kelayapan enak kelayapan. Aku? Pengen juga. Pengen sesekali pergi tanpa tujuan, naik kendaraan entah ke mana, menikmati angin yang tidak menuntut apa-apa. Tapi ya itu, maunya uang tetap ngalir. Hehehe. Realistis dikitlah, hidup ini bukan sinetron sore yang cukup modal tatapan sendu lalu semua dompet terbuka.

Walaupun aku bukan tipe yang doyan keramaian, aku tetap manusia. Ada otak yang bisa penat, ada hati yang bisa lelah. Diam di rumah bukan berarti tidak punya keinginan. Nurut bukan berarti tak punya mimpi. Kadang orang lupa, yang kelihatan tenang itu bukan berarti kosong. Bisa jadi justru paling berisik di dalam kepala. Seperti lemari yang rapi di luar, tapi isinya penuh surat yang belum sempat dibaca.

Dan yang paling menyedihkan? Justru mereka yang paling dekat sering kali menjadi juri paling kejam. Meremehkan penilaian, kemauan, dan pemikiranku, seolah-olah aku ini cuma figuran dalam film kehidupanku sendiri. Maka jangan heran kalau aku jarang adu mental di arena luar. Rumahku sendiri sudah seperti gelanggang. Aku telah lelah bertarung sebelum keluar pintu.

Aku memilih cara sederhana untuk bertahan: tidur. Banyak tidur. Bukan karena malas, tapi karena itu satu-satunya tempat di mana suara di kepalaku sedikit mengecil. Aku menjadwalkan hidup dengan penuh disiplin: sekolah, belajar, mengerjakan tugas, pekerjaan rumah, semua kususun sedetail mungkin agar waktu tidur siangku tidak terganggu. Tidur adalah oasis. Tidur adalah tombol ‘pause’ yang paling jujur.

Namun semua berubah ketika aku mulai bekerja. Waktu seperti pasir yang bocor dari telapak. Jadwal berantakan, tenaga terkuras, dan lelah jadi teman setia. Ada meme yang bilang, di dalam diri ini ada macan siap menerkam apa pun di depannya, tapi yang terlihat oleh dunia hanyalah macan pemalas yang santai menghadapi cuaca. Aku tertawa saat pertama kali melihatnya. Lalu sadar, itu aku. Di luar tampak kalem. Di dalam, ribut minta ampun. Seperti pasar malam di dalam tengkorak.

Dan soal gaji? Hah. Demi apa pun yang punya langit, angka di slip gaji itu rasanya selalu diet. Tak pernah tembus jutaan. Aku sampai pernah habis salat bertanya polos, “Kenapaaaa? Kenapaa begini?” Padahal maunya cuma sederhana: jalan-jalan pakai uang sendiri. Tapi hidup seperti petugas parkir yang selalu menaikkan tarif tanpa pemberitahuan.

Pernah juga terlintas keinginan kabur jauh-jauh. Pergi tanpa pamit, menghilang sebentar dari dunia yang terlalu ribut. Tapi lagi-lagi, uang tak pernah sepakat dengan ide nekat. Asem banget lah! Rasanya seperti sudah siap liburan, tapi koper cuma berisi angin dan harapan.

Lalu, semesta menghadiahiku sesuatu yang mengubah semua peta di jiwaku: putriku, Runi. Sejak dia hadir, definisi lelah berubah jadi tanggung jawab, definisi takut berubah jadi doa. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan bukan sekadar ke kota seberang, tapi sampai ke Mekkah dan Madinah. Aku ingin menggenggam tangannya di tanah penuh berkah itu. Menunjukkan padanya bahwa dunia memang keras, tapi doa selalu lembut.

Aku berjanji dalam diam, tak akan membuatnya merasa sendiri. Tak akan membiarkan ia merasa ditinggalkan, tak akan membiarkannya merasa tak didukung. Aku tahu rasanya berada di sisi sunyi. Dan trauma adalah guru yang kejam, tapi pelajaran darinya mahal dan tak ingin diwariskan.

Aku ingin hatinya lebih pandai, lebih bersyukur, lebih lapang. Lebih kuat dari mamanya yang kadang bersyukur, kadang mengumpat, lalu menutupnya dengan minta maaf pada Allah SWT. Doaku untuknya tak pernah setengah-setengah. Selalu yang terbaik, selalu yang hangat, selalu yang penuh kasih sayang. Karena entah mengapa, hanya manusia kecil yang lahir dari rahimku ini yang paling mudah kumaafkan, bahkan saat ia rewel di tengah lelapku yang berharga.

Arum Seruni Wijaya — namamu adalah doa yang kubisikan pada langit setiap malam. Engkau adalah alasan aku tetap berdiri meski lutut gemetar. Engkau adalah matahari kecil yang membangunkan semangat di pagi paling lesu.

Aku tahu hidup ini tidak pernah adil. Tapi cinta seorang ibu tidak mengenal sistem ganjil atau genap. Ia bekerja tanpa libur, tanpa cuti, tanpa bonus akhir tahun. Namun ajaibnya, ia tetap merasa cukup meski dunia sering terasa kurang ajar.

Dan tentang mengigau itu, mungkin bukan semata tanda kelelahan. Bisa jadi itu jeritan kecil dari jiwa yang terlalu lama memendam. Bisa jadi itu bentuk lain dari doa-doa yang belum sempat selesai diucapkan. Tapi tak apa. Mengigau hanyalah satu cara tubuh berkata, “Aku lelah, tapi aku masih di sini.”

Jika ada yang mengira diam itu lemah, biarlah. Jika ada yang menilai tenang itu tanpa ambisi, silakan. Kita tak harus selalu menjelaskan diri pada dunia yang gemar salah paham. Kadang, bertahan saja sudah termasuk prestasi.

Dan ya… kalian juga pasti sama, kan? Pasti ingin yang terbaik untuk orang tercinta. Terlebih untuk anak yang lahir dari rahim sendiri. Di yaumul hisab kelak, kitalah yang paling dulu diminta pertanggungjawaban atas mereka. Mana mungkin kita mendoakan setengah-setengah. Mana bisa menyayangi setengah-setengah. Dan mana tega melindungi setengah-setengah.

Doa untuk yang terkasih itu bukan sekadar formalitas sebelum tidur. Ia adalah janji. Ia adalah pelukan yang tak terlihat. Ia adalah cahaya kecil di lorong panjang bernama kehidupan.

Jadi kalau dunia terasa berat hari ini, jika langkah terasa lambat, jika hati ingin menyerah, ingat satu hal: kita bukan sedang kalah, kita hanya sedang ditempa. Seperti kopi pahit yang justru paling nikmat saat diseruput pelan-pelan.

Dan bila malam kembali membuatku mengigau, biarlah. Itu tanda aku masih hidup. Masih bermimpi. Masih berharap. Masih mencintai.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling tulus menjaga apa yang dititipkan padanya. Termasuk seorang ibu, dan doanya yang tak pernah setengah hati.

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.



---

 

Ilustrasi seorang ibu dan putrinya sedang bermain ayunan di tengah taman bunga daisy dan rose.
Ilustrasi seorang ibu dan putrinya bermain ayunan di taman bunga - Blog Cerita Kemuning

Tidak ada komentar:

Posting Komentar