![]() |
| Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning |
Bab 5 – Suara dari Reruntuhan
Kemarau telah memanjangkan langkah waktu. Sungai di belakang desa yang biasanya bergemuruh kini mengalir tenang, menyisakan jejak air di batu-batu hitam yang terpanggang panas. Burung bangau berdiri di tengah lumpur kering, menunggu sisa ikan yang terjebak. Angin dari arah hutan menebarkan aroma daun kering dan tanah retak. Di tepi sungai itu, Candrakara kembali duduk diam, memandangi riak kecil yang sesekali memantulkan langit jingga.
Sudah beberapa minggu ia berlatih bersama Nyi Lembayung. Setiap malam, perempuan berkerudung kabut itu mengajarinya memahami getaran tanah, membaca arah angin, dan menajamkan nurani agar mampu mendengar yang tak terdengar. Namun setiap kali pelajaran usai, Candrakara selalu menatap ke arah barat—ke seberang sungai, tempat ia merasa ada sesuatu yang memanggilnya, lembut namun pasti.
Hari itu, dorongan itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Dengan langkah perlahan, ia menuruni tebing batu dan menyeberang. Sungai yang mulai mengering kini hanya setinggi betis, dingin dan bening, membuat setiap pijakan terasa seperti menyentuh nadi bumi. Begitu tiba di seberang, pandangannya tertumbuk pada hamparan batu-batu besar berlumut. Di tengahnya, berdiri reruntuhan bangunan tua—sisa-sisa istana yang dahulu pernah berjaya, kini tertelan waktu.
Batu-batu itu masih menyimpan aura megah, meski sudah hancur. Pilar-pilarnya miring, dan dindingnya dipeluk sulur tanaman liar. Candrakara terdiam lama, merasakan sesuatu yang bergetar halus di dadanya. Angin yang berembus di sela reruntuhan membawa bisikan samar, nyaris tak terdengar:
- “Jangan lupakan namaku…”
Candrakara menegakkan tubuh. Suara itu jelas, namun tak berasal dari arah tertentu. Ia melangkah lebih dalam. Setiap langkah terasa seperti menyusuri masa lalu.
Lalu, di antara celah batu yang retak, sebuah bayangan muncul—lembut seperti kabut pagi. Sosok perempuan berkebaya merah, rambutnya disanggul dipenuhi bunga-bunga, wajahnya tak begitu jelas, namun aura ketenangannya membuat dada Candrakara sesak.
“Batari…” bisiknya lirih.
Bayangan itu tidak menjawab. Hanya berdiri menatapnya. Ada kesedihan di sana, namun juga keteguhan. Ketika Candrakara hendak mendekat, bayangan itu memudar perlahan seperti asap disapu angin. Yang tersisa hanya aroma bunga melati, samar namun nyata.
“Batari! Tunggu!”
Seruannya menggema di antara batu dan daun. Tak ada jawaban.
Tiba-tiba dari sisi lain reruntuhan, muncul cahaya kehijauan. Sosok Nyi Lembayung keluar perlahan dari balik reruntuhan yang lebih tinggi, membawa tongkat kayu berujung kristal. Wajahnya teduh, namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak—antara kesedihan dan kerinduan.
“Jangan dikejar, Candrakara,” ujarnya lembut. “Yang kautemui tadi bukan manusia. Itu hanya bayangan yang menunggu.”
Candrakara menoleh, masih terengah. “Bayangan yang menunggu?”
Nyi Lembayung mengangguk pelan. “Ruh seorang putri… tuanku dahulu. Namanya Batari Melati.”
Nama itu membuat dada Candrakara bergetar. “Jadi benar… dia sungguhan pernah hidup?”
“Pernah,” jawab Nyi Lembayung dengan suara berat. “Ia adalah putri tunggal dari Raja Raden Arung Kesawa dan Ratu Ayu Candrasmi, penguasa tanah ini berabad-abad lalu. Ia mewarisi kebijaksanaan ibunya dan keberanian ayahnya. Tapi kebaikan mereka membuat banyak pihak iri. Saat kerajaan asing menyerang tanpa peringatan, semua orang tak siap. Mereka datang ketika pasukan kerajaan sedang pulang dari barisan perbatasan—serangan yang licik dan cepat.”
Nyi Lembayung berjalan perlahan di antara batu-batu runtuh, lalu berhenti di sebuah titik di mana tanahnya agak rendah, seperti bekas lubang besar yang kini tertutup lumut dan akar.
“Di sinilah istana putri itu berdiri,” lanjutnya. “Dan di bawah sini… jasadnya tertimbun.”
Candrakara menatap tempat itu. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. “Bagaimana bisa ia tak diselamatkan?”
Nyi Lembayung menatap jauh, suaranya berubah pelan. “Ibunya menyuruhnya bersembunyi. Saat pasukan asing menembus gerbang, Ratu menyerahkan cincin leluhur pada putrinya, sebuah pusaka dari garis ibunya yang memiliki kekuatan menjaga keseimbangan. Tapi takdir berkata lain. Tentara musuh menemukan persembunyiannya. Ia berusaha melindungi cincin itu, tapi reruntuhan menimpanya sebelum sempat melarikan diri.”
“Dan sejak itu, tak seorang pun menemukan jasadnya,” tambah Candrakara pelan.
“Benar,” sahut Nyi Lembayung. “Hanya aku yang tahu di mana ia bersemayam. Aku yang menjaga tempat ini… karena sebelum napas terakhirnya, ia menitipkan pesan: ‘Jagalah cincin ini. Jika suatu saat seseorang datang dengan hati yang murni, berikan padanya bimbingan.’”
Candrakara menunduk. “Dan orang itu… aku?”
Perempuan itu tersenyum samar. “Mungkin. Tapi aku belum yakin. Hati manusia mudah berubah, apalagi bila terikat rasa yang tak seharusnya tumbuh.”
Candrakara terdiam. Angin sore mulai berembus, membawa aroma tanah lembap. Bayangan senja jatuh di wajahnya yang muram.
---
Malam itu, di rumahnya, Candrakara duduk di kamar yang diterangi lampu minyak. Cahaya kuning bergoyang di dinding bambu, menari bersama suara jangkrik dan katak hutan. Di luar, langit penuh bintang, tapi pikirannya gelap.
Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah berharap bisa menggenggam sesuatu yang tak kasat mata.
- “Batari… kau masih di sana?” gumamnya lirih.
Tak ada jawaban, hanya bunyi angin menyusup lewat celah jendela. Candrakara menarik napas panjang, memejamkan mata. Wajah lembut Batari Melati muncul dalam benaknya — samar, namun menenangkan.
Ia tahu, rasa itu tidak seharusnya tumbuh, namun hati manusia tidak mengenal aturan ruh dan dunia.
Ia ingin menepati janji yang belum diucapkan: menuntaskan apa yang belum selesai.
Dan itu berarti, menguburkan jasad sang putri dengan layak.
Tapi bagaimana caranya? Reruntuhan itu besar, berat, dan penuh bahaya. Ia hanya manusia biasa. Bahkan Nyi Lembayung melarangnya kembali ke sana tanpa izin.
Pikirannya berputar tanpa arah. Di luar kamar, dedaunan bergesek, dan suara burung malam terdengar seperti bisikan rahasia.
Lama ia termenung, sampai akhirnya mata berat tertutup. Ia pun terlelap tanpa sadar, tenggelam dalam dunia mimpi yang jernih.
---
Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah padang melati. Udara dingin, tapi harum bunga menenangkan. Di depan sana, berdiri Batari Melati, kali ini jelas—pakaian kebaya merahnya berkilau seperti disinari rembulan.
Tangannya menggenggam sebuah cincin emas berukir halus, sama seperti yang pernah ia lihat dulu di tepi sungai.
Candrakara menatapnya, tak mampu bicara.
Batari mendekat perlahan, senyum tipis di bibirnya.
- “Candrakara…”
- “Batari… apakah ini nyata?”
- “Dunia antara nyata dan tidak kadang hanya setipis embun,” jawabnya lembut. “Aku datang bukan untuk menuntut, tapi untuk mengingatkan.”
Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin itu.
“Cincin ini bukan sekadar perhiasan. Ia adalah janji, dan aku hanya penjaga janji. Jika suatu hari kau benar-benar siap, kebenaran akan menuntunmu pada cahaya.”
Candrakara hendak menjawab, tapi angin tiba-tiba berputar kencang. Melati beterbangan, menutupi pandangannya. Ia berusaha meraih tangan Batari, namun tubuh sang putri perlahan memudar, meninggalkan hanya bisikan lembut:
- “Jangan biarkan rasa mengaburkan tujuanmu…”
Suara itu makin jauh, makin samar, hingga akhirnya hilang.
Candrakara terbangun dengan napas tersengal. Peluh dingin membasahi dahinya. Ia menatap ke luar jendela — subuh baru saja tiba. Fajar merah muda menyapa dunia.
Di dadanya, masih terasa kehangatan dari genggaman mimpi itu. Ia tahu, ia tidak bisa berpaling lagi.
Apapun rintangannya, ia akan menepati janji itu — menuntaskan takdir Batari Melati.
---
Hari-hari berikutnya, Candrakara kembali ke reruntuhan dengan lebih hati-hati. Setiap kali ia datang, Nyi Lembayung selalu muncul — kadang dalam wujud perempuan tua, kadang dalam bentuk cahaya samar. Mereka berdua duduk di bawah pohon beringin besar, berbicara tentang masa silam.
“Kenapa kau begitu ingin memakamkan jasadnya?” tanya Nyi Lembayung suatu kali.
“Karena tak ada jiwa yang pantas ditinggalkan tanpa penghormatan,” jawab Candra. “Dan karena… aku merasa berhutang.”
Nyi Lembayung menatapnya lama, kemudian tersenyum kecil. “Mungkin itulah sebabnya tuanku memilihmu.”
Candrakara mengangkat wajah. “Memilihku?”
“Ya,” sahutnya lembut. “Cinta dan takdir kadang tak bisa dibedakan. Tapi hanya yang berhati tulus yang sanggup menjaga batas di antara keduanya.”
Candra menunduk. Ia tak lagi berbicara. Angin sore kembali datang, membawa aroma melati yang entah dari mana asalnya.
Di kejauhan, matahari mulai tenggelam di balik puncak bukit, meninggalkan cahaya jingga yang perlahan berubah ungu. Di bawah langit yang sekarat itu, reruntuhan tampak hidup — batu-batunya memantulkan cahaya lembut, seolah bumi sendiri sedang bernapas.
Dan di tempat paling dalam, tersembunyi di bawah tumpukan bebatuan dan akar tua, terbaring tubuh Batari Melati yang telah menyatu dengan bumi.
Namun pada jari tangan kanannya, cincin emas itu masih melingkar di jari manisnya…
menunggu waktu ketika takdir kembali mempertemukan dua dunia yang terpisah oleh kehidupan dan kematian.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar