Penggembala dari Dua Dunia - 6

Ilustrasi dua tokoh di padang rumput tepi Sungai Cimanuk saat senja. Seorang pemuda bernama Candrakara mengenakan baju putih biru muda dan kain batik biru berdiri membelakangi Batari, perempuan berkebaya merah bersanggul bunga melati. Di langit tampak cahaya jingga dan bulan utuh — simbol pertemuan dua dunia.
Ilustrasi lukisan dari kisah asmara dua dunia antara Candra dan Batari - Blog Cerita Kemuning

 


Bab 6 – Darah yang Terjaga

 

Senja di lembah itu selalu turun perlahan. Seolah langit sendiri enggan benar-benar gelap sebelum memastikan Candrakara selesai dengan pekerjaannya hari itu. Di tepi padang rumput, anak muda itu menepuk-nepuk punggung kerbau-kerbaunya, membiarkan mereka beristirahat di kandang, sebelum kembali menuju sungai. Ia menuruni jalur setapak yang sama setiap sore — jalur yang telah menjadi saksi bisu kebiasaan dan rahasianya.

 

Sejak beberapa pekan terakhir, Candra jarang terlihat bermain seperti anak-anak lain di dusun. Ia lebih sering diam, menatap air yang memantulkan langit jingga, lalu bersemedi di bawah pohon randu besar di tepi sungai. Ada sesuatu dalam tatapannya yang berubah — lebih dalam, lebih tua dari usianya.

 

Sore itu, langkahnya terhenti ketika mendengar suara ayahnya memanggil dari kejauhan.

 

“Candra!”

 

Ki Wreda berdiri di halaman rumah panggung mereka. Sorot matanya tajam, tapi bukan karena marah — lebih pada kekhawatiran yang disembunyikan rapat.

 

“Ayah tahu kau sering ke sungai menjelang malam. Itu bukan waktu yang aman,” ujarnya begitu Candra menghampiri.

 

“Aku hanya bersemedi, Ayah,” jawab Candra perlahan, menundukkan kepala. “Rasanya ada sesuatu yang memanggilku di sana.”

 

Ki Wreda menarik napas dalam. “Justru itu yang Ayah takutkan.”

 

Ia duduk di dipan bambu, menepuk tempat di sampingnya agar Candra duduk juga. “Ada hal yang belum Ayah ceritakan padamu. Tentang siapa kita sebenarnya.”

 

Candra menoleh, matanya memantul oleh cahaya lampu minyak. Ada getar halus di udara — seolah angin menahan napas untuk mendengarkan.

 

“Leluhur kita,” lanjut Ki Wreda lirih, “bukan sekadar penggembala atau penyembuh biasa. Kita adalah penjaga batas dua dunia — dunia yang tampak, dan yang tidak. Setiap beberapa generasi, satu anak akan lahir membawa tanda itu… darah penjaga yang terjaga. Dan darah itu, Candra, mengalir di tubuhmu.”

 

Candra terdiam. Semua latihan tapa, puasa, dan olah batin yang dulu ia jalani tanpa banyak tanya kini perlahan mendapat bentuk.

 

“Jadi… itukah sebabnya aku bisa melihat hal-hal yang orang lain tak bisa?” tanyanya pelan.

 

Ki Wreda mengangguk. “Itu anugerah, sekaligus ujian. Karena bila hati penjaga terguncang oleh cinta yang tak semestinya, batas dunia bisa retak.”

 

Candra menggigit bibir bawahnya. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini.

 

“Batari Melati…” bisiknya lirih.

 

Ki Wreda menatap jauh ke dalam matanya. “Putri itu… semasa hidup adalah manusia yang menepati janji. Tapi takdirnya belum selesai. Ia pernah mengucap sumpah untuk mewariskan cincin peninggalan keluarganya kepada keturunan perempuannya kelak. Namun ajal menjemput sebelum ia sempat menurunkan darahnya. Setengah ruhnya kini terikat pada jin penjaganya, Nyi Lembayung.”

 

“Dan aku?” tanya Candra dengan suara yang nyaris tak terdengar.

 

“Engkau… adalah perantara. Yang akan menyempurnakan kepergian Batari. Mungkin itulah tugas pertamamu sebagai penjaga.”

 

Sunyi menyelimuti keduanya. Hanya suara malam yang mulai turun dari perbukitan, menyanyikan kidung panjang tentang waktu yang terus berputar.

 

---

 

Sejak malam itu, Candra menjalani hari-harinya dengan tekad baru. Ia tetap membantu ayahnya di sawah dan ladang, tetap menggembala seperti biasa, namun begitu senja tiba, langkahnya pasti menuju reruntuhan istana lama di balik lembah.

 

Nyi Lembayung selalu menemaninya, meski tak dalam wujud manusia. Kadang hanya berupa desir angin yang menyinggahi daun-daun, atau bayangan samar yang menuntunnya memilih batu mana yang harus diangkat terlebih dahulu.

 

  • “Gunakan tenaga dalammu, tapi kendalikan napas. Angkat dengan doa, bukan dengan amarah,” bisik suara lembut itu di telinganya.

 

Candra menuruti setiap petunjuk. Bongkahan demi bongkahan batu ia geser dengan sabar. Batu besar diangkatnya perlahan, disusun rapi di sisi lain hingga membentuk lingkaran — seperti pelataran kecil yang kelak akan menjadi tempat peristirahatan abadi.

 

Di sela-sela kerja kerasnya, ia menanam benih bunga — melati putih, mawar merah, dan aster putih. Tanaman yang dulu sering terlihat di sanggul Batari Melati dalam bayangan mimpinya. Ia ingin ketika waktu tiba, tempat itu menjadi taman kecil yang damai, bukan reruntuhan kesedihan.

 

Hari berganti minggu. Peluh dan debu menempel di kulitnya, tapi Candra tidak peduli. Ia mulai merasakan kehadiran Batari lebih kuat setiap kali tanah tersingkap, seolah jarak antara dunia mereka semakin menipis.

 

Hingga pada suatu sore yang sunyi, ketika cahaya matahari terakhir menyentuh dinding runtuh istana, Candra merasakan getaran halus di tanah. Tangannya berhenti di atas batu besar terakhir yang menindih sesuatu di bawahnya.

 

Napasnya tertahan. Ia tahu, inilah lapisan terakhir.

 

Dengan doa yang diajarkan ayahnya dan mantra yang dibisikkan Nyi Lembayung, Candra mengangkat batu itu perlahan. Debu mengepul, angin berhenti, dan dari celah tanah yang terbuka tampak sehelai kain lusuh — merah, dengan motif bunga-bunga kecil yang hampir pudar.

 

Kebaya merah.

 

Kain batik tulis mewah yang meski telah usang, tetap memancarkan aura keanggunan masa lalu.

 

Candra gemetar. “Batari…”

 

Candra membeku.

Suatu rasa yang tak bisa dijelaskan menyergap dadanya. Ingin berteriak, tapi suara seakan tertelan oleh bumi. Ingin menangis, tapi air matanya seperti tertahan di tenggorokan. Ia jatuh berlutut, jemarinya gemetar menyentuh kain itu, lalu tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar hebat — bukan karena takut, tapi karena rasa kehilangan yang tak pernah ia alami sebelumnya.

 

“Padahal aku tak pernah bertemu denganmu secara utuh, Batari…” bisiknya dengan suara pecah.

“Tapi kenapa… kenapa rasa ini tumbuh begitu cepat di dadaku?

Kenapa aku merasa seolah sudah mengenalmu jauh sebelum aku lahir ke dunia ini?”

 

Matanya basah. Napasnya tersengal, menahan gejolak yang tak tertahankan.

“Dan kenapa,” lanjutnya dengan nada parau, “aku merasa marah sebesar ini pada waktu… pada takdir… yang telah merebutmu dariku bahkan sebelum aku sempat mengenalmu?”

 

Kedua tangannya mengepal di tanah, memungut debu yang jatuh di atas kain itu seolah ingin menutupinya kembali — menolak kenyataan bahwa yang di depannya hanyalah sisa dari seseorang yang kini hanya tinggal kenangan dan cahaya.

 

Angin berhembus pelan, membawa harum samar bunga melati yang entah dari mana asalnya.

Candra memejamkan mata. Ia tahu, Batari sedang mendengarnya. Mungkin dari balik batas dunia, dari antara bisik-bisik daun, dari udara yang dingin menggigit kulitnya.

 

Ia menunduk, bibirnya bergetar, tapi kali ini bukan karena sedih.

“Aku sadar,” katanya perlahan, “aku tak akan bisa mengulang waktu untuk menolongmu. Tapi aku bisa menenangkan jiwamu. Aku bisa memastikan kau beristirahat dengan layak, dengan hormat, seperti yang seharusnya dilakukan seseorang kepada yang dicintainya.”

 

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, menatap tanah dengan tatapan yang kini penuh tekad.

“Mulai malam ini, aku bukan lagi anak yang sekadar mendengar kisahmu. Aku akan menjadi penjaga janjimu.”

 

Malam itu, ia menguburkan jasad Batari Melati dengan penuh hormat di tengah taman kecil yang telah ia bentuk dengan tangannya sendiri. Setiap bunga ia tanam satu per satu, dengan doa yang ia hafalkan dari ajaran ayahnya. Di tengah tanah, ia menancapkan seutas kayu kecil, tanda sementara hingga ia bisa membuat batu nisan yang pantas.

 

  • “Kembalilah pada cahaya, Batari,” bisiknya. “Dan jika takdir mengizinkan… biarlah aku menjadi penjaga yang menyempurnakan jalanmu.”

 

---

 

Bulan purnama naik tinggi. Candra duduk di tepi sungai, menenangkan diri. Air mengalir perlahan, memantulkan sinar perak yang tenang.

 

Ia memejamkan mata, mencoba mengembalikan tenaga dalamnya yang terkuras. Tapi ketika membuka mata kembali, sesuatu di permukaan air membuatnya terpaku.

 

Dua bayangan.

 

Satu bayangan dirinya sendiri, duduk bersila di tepi air.

Dan di sampingnya — samar, lembut, tapi jelas — sosok perempuan berselendang kabut, berdiri dengan senyum teduh di wajahnya.

 

Batari Melati.

 

Candra menatapnya lama. Air mata tak tertahan, tapi kali ini bukan air mata duka, melainkan kelegaan yang suci. Senyum Batari di permukaan air itu begitu damai, seolah mengucap terima kasih.

 

Nyi Lembayung berbisik lembut di udara malam:

 

  • “Darah penjaga telah terbangun. Dan janji lama telah mulai ditebus.”

 

Candra menunduk, tangannya terkatup di dada.

Di antara riak air, ia melihat cincin emas yang dulu hanya ada dalam mimpi — kini berkilau di dasar sungai, memantulkan cahaya bulan.

 

Malam itu, langit seperti bersaksi.

Cahaya rembulan turun menyentuh air, seperti menyatukan dua bayangan — manusia dan ruh — dalam satu lingkar pantulan.

 

---

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar