![]() |
| Ilustrasi Tiga Generasi sedang duduk santai dan berbincang di taman bunga - Blog Cerita Kemuning |
Hari ini hujan turun sejak pagi. Anginnya lembut, aromanya seperti tanah basah yang lama tak disentuh air. Aku duduk di teras, menyeruput teh manis hangat, dan entah kenapa, tiba-tiba teringat mendiang Kakek. Mungkin karena udara dingin begini selalu mengingatkanku pada aroma dapur di masa kecil—dan pada satu hal yang paling legendaris di keluargaku: larangan makan daging sapi, kambing, dan domba.
Kakekku, almarhum yang tinggi semampai dan selalu rapi bahkan kalau hanya duduk di kursi rotan, adalah sosok yang sangat disegani di keluarga kami. Tegas, tapi hangat. Lucunya, meskipun beliau bisa menyembelih sapi, kambing, atau domba tanpa ragu, beliau sama sekali tak mau memakannya. “Bau perengus!” katanya selalu, dengan wajah sedikit meringis. Kalau sudah begitu, seisi rumah langsung paham—topik itu sebaiknya tak diperpanjang.
Menurut Kakek, daging sapi dan domba punya bau yang “ngambing banget”. Kalau dalam bahasa Sunda, ya, “bau perengus” itu istilah yang paling pas. Tak peduli daging itu dimasak dengan bumbu kecap, santan, atau dibakar jadi sate, Kakek tetap saja bisa mencium baunya.
“Bau itu mah nempel sampai ke panci, gelas, piring, sendok!” katanya suatu sore, waktu aku dan Mama sedang masak semur daging sapi.
Mama hanya tertawa. “Ah, Bapak, ini dagingnya udah dicuci pakai air jeruk, kok. Gak bakal bau. Terus nanti semua peralatan masak dan makannya juga semua Nyai cuci sampai bersih dan wangi”
“Tetep we, perengus mah perengus.”
Kakek lalu pura-pura batuk, seolah aroma daging itu benar-benar menyerang paru-parunya. Aku yang waktu itu masih kecil hanya bisa tertawa geli, sambil diam-diam mencuil sedikit potongan daging sapi di wajan. Rasanya enak banget—gurih, manis, dan sedikit pedas. Aku pikir, bagaimana mungkin Kakek gak suka makanan seenak ini?
Tapi begitulah Kakek. Prinsipnya kuat, bahkan untuk hal-hal kecil seperti urusan bau dapur.
Meski tak suka makan daging sapi dan domba, Kakek justru sering jadi orang yang disuruh menyembelih saat Idul Adha. Orang-orang kampung percaya, tangan Kakek “adem”, dan hewan kurban yang disembelih beliau selalu tenang. Setiap kali pulang dari tempat penyembelihan, beliau pasti membawa sebungkus daging—untuk Nenek, Mama, dan aku.
“Buat kalian aja,” katanya datar.
“Bapak gak makan?” tanya Nenek, meski sudah tahu jawabannya.
“Hadeuh, bau. Makan ayam aja lah, tapi kulitnya buang.”
Nah, itu satu lagi kebiasaan unik Kakek. Beliau hanya mau makan daging ayam, itupun tanpa kulit. Katanya, kulit ayam itu “ngandung lemak jahat” dan bikin kolesterol naik. Jadi kalau kami beli ayam goreng, Kakek akan mengupas kulitnya dengan hati-hati, lalu menyisihkannya di tepi piring. Kadang aku diam-diam memakannya—karena buatku, bagian kulit itu justru yang paling enak! Tapi kalau ketahuan, Kakek cuma geleng-geleng sambil tersenyum kecil.
“Cucuku ini pasti turunan Neneknya. Doyan kulit, doyan perdagingan.”
Memang betul, Nenek dan Mama termasuk golongan yang paling semangat kalau urusan daging domba. Kalau di rumah ada daging domba, dua orang itu pasti paling depan di dapur. Nenek biasanya masak gulai pedas, sementara Mama suka menumis jeroan domba, terutama babat. Nah, di sinilah awal mula aku mengenal daging domba—dan juga mengenal sesuatu bernama bau perengus.
Aku masih ingat betul, waktu SMP, Mama sedang memasak tumis babat domba. Baunya menyengat, menusuk hidung, tapi Mama tampak bersemangat. “Ini nanti enak banget, kamu harus coba!” katanya.
Aku meringis. “Tapi, Ma, baunya itu loh… kayak karpet kena hujan.”
Mama tertawa keras. “Ah, dasar kamu! Coba dulu. Ini nanti bumbunya pedas manis. Kalau udah matang, baunya hilang.”
Aku menunggu sambil mengendus-endus. Lama-lama memang benar, bau aneh itu menghilang, berganti dengan aroma bawang merah, bawang putih, kecap, dan cabe merah besar yang digoreng sampai harum dan juga full rempah, yang menjadi penghilang bau perengus dari babatnya. Saat aku mencicipi sesuap, aku langsung terdiam.
“Nah, enak kan?”
Aku mengangguk pelan, pura-pura sok biasa. Padahal di dalam hati aku berteriak: enak banget!
Mungkin Mama benar—kadang yang kita kira “bau” cuma butuh bumbu yang tepat.
Tapi kalau urusan dapur, Kakek tetap punya aturan keras. Kalau ada daging sapi, domba, atau kambing yang dimasak, semua alat masak harus “disucikan” dulu sebelum dipakai untuk masak lauk lain. Dari katel, piring, sendok, bahkan gelas tempat minum.
“Jangan campur! Nanti rasa dan baunya nempel!” katanya tegas.
Lucunya, karena aturan itu, dapur rumah kami seperti punya dua dunia: satu untuk masak ayam dan ikan (wilayah aman buat Kakek), satu lagi untuk daging sapi dan domba (wilayah terlarang bagi beliau).
Pernah suatu kali, Mama kurang bersih mencuci wajan bekas masak rendang sebelum dipakai goreng tempe. Begitu Kakek cium aroma yang agak “aneh”, beliau langsung komentar,
“Ini wajan bekas rendang, ya? Perengusnya masih sisa tuh!”
Mama cuma bisa nyengir. Aku dan Nenek menahan tawa di belakang pintu dapur.
Lama-kelamaan, kebiasaan itu jadi bagian dari identitas keluarga kami. Orang luar mungkin heran, tapi buat kami, itu hal biasa. Dan lucunya, meskipun Kakek begitu anti dengan daging sapi dan domba, beliau sama sekali tak keberatan menyembelihnya untuk orang lain.
“Beda urusan. Menyembelih mah ibadah, makan mah selera.”
Kalimat itu sering beliau ucapkan dengan tenang. Bijak, tapi tetap kocak kalau dipikir-pikir.
Aku sendiri mulai suka daging sapi sejak SD, tepatnya kelas tiga. Kata Mama, waktu itu aku lihat tukang bakso lewat, lalu merengek minta dibelikan. Sejak suapan pertama, aku langsung jatuh cinta. Kuahnya gurih, dagingnya empuk, dan aroma daging sapi yang buat Kakek mual itu justru bikin aku lapar lagi.
Tapi aku juga ingat, waktu kecil aku selalu memastikan satu hal sebelum makan bakso: “Ini bakso daging ayam, bukan daging sapi, kan?” Aku trauma kalau sampai mencium “bau perengus” yang katanya bikin Kakek pusing.
Anehnya, setelah dewasa, seleraku berubah.
Aku jadi lebih berani mencoba banyak hal, termasuk makan sate kambing. Dulu aku selalu pesan sate ayam—lebih aman, kata Kakek. Tapi sekarang, kalau ada sate kambing, aku malah penasaran duluan. Entah sejak kapan aku mulai percaya bahwa hidup itu penuh cobaan, dan karena itu, kadang kita perlu mencoba. Termasuk mencoba hal yang dulu kita takuti.
Sate kambing pun masuk daftar “hal yang dulu ditolak, kini dicintai”.
Begitu aku mencicipi sate kambing bakar yang empuk dan aroma lemak yang terbakar oleh arang, berbumbu kecap, dan taburan bawang goreng di atasnya, aku cuma bisa tertawa kecil dalam hati. Maaf ya, Kek. Cucumu sudah berpindah haluan.
Kadang, kalau aku pulang ke rumah dan mencium aroma masakan daging dari dapur, aku bisa membayangkan wajah Kakek sedang meringis, pura-pura batuk, tapi sebenarnya penasaran juga. Ada semacam kenangan yang lucu di situ—tentang seseorang yang begitu teguh pada prinsip, tapi diam-diam peduli. Karena meski beliau tak mau makan daging itu, beliau tetap membawa pulang sebungkus daging untuk keluarganya. Itu caranya menunjukkan cinta.
Setelah Kakek wafat, rumah terasa agak sepi. Tidak ada lagi suara beliau yang menegur kalau panci belum dicuci bersih, atau komentar kocaknya setiap kali Nenek memasak gulai. Tapi yang paling aneh, bau “perengus” yang dulu sering jadi sumber protes itu… seperti ikut menghilang.
Kadang aku rindu aroma itu—aroma yang dulu dianggap gangguan, tapi ternyata bagian dari kenangan. Setiap kali Mama atau Nenek memasak daging domba, aku akan membuka semua jendela dapur, lalu tersenyum kecil.
“Biar baunya nyebar ke langit, siapa tahu Kakek bisa cium dari atas sana,” aku bilang pada Mama.
Mama tertawa, lalu menjawab, “Kalau betul bisa, pasti Kakek kamu langsung ngomel dari awan.”
Kami pun tertawa bersama, sambil menunggu bumbu meresap.
Lucu, ya. Dulu aku selalu berpikir “bau perengus” itu masalah besar. Tapi sekarang aku sadar, setiap keluarga punya aromanya sendiri. Ada yang rumahnya wangi kopi, ada yang selalu bau bawang goreng, ada pula yang identik dengan wangi sabun atau parfum ruang tamu.
Rumahku?
Bau perengus, tentu saja—dan aku bangga dengan itu.
Karena di balik setiap aroma, ada kenangan yang melekat. Ada suara tawa di dapur, teguran kocak, dan cinta yang tak pernah benar-benar hilang meski orangnya sudah tiada.
Kadang, kalau aku memasak sendiri di rumahku yang sekarang, aku sengaja menumis sedikit daging sapi dengan bumbu kecap—sekadar mengingat masa lalu. Dan saat aroma itu mulai menyebar di udara, aku bisa membayangkan Kakek duduk di kursi rotan, mengibaskan tangan sambil berkata,
“Hadeuh, cucuku ini masih aja perengus!”
Aku hanya tertawa.
“Iya, Kek. Tapi perengus yang ini enak banget!”
Di luar, hujan masih turun pelan. Anginnya membawa aroma tanah basah, seperti dulu aroma dapur membawa kenangan pada masa kecilku.
Dan di sela bunyi hujan, aku seperti mendengar tawa Kakek yang pelan tapi khas—suara yang tak pernah benar-benar pergi.
Mungkin, di dunia sana, beliau sedang menggeleng-geleng sambil tersenyum, memaafkan cucunya yang kini malah menikmati domba dan kambing dengan santai.
Tapi aku tahu satu hal: cinta Kakek itu nyata, bahkan dalam caranya menolak daging. Dan setiap kali aku mencium bau masakan domba, entah sekuat apa pun baunya, yang aku rasakan bukan lagi bau perengus, tapi aroma hangat dari masa kecil—aroma keluarga.
Aroma yang tak pernah
hilang.
---
Belakangan aku baru sadar, mungkin alasan Kakek tak mau makan domba atau kambing bukan semata karena “bau perengus” itu. Bisa jadi, tubuh beliau memang tak cocok dengan daging-dagingan semacam itu. Katanya orang tua dulu sering tahu cara menjaga kesehatannya sendiri, tanpa perlu istilah medis macam “asam lambung” atau “maag akut”.
Aku ingat suatu kali aku makan daging domba masak bumbu kelapa — enak banget sampai aku nambah dua kali. Tapi malamnya, duh, perutku terasa panas dari dalam. Begah, sedikit mual, dan sulit tidur. Akhirnya aku minum Promag sampai tiga butir baru bisa lelap. Sejak itu aku paham, mungkin bau perengus yang Kakek benci itu bukan sekadar bau — tapi sinyal tubuhnya untuk bilang “hati-hati maag akutmu kambuh”. Jadi, mending gak kenal sama daging sapi, domba, dan kambing itu.
Bedanya, kalau aku? Aku masih senang dengan daging sapi dan domba, tapi ya harus siap juga dengan obat lambungnya. Hehehe.
Mungkin begitulah perbedaan antara generasi kami:
Kakek menjaga diri dengan menolak,
sedangkan aku menjaga diri dengan siap-siap Promag.
Dan entah kenapa, setiap kali aku menelan obat itu sambil mengingat wajah Kakek, aku selalu tersenyum. Karena ternyata, di balik segala larangan dan kelucuannya, Kakek cuma ingin satu hal — agar kami semua tetap sehat, tetap tertawa, dan tetap hangat di rumah yang beraroma “perengus”… tapi penuh cinta.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar