Maghrib di Sawah Cibuntu

Ilustrasi empat anak duduk di teras rumah kayu menghadap sawah hijau dan taman bunga di sore yang tenang.
Ilustrasi suasana sore hangat di teras rumah Alana - Blog Cerita Kemuning


Cerita turun-temurun keluarga tentang Abah Uca

 

“Yee akhirnya kelar juga!” seru Dinda sambil menutup buku IPS tebal yang dari tadi mereka pelajari.

 

“Capek banget nulis tentang pertanian,” keluh Naya. “Tapi untung di rumahmu adem banget, Lan. Anginnya kayak dari sawah langsung.”

 

Alana terkekeh sambil melirik ke jendela. “Ya emang dari sawah. Di belakang rumahku itu udah perbatasan Cibuntu. Kadang kalau sore suka kelihatan kabut tipis, kayak selimut nyelimutin padi.”

 

Fajar yang duduk bersandar di dinding ikut menimpali, “Wah, suasananya keren juga buat cerita misteri, ya. Kalau malam gelap banget gak di situ?”

 

“Gelap sih…” jawab Alana. “Tapi indah, kayak di film-film.”

 

“Eh, ngomong-ngomong soal gelap,” sela Dinda dengan nada jahil, “kalian percaya gak, kalau di sawah tuh suka ada penunggunya?”

 

Naya langsung menegakkan badan. “Ih, jangan mulai deh, Din. Aku bisa gak tidur nanti.”

 

“Beneran loh! Di kampungku dulu, pernah ada orang denger suara gamelan di sawah waktu malam Jumat Kliwon.”

 

Fajar ikut tertawa. “Kampungku malah sering dengar tangisan dari kebon bambu. Tapi gak pernah kelihatan siapa.”

 

Alana menatap mereka satu-satu, lalu berkata pelan, “Kalau di sini... pernah kejadian juga.”

 

Mereka langsung terdiam.

 

“Di sawah belakang situ?” tanya Fajar menelan ludah.

 

Alana mengangguk pelan. “Dulu banget. Ceritanya udah turun-temurun. Yang ngalamin itu adiknya Nenekku. Namanya Abah Uca.”

 

“Serius?” tanya Dinda. “Terus kenapa?”

 

Alana menarik napas, lalu mulai bercerita.

 

---

 

Dulu, waktu Eyang Putri masih muda, Abah Uca baru pulang dari kota. Biasanya dia kerja di bengkel, tapi waktu itu dia pengin banget nyobain kerja di sawah. Katanya mau ngebandingin, “Kerja di kota sama di kampung, mana yang lebih capek.”

 

Pagi-pagi buta, dia udah bersiap. Kaos oblong, celana digulung, dan cangkul pinjaman dari ayahnya di bahu.

 

“Uca, kamu yakin mau nyangkul?” tanya Eyang Putri sambil tersenyum geli.

 

“Yakin, Mak. Biar tau capeknya kayak apa. Masa laki-laki cuma bisa kerja di kota doang,” katanya dengan bangga.

 

“Kalau gitu, ikut sama Kang Irey aja, biar dia ajarin. Sawah sebelah timur itu butuh digemburkan.”

 

“Siap, Mak!” jawabnya semangat.

 

Mereka pun berangkat ke sawah. Abah Irey — abang iparnya, yang udah lama jadi petani — cuma geleng-geleng kepala ngeliat semangat Uca yang kayak mau lomba.

 

“Kalau kamu gak kuat nanti, jangan ngeluh ya,” goda Abah Irey.

 

“Ah, Kang, saya kerja di kota, angkat besi aja kuat. Masa cuma cangkul gak kuat,” sahut Uca sambil tertawa.

 

Mereka lewat jalan setapak, disapa orang kampung yang sedang menanam padi. “Eeh, ada Uca! Tumben, sekarang jadi petani juga?”

 

“Hahaha iya, pengen nyoba, Mang!” jawabnya ceria.

 

Setelah sampai, Abah Uca langsung memperhatikan cara Abah Irey mencangkul. Gerakannya pelan tapi pasti. Tapi begitu Abah Uca mencoba, lumpur menciprat ke wajah sendiri.

 

“Hahaha!” suara tawa para petani pecah. “Abah Uca, jangan nyangkul kayak mau nari!”

 

Uca cuma nyengir, tapi terus mencoba. Perlahan, ayunannya mulai benar.

 

Waktu berlalu cepat. Matahari sudah tinggi ketika Eyang Putri datang membawa rantang. “Nah, istirahat dulu. Nih, sayur asem sama ikan asin. Jangan maksa kerja terus.”

 

Mereka duduk di pematang sawah, makan dengan lahap.

 

“Gimana, Uca?” tanya Eyang Putri sambil menatap anaknya. “Berasa capeknya di mana?”

 

Uca meneguk air dari kendi, lalu tersenyum sopan. “Sama aja, Mak. Tapi di kota gak berlumur tanah kayak gini, hehe.”

 

“Hahaha… begitu ya,” kata Eyang Putri. “Kalau capek, udahan aja. Nanti Kang Irey beresin. Kan lusa kamu mau ke kota lagi.”

 

“Gak apa-apa, Mak. Sehari ini aja. Toh cangkul gak bakal ngelawan,” sahutnya penuh percaya diri.

 

Abah Irey ikut menimpali, “Ya udah, tapi denger ya, kalau udah adzan ashar, berhenti. Kata orang tua, jangan di sawah pas sore. Bukan cuma manusia yang kerja di situ.”

 

Abah Uca terkekeh. “Ih, Kang. Masa percaya begituan?”

 

“Percaya gak percaya, yang penting pulang sebelum maghrib,” jawab Abah Irey tegas.

 

---

 

Sore datang pelan. Matahari sudah condong ke barat, awan mulai menebal. Tapi Abah Uca masih mencangkul.

 

“Uca, ayo pulang!” teriak Abah Irey dari jauh. “Awan sore ini gak enak. Kata Mak, pulang cepat!”

 

“Sebentar, Kang!” sahut Uca. “Tinggal dikit lagi yang timur, tanggung nih!”

 

“Biar saya aja yang beresin!”

 

“Gak apa-apa, Kang! Saya bisa. Pulang duluan aja!”

 

Abah Irey menatapnya sejenak, lalu menyerah. “Ya sudah. Tapi jangan lama. Kalau udah cuci kaki, langsung balik, ya!”

 

“Iya, Kang!”

 

Langit makin redup. Angin sore mulai berubah dingin. Suara kodok bersahutan di parit.

 

Abah Uca menepikan cangkulnya, lalu berjalan ke selokan kecil di pinggir sawah untuk mencuci kaki dan cangkul. Airnya jernih, mengalir deras.

 

Saat dia menunduk, entah kenapa bulu kuduknya meremang. Seperti ada yang berdiri di belakangnya.

 

Ia mencoba cuek, tapi bayangan di air membuatnya terpaku. Ada dua batang kaki di sana — besar sekali, berdiri diam.

 

Perlahan, ia berbalik.

 

Dan yang ia lihat… bukan manusia.

 

Sepasang kaki itu nyata. Besar, pucat kehijauan, berurat tebal, dan berdiri tegak di tanah berlumpur. Abah Uca menatap ke atas — tapi sampai lehernya mendongak pun, ia cuma melihat lutut. Lutut yang tinggi sekali, sampai menembus langit senja yang oranye gelap.

 

“Ya Allah...” suaranya tercekat.

 

Angin mendesir keras. Lumpur bergetar halus. Aroma anyir menusuk hidung.

 

Dengan sisa tenaga, Abah Uca berlari. Badannya gemetar, tapi langkahnya tak berhenti. “Astaghfirullah… astaghfirullah…” mulutnya terus berzikir di antara nafas tersengal.

 

Sampai rumah, ia langsung masuk dan menutup pintu.

 

“Uca? Kenapa pucat banget?” tanya Abah Irey yang baru selesai wudhu.

 

“Ada… kaki… besar banget… saya liat Cuma sampai lututnya aja, Kang…”

 

Abah Irey menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Hahaha… di sawah Cibuntu memang suka ada yang begitu.”

 

“Jadi Akang tahu!?”

 

“Ya tahu lah. Makanya dibilang jangan di sawah pas maghrib. Itu waktunya mereka keluar.”

 

Abah Uca baru sadar. “Ya ampun! Cangkul ketinggalan di selokan!”

 

“Udah, mandi, shalat, ngaji aja. Nanti cangkulnya biar Akang yang ambil,” kata Kakek.

Abah Uca mengangguk malu. “Iya, Kang. Makasih. Gak lagi-lagi aku kerja di sawah. Cukup sekali aja lihat yang kayak gitu…”

 

Abah Irey menepuk bahunya. “Hehe, ternyata cocoknya kamu kerja di kota aja, Ca.”

 

Abah Uca tersenyum malu. “Iya, Kang. Gak bakal lagi saya nyangkul pas sore.”

 

Malam itu, setelah sholat dan membaca Al-Qur’an, Abah Irey pergi ke sawah sendirian mengambil cangkul. Sampai di sana, udara tenang. Tak ada apa pun. Hanya selokan kecil berair deras.

 

Ia menemukan cangkul itu di tepi air, masih lembab tapi bersih. Ia mengangkatnya, menatap sawah yang gelap, lalu berbisik pelan,

“Sudah, ya. Anak muda itu cuma pengen ngerasain kerja, bukan ganggu.”

 

Angin berhembus ringan, seperti menjawab.

 

---

 

Alana menutup ceritanya dengan suara menurun. Ruangan jadi hening.

 

“Terus… kaki itu siapa?” tanya Naya dengan wajah tegang.

 

“Eyang bilang, mungkin penjaga tanah sawah. Katanya sawah Cibuntu itu batas antara dunia kita sama dunia mereka,” jawab Alana pelan.

 

“Serem banget,” gumam Fajar.

 

Adzan ashar pun berkumandang dari mushola kecil di seberang jalan. Suara muadzin mengalun lembut di antara angin.

 

“Udah yuk, pulang,” kata Dinda cepat-cepat. “Jangan kayak Abah Uca, kelamaan di sawah pas maghrib.”

 

Mereka tertawa kecil menutupi rasa merinding. Setelah semuanya pamit, Alana menutup pintu dan semua jendela rumahnya.

 

Di luar sana, sawah Cibuntu terlihat tenang.

 

Ia menarik napas.

“Maghrib di Cibuntu,” bisiknya, “waktunya bukan untuk manusia.”

 

---


Penutup dari Kemuning

 

Cerita Maghrib di Sawah Cibuntu itu benar-benar ada di keluargaku.

Dulu waktu aku kecil, Eyang Putri sering menceritakannya di teras rumah sambil kami minum teh hangat. Aku masih ingat bagaimana bayangan pepohonan bergerak di tembok, dan angin sore selalu membawa aroma tanah basah dari sawah jauh di sana.

 

Waktu itu, sebelum Waduk Jatigede dibangun, kampungku memang terasa lain — spooky tapi hangat.

Sebelum jam lima sore, semua warga sudah masuk rumah. Yang punya bayi, anak kecil, atau perempuan hamil selalu dijaga dengan doa-doa perlindungan, dan Ayat Kursi menjadi kunci utama untuk menenangkan hati.

 

Sekarang, sawah itu sudah tenggelam di bawah air waduk. Tapi setiap kali senja datang dan angin dari arah timur bertiup lembut, aku kadang merasa…

siapa tahu, sepasang kaki di langit itu masih berdiri di sana, menatap tenang dari balik kabut air yang luas.

 

Entahlah.

Tapi bagiku, cerita ini bukan cuma legenda — ini bagian dari ingatan masa kecil yang menempel di hati.

Dan mungkin… di kampung kalian juga ada cerita seperti itu, kan? Cerita-cerita yang membuat kita menghargai waktu menjelang Maghrib, dan tak pernah lupa menutup sore dengan doa. 🌾

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.



---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar