![]() |
| Ilustrasi Ibu dan putrinya sedang mengobrol santai di pinggir danau - Blog Cerita Kemuning |
Namaku Arundhati Kemuning Wijaya, dan seperti kebanyakan ibu yang baru punya anak satu lainnya, setiap hari dalam hidupku selalu dihiasi oleh kejutan kecil dari mulut mungil anakku, Arum Seruni Wijaya — atau yang biasa kupanggil Ade Runi.
Usianya baru dua tahun sembilan bulan, masa di mana setiap hari ada saja kata baru yang keluar dari bibir mungilnya. Kadang membuatku tergelak, kadang membuatku berpikir keras mencari makna, dan kadang — seperti sore itu — membuatku nyaris panik karena salah paham.
Hari itu, seperti biasa, aku, Mama, dan Runi baru pulang dari rumah Eyang, orang tua Mama. Kami memang punya kebiasaan menengok mereka seminggu sekali, sekadar menemani atau membawa Runi jalan-jalan. Rumah Eyang tidak terlalu jauh, masih satu kabupaten, tapi cukup membuat lutut pegal kalau ditempuh tanpa kendaraan pribadi. Jadi kami biasa naik angkutan umum — dua puluh menit perjalanan dengan jalan berliku, kadang macet di pertigaan pasar, tapi menyenangkan karena Runi selalu punya komentar lucu sepanjang jalan.
“Ma, itu awan bentuk kucing!” katanya di perjalanan tadi, menunjuk ke langit dengan semangat.
Padahal jelas-jelas awan itu lebih mirip bantal sobek daripada kucing. Tapi aku mengangguk saja, tersenyum melihat betapa imajinasinya mulai tumbuh.
Begitu sampai di rumah, suasana langsung riuh seperti biasa. Mama berganti baju sambil menyalakan kompor untuk merebus air, aku menyiapkan bak mandi kecil untuk Runi. Karena kebetulan udara agak dingin, aku memilih memandikannya dengan air hangat. Setelah semua beres dan wangi, Runi duduk di karpet ruang tengah sambil membuka tas kecil dan keresek-keresek yang kami bawa dari rumah Eyang. Di sana ada jajanan, mainan kecil, dan beberapa titipan dari Tante-nya.
Aku sempat berpikir sore itu akan berlalu biasa saja — sampai Runi menghampiriku dengan ekspresi seriusnya yang khas.
“Ma,” katanya sambil menatapku lekat-lekat, “lutek Ade mana?”
Aku berhenti menjemur handuk.
“Lutek?” tanyaku, berusaha memproses kata asing itu di otakku.
Lutek. Apa maksudnya lotek (gado-gado dari sayuran yang sudah matang)? Mungkin dia salah ucap. Anak-anak seusia Runi kadang memang suka membolak-balik huruf.
“Oh, lotek sayang?” jawabku akhirnya, yakin dengan penalaranku. “Kita nggak beli lotek, kan tadi Mama udah tawarin di depan gang, kamu nggak mau.”
Runi langsung memonyongkan bibirnya.
Wajahnya yang biasanya cerah kini mulai berubah. Ada raut kecewa, lalu mata mungilnya berair.
“Bukan, Mama… lutek Ade mama… lutek dari Tante!” katanya, suaranya bergetar di ujung.
Aku mulai bingung.
“Emang Tante beliin lotek?” tanyaku masih yakin dengan interpretasiku. “Di mana sayang? Nggak bilang ke Mama? Wah, ketindih donk sayurannya, udah lembek ya?”
Aku segera membuka keresek dan mulai mengaduk isinya — jajanan, mainan plastik, dan satu kaos kecil bergambar kelinci. Tidak ada tanda-tanda makanan.
Tapi Runi justru makin menangis keras. Air matanya menetes, tangannya gemetar menahan sedih.
“Bukan itu mamaaa… lutek Ade… ini, mama, ini!” katanya dengan suara tersengal, sambil mengacungkan sepuluh jarinya di depan wajahku.
Jari-jari mungilnya yang gemuk dan masih lembap habis mandi itu ia lentikkan satu-satu, seolah ingin menunjukkan sesuatu padaku.
Aku mematung sejenak.
Sepuluh jari. Lutek. Tante.
Aku mencoba menyambungkan semuanya, tapi otakku masih stuck di lotek sayuran.
Dari dapur, Mama datang dengan wajah cemas mendengar tangisan cucunya.
“Ning,” katanya (beliau memang masih suka memanggilku begitu), “coba buka keresek yang isinya mainan sama ciki-nya, mungkin salah paham kamu. Cup, cup, sabar ya cucu nenek…”
Beliau menepuk bahu Runi pelan, berusaha menenangkannya.
Aku pun buru-buru menumpahkan isi keresek putih itu ke lantai.
Dan di antara bungkus ciki dan potongan kertas mainan,
meluncurlah sesuatu yang berkilau — botol
kecil berbentuk kotak dari kaca tebal berwarna jingga glitter.
Runi langsung berhenti menangis.
Matanya membulat, bersinar.
Dengan cepat ia memungut benda kecil itu, memeluknya di dada, lalu menatapku dengan air mata yang masih tersisa di pipinya.
“Ma… maaa… ini lutek Ade, maaa…” katanya terisak, tapi kini suaranya lega, bahagia.
Aku terdiam dua detik, lalu…
“Oh, YA ALLAH!” seruku refleks.
“Lutek—kutek! Kamu maksudnya kutek, sayang!”
Runi mengangguk cepat, seolah ingin berkata nah itu Mama baru ngerti!
Aku tertawa, lega tapi juga geli sendiri.
“Maaf ya, sayang… mama pikir kamu nyari lotek!”
Runi mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan mungilnya, lalu mendekat dan menyodorkan botol kecil itu padaku.
“Mama, yiat ini lutek. Siniin ma… ke tangan Ade-in ma,” katanya serius, memberikan tangan kirinya untuk diwarnai.
Aku menerima botol itu perlahan, memastikan tutupnya tidak longgar. Warnanya jingga terang dengan kilau emas — persis warna senja yang menenangkan. “Boleh sayang. Mau semua kuku jarinya nggak?” tanyaku.
“Iya, ma,” jawabnya mantap, sambil menampakkan semua gigi susunya yang mungil.
Duh, hati siapa yang tak luluh?
Mama dari dapur tertawa kecil melihat adegan itu.
“Ya ampun, cucu nenek sudah mau dandan, ya. Calon gadis cantik nih,” katanya sambil mengambil segelas air putih untuk Runi.
“Minum dulu ya, habis nangis, nanti haus.”
Setelah meneguk air, Runi duduk di depanku, menatap serius seolah sedang di salon.
Aku membuka tutup kutek itu perlahan dan mulai mengoleskan cat jingga di kuku mungilnya satu per satu.
Aroma khas kutek langsung menyebar di ruang tengah. Runi menahan napas, matanya tak lepas dari jemarinya yang mulai berubah warna.
Begitu selesai, ia berlari ke arah Mama yang sedang menyiapkan teh sore.
“Neeek, liat nih! Kuku Ade lutek! Lutek Ade warna cingga!”
Suaranya nyaring penuh kebanggaan.
Mama tertawa sambil mengusap rambutnya. “Cantik sekali, cucu nenek.”
Tak lama kemudian, Papa—suamiku—datang dari ruang depan setelah menata sepatu.
Begitu melihat Runi dengan tangan dikibas-kibas agar kuteknya cepat kering, ia ikut tersenyum.
“Wah, siapa ini yang kukunya berkilau kayak bintang?”
Runi menatap tangannya, lalu berkata penuh gaya, “Ade, Pa. Ade cantik.”
Dan sore itu pun dipenuhi tawa. Aku, Mama, dan Papa saling melempar pandang dan tertawa kecil — lega karena tangisan Runi berubah jadi kebahagiaan sederhana.
---
Malamnya, setelah Runi kenyang makan malam dan bermain sebentar dengan kakeknya, aku menemaninya tidur.
Ia sudah berbaring di sebelahku dengan jari-jari mungil yang masih berkilau samar. Setiap kali mengangkat tangannya ke arah lampu, kilau jingga itu memantul lembut.
“Mama, nanti besok lutek lagi ya,” katanya setengah mengantuk.
Aku tersenyum dan mengusap pipinya. “Iya, tapi nanti ya, tunggu yang ini kering dulu. Kalau kebanyakan nanti kuku Ade marah.”
Ia tertawa kecil, lalu memelukku erat.
Dan dalam beberapa menit, napasnya sudah teratur. Tertidur.
Aku memandangi wajahnya lama-lama.
Di balik pipi tembam dan bulu mata lentik itu, ada makhluk kecil yang selalu berhasil membuatku merasa hidup, merasa berarti.
Lucunya, kehadirannya tidak pernah membuat hidupku mudah — tapi justru membuat semuanya terasa lengkap.
Setiap tangis, setiap tawa, setiap salah ucap seperti “lutek” sore tadi, semuanya jadi kisah kecil yang akan kuingat selamanya.
Dalam diam, aku berdoa,
“Ya Allah, terima kasih atas titipan ini.
Atas bidadari kecil yang mengajarkanku tentang sabar, tentang arti bahagia, tentang menerima segala kekacauan kecil sebagai anugerah besar.”
Aku teringat masa sebelum kehadirannya — masa ketika aku masih merasa dunia ini terlalu luas dan aku terlalu kecil di dalamnya. Tapi sejak detak jantung pertamanya kudengar, hidupku tak lagi terasa kosong.
Ia mengisi setiap ruang, bahkan yang pernah retak di masa lalu.
Kini, setiap kali aku merasa lelah, aku hanya perlu mengingat momen seperti tadi — momen ketika aku panik mencari “lotek” yang ternyata kutek, dan suara tawa kecil Runi yang menggema di rumah sederhana kami.
Lucu, tapi justru di situlah letak bahagianya:
bahwa kebahagiaan seorang ibu sering datang dari hal-hal yang paling tidak terduga.
---
Keesokan harinya, ketika aku sedang menjemur pakaian, Runi datang lagi membawa botol kutek jingganya.
“Ma, Ade mau lutekin Mama juga,” katanya sambil tersenyum lebar.
Aku tertawa kecil, menatap jari-jari tanganku yang kering dan penuh bekas sabun cuci.
“Boleh deh, tapi satu aja ya, nanti Mama kayak pelangi.”
“Enggak apa, ma. Nanti Mama sama Ade samaan.”
Dan begitulah, di bawah sinar matahari pagi, aku membiarkan putriku mengoleskan sedikit kutek jingga di kukuku. Hasilnya tentu tidak rapi — sebagian melebar ke kulit, sebagian terlalu tebal. Tapi entah kenapa, saat itu aku merasa kukuku adalah yang terindah di dunia.
Runi menatap hasil karyanya dengan puas.
“Cantik, Ma. Sekarang Mama kayak Ade.”
Aku tersenyum, mencium keningnya.
“Iya, sayang. Mama kayak Ade.”
Kadang kebahagiaan memang tidak datang dalam bentuk besar atau megah.
Kadang kebahagiaan hanya berupa botol kecil kutek jingga yang ditemukan kembali setelah tangisan panjang — atau tawa polos seorang anak yang baru belajar bicara.
Dan sore itu, aku benar-benar belajar satu hal dari Runi:
Bahwa cinta seorang anak tidak butuh penjelasan panjang.
Cukup dengan satu kata yang salah ucap pun, kasih sayang bisa tersampaikan dengan sempurna.
---
✨
Catatan kecil Arundhati:
Lucu ya, bagaimana satu kata kecil bisa membuat hari jadi panjang tapi juga berwarna.
Mungkin begitulah hidup seorang ibu: kadang repot, kadang melelahkan, tapi selalu ada tawa di ujungnya.
Dan di antara semua hal yang kujalani, tak ada yang lebih indah daripada dipanggil Mama oleh makhluk kecil bernama Arum Seruni Wijaya — si pemilik “lutek Ade dari Tante.”
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar