Aroma Teh dan Cinta : Kisah Tata dan Tita

Ilustrasi Tata dan Tita sedang duduk mesra di atas batu besar di tenga-tengah kebun teh yang luas.
Ilustrasi Tata dan Tita sedang duduk di tengah-tengah kebun teh - Blog Cerita Kemuning


Mentari pagi merayap malu di antara hamparan hijau kebun teh. Udara Garut yang sejuk menusuk kulit, tapi tidak mampu mengalahkan hangatnya senyum Tita. Gadis itu berdiri di antara tanaman teh, mengawasi para pekerja memetik daun-daun muda.

 

"Neng Tita, jangan bengong aja. Bantu beresin keranjang teh itu," tegur Bi Irah, salah satu pekerja kebun yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Tita.

 

Tita meringis. "Iya, Bi. Maaf, lagi banyak pikiran."

 

Pikiran Tita memang sedang ruwet. Usianya sudah 20 tahun, tapi ia masih betah berkutat di kebun teh milik ayahnya. Padahal, teman-temannya sudah pada sibuk kuliah di kota besar. Orang tuanya sih santai saja. Maklum, Tita anak semata wayang yang selalu dimanja. Tapi, ada satu hal yang membuatnya gelisah: Tata.

 

Tata adalah segalanya bagi Tita. Cowok itu berasal dari keluarga sederhana, ayahnya pedagang sayur di pasar. Tapi, Tata selalu berprestasi di sekolah dan dikenal sebagai anak yang rajin. Tita kagum dengan semangat Tata, dan cowok itu selalu berhasil membuatnya tertawa.

 

"Ta!" Tita melambaikan tangan saat melihat Tata datang menghampirinya. Tata tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

 

"Ngapain bengong di sini? Bantuin ayah di pasar, yuk," ajak Tata.

 

Tita menggeleng. "Males ah, bau sayur. Mending di sini, sejuk."

 

Tata mencubit hidung Tita gemas. "Kebiasaan deh, manja. Tapi, aku suka."

 

Tita tersipu. "Tata, aku bingung deh. Aku sayang banget sama kamu, tapi..."

 

Tata menghela napas. Ia tahu betul masalah yang dihadapi Tita. Bukan dari orang tua Tita, tapi justru dari orang tuanya sendiri.

 

"Tita, orang tuaku masih belum setuju kita pacaran," kata Tata lirih.

 

Tita seketika memasang wajah datar dan tatap matanya tertuju pada satu arah tapi kosong. "Kenapa? Apa karena aku anak orang kaya?"

 

Tata menggeleng. "Bukan itu. Orang tuaku bilang, kamu cantik, kaya, pewaris tunggal. Tapi, kamu pemalas. Mereka nggak mau aku sama cewek yang nggak punya semangat untuk maju."

 

Tita terdiam. Kata-kata Tata seperti cambuk yang menghantam hatinya. Ia memang mengakui, selama ini ia terlalu dimanja oleh orang tuanya. Ia tidak pernah benar-benar berusaha untuk meraih sesuatu.

 

"Aku harus gimana, Ta?" tanya Tita dengan air mata berlinang.

 

Tata menggenggam tangan Tita erat. "Kamu harus buktikan kepada orang tuaku kalau kamu nggak seperti yang mereka kira. Kamu harus tunjukkan kalau kamu punya potensi dan semangat untuk maju."

 

Tita menatap Tata dengan mata berkaca-kaca. "Caranya?"

 

"Kamu harus kuliah," jawab Tata mantap.

  

--- 

 

Malam itu, Tita memberanikan diri berbicara kepada orang tuanya. Ia mengatakan ingin kuliah dan membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa sukses.

 

"Papa sama Mama dukung apa pun keputusan kamu, Sayang," kata Mama Tita sambil memeluk Tita erat.

 

"Asal kamu bahagia, Nak. Papa cuma mau yang terbaik buat kamu," timpal Papa Tita.

 

Tita tersenyum lega. Ia tahu, orang tuanya akan selalu mendukungnya.

 

---

 

Beberapa hari kemudian, Tita mengambil formulir pendaftaran kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Garut. Ia memilih jurusan yang sesuai dengan minatnya, yaitu Agribisnis.

 

"Aku mau kuliah, Ta," kata Tita kepada Tata dengan semangat membara.

 

Tata tersenyum bangga. "Aku tahu kamu pasti bisa, Tita."

 

"Tapi, aku mau kamu yang nganterin aku setiap hari ke kampus," kata Tita lagi.

 

"Siap! Itu mah gampang," jawab Tata sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

---

  

Hari-hari berikutnya, Tata dan Tita melewati hari-hari yang penuh perjuangan. Pagi-pagi, Tata sudah siap di depan rumah Tita dengan motor bututnya. Mereka berboncengan menuju kampus, melewati jalanan Garut yang berliku.

 

Di kampus, Tita belajar dengan giat. Ia tidak ingin mengecewakan Tata dan orang tuanya. Ia ingin membuktikan kepada orang tua Tata bahwa ia bisa sukses, walaupun ia berasal dari keluarga kaya raya.

 

Sementara itu, Tata juga tidak kalah sibuk. Selain mengajar, ia juga memberikan les privat untuk menambah penghasilan. Ia ingin menabung untuk masa depannya dan Tita.

 

Setiap kali mengantar dan menjemput Tita, Tata selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumahnya—rumah orang tuanya, maksudnya. Tata memang ngekost di sebuah rumah sederhana dekat SMA tempatnya mengajar dan lokasi les privatnya, tapi ia selalu menyempatkan diri menjenguk orang tuanya. Ia berusaha untuk mendekatkan diri dengan orang tuanya dan membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab, bukan hanya kepada Tita, tapi juga kepada keluarganya.

 

Awalnya, orang tua Tata masih bersikap dingin. Tapi, lama kelamaan, mereka mulai luluh juga. Mereka melihat sendiri bagaimana Tita berjuang untuk meraih cita-citanya. Mereka juga melihat bagaimana Tata mencintai Tita dengan tulus dan selalu berusaha membahagiakan orang tuanya, meskipun dengan segala keterbatasannya.

 

"Ternyata Tita nggak seperti yang kami kira. Selain cantik dan kaya, dia juga punya semangat untuk maju," kata Mama Tata kepada Tata saat Tata sedang membantu memilah sayuran segar di teras rumahnya.

 

"Iya, Ma. Tita memang yang terbaik buat Tata," jawab Tata sambil tersenyum bahagia. Ia senang, akhirnya orang tuanya bisa menerima Tita dengan sepenuh hati."

 

---

  

Empat tahun berlalu dengan cepat. Tita berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cum laude. Ia membuktikan kepada semua orang, terutama kepada orang tua Tata, bahwa ia tidak hanya cantik dan kaya, tapi juga pintar dan berprestasi.

 

"Aku bangga sama kamu, Tita," kata Tata sambil memeluk Tita erat setelah sidang skripsi selesai.

 

Tita tersenyum bahagia. "Ini semua berkat kamu, Ta. Kamu yang selalu menyemangatiku dan membimbingku."

 

Tata menggenggam tangan Tita erat. "Tita, maukah kamu menikah denganku?"

 

Tita terkejut. Ia tidak menyangka Tata akan melamarnya secepat ini.

 

"Iya, aku mau," jawab Tita dengan air mata bahagia.

  

---

  

Tata membawa kedua orang tuanya ke rumah Tita untuk melamar secara resmi. Orang tua Tita menyambut mereka dengan hangat. Mereka sudah menganggap Tata seperti anak sendiri.

 

"Kami senang sekali kalian berdua akhirnya bersatu. Kami sudah lama merestui hubungan kalian," kata Papa Tita sambil tersenyum bahagia.

 

Tata dan Tita saling berpandangan dan tersenyum bahagia. Akhirnya, mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.

  

---

 

Dua minggu setelah wisuda, Tata dan Tita menikah dengan meriah. Pesta pernikahan mereka diadakan di kebun teh milik keluarga Tita. Semua orang bahagia, termasuk Tata dan Tita.

 

"Aku cinta sama kamu, Ta," bisik Tita di telinga Tata saat mereka berdansa di tengah pesta.

 

"Aku juga cinta sama kamu, Tita," balas Tata sambil mencium kening Tita lembut.

 

Mereka berjanji akan selalu bersama, dalam suka maupun duka. Mereka akan membangun keluarga yang bahagia dan sukses.

 

Dan begitulah, kisah Tata dan Tita berakhir bahagia. Mereka hidup bahagia selamanya.

 

---


🌹🌼🌹🌼

Nah, itu dia cerita tentang Tata dan Tita. Seru ya? Hehe. Sebenarnya, cerita ini tuh fiktif alias karangan Kemuning aja. Tapi, ada beberapa hal yang pengen Kemuning sampaikan, nih.

 

Tata dan Tita itu kayak dua sisi mata uang yang berbeda. Tata, dengan segala keterbatasannya, tumbuh menjadi anak yang berprestasi dan punya daya juang tinggi karena dukungan penuh kasih sayang dari orang tuanya. Sementara Tita, yang dari lahir udah dimanja, baru sadar kalau dia harus berjuang setelah ada "pemicu" dari orang tua Tata.

 

Dari sini, kita bisa belajar kalau dukungan dan kasih sayang yang tepat itu penting banget buat tumbuh kembang anak. Tapi, bukan berarti anak yang dimanja nggak bisa sukses ya. Semua tergantung dari diri sendiri. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.

 

Intinya, jangan pernah meremehkan potensi diri sendiri dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk meraih mimpi. Asal ada kemauan dan usaha, pasti bisa!

 

Oh iya, satu lagi. Jangan lupa untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita punya dan selalu berbuat baik kepada sesama. Karena kebahagiaan sejati itu bukan cuma tentang materi, tapi juga tentang bagaimana kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

 

Gitu aja sih dari Kemuning. Semoga cerita ini bisa menginspirasi dan memberikan semangat buat kalian semua ya! Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

 

--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar