Pak Asma dan Tiga Wanita di Hulu Sungai

Ilustrasi Pak Asma dan tiga wanita misterius di hulu sungai.
Ilustrasi Pak Asma dan tiga wanita misterius - Blog Cerita Kemuning


Malam itu, udara terasa berbeda dari biasanya. Biasanya hawa dingin menusuk tulang dan membuat siapa pun enggan keluar rumah, tapi kali ini angin yang berembus justru lembut, sepoi-sepoi, seperti belaian. Bulan sabit menggantung di langit, sebagian tertutup awan tipis, menyisakan cahaya pucat yang menyorot lembah dan hamparan sawah di bawahnya. Dari kejauhan terdengar suara serangga malam bersahut-sahutan, sementara aliran sungai kecil di tepi jalan setapak bergemericik, mengiringi langkah Pak Asma.


Di tangan kanannya, ia menggenggam senter besar peninggalan mertuanya yang dulu suka berburu. Cahaya kuning keemasan menyorot semak dan bebatuan di jalur menuju hulu sungai. Malam itu giliran sawahnya mendapat aliran air, dan sudah jadi kebiasaan, ia sendiri yang turun tangan memastikan jalurnya bersih dan lancar. Orang-orang desa percaya, kalau urusan air tidak dipantau sendiri, kadang ada saja yang “bermain” atau bahkan “bercampur tangan” makhluk lain.


Biasanya sepanjang jalan Pak Asma melafalkan doa dan wirid, memohon keselamatan. Namun malam ini, entah mengapa, ketenangan udara membuatnya sedikit lengah. Kakinya melangkah ringan, pikirannya melayang pada rencana besok: sawahnya akan mulai diolah traktor. Sudah ia hitung biaya dan tenaga kerja, tinggal memastikan tanah benar-benar terairi merata malam ini.


Setelah perjalanan hampir setengah jam, sampailah ia di hulu sungai. Dengan cekatan, ia membetulkan batu-batu kecil, membersihkan ranting yang menghambat aliran, lalu mengarahkan air ke jalur yang menuju petak sawahnya. Cahaya senter ia letakkan di atas batu, sementara tangannya cekatan bekerja. Suara air yang mengalir deras membuatnya lega. Setelah yakin jalur lancar, ia memutuskan untuk mengikuti aliran air itu turun, memastikan setiap percabangan mengarah tepat ke petaknya.


Langkahnya berhenti di dekat pematang sawah. Ia duduk sebentar di tepi pematang tanah, membuka termos kecil yang tadi disiapkan istrinya, si Nini. Aroma kopi hitam pekat langsung menyeruak, mengusir rasa kantuk. Ia menyesap perlahan, lalu mengambil rokok linting dari saku baju lusuhnya. Tembakau yang baru dibelikan Nini sore tadi terasa harum ketika ia gulung dengan kertas pahpir. Setelah menyalakan rokok, ia menghembuskan asap sambil bergumam sendiri, setengah bernostalgia.


“Mmmm… zaman sekarang, untuk rokok pun sudah pakai kertas. Jarang orang jual bahan melinting dari kulit jagung lagi.”


Baru saja kalimat itu selesai, suara asing menyahut dari balik kegelapan. Suara perempuan, berat, namun ada nada manja yang membuat bulu kuduk meremang.


“Aki… rokok lintingnya, boleh lah, sebatang…”


Pak Asma tertegun. Tangannya yang memegang rokok sedikit bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat. Sebagai orang desa yang sudah kenyang pengalaman, ia langsung sadar, suara itu bukan manusia biasa. Namun ia mencoba bersikap ramah, wajahnya dipasang senyum datar. Ia menoleh perlahan ke arah kanan, sambil merogoh saku dan mengeluarkan kertas pahpir serta sebungkus plastik kecil berisi tembakau.


“Mangga… silakan,” ucapnya dengan nada santai, meski lututnya terasa lemas.


Ketika matanya terbuka lebar, seketika pandangannya berubah. Sawah yang tadi gelap, kini berganti dengan pemandangan tak masuk akal. Di belakangnya berdiri sebuah puri kecil, mirip bangunan masa kerajaan kuno, berdiri anggun di tengah taman bunga yang luas. Mawar, sedap malam, dan bunga yang tak pernah ia kenali namanya, mekar dengan warna-warni yang memikat, bercahaya samar seolah memancarkan sinar dari dalam kelopaknya.


Dari arah puri itu, berjalan tiga orang wanita rupawan. Wajah mereka bercahaya, kulitnya halus bagai pualam, bibirnya merah alami. Mereka mengenakan kemben halus dengan selendang warna biru, hijau, dan kuning yang cerah namun menenangkan. Setiap langkah mereka seolah membuat bunga di sekitarnya ikut bergoyang.


Wanita cantik berselendang hijau berbicara lembut, matanya teduh namun menusuk. “Mana rokok lintingnya, Ki? Saudari saya yang memakai selendang kuning suka sekali dengan wangi tembakau linting.”


Pak Asma hampir tergagap, namun ia cepat menghela napas panjang. Dengan suara seramah mungkin, ia menjawab, “Oh… haduh… mangga, silakan. Ini tembakau baru dibelikan istri saya tadi sore. Si Nini memang tahu selera saya.”


Wanita cantik berselendang biru lalu mendekat, menengadahkan tangan kanannya dengan gerakan anggun. “Mari, Ki, duduk bersama kami di puri kecil ini. Kami akan menjamu Aki di taman bunga kesukaan kami.”


Pak Asma makin yakin, tiga wanita itu bukan manusia. Namun ia tahu aturan tak tertulis: kalau berhadapan dengan yang bukan manusia, jangan kasar, jangan menolak mentah-mentah, tapi juga jangan terlena. Dengan sopan ia menundukkan kepala sedikit dan menjawab, “Wah… terima kasih sekali sudah mengundang. Tapi maaf, sebentar lagi sawah-sawah saya sudah cukup airnya. Saya harus segera pindahkan ke sawah saudara saya di utara. Kalau tidak, nanti saya dimarahi si Nini, air di sawah bisa jadi kayak empang, hahahaha…” Tawa getirnya bergetar, menutupi kegugupan.


Wanita cantik berselendang kuning tersenyum, pipinya merona bagai bunga mawar. Kedua saudarinya pun tampak mengerti. Si cantik selendang biru berkata, “Sayang sekali, padahal kami ingin menjamu Aki hingga matahari terbit di ufuk timur.” Si cantik selendang hijau menambahkan, “Mungkin Aki sedang sibuk sekali malam ini. Lain kali, duduklah bersama kami.”


Pak Asma buru-buru mengangguk. “Iya… iya… lain kali saja. Terima kasih sudah berbaik hati. Tapi ini, silakan bawa saja bako dan pahpirnya. Aki masih punya cadangan di rumah.”


Wanita cantik selendang hijau menerima pemberian itu dengan senyum syukur. “Terima kasih banyak, Ki. Saudari saya pasti senang sekali. Harum tembakaumu memenuhi taman ini.”


“Pamit dulu, Ki,” ucap si cantik selendang biru.


Pak Asma menunduk hormat. Perlahan cahaya taman itu meredup, puri kecil menghilang, dan pemandangan kembali pada sawah dengan hutan kecil di pinggirnya. Napas Pak Asma terasa berat, namun ia tak mau berlama-lama. Ia segera kembali bekerja, memastikan semua sawah mendapat air, lalu menutup aliran sesuai jadwal.


Tepat adzan subuh berkumandang, ia tiba di rumah. Badannya lelah, tapi pikirannya masih penuh tanda tanya. Usai mandi dan sholat subuh, ia berniat menceritakan semuanya pada Nini. Namun sebelum ia sempat bicara, Nini sudah lebih dulu membuka suara.


“Aki… tadi Nini terbangun jam tiga. Ada tiga perempuan mengetuk pintu rumah. Mereka bilang menemukan tembakau di jalan pulang. Nini takut buka pintu, jadi bicara lewat kaca nako. Yang ngomong pakai kebaya kuning. Mereka bilang tembakau ini milik Aki.”


Nini lalu membawa setumpuk tembakau siap linting, lengkap dengan kulit jagung kering yang sudah dipotong rapi. Wajah Pak Asma pucat, matanya membelalak.


“Nini… Astaghfirulloh… dari mana ini?”


“Dari tiga perempuan tadi. Kalau Aki takut, kita bagi saja ke tetangga. Mereka minum kopi hitam tanpa gula, katanya itu kesukaan mereka. Wangi tubuh mereka seperti sedap malam bercampur mawar. Setelah menyerahkan tembakau, mereka pamit.”


Pak Asma tercekat. “Nini nggak apa-apa, kan?”


“Tidak. Nini cuma menjamu. Ada yang salah? Nini pikir tadi gegeden nyamar. Malah Nini pakai kebaya tidur lagi, haduh…” Nini merapikan kebayanya sambil terkekeh gugup.


Pak Asma akhirnya tersenyum lega, lalu menceritakan kejadian di sawah. Nini mendengarnya dengan mata terbelalak, lalu refleks menatap ke arah tembakau itu dengan panik. Namun Pak Asma justru tertawa kecil.


“Sudah… sudah… mungkin mereka berterima kasih. Di sawah aku jamu, di rumah pun Nini jamu. Mereka terima dengan baik.”


Nini menarik napas panjang, lalu berkata lirih, “Mungkin mereka penunggu hulu sungai, Ki. Atau taman di hutan kecil itu. Pantesan kalau ada yang omong sembarangan di situ, pulangnya sakit.”


Pak Asma tertawa, mengusap bahu istrinya. “Ah, Nini. Syukuri saja kita lihat wujud mereka jelita, dan syukuri pula kita selamat. Alhamdulillah.”


Nini tersenyum tipis. “Iya, Ki… alhamdulillah. Nini sempat takut, tapi kalau dipikir-pikir, mereka tidak jahat. Hanya menitip salam lewat jamuan.”


Pak Asma mengangguk. “Sudah, ayo sarapan. Aku lapar habis begadang ngairi sawah.”


Nini bergegas membawa makanan, dan pagi itu mereka makan dengan tenang, meski di hati masih menyimpan tanda tanya tentang tiga wanita berselendang yang datang dari dunia entah mana.


Namun sejak malam itu, setiap kali Pak Asma melintasi hulu sungai, ia selalu merasakan angin sepoi yang sama, menenangkan namun membuatnya waspada. Ia tak pernah lagi lengah, dan selalu membawa serta doa dalam hatinya. Sementara tumpukan tembakau pemberian tiga wanita itu, perlahan mereka bagi ke tetangga dekat. Anehnya, setiap yang menghisap lintingan tembakau itu selalu berkomentar sama:


“Wangi sekali, seperti bunga yang baru dipetik.”


Pak Asma dan Nini hanya saling pandang, tersenyum getir. Mereka tahu, ada misteri yang tak perlu diungkap lebih dalam. Cukup disyukuri bahwa malam itu mereka masih diberi kesempatan pulang dalam keadaan selamat.


Dan di antara bisikan angin malam, terkadang, samar-samar terdengar suara manja seorang perempuan, “Aki… rokok lintingnya, boleh lah, sebatang…”


---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar