Belajar Ridho, Belajar Hidup (Bagian 2)

 

Ilustrasi gadis remaja bergaun biru di kolam membeku dengan bunga berjatuhan.
Ilustrasi remaja putri duduk di atas es dengan bunga berjatuhan – Blog Cerita Kemuning


Kali ini ceritanya mungkin terasa lebih sensitif. Aku hanya ingin berbagi kisah hidup yang pernah aku jalani, bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk berbagi pelajaran. Ambil yang baik, buang yang buruk. Aku hanyalah orang biasa yang terlihat “tidak berbuat apa-apa”, tapi sebenarnya sudah menerjang berbagai ombak di lautan kehidupan. Aku sering memilih mundur bukan karena kalah, tapi karena aku perlu menjaga kesehatan mental dan anakku berhak mendapat ibu yang sehat lahir batin.

 

Kalau di bagian pertama aku menuliskan perjalanan dari usia 20-an sampai 27 tahun, kali ini aku ingin melanjutkan cerita di fase berikutnya. Hidupku seperti perjalanan panjang yang penuh dengan persimpangan, kadang harus berhenti, kadang dipaksa berlari, dan sering kali aku hanya bisa berkata dalam hati: Bismillah, semoga Allah SWT ridho dengan langkah ini.

 

---

 

Resign dan Merantau ke Jakarta Utara

 

Pada bulan Februari di usia 27 tahun, aku resmi pamit dari sekolah tempatku bekerja. Lima tahun bertahan di sana sudah cukup, dan aku merasa waktunya mencari jalan baru. Beberapa bulan kemudian, tepatnya September, aku berangkat ke Jakarta Utara. Mobil jemputan langsung datang ke rumah, mengantarku ke kontrakan kecil pamanku.

 

Istri pamanlah yang membawaku masuk kerja di sebuah pabrik. Beliau sudah lama bekerja di sana, di bagian produksi. Sedangkan paman bekerja di bagian gudang. Mereka berdua sudah terbiasa dengan ritme pabrik itu karena mereka termasuk pekerja senior di sana. Aku pun sama sudah pernah mengenal ritme pabrik tapi mungkin ini akan berbeda dengan pabrik sebelumnya, tapi niatku bulat untuk mencoba.

 

Pabrik ini dikelola oleh sebuah CV yang memproduksi berbagai macam sleting. Tempatnya tidak sebesar pabrik besar berlabel internasional, tapi tetap saja—pabrik adalah pabrik. Aturannya ketat, pekerja datang dan pergi, tapi yang penting produksi jalan. Di sanalah aku mulai belajar dunia baru.

 

---

 

Mesin Stop Run dan Ujian Pertama

 

Awalnya aku ditempatkan di bagian QC (quality control). Baru seminggu, aku jatuh sakit. Jakarta dengan cuacanya yang panas dan lembab, membuat udara terasa pengap, seperti ‘ngaheab’ kata orang Sunda, tubuhku kaget. Aku demam dan tiba-tiba tumitku sakit seperti ditusuk jarum, sampai harus berjalan jinjit kalau bangun tidur. Untungnya, setelah beberapa hari, aku pulih. Tapi bukan berarti istirahat lama. Begitu sembuh, aku dipindahkan ke bagian mesin—tepatnya mesin stop run untuk sleting metal.

 

Kaget? Tentu. Satu barisan ada empat mesin, dan aku harus bisa mengoperasikan semuanya sendirian. Senior di sebelahku, seorang ibu paruh baya yang cantik dan baik, sempat menyindir sambil tertawa, "Aku dulu juga begitu. Puas kan jadi anak baru? Jalankan mesinnya dan perhatikan hasilnya, kalau hasilnya jelek berarti mesinnya error, cari dan panggil mekanik untuk membetulkan mesin, jangan terlalu tegang ya...hahaha" Aku hanya nyengir, menjawab “Iya, Bu. Makasih banyak arahannya”,  lalu berbisik dalam hati: Bismillah, mampukan hamba ya Allah.

 

Hari-hari berikutnya penuh peluh. Mesin stop run bukan hanya soal menekan tombol. Ada ritme, ada kecepatan, ada perhitungan. Kadang mesin rusak, harus memanggil mekanik. Kadang lembur, karena bahan menumpuk. Tapi aku belajar untuk tidak mengeluh. Aku anggap ini ilmu baru sekaligus ujian kesabaran.

 

---

 

Kehidupan Pabrik dan Lika-Liku Pergaulan

 

Kerja di pabrik membuatku belajar banyak hal. Ada teman yang baik, ada juga yang sekadar numpang lewat. Bahkan pernah, aku ditipu teman sendiri—HPku diambil oleh orang yang kukira bisa dipercaya. Beruntung kasus itu cepat selesai, ada saksi mata, dan akhirnya HP kembali padaku. Sejak saat itu aku sadar, peringatan bibiku benar: jangan cepat percaya orang di kota besar.

 

Soal penghasilan? Gaji mingguan terasa pas-pasan. Cukup untuk bayar kontrakan, makan dua kali sehari, dan kebutuhan pokok. Jajan? Kadang cuma bisa es teh manis sasetan. Tapi aku bertahan, karena niatku bukan sekadar mencari uang. Aku ingin menguji seberapa jauh aku bisa kuat.

 

Puasa Ramadhan pertamaku di Jakarta juga penuh tantangan. Bekerja di lantai dua pabrik dengan atap asbes, udara panas sekali. Aku hanya mampu bertahan 19 hari penuh. Sisanya bolong karena haus luar biasa. Aku merasa seperti muslimah yang gagal, tapi tetap berusaha menutupinya dengan doa: semoga Allah mengampuni kekuranganku.

 

---

 

Suka Duka Selama 1 Tahun 8 Bulan

 

Waktu berjalan cepat. Satu tahun delapan bulan kuhabiskan di pabrik itu. Dari awal hanya mengoperasikan mesin stop run, aku kemudian sempat belajar juga mengendalikan mesin potong. Senior yang biasanya bertugas di mesin potong sedang hamil muda, jadi aku menggantikannya sementara. Mandor melatihku dengan cara sederhana—hanya menunjuk ke sana-sini, lalu mengawasi hasil potonganku, dan akhirnya membiarkanku mandiri.

 

Rasanya seperti mendapat diklat gratis. Aku bersyukur, karena ternyata dari hal sederhana seperti sleting, ada ilmu dan bisnis besar di baliknya.

 

Ketika akhirnya aku memutuskan pamit setelah Lebaran kedua, aku pulang dengan hati senang dan pikiran tenang. Tak ada bahan menumpuk, mesin-mesin yang kujaga bersih, dan aku lega meninggalkan Jakarta dengan damai.

 

Dalam perjalanan pulang, sambil menatap langit malam yang bertabur lampu kota, aku bergumam, “Aku pulang tanpa membebani penjaga mesin yang baru.” Aku masih ingat, saat pertama kali memegang mesin stop run, pekerja sebelumnya justru keluar dengan meninggalkan tumpukan bahan di dekat mesin paling belakang. Bedanya, aku pulang dengan tersenyum lebar, karena aku berhasil melewatinya dengan baik.

 

---

 

Pulang Kampung dan Menata Hati

 

Masuk usia 29, aku masih kosong soal jodoh. Ada yang dekat, tapi tak jadi. Aku pasrah, benar-benar mode "berserah" ON. Aku kembali ke kebiasaanku: memotret dan menjalani puasa sunat. Fotografi dengan HP sederhana menjadi pelarian, juga sumber kecil kebahagiaan.

 

Tahun 2020 datang dengan kabar buruk: Mama dan Bapak mengalami kecelakaan motor setelah pulang merayakan Idul Fitri bersama keluarga Mama di rumah Kakek. Aku kaget setengah mati. Untung yang menabrak bertanggung jawab, membawa mereka ke puskesmas, dan menanggung semua biaya pengobatan. Setelah masa perawatan dan diurut oleh tukang urut tulang yang ahli, keduanya berangsur sembuh. Selama itu, aku menjaga warung kopi mama di tepi Waduk Jatigede.

 

---

 

Menikah dalam Takdir

 

Di masa itu ada seseorang yang mendekat. Karena aku masih trauma melihat Mama babak belur akibat kecelakaan, aku cepat mengiyakan ajakannya untuk menikah. Kami hanya berkenalan dua bulan, lalu menikah di rumah Kakek. Cinta? Tidak seperti itu. Tapi aku belajar menerima takdir. Lagi-lagi aku berusaha ridho. Kali ini cinta bukan prioritas, melainkan bagaimana aku menghadapi perjalanan takdir yang digariskan untukku.

 

Pernikahan berjalan, tapi tidak semudah bayangan. Aku menjalankan kewajiban sebisaku, bahkan mengikutinya ke kota dengan niat belajar menjadi teman hidup dalam suka dan duka. Aku pikir dia akan berbuat hal yang sama—belajar saling melengkapi, saling mendukung—tapi kenyataannya berbeda. Ia lebih peduli pada kata keluarganya, tetangganya, dan teman-temannya daripada kata-kata istrinya sendiri. Dari situ aku sering bertanya dalam hati, aku ini sebagai apa dalam hidupnya?

 

Meski banyak kejanggalan sejak awal, aku tetap mencoba bertahan. Aku masih menghadapi semua dengan senyum, mencari cara agar ia mau mendayung perahu kecil rumah tangga ini bersamaku. Seusai membereskan rumah dan memasak untuknya, aku selalu sempatkan membaca surat Yusuf dan surat Maryam. Setiap hari Jum’at, aku lanjutkan dengan surat Al-Kahfi, berharap ridho Allah SWT agar diberi kesehatan dan rezeki melalui tangan suamiku.

 

Beberapa bulan kemudian, aku dinyatakan positif hamil. Senang, sekaligus ujian terasa makin berat. Saat hamil muda, aku sering mual muntah, tapi ucapan darinya justru membuatku merasa tidak didengar. Seakan-akan ia menutup telinga untuk kata-kataku, tapi membuka lebar-lebar telinga untuk perkataan orang lain. Bahkan ketika aku ngidam, yang ia dengar hanyalah rengekan perempuan manja. Saat itu aku sadar: aku butuh lingkungan yang menenangkan, bukan yang menambah luka.

 

Akhirnya aku pulang ke rumah Kakek. Di sana aku bisa makan dengan tenang tanpa ocehan menyakitkan. Aku tetap berusaha memaafkannya dan menganggap ini ujian rumah tangga. Kehadiran bayi dalam kandungan tidak bisa diukur dengan uang berapa pun banyaknya. Mama juga menasihatiku, “tenang dulu, istighfar, lagi hamil wajar kalau sensitif. Bisa jadi ini ujian rumah tangga. Banyakin berdo’a, karena janin di perut kamu butuh mama yang tenang dan senang, jangan banyak sedih-sedih.” Ucapan itu membuat hatiku lebih tenang.

 

Malam hari sebelum tidur, aku selalu membaca doa. Saat mengantuk, detak jantung kecil janinku mulai terasa. Walaupun masih lemah, aku seperti mendengar pesan darinya, “Aku sudah ada di sini, Ma, jangan banyak sedih-sedih.” Ritme itu membuatku melupakan semua beban. Perasaan campur aduk—senang, kaget, haru, syukur—bercampur jadi satu. Allah SWT benar-benar Maha Baik, memberi amanat besar ini kepadaku.

 

---

 

Ujian Rumah Tangga dan Perceraian

 

Sayangnya, badai terus menerpa dan aku pun rubuh. Hubungan dengan suami merenggang. Pertengkaran kecil berubah besar, keluarga besarnya ikut campur, dan aku merasa tak dibela. Bahkan ketika aku hamil, yang dia pikirkan hanya pandangan orang luar. Hatiku sakit. Akhirnya, setelah anak lahir, keluargaku dan keluarganya sepakat berunding. Talak jatuh.

 

Aku sempat ketakutan. Bagaimana kalau anakku diambil paksa? Aku bahkan menghubungi badan perlindungan anak. Tapi mama menenangkanku: "Tenang saja. Doa ibu tak akan ditolak Allah SWT. Anakmu pasti bersamamu." Kata-kata itu seperti air sejuk. Aku pun menarik kembali laporan itu dan fokus pada proses perceraian.

 

Sidang berjalan singkat. Panggilan pertama lancar, panggilan kedua juga lancar dan dia tidak hadir dalam kedua sidang itu. Hakim langsung mengetuk palu. Pada bulan Maret, aku resmi bercerai. Surat cerai di tangan, aku mengurus perubahan KK dan KTP. Hidupku berubah, tapi aku merasa lega. Aku lebih ikhlas menghadapi semuanya.

 

---

 

Menjadi Ibu dan Mensyukuri Ujian

 

Kini aku menjalani hari-hari sebagai ibu tunggal. Apakah berat? Tentu. Tapi aku belajar melihat semua ini sebagai nikmat. Allah SWT memberiku pengalaman besar: nikmatnya mengandung, meski mabuk berat di trimester awal dan kaki bengkak pada trimester akhir. Nikmatnya melahirkan lewat operasi caesar, meski harus kontrol jahitan sampai sembuh. Nikmatnya begadang menyusui, meski mata panda dan rambut berantakan. Nikmatnya khawatir soal makanan anak, soal poopnya, soal sakitnya, bahkan soal baby blues yang membuatku menangis sendiri.

 

Semuanya nikmat. Nikmat yang bercampur ujian, tapi penuh pelajaran. Aku tak mau jauh dari anakku. Aku ingin bekerja dari rumah, agar selalu bisa melihat tumbuh kembangnya. Aku merasa cukup, karena Allah SWT sudah melimpahkan banyak rezeki lewat cara-Nya sendiri.

 

---

 

Ridho dan Hidup

 

Kalau aku menengok ke belakang, hidupku penuh dengan kejutan. Dari bekerja di pabrik sleting, menjadi istri, hamil, lalu bercerai, sampai akhirnya menjadi ibu tunggal. Semua itu bagian dari perjalanan yang Allah SWT tuliskan untukku.

 

Aku belajar bahwa ridho itu kunci. Ridho menerima takdir, ridho menghadapi ujian, dan ridho bersyukur atas nikmat. Hidup memang tak selalu sesuai rencana, tapi selama kita ridho, insya Allah hati jadi lebih tenang.

 

Alhamdulillahi’ala kullihal—segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. Itulah bekal yang ingin terus aku genggam. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa indah rencanaku, tapi seberapa aku bisa ikhlas menerima rencana-Nya.

 

---

 

Itulah sedikit cerita yang pernah aku lalui. Aku sadar tak ada manusia yang hidupnya seratus persen mulus. Semua orang punya ujian masing-masing. Jangan pernah mengira hidup orang lain ‘enak’ hanya dari luarnya saja; semua ini hanya soal sawang sinawang. Jalani, nikmati, syukuri—itu saja. Semoga ada hikmah yang bisa diambil, karena aku pun masih belajar ridho dan belajar hidup sampai sekarang.

 

Aku tahu tak semua orang mengalami hal yang sama, tapi aku percaya kita semua punya ujiannya masing-masing. Semoga kisah ini menemani kamu yang mungkin sedang merasa sendirian. Hidup memang tak selalu indah, tapi selalu ada alasan untuk bersyukur. Itu yang kupelajari, itu yang kutulis, itu yang kujalani.

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---


Ilustrasi Ibu dan anak perempuannya sedang duduk di pinggir danau dan banyak bunga daisy dan rose.
Ilustrasi ibu dan anak perempuannya duduk di pinggir danau - Blog Cerita Kemuning


Tidak ada komentar:

Posting Komentar