![]() |
| Ilustrasi seorang Ibu dan Putrinya piknik di pinggir danau - Blog Cerita Kemuning |
Dari Dongeng ke Kehidupan: Catatan Seorang Mama yang Menulis
Kalau dipikir-pikir, aku ini bukan penulis profesional yang tiap hari duduk di depan laptop dengan jadwal super rapi dan segudang ide. Aku lebih sering menulis karena ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di hati. Kadang cuma dari obrolan kecil, kadang dari pengalaman sepele, kadang juga dari hal yang justru bikin aku mikir lama.
Salah satu contohnya waktu aku nulis Dongeng Si Cikal. Itu tuh awalnya bukan proyek besar, bukan juga rencana jangka panjang. Ide itu muncul begitu aja, kayak percikan kecil. Waktu itu aku lagi banyak ditolak aplikasi menulis. Aku sudah berusaha menyesuaikan dengan selera editor di sana, tapi tetap saja berakhir dengan penolakan. Dari situ muncul keinginan untuk bikin sesuatu yang sederhana tapi punya makna. Deg-degan juga waktu akhirnya memutuskan bikin blog sendiri. Tapi justru dari situ aku belajar bahwa ide menulis seringkali nggak datang dari “wah aku pengin bikin karya hebat”, melainkan dari hal-hal kecil yang menempel di hati.
Ide itu Bisa Datang dari Mana Saja
Banyak orang suka nanya, “Kamu kalau nulis dapat ide dari mana?” Kalau jawab jujur, aku sering bingung. Karena ide itu datangnya bisa dari mana aja. Bisa dari mimpi semalam, bisa dari obrolan random di dapur, bisa dari anak kecil yang tiba-tiba nyeletuk lucu, bahkan bisa dari momen capek banget tapi kepikiran sesuatu.
Dongeng Si Cikal itu lahir karena aku kepikiran gimana rasanya jadi anak yang tumbuh dengan rasa ingin didengar, tapi nggak selalu ditanggapi. Aku tarik benang merah dari pengalaman pribadi, dari potongan-potongan cerita orang lain, lalu kubungkus jadi dongeng.
Menulis itu buatku mirip banget sama bercermin. Kadang aku ketemu sisi diriku sendiri yang dulu nggak sempat aku tangisi, nggak sempat aku rayakan, atau bahkan nggak sempat aku bicarakan. Dan lewat cerita, aku bisa kasih ruang untuk sisi itu bicara.
Menjadi Mama dan Menulis: Sama-Sama Proses Panjang
Nah, setelah jadi seorang mama, aku makin sadar kalau menulis itu mirip banget sama perjalanan mengasuh anak. Sama-sama nggak ada manual book pasti. Sama-sama penuh kejutan.
Aku masih ingat banget waktu pertama kali hamil. Rasanya campur aduk. Ada bahagia, ada takut, ada “loh kok bisa aku dipercaya ya?” Sampai sekarang pun aku masih sering mikir, “Kok Allah percaya banget nitipin amanah seindah ini ke aku?” Padahal aku tahu, aku bukan orang yang sempurna.
Lalu ketika si kecil lahir, hidupku rasanya kayak diguncang besar-besaran. Kalau di novel, mungkin ini bagian konflik utama yang bikin tokoh harus berubah. Ada malam-malam begadang, ada tangisan yang bikin bingung harus diapain, ada rasa capek luar biasa. Tapi di balik itu, ada senyum mungil, ada tawa kecil, ada celoteh lucu yang bikin semua capek lenyap.
Dan itu sama persis kayak proses menulis. Ada hari-hari di mana aku nggak punya energi buat buka laptop. Ada hari di mana tulisan ditolak berkali-kali. Ada hari di mana aku sendiri nggak yakin, “Ini layak dibaca orang nggak, sih?” Tapi begitu ada satu orang yang bilang, “Cerita ini nyentuh aku,” rasanya kayak semua jerih payah terbayar.
Kilas Balik: Jadi Anak yang Ingin Didengar
Kalau aku tarik garis mundur, alasan aku suka menulis sebenarnya nggak jauh dari masa kecilku. Aku ini anak yang cenderung pendiam, nggak suka keramaian. Dari kecil sudah terbiasa menahan banyak hal sendiri.
Waktu pengin manja, sering dibilang jangan manja. Waktu pengin nangis, disuruh cepat berhenti. Waktu pengin cerita panjang lebar, kadang cuma ditanggapi singkat, “Kamu masih kecil, tahu apa kamu?” Dari situ aku belajar cepat dewasa. Jadi kakak perempuan yang harus sigap, nggak boleh cengeng, nggak boleh ngelantur.
Tapi ternyata ada sisi kecil dalam diriku yang masih pengin didengar. Nah, menulis itu jadi jalannya. Kalau aku nggak bisa ngomong langsung, aku bisa nulis. Kalau dulu aku nggak dikasih ruang untuk cerita panjang, sekarang aku bisa bikin ruang sendiri lewat tulisan.
Dan setelah jadi mama, aku jadi lebih paham betapa pentingnya hal kecil itu. Seorang anak mungkin cuma pengin ceritanya didengar, meskipun ceritanya sederhana banget. Kayak “Mama, tadi aku lihat kucing lucu di jalan!” Kalau kita tanggapi dengan serius, wajahnya bisa bersinar. Tapi kalau kita anggap remeh, itu bisa jadi luka kecil yang diam-diam menumpuk.
Hadir Itu Lebih dari Sekadar Ada
Salah satu hal yang paling bikin aku merenung setelah punya anak adalah: ternyata jadi orang tua itu nggak cukup cuma hadir fisik. Kita bisa ada di rumah, tapi hati kita sibuk ke tempat lain. Kita bisa ada di samping anak, tapi pikiran kita masih ke pekerjaan, ke drama hidup, atau ke masalah lain.
Dulu aku pernah merasakan “ada orang tua di rumah, tapi rasanya sepi.” Dan aku nggak mau anakku merasakan hal yang sama. Itu berat, karena jujur aja aku pun manusia biasa yang kadang lelah, kadang butuh ruang sendiri. Tapi aku belajar pelan-pelan bahwa anak kecil nggak butuh orang tua sempurna. Mereka cuma butuh orang tua yang mau benar-benar hadir.
Menulis membantuku untuk selalu ingat itu. Karena setiap kali aku nulis, aku juga belajar mendengar. Mendengar tokoh-tokoh fiksiku bicara. Mendengar perasaan-perasaan yang dulu terpendam. Jadi ketika anakku ngomong, aku berusaha untuk benar-benar dengar. Meski ceritanya sederhana, meski aku capek. Karena aku tahu rasanya ketika suara kecilmu dianggap nggak penting.
Menulis sebagai Jalan Menyembuhkan
Kalau ditanya, kenapa masih menulis meskipun sering ditolak? Jawabanku sederhana: karena menulis itu bikin aku sembuh.
Bukan sembuh dari sakit fisik, tapi sembuh dari luka-luka kecil yang dulu nggak sempat kuobati. Setiap kata yang kutulis, rasanya kayak aku lagi ngobrol dengan diriku yang kecil. Aku peluk dia, aku bilang, “Nggak apa-apa kamu nangis. Nggak apa-apa kamu manja. Nggak apa-apa kamu ingin didengar.”
Dan anehnya, semakin aku menulis, semakin aku belajar jadi mama yang lebih sabar. Karena aku tahu, anakku juga butuh hal yang dulu aku rindukan: ruang untuk jadi dirinya sendiri.
Dari Dongeng ke Kehidupan Nyata
Kalau ada yang bilang menulis itu cuma hobi, aku mungkin bakal nyengir. Buatku menulis itu lebih dari hobi. Menulis itu cara aku merangkai ulang hidupku. Dari cerita sederhana kayak Dongeng Si Cikal, sampai ke cerita-cerita yang lebih serius, semuanya berangkat dari keinginan sederhana: ingin didengar, ingin berbagi, ingin hadir.
Menulis mengajarkanku bahwa setiap orang punya cerita. Bahkan orang tua yang kelihatan cuek, bahkan anak kecil yang suka cerewet, bahkan aku sendiri yang dulu sering diam. Semua punya cerita yang layak didengar.
Dan sebagai mama, aku ingin jadi orang pertama yang mendengarkan cerita anakku. Bukan orang terakhir.
Menulis Itu Mengalir, Hidup Pun Begitu
Akhirnya aku sadar, menulis dan hidup itu sama-sama mengalir. Kadang penuh kejutan, kadang bikin bingung, kadang bikin nangis, tapi juga penuh hal-hal kecil yang indah.
Aku bukan penulis yang hebat. Aku juga bukan mama yang sempurna. Tapi lewat menulis, aku belajar menerima diriku, masa laluku, dan peranku sekarang.
Kalau ada orang tua yang baca ini, aku nggak akan kasih tips atau aturan. Aku cuma mau bilang: anak-anak kita nggak butuh kita jadi pahlawan super. Mereka cuma butuh kita hadir dengan hati.
Dan kalau ada penulis yang sudah senior, atau bahkan sama-sama pemula seperti aku, terus mampir baca artikel dan cerita-cerita di blog ini, aku harap mereka bisa lihat bahwa aku sedang memilih jalanku sendiri. Mungkin jalannya berbeda dengan kebanyakan orang, tapi lewat blog ini aku terus belajar, terus mengasah kemampuan menulis, dan semoga perjalanan kecilku ini bisa jadi pengingat bahwa setiap penulis punya cara uniknya masing-masing untuk bertumbuh.
Akhir kata, mungkin inilah kenapa aku masih terus menulis, meski ditolak berkali-kali, meski sering capek. Karena buatku, menulis itu bukan hanya tentang menghasilkan karya. Tapi tentang belajar jadi manusia yang lebih utuh, dan jadi mama yang lebih hadir.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar