Bunga Liar di Taman Hati Nayera 3

Cover cerita seri pendek bunga liar di taman hati Nayera Bab 3.
Cerita seri pendek Nayera dan Abimanyu - Blog Cerita Kemuning


Bab 3 – Ujian di Taman Hati

 

Suasana toko grosir keluarga Nayera tampak berbeda pagi itu. Meski rak-rak penuh dengan barang, lalu-lalang pelanggan tidak seramai biasanya. Meja kasir yang biasanya dipenuhi antrean pembeli, kini hanya sesekali terisi.

 

Pak Surya duduk di kursi dekat meja pencatatan sambil memijat pelipis. “Entah kenapa beberapa minggu ini penjualan menurun lagi,” gumamnya dengan nada berat.

 

Ibu yang sedang menata rak gula menimpali dengan wajah murung. “Mungkin karena toko-toko modern baru yang buka di dekat pasar. Mereka menjual dengan harga promo, orang jadi berpaling ke sana.”

 

Yera yang duduk di balik meja kasir ikut mendengarkan. Wajahnya tetap menebar senyum meski hatinya ikut resah. Toko grosir itu bukan sekadar usaha, melainkan nadi kehidupan keluarga mereka. Ia ingin sekali membantu mencari solusi, tapi rasa lelah yang akhir-akhir ini sering datang membuat pikirannya sulit fokus.

 

“Pa, Ma, kita jangan menyerah dulu. Pasti ada cara,” ucap Yera sambil mencoba menenangkan.

 

Abimanyu yang sejak pagi membantu Andri menurunkan karung terigu dari mobil pengangkut, mendekat setelah mendengar percakapan itu. Ia menyilangkan tangannya di belakang pinggang, matanya menatap serius pada Pak Surya.

 

“Pak, Bu, boleh saya kasih saran?” tanyanya hati-hati.

 

Pak Surya mengangkat wajahnya. “Tentu, Nak Bima. Apa idemu?”

 

Abimanyu menarik kursi lalu duduk. “Menurut saya, penurunan penjualan ini karena grosir kita kalah promosi, bukan kalah kualitas. Barang-barang di sini justru lebih segar. Kalau kita bisa memanfaatkan media sosial, mungkin kita bisa menjangkau pelanggan yang lebih luas. Tidak hanya yang datang ke sini langsung.”

 

Ibu menatapnya penasaran. “Media sosial? Maksudmu seperti Instagram atau Facebook?”

 

“Betul, Bu,” jawab Abimanyu sambil tersenyum. “Saya sudah pernah membantu keluarga nelayan di kampung memasarkan ikan lewat media sosial. Hasilnya cukup baik. Kita bisa lakukan hal yang sama untuk bahan kue. Apalagi sekarang banyak ibu-ibu rumah tangga yang suka bikin kue, mereka akan tertarik kalau tahu ada grosir lengkap seperti ini.”

 

Pak Surya tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ide bagus. Tapi siapa yang akan mengurus semua itu? Papa dan Mama sudah terlalu sibuk.”

 

“Biar aku yang coba, Pa!” sahut Andri penuh semangat. “Aku bisa belajar dari Mas Bima. Pasti seru. Kita lanjut, Mas!"

 

Mata Abimanyu berbinar melihat antusiasme Andri. “Kita bisa mulai dari hal kecil dulu. Upload foto produk, kasih caption menarik, lalu buat promo kecil-kecilan. Nanti lama-lama orang terbiasa belanja lewat online.”

 

Yera yang mendengarkan dari balik kasir tak bisa menahan senyum. Ada sesuatu dalam nada bicara Abimanyu—penuh keyakinan, tapi tetap sederhana—yang membuatnya merasa tenang.

 

---

 

Sejak hari itu, Andri dan Abimanyu menjadi pasangan kompak. Hampir setiap sore setelah toko agak sepi, mereka duduk di meja belakang dengan laptop terbuka, memotret produk, dan mendiskusikan cara terbaik membuat konten.

 

“Andri, coba ambil foto gula pasir ini dengan cahaya dari jendela. Jangan pakai flash, nanti warnanya jadi aneh,” ujar Abimanyu sambil mengarahkan kamera ponsel.

 

Andri mengangguk dan menuruti. “Kayak gini, Mas?”

 

“Bagus. Nah, sekarang kasih caption yang simpel tapi menggugah. Misalnya: Gula pasir murni untuk kue manis favorit keluarga. Hanya di Grosir Laras Kue.’

 

Andri tertawa kecil. “Wih, keren banget. Aku enggak kepikiran bikin kata-kata kayak gini.”

 

“Biasa saja, Andri. Nanti kamu juga terbiasa. Yang penting jujur soal kualitas produk. Orang suka yang apa adanya.”

 

Yera sesekali menghampiri mereka sambil membawa teh hangat. “Kalian serius sekali dari tadi. Jangan lupa istirahat juga.”

 

Andri menoleh ke kakaknya. “Kak, lihat deh! Postingan kelima kita udah ada yang like. Ada juga yang nanya harga tepung.”

 

Wajah Yera langsung berbinar. “Benarkah? Wah, cepat sekali.”

 

Abimanyu hanya tersenyum tipis, matanya sekilas menatap Yera. Senyum gadis itu, meski sederhana, punya daya yang tak bisa ia abaikan. Ada ketulusan yang membuat jantungnya berdebar.

 

---

 

Malam itu, ketika toko sudah tutup, keluarga mereka berkumpul di ruang tengah. Andri dengan bangga menunjukkan akun media sosial baru mereka kepada Papa dan Mama.

 

“Lihat ini, Pa, Ma. Baru sehari, sudah banyak yang follow. Beberapa bahkan mau order via DM.”

 

Pak Surya terkekeh lega. “Luar biasa. Abimanyu, terima kasih banyak. Papa tidak menyangka anak magang bisa memberi ide sebesar ini.”

 

“Jangan berlebihan, Pak. Ini semua berkat kerja sama Andri juga,” jawab Abimanyu merendah.

 

Ibu tersenyum hangat. “Bima, kamu sudah seperti keluarga sendiri. Terima kasih sudah membantu.”

 

Yera duduk di samping ibunya, menatap Abimanyu dengan tatapan yang berbeda kali ini. Ia mulai melihat pemuda itu bukan hanya sebagai pekerja magang, tapi sebagai sosok yang membawa semangat baru bagi keluarganya.

 

Namun, di balik sorot matanya yang kagum, kepalanya kembali terasa berat. Ia menunduk, berharap tak ada yang menyadari.

 

---

 

Beberapa hari berikutnya, penjualan mulai meningkat sedikit demi sedikit. Pelanggan yang datang ke toko bertambah, bahkan ada yang menyebut mereka tahu dari media sosial.

 

Andri semakin semangat. “Mas, aku enggak sabar bikin konten berikutnya. Mungkin kita bisa bikin video singkat cara bikin brownies pakai bahan dari toko ini.”

 

“Bagus sekali, Andri,” kata Abimanyu sambil menepuk bahunya. “Kamu punya bakat jadi marketer, lho.”

 

“Ah, jangan bercanda, Mas,” jawab Andri, meski wajahnya jelas berseri.

 

Dari kejauhan, Yera memperhatikan keduanya. Hatinya hangat melihat bagaimana Abimanyu mendukung adiknya. Bagi Yera, itu bentuk perhatian yang luar biasa.

 

Tapi hari itu, tubuhnya mulai memberontak. Sejak pagi ia merasa cepat lelah, matanya berkunang-kunang meski ia sudah berusaha tersenyum pada setiap pelanggan.

 

Sore menjelang, toko mulai ramai. Yera sibuk di kasir, menghitung uang kembalian, melayani pesanan yang masuk, sambil sesekali mencatat stok.

 

Tiba-tiba, pandangannya berputar. Suara-suara di sekitarnya terdengar semakin jauh.

 

“Yera, hati-hati! Uangnya jatuh—” suara Ibu menggema samar.

 

Dalam sekejap, tubuh Yera goyah. Ia berusaha meraih meja kasir, namun tubuhnya tak sanggup lagi menopang.

 

“ KAK YERA!” jerit Andri kaget, segera berlari mendekat.

 

Abimanyu yang berdiri tidak jauh dari sana refleks melompat, berhasil menangkap tubuh Yera sebelum membentur lantai.

 

Wajah Yera pucat, matanya terpejam rapat. Nafasnya terengah, peluh dingin membasahi keningnya.

 

“Pak, cepat panggil Pak! Panggil dokter!” suara Abimanyu lantang, penuh panik tapi tetap terkontrol.

 

Andri berlari ke ruang belakang, sementara Ibu segera menyiapkan kain basah untuk mengompres kening putrinya.

 

Abimanyu menatap wajah Yera yang lemah di pelukannya. Dalam hati, ia berdoa keras-keras: semoga ini bukan pertanda buruk. Semoga gadis ceria yang baru ia kenal ini tidak akan hilang begitu saja dari hidupnya.

 

---

 

Hari itu menjadi awal ujian besar bagi taman hati keluarga Nayera. Di saat usaha mereka mulai bangkit, kenyataan pahit tentang kesehatan Yera perlahan menampakkan dirinya.

 

Dan bagi Abimanyu, perasaan yang ia coba sembunyikan mulai berubah menjadi tekad: ia tidak akan pergi, seberat apa pun perjalanan yang harus mereka lalui.

 

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar