![]() |
| Ilustrasi Rindu sedang bernaung di bawah pohon jakaranda yang sedang berbunga - Blog Cerita Kemuning |
Rindu, 19 Tahun, Merantau ke Sukabumi: Antara Scarlet Witch, Polisi Sok Galak, dan Dunia Pabrik QC yang Shick Shack Shock
Namaku Rindu, umur 19 tahun. Usia segitu biasanya orang sibuk cari jati diri, ada yang kuliah sambil nge-bucin, ada yang ngejar mimpi jadi artis TikTok, ada juga yang rebahan menunggu takdir menjemput. Aku? Dengan penuh percaya diri (atau mungkin nekat), aku justru memilih jalur ekstrem: merantau ke Sukabumi, daerah Parungkuda, demi pekerjaan yang katanya di pabrik ekspor pakaian busana wanita.
Ya, betul. Pabrik yang memproduksi dan mengekspor pakaian busana wanita. Sebuah profesi mulia karena berhubungan dengan kebutuhan primer manusia: sandang. Walaupun di kemudian hari aku lebih sering merasa tersandung.
---
Episode 1: Mama, Scarlet Witch Versi Ekonomi
Perjalananku dimulai bukan dari terminal, bukan juga dari stasiun, tapi dari sebuah “yayasan entah berantah” di daerah Majalengka. Konon, di sinilah para calon pekerja diproses. Aku dan Mama datang dengan bekal seadanya. Aku yang masih lugu duduk terdiam, sementara Mama duduk di sebelahku dengan wajah tenang ala Scarlet Witch versi hemat. Bukan karena punya kekuatan sihir, tapi karena kekuatan batin menahan panik demi anak gadisnya.
Aku bisa baca wajah Mama. Dalam hati mungkin ia juga deg-degan: “Ya Tuhan, ini anak gadis saya mau diapain ya di yayasan aneh ini?” Tapi bibirnya tetap tersenyum tipis sambil bilang:
> “Ayo-ayo, ikutin aja dulu arahan bapaknya.”
Kalimat singkat itu kayak mantra pengusir rasa panik. Padahal aku tahu Mama juga nyimpen rasa was-was. Tapi ya itulah, Mama selalu jago pura-pura tenang.
---
Episode 2: Ibu Cindo dan Mesin Jahit Misterius
Di yayasan itu, aku dan empat calon pekerja lain disuruh ikut tes jahit. Ada seorang ibu-ibu keturunan Tionghoa (kami panggil saja Ibu Cindo), yang langsung berubah jadi dosen killer begitu masuk ruangan.
Pertama-tama beliau menatap kami satu-satu. “Umur berapa?” tanyanya dengan tatapan sinis. Aku jawab dengan lirih, “Sembilan belas, Bu…” Dalam hati aku menjerit: “Ya Allah, masa iya hidupku ditentukan sama mesin jahit ini?”
Kami diberi arahan. Aku ngangguk-ngangguk, padahal otak masih loading. Begitu praktik, tangan ini masih gemetar, tapi ternyata aku lulus juga. Ibu Cindo cuma ngomong singkat, “Oke-oke semua.”
Sore itu kami dipulangkan ke yayasan. Mama menungguku di mushola dengan wajah capek tapi tetap tersenyum. Aku jawab lempeng waktu beliau nanya, “Ngapain aja?”
> “Test mesin jahit sama ibu-ibu Cindo.”
Sebenarnya aku pengen nangis, tapi aku tahan. Rasanya pengen nyuruh Mama pulang aja biar nggak repot-repot nunggu aku. Tapi Mama tetep keukeuh nemenin, kayak bodyguard pribadi yang digaji pakai doa.
---
Episode 3: Drama Mobil Malam dan Polisi Sok Galak
Tibalah hari keberangkatan menuju Sukabumi. Aku, Mama, dan beberapa calon pekerja lain diangkut pakai mobil dari yayasan. Malam-malam, suasana hening, semua orang berusaha tidur atau pura-pura tidur biar nggak makin deg-degan.
Tiba-tiba mobil kami diberhentikan polisi. Petugas melongok ke dalam mobil dengan tatapan curiga. “Ini rame-rame mau ke mana, hah?” tanyanya dengan nada sok galak.
Aku yang gampang kesulut emosi dan sudah nahan kesal dari pagi langsung menjawab ketus:
> “Kerja, Pak! Rame-rame gini soalnya kendaraannya disediain ya ini aja.”
Dalam hati aku bergumam: “Mungkin bapaknya belum makan malam, makanya sok-sok banyak nanya.”
Polisinya akhirnya minggir. Mungkin dia sadar kalau kami bukan komplotan kriminal, cuma segerombolan manusia penuh barang bawaan dan wajah capek. Perjalanan pun dilanjutkan.
---
Episode 4: Kontrakan, GM, dan Kehidupan Baru
Jam enam pagi kami sampai di kontrakan yang katanya milik kakaknya GM Manager pabrik. Mama dengan sopan menitipkan aku pada mereka. Rasanya kayak adegan di sinetron: orang tua menyerahkan anak gadis ke dunia asing. Bedanya, ini bukan dunia istana megah, tapi dunia kontrakan yang penuh kasur tipis dan ember plastik.
Aku ketemu teman-teman baru: Yuli, Sri, Eni, Endah (anak Cianjur), lalu Rindi, Tati, Wulan (anak Indramayu), dan Imah (anak Banten). Mereka seumuran, ada yang baru lulus SMA. Ada yang ramah, ada juga yang julid. Untuk yang julid aku milih gak kenal aja, soalnya mentalku harus waras selama jauh dari rumah. Pokoknya komplit. Kontrakan ini ibarat sitkom berjalan.
Mama masih stay tiga hari. Beliau baru pulang setelah lihat aku aman berangkat-pulang kerja. Saat Mama pamit naik bus, aku dadah-dadah dengan senyum yang dipaksakan. Begitu bus menjauh, hampa menyerang.
Dalam hati aku teriak: “Yok, kuat yok! Katanya mau mandiri. Bisaaaa! Harus bisaaaa!”
---
Episode 5: QC, Shick Shack Shock
Awalnya aku kira aku bakal jadi penjahit. Ternyata pas interview aku dimasukin jadi QC alias Quality Control. Tugasnya? Ngitung barang, ngitung ukuran dari bahan kain lembaran yang baru selesai di potong ke ukuran barang jadi, ngecek hasil jahitan, ngitung lagi, ngecek lagi.
Padahal aku tuh nggak suka hitung-hitungan. Angka-angka itu buatku kayak hantu. Tapi ya sudahlah, nasib udah keburu terlanjur ditulis. Beruntung ada senior yang sudah jadi Kepala QC selalu sabar bimbing aku. Hari-hari kerjaku penuh dengan suara mesin jahit, teriakan mandor dan kadang Big Bos juga, tawa cekikikan pegawai, dan gosip rumah tangga yang diumbar kayak berita infotainment.
Kadang aku mikir, “Apa ini pabrik atau panggung hiburan?” Ada yang nangis karena dimarahin, ada yang ketawa ngakak, ada yang curhat suami selingkuh, semua bercampur jadi satu. Hidupku di pabrik serasa shick, shack, shock!
---
Episode 6: Tangisan Malam dan Curhat Kontrakan
Seminggu pertama, malamku penuh tangisan. Bukan karena nggak ada sinyal HP, tapi karena kangen rumah. Teman-teman kontrakan selalu sabar nemenin. Kalau aku nangis, mereka duduk deketin aku sambil bilang, “Sudah… teh… sudah… kami dulu juga begitu.”
Aku jadi merasa nggak sendirian. Dari mereka aku belajar, ada yang kerja supaya nggak dinikahkan muda, ada yang kerja karena sekolahnya putus. Masalah mereka jauh lebih pelik. Aku jadi malu sendiri kalau cuma nangis gara-gara kangen Mama.
---
Episode 7: Julid, Fitnah, dan Akhir Cerita
Semua berjalan lumayan lancar, sampai datanglah drama klasik: fitnah. Manager line (orang yang ngurus 15–20 penjahit) entah kenapa jebak aku. Tiba-tiba aku difitnah karena banyaknya permak di line yang aku awasi. Aku kebingungan tapi aku santai karena di awal Manager Line mohon untuk meloloskan saja, biar banyak output, walaupun hatiku merasa tak nyaman jadi aku iyakan, eh, malah kena getahnya, pokoknya suasana jadi nggak enak.
Aku bertahan sembilan bulan. Sembilan bulan penuh perjuangan, tangisan, tawa, stress, sampai ghosting dua kali oleh cowok-cowok sok ganteng pabrik lain (yang kuanggap cuma cari pacar, bukan pasangan hidup).
Akhirnya setelah dapat THR, aku memutuskan hengkang. Semua barang kuangkut pakai mobil langsung ke rumah. Tamatlah babak Sukabumi-ku.
---
Epilog: Dari Pabrik ke Komedi Satir
Sekarang kalau aku ingat lagi, rasanya absurd. Dulu aku nangis sampai bengkak, sekarang malah bisa ketawa sendiri. Ternyata perjalanan sembilan bulan itu justru jadi modal cerita hidup yang berharga.
Ya, siapa sangka anak 19 tahun yang dulu QC di pabrik yang mengekspor pakaian busana wanita bisa nulis kisah satir tentang polisi sok galak, Mama Scarlet Witch versi ekonomi, kontrakan penuh drama, dan hidup shick shack shock di dunia pabrik? 🤷🏻♀️
Hidup memang suka bercanda. Kalau nggak kuat mental, ya jadikan aja bahan komedi.😉
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
![]() |
| Ilustrasi Rindu di ruangan penuh bunga di sebuah pondok - Blog Cerita Kemuning |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar