Bab 22. Senyum Baru, Langkah Baru
Hari itu, sinar matahari Surabaya terasa lebih hangat dari biasanya. Eliana duduk di kursi roda, didorong oleh seorang perawat menuju lobi rumah sakit. Tubuhnya sudah jauh lebih kuat, dan dokter menyatakan ia boleh pulang. Meski masih terasa sedikit lemah, hatinya justru dipenuhi rasa syukur.
Begitu pintu kaca otomatis rumah sakit terbuka, suara riuh menyambutnya.
“Eliii…!”
“Welcome back, Eli!”
“Wah, akhirnya keluar juga dari rumah sakit!”
Hampir seluruh teman kantornya berdiri berjejer sambil membawa bunga, balon, dan banner bertuliskan “Welcome Back, Eliana!”. Eliana tertegun, matanya langsung memanas. Ia tidak menyangka rekan-rekan yang selama ini ia anggap sekadar teman kerja ternyata peduli sebesar ini.
Salah satu rekan dekatnya, Rina, segera berlari mendekat. “Astaga, Eli! Kamu bikin kita semua khawatir banget. Katanya jatuh dari tebing air terjun segala, sih. Untung Tuhan masih sayang sama kamu.”
Eliana tersenyum kecil, meski dalam hati ia sadar kebenaran yang ia alami jauh berbeda. Ia tidak jatuh begitu saja—ia menjalani perjalanan batin yang panjang, menjadi “Mbak Ira”, memperbaiki ruang kosong di dalam dirinya, dan akhirnya kembali dengan hati yang lebih utuh. Tapi ia tidak mungkin menceritakan hal itu. Baginya, biarlah semua orang percaya pada versi yang sederhana: ia jatuh, koma, lalu sembuh.
“Haha… iya, maaf bikin kalian khawatir,” jawab Eliana pelan, suaranya masih agak serak. “Aku baik-baik aja sekarang, kok. Makasih banyak ya udah nyambut kayak gini.”
Mamanya yang berdiri di samping Eliana ikut menitikkan air mata haru melihat perhatian teman-teman kantor putrinya. “Terima kasih banyak ya, anak-anak. Kalian semua baik sekali sama Eliana.”
Mereka kemudian ramai-ramai mengantar Eliana ke mobil perusahaan yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan, Eliana hanya diam sambil tersenyum. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya—seperti ada cahaya baru yang tumbuh di dalam dada.
---
Sesampainya di apartemen, Eliana banyak beristirahat. Mamanya yang datang jauh-jauh dari Bogor selalu berada di sisinya, menyiapkan makanan sehat, mengingatkan untuk minum obat, bahkan menemaninya mengobrol sebelum tidur.
Di sela-sela keheningan malam, Eliana sempat menatap wajah mamanya yang mulai tampak lelah dan penuh kerutan. Ia teringat momen terakhir bersama Mbak Ira—pesan untuk menjaga mama baik-baik. Dan kini, setiap detik terasa begitu berharga.
“Ma, makasih ya… sudah selalu ada buat aku,” ucap Eliana tiba-tiba suatu malam.
Mama menoleh, tersenyum sambil mengelus rambut anaknya. “Mama ini nggak punya apa-apa selain kamu, Nak. Selama kamu sehat dan bahagia, Mama sudah cukup.”
Air mata Eliana jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menggenggam tangan mama erat-erat. Aku janji, Ma. Aku nggak akan biarin kita terluka lagi.
---
Beberapa hari kemudian, Mama harus kembali ke Bogor. Pagi itu, Eliana yang sudah lebih kuat mengantarnya ke bandara. Mereka berpelukan lama sebelum berpisah.
“Jaga kesehatan ya, Nak. Jangan terlalu capek kerja,” pesan Mama sambil berkaca-kaca.
Eliana mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Ma. Aku janji. Mama juga jangan khawatir lagi. Aku sekarang… udah beda. Aku lebih kuat.”
Mama tersenyum lega, lalu melangkah masuk ke ruang keberangkatan. Eliana berdiri lama di sana, menatap punggung mama sampai hilang dari pandangan. Ada rasa perih, tapi juga hangat. Perih karena berpisah, hangat karena kini ia punya kekuatan baru untuk melanjutkan hidup.
---
Beberapa hari setelah cukup istirahat, Eliana kembali ke kantor. Begitu ia masuk ke ruangan, semua orang langsung bersorak dan menghampirinya.
“Eliii, akhirnya balik juga!”
“Lihat deh, sekarang tambah cantik ya?”
“Jangan sakit-sakit lagi dong, bikin deg-degan aja!”
Eliana hanya tertawa. Jika dulu ia mungkin hanya membalas dengan anggukan dingin atau senyum tipis, kini ia benar-benar membuka diri. Ia menyapa satu per satu, bercanda dengan ringan, bahkan mengucapkan terima kasih dengan tulus.
“Wih, Eli sekarang murah senyum banget ya. Jangan-jangan abis koma dapet pencerahan nih,” canda salah satu teman laki-lakinya.
Eliana hanya tersenyum sambil menjawab, “Mungkin aja, hehe.” Dalam hati, ia tahu betul perubahan itu nyata. Ia tak lagi menyimpan beban masa lalu sebesar dulu.
Meski begitu, sifat cueknya tidak hilang sepenuhnya. Saat ada gosip kantor yang tidak penting, ia tetap memilih untuk tidak ikut nimbrung. Bedanya, sekarang ia tidak lagi memasang wajah dingin—ia hanya memilih untuk tidak ambil pusing.
---
Beberapa minggu berlalu, dan suasana kantor kembali berjalan normal. Hingga suatu pagi, kabar tentang kedatangan seorang manajer baru membuat semua karyawan penasaran.
“Katanya manajer baru ini pindahan dari Jakarta, ya?” bisik Rina pada Eliana saat mereka berjalan menuju ruang rapat.
“Iya, denger-denger sih gitu. Masih muda juga katanya,” jawab Eliana santai.
Saat pintu ruang rapat terbuka, semua mata langsung tertuju pada seorang pria tinggi dengan senyum ramah. Wajahnya tegas, sorot matanya penuh wibawa, namun tetap hangat. Ia berdiri di depan ruangan, memperkenalkan diri dengan suara yang mantap.
“Selamat pagi semuanya. Nama saya Adrian Pratama. Mulai hari ini saya akan bergabung sebagai manajer baru di divisi ini. Senang bisa bekerja sama dengan kalian semua.”
Eliana yang duduk di barisan tengah hanya terdiam, namun entah mengapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Senyum Adrian terasa berbeda—bukan sekadar formalitas, melainkan seperti menyimpan ketulusan.
Rina langsung berbisik di telinganya, “Eh, El, manajer barunya cakep banget, ya? Hati-hati nanti banyak yang jatuh hati, nih.”
Eliana hanya tersenyum tipis sambil menggeleng. “Ah, biasa aja.” Tapi dalam hati, ia tahu senyum itu meninggalkan kesan pertama yang tidak biasa.
---
Hari-hari berikutnya, Eliana menjalani pekerjaannya dengan semangat baru. Meski perubahan dalam dirinya belum sepenuhnya disadari orang lain, ia tahu satu hal pasti: hidupnya kini berjalan ke arah yang berbeda. Dan entah mengapa, bayangan senyum manajer baru itu perlahan mulai menjadi bagian dari jalannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar