Ratna dan Jakarta

Ilustrasi seorang gadis muda berambut merah sedang duduk di depan kontrakannya pada sore hari sambil memegang buket bunga daisy dan mawar merah
Ilustrasi gadis muda menikmati senja di teras kontrakan - Blog Cerita Kemuning


Ratna dan Jakarta: Antara Belikat Pegal dan Senyum yang Pulih


Ratna, gadis Sunda 22 tahun, datang ke Jakarta dengan modal nekat, doa mama, dan mental tempe yang katanya gampang hancur. Tapi justru karena tempe bisa diolah jadi apa saja—digoreng, dibacem, disambal—Ratna pun terbukti lentur menghadapi kerasnya perantauan.


Pertama kali dapat kerja, ia masuk pabrik kecil berbentuk CV. Awalnya ia pikir singkatan dari Curriculum Vitae, ternyata Commanditaire Vennootschap. Tapi buat pekerja kontrakan, CV sering diplesetkan jadi Cuma Vonis: vonis gaji pas-pasan, kerjaan tak ada habisnya, dan belikat pegal yang tak kenal libur.


Ratna bertahan di sana dua tahun. Senyumnya yang manis sering disalahartikan: dibilang modus biar disukai senior, dibilang kedok biar dianggap alim karena rajin ke mushola, bahkan ada yang nuduh senyum itu sengaja buat nyolek hati suami orang. Padahal, satu-satunya yang Ratna mau hanyalah: kerja baik-baik, pulang, dan bisa kirim uang buat mama di kampung.


Sampai akhirnya, di usia 24 tahun, ia dapat kesempatan ikut tes masuk Mayora. Dengan alasan sakit, Ratna izin dari pabrik CV itu. Tesnya bikin jantungnya mirip naik bianglala pasar malam—deg-degan, tapi juga bikin harapan melayang tinggi. Doa mamanya terbukti sakti, Ratna diterima.


Begitu ada kepastian, barulah ia pamit baik-baik pada petugas administrasi dan—tentu saja—teman-teman toxicnya. Dengan senyum tipis ala “terimakasih sudah mendidikku lewat gosip”, Ratna melangkah mantap.


Di Mayora, Ratna ditempatkan di bagian packing, duduk di kursi plastik, mengemas produk satu per satu. Belikatnya masih sering protes, tapi kali ini pegalnya lebih bermakna: karena gajinya sudah UMR dan lingkungannya lebih manusiawi. Senior di sini, walaupun sibuk, masih mau mengajari. Junior pun bisa diajak ngobrol tanpa takut disamber sinis.


Tak sendirian, Ratna punya kawan orang Tegal yang juga lolos ke Mayora, meski di bagian berbeda: finishing. Kadang mereka saling lambaikan tangan dari kejauhan, seperti sesama survivor di tengah hutan beton.


Kontrakan triplek 250 ribu rupiah tetap jadi rumahnya. Kasur tipis di lantai, lemari seadanya, galon yang setia menemaninya minum. Tapi Ratna justru makin betah—karena ia tahu, dari situlah tabungan bisa terkumpul dan senyum bisa kembali tulus.


Jakarta memang bukan kota yang ramah pada perantau polosan. Tapi buat Ratna, kota ini telah membuktikan: mental tempe pun bisa bertahan, selama masih ada doa mama yang tak putus, niat baik yang tak goyah, dan keyakinan bahwa hidup ini tak perlu drama—cukup sabar, kerja, dan tersenyum.


---


✍️ Catatan Redaksi


Kisah Ratna ini fiksi jenaka, tapi di baliknya banyak nyata: betapa berat jadi perantau tanpa backingan, hanya berbekal doa orang tua. Buat para wonder women, super girl, cat woman, dan black widow yang sedang bertahan di perantauan—jangan pernah remehkan mental tempe. Justru karena lentur, tempe bisa bertahan di segala masakan hidup.


Belikat boleh pegal, hati boleh sesekali lembek, tapi jangan sampai kehilangan senyum yang tulus. Karena senyum, meski sederhana, bisa jadi tanda bahwa kita masih sanggup melawan kerasnya kota besar tanpa harus kehilangan diri sendiri.


---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---




Tidak ada komentar:

Posting Komentar