Bab 23. Pengakuan yang Tersimpan Lama
Sejak kembali bekerja pasca sembuh, hari-hari Eliana berjalan dengan ritme baru yang terasa lebih ringan. Teman-teman kantor sempat terheran-heran melihat perubahan sikapnya. Yang dulu dikenal dingin, cuek, bahkan gampang bad mood, kini berubah menjadi pribadi yang lebih murah senyum, mudah diajak bercanda, dan tidak terlalu menutup diri. Meski begitu, Eliana tetap menjaga batasan sewajarnya. Ia tidak berubah menjadi sosok yang terlalu terbuka, namun kini lebih bisa membuat orang di sekitarnya merasa nyaman.
Perubahan itu ternyata tidak hanya disadari oleh teman-teman dekatnya, tetapi juga oleh sosok baru yang kini menjadi bagian dari kantornya: Adrian
Sejak pertama kali datang sebagai manager baru, Adrian memang mencuri perhatian banyak orang. Usianya lebih matang, karismanya terpancar jelas, dan cara bicaranya selalu terukur. Namun, bagi Eliana, yang sempat bertemu dengannya beberapa tahun lalu sebagai trainer karyawan baru, kehadiran Adrian membawa nuansa berbeda—seolah membuka pintu masa lalu yang sempat ia lupakan.
Hari demi hari, Adrian mulai mendekat. Tidak secara frontal, tapi dengan cara sederhana—menyapa lebih dulu, menanyakan kabar, atau sekadar berbagi cerita ringan di sela pekerjaan. Hingga pada suatu sore, ketika kantor sudah sepi dan hanya tinggal mereka berdua yang masih sibuk membereskan laporan, Adrian akhirnya membuka suara dengan nada yang lebih serius.
“Lia…” panggil Adrian lembut sambil menutup laptopnya.
Eliana mengangkat wajahnya, menatapnya dengan alis sedikit terangkat. “Hm? Ada apa, Pak?”
Adrian tersenyum kecil, namun kali ini senyumnya berbeda, seakan mengandung sesuatu yang selama ini dipendam.
“Kamu tahu nggak…” ia berhenti sebentar, lalu menghela napas dalam. “Aku sebenarnya sudah memperhatikanmu sejak lama.”
Eliana terkesiap, matanya membulat. “Maksud Pak Adrian…?”
Adrian menunduk sebentar, lalu menatap Eliana dengan tatapan hangat yang membuat jantungnya berdebar.
“Sejak pertama kali aku jadi trainer waktu kamu masih calon karyawan. Aku ingat jelas, kamu selalu kelihatan cuek, dingin, tapi diam-diam fokus dan cerdas. Dari situ aku… entah kenapa, ada sesuatu di dirimu yang bikin aku ingin terus mengamatimu.”
Eliana terdiam. Ia tidak menyangka kalimat seperti itu akan keluar dari mulut seorang Adrian yang sejak berada di sini terlihat serius dan profesional.
“Tapi waktu itu,” lanjut Adrian, “posisiku cuma karyawan biasa. Aku nggak berani mendekat. Aku takut kalau aku nekat, justru bikin kamu nggak nyaman. Apalagi aku dengar kamu waktu itu sering bolak-balik antara Surabaya dan Bogor. Jadi aku memilih diam, hanya mengamati dari jauh.”
Eliana merasakan pipinya sedikit panas. Ia menunduk, memainkan jemari di atas meja. “Dan sekarang… kenapa bilangnya baru sekarang?”
Adrian tersenyum tipis, lalu bersandar di kursi. “Karena sekarang aku sudah punya keberanian. Dan aku pikir… kamu juga sudah berbeda. Aku lihat kamu lebih tenang, lebih terbuka. Dan aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lagi, Lia.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan. Eliana merasakan hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya. Kata-kata Adrian seolah menyusup masuk ke dalam ruang kosong yang dulu pernah ia jaga rapat-rapat.
Ia menghela napas pelan, lalu menatap Adrian. “Jujur… aku nggak nyangka Pak Adrian simpan cerita seperti itu. Aku pikir dulu ya… kamu nggak pernah peduli.”
Adrian tertawa kecil. “Salah besar kalau kamu berpikir begitu. Justru karena aku peduli, makanya aku memilih untuk tidak mengganggu jalanmu. Tapi sekarang, izinkan aku ada di sampingmu. Bukan hanya sebagai rekan kerja… tapi lebih dari itu.”
Eliana terdiam. Ada perasaan hangat yang menyelinap di dadanya. Bagian dirinya yang dulu merasa hampa kini perlahan terasa terisi. Ia tidak langsung memberi jawaban, namun senyum kecil yang mengembang di bibirnya membuat Adrian paham bahwa harapannya tidak sia-sia.
Sore itu menjadi awal dari babak baru bagi Eliana—bukan hanya dalam pekerjaannya, tapi juga dalam hatinya. Adrian, lelaki yang diam-diam menyimpannya dalam hati sejak dulu, kini akhirnya berani membuka semua. Dan Eliana, untuk pertama kalinya, tidak menolak kehadiran seseorang di ruang hatinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar