Dongeng Si Cikal 24

Dongeng Si Cikal Bab 24 di blog Cerita Kemuning


Bab 24. Janji Baru


Hari itu, halaman rumah mama di Bogor dipenuhi suara riuh tawa, doa, dan isak haru. Eliana berdiri anggun dengan kebaya putih sederhana, rambut disanggul rapi dengan memakai adat sunda, wajahnya bercahaya meski air matanya sesekali menetes. Di sampingnya, Adrian berdiri tegap dengan setelan jas hitam yang membalut dirinya, matanya tak lepas memandang Eliana dengan penuh kebanggaan dan cinta.


Akad nikah berlangsung khidmat. Suara penghulu bergema, lalu diikuti sahutan para saksi yang mengucap “sah!” serempak. Tepuk tangan bergemuruh, air mata bahagia mengalir, dan mama Eliana memeluk putrinya erat-erat sambil berbisik, *“Kamu sudah sampai di titik ini, Nak. Mama bangga sekali sama kamu.”*


Namun, di antara kerumunan, Eliana melihat sosok yang sudah lama tak ia jumpai. Papanya. Rambutnya sudah lebih banyak beruban, wajahnya tak sekuat dulu, dan ada sorot mata penuh penyesalan yang berusaha ia sembunyikan. Saat acara pamitan pengantin, papa berdiri paling depan. Tangannya gemetar ketika menyentuh pundak Eliana dan Adrian.


“Papa…,” suara Eliana bergetar.


Papa tersenyum samar, meski bibirnya kaku. “Selamat ya, Nak… Papa minta maaf. Maaf sudah jadi papa yang gagal untukmu. Tapi Papa selalu berdoa, semoga kamu bahagia.”


Air mata Eliana menetes. Ia menggenggam tangan papa yang dingin, lalu berkata lirih, “Papa… aku sudah memaafkanmu. Aku juga anak Papa, dan aku tahu Papa juga manusia biasa. Jadi, hiduplah dengan baik Papa.”


Pelukan mereka terjadi—singkat tapi penuh makna. Semua orang yang melihat ikut terharu. Mama Eliana hanya bisa menghapus air matanya, melihat kedamaian itu akhirnya datang. Dan Mama Eliana berharap, Papa Eliana dapat melanjutkan hidup tanpa dendam lagi.


---


Setelah acara usai, Eliana dan Adrian duduk di kursi pengantin, menatap semua tamu yang sudah mulai berpamitan. Malam itu, Bogor terasa hangat dengan lampu-lampu taman yang berkelap-kelip. Eliana menoleh pada Adrian, tersenyum.


“Aku nggak pernah nyangka, semua perjalanan panjang dan sakit itu membawaku sampai ke titik ini,” bisiknya.


Adrian meraih tangannya. “Aku juga nggak nyangka bisa berdiri di sampingmu. Tapi aku tahu satu hal, Lia. Mulai hari ini… aku janji, aku nggak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian lagi.”


Mata Eliana berkaca-kaca. “Dan aku janji… aku akan jadi istri yang setia, dan kelak jadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Aku nggak mau mereka merasakan luka yang pernah aku alami.”


Adrian mengecup keningnya lama, penuh kelembutan.


---


Beberapa hari kemudian, pesawat menuju Surabaya mengudara. Eliana duduk di samping jendela, memandang awan-awan putih yang berarak. Tangannya digenggam erat oleh Adrian. Senyum merekah di wajahnya—bukan lagi senyum yang ditutupi luka, melainkan senyum tulus dari hati yang akhirnya menemukan tempatnya pulang.


Ia memejamkan mata sebentar, seakan mendengar bisikan kecil Mbak Ira dan Eliana kecil di dalam dirinya:


“Kamu sudah sampai, Eliana. Kamu sudah mengisi ruang kosong itu. Sekarang jalani hidupmu dengan bahagia.”


Air mata haru mengalir, tapi Eliana tersenyum. Ia menoleh ke arah Adrian. “Aku siap. Kita mulai lembaran baru.”


Adrian tersenyum hangat. “Bersama-sama, sampai tua.”


Pesawat terus melaju menembus awan, seolah melukiskan awal perjalanan baru mereka. Drama hidup yang penuh luka, air mata, dan perjuangan kini berakhir di satu kata sederhana—bahagia.


---

Epilog

---


Epilog – Beberapa Tahun Kemudian


Langit sore di Surabaya berwarna keemasan. Di sebuah rumah dengan taman kecil penuh bunga, terdengar tawa ceria anak-anak berlarian. Seorang bocah perempuan berumur lima tahun, rambutnya dikuncir dua, berlari ke arah Eliana sambil membawa boneka.


“Mamaaa, lihat! Boneka ini mau ikut main ayunan!” serunya polos.


Eliana tertawa, jongkok, lalu meraih putrinya dalam pelukan. “Hati-hati, Sayang. Kalau jatuh nanti bonekanya nangis.”


Tak jauh dari sana, seorang bocah laki-laki berumur tiga tahun berlari mengejar kupu-kupu dengan riang. Adrian memperhatikan sambil tersenyum, lalu menghampiri Eliana, menyampirkan tangannya ke bahu istrinya.


“Lia,” ucapnya lembut, “lihat mereka. Janji kita terwujud.”


Eliana menatap kedua anak mereka yang tertawa lepas. Air matanya menetes pelan, tapi kali ini bukan air mata luka—melainkan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Iya, Rian… kita berhasil jadi orang tua yang baik. Mereka nggak perlu tahu luka masa lalu orang tuanya. Mereka hanya perlu tahu kalau mereka dicintai.”


Di teras rumah, mama Eliana duduk sambil menimang cucu bungsu yang masih bayi. Senyumnya hangat, seolah semua penyesalan masa lalu telah luruh, diganti rasa syukur.


Angin sore bertiup pelan, membawa harum bunga melati dari taman. Eliana menggenggam tangan Adrian erat-erat.


“Terima kasih, Mas Rian… sudah menepati janji. Aku bahagia.”


Adrian menunduk, mencium keningnya. “Sampai kapan pun, Lia. Sampai kita menua bersama.”


Kamera seakan menyorot dari kejauhan: keluarga itu duduk di teras rumah, tawa anak-anak bergema, bunga-bunga bergoyang diterpa angin.


Sebuah akhir yang bukan hanya tentang menutup luka masa lalu, tetapi juga tentang membuka pintu bagi generasi baru untuk tumbuh dalam cinta.


---


TAMAT



"Semoga cerita ini bisa menjadi teman bacaan yang menyenangkan. Sampai jumpa di kisah berikutnya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar