Bab 21. Kenyataan yang Terungkap
Suara detak mesin monitor terdengar pelan, beriringan dengan bunyi tetesan infus yang jatuh satu demi satu. Cahaya lampu putih rumah sakit terasa menusuk mata ketika Eliana perlahan membuka kelopak matanya. Pandangannya kabur, kepalanya terasa berat, dan tubuhnya kaku seperti baru saja ditarik dari kedalaman lautan mimpi.
“Eli…” suara itu lirih, serak, penuh rasa lega sekaligus haru.
Ketika matanya mulai fokus, sosok yang paling ia rindukan kini duduk di samping ranjangnya. Mama, dengan wajah yang kini lebih berkerut dari yang ia ingat, menatapnya dengan mata sembab. Mata itu jelas habis menangis berhari-hari, namun tetap penuh kasih.
“Mama…?” suara Eliana pecah, ia terkejut melihat dirinya terbaring di atas ranjang yang penuh dengan peralatan medis. Infus menancap di tangannya, selang oksigen masih menempel di hidung, dan monitor detak jantung menunjukkan grafik yang stabil namun lambat.
Mama langsung menggenggam tangannya erat. “Alhamdulillah… kamu sadar juga, Nak. Mama hampir kehilangan kamu…” Air mata kembali jatuh, menetes ke punggung tangan Eliana.
Eliana ingin menjawab, ingin menenangkan, namun tenggorokannya kering. Hanya lirih suara seraknya yang terdengar, “Kenapa… aku di sini…? Apa yang terjadi…?”
Mama mengusap kening anaknya pelan, mencoba menenangkan. “Kamu pingsan lama, Nak. Dokter bilang kamu koma… sudah satu minggu. Mama… hampir putus asa.”
Eliana terdiam, hatinya bergemuruh. *Satu minggu?* Padahal, dalam ruang lain yang ia alami sebagai Mbak Ira, waktu itu terasa berbulan-bulan. Semua percakapan, perjalanan, dan rasa hangat itu nyata baginya. Ia sempat merasa ragu, apakah semuanya hanya mimpi panjang atau sebuah kenyataan lain yang Tuhan izinkan untuknya.
Air mata menetes di sudut matanya. “Ma… aku… aku merasa aku pergi jauh… sangat jauh…” bisiknya, suaranya bergetar.
Mama menunduk, mencium kening Eliana lembut. “Yang penting sekarang kamu sudah kembali, Eli. Mama nggak peduli sejauh apa kamu pergi… asal kamu kembali ke Mama.”
Tangis keduanya pecah, menyatu dalam pelukan yang terbatas oleh selang infus dan kabel monitor. Eliana merasakan hangat tubuh Mama yang nyata, jauh berbeda dari hangat yang ia alami di dunia bersama Mbak Ira. Namun justru karena itu, ia sadar bahwa ruang kosong yang selama ini ada di hatinya benar-benar telah terisi.
Beberapa saat kemudian, dokter masuk memeriksa. Ia tampak lega melihat Eliana sudah membuka mata. “Syukurlah, pasien sudah sadar. Kondisinya stabil. Sesuai catatan, koma berlangsung selama tujuh hari. Untung tidak lebih lama.”
Mama mengangguk penuh rasa syukur, sementara Eliana masih termenung. *Tujuh hari di sini… tapi di sana, berbulan-bulan.* Hatinya bergetar. Ia mulai mengerti: Tuhan memberinya ruang waktu berbeda hanya untuk memastikan dirinya siap, untuk menutup luka lama yang hampir merenggut hidupnya.
Ketika dokter keluar, Eliana menatap Mama dengan mata yang masih basah. “Ma… terima kasih sudah nungguin aku. Maaf bikin Mama khawatir…”
Mama tersenyum dengan sisa air mata. “Kamu nggak perlu minta maaf, Nak. Yang penting sekarang kamu pulih. Mama nggak akan kemana-mana. Selama Mama masih ada, kamu nggak sendirian.”
Saat Mama masih menggenggam tangannya erat, Eliana memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak itu, samar-samar ia mendengar suara yang sangat ia kenal—suara lembut Mbak Ira.
“Eli… jangan takut. Aku sudah menemanimu sejauh ini. Sekarang, waktunya kamu berdiri dengan kakimu sendiri. Jagalah Mama baik-baik. Jangan biarkan kesedihan lama merenggut masa depanmu. Kamu kuat, Eli… lebih kuat dari yang kamu kira.”
Eliana tersenyum tipis di tengah tangisnya. Pesan itu bergema jelas, seperti bisikan terakhir yang sengaja ditinggalkan di hatinya. Ia tahu, meski sosok itu sudah pergi, Mbak Ira akan selalu ada dalam dirinya.
Perlahan ia membuka mata kembali, menatap Mama yang masih setia di sampingnya. Dengan suara lemah namun tegas, ia berkata,
“Ma… aku janji. Aku nggak akan menyerah lagi.”
Mama terdiam sejenak, lalu tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. “Itu yang Mama tunggu, Nak.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eliana merasa benar-benar utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar