Dongeng Si Cikal 20

Dongeng Si Cikal Bab 20 di blog Cerita Kemuning


Bab 20. Perpisahan


Malam itu terasa berbeda. Angin yang biasanya membawa kesejukan kini hanya meninggalkan keheningan. Eliana kecil duduk di ayunan tua di halaman rumah, menatap langit yang dihiasi bintang redup. Ia sudah lama merasa kalau sesuatu akan berubah. Dadanya terasa berat, meski tidak ada yang jelas terjadi.


Tiba-tiba, langkah lembut terdengar mendekat. Mbak Ira datang dengan senyum tenang, tapi ada gurat sendu yang tak bisa ia sembunyikan.


“Eliana…” panggilnya lembut.

Eliana kecil menoleh cepat. “Mbak! Aku pikir malam ini Mbak nggak akan datang lagi.”


Mbak Ira duduk di sampingnya, membelai rambut Eliana kecil. “Aku selalu datang, kan? Selalu menemanimu di saat kamu merasa sepi.”


“Tapi… malam ini rasanya beda.” Eliana kecil menunduk, menahan air mata. “Kenapa dada aku berat banget? Seperti… aku takut kehilangan.”


Mbak Ira menarik napas panjang. “Karena waktuku sudah hampir habis, Dik. Aku harus segera pergi.”


Eliana kecil langsung memeluk Mbak Ira erat-erat. “Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian, Mbak. Aku nggak bisa… aku takut!”


Pelukan itu dibalas Mbak Ira dengan hangat, tapi ia tetap tersenyum meski matanya berkaca-kaca. “Eliana… dengarkan aku baik-baik. Tugas Mbak di sini sudah selesai. Kamu sudah belajar banyak hal. Kamu sudah lebih berani, sudah lebih kuat. Dan yang terpenting, kamu sudah mengisi ruang kosong di hati yang dulu selalu menyakitimu.”


“Tapi aku masih butuh Mbak…” suara Eliana kecil pecah. “Kalau Mbak pergi, siapa yang akan nemenin aku? Siapa yang akan ngajarin aku?”


Mbak Ira menempelkan telapak tangannya di dada Eliana kecil. “Aku tidak benar-benar pergi. Aku akan selalu ada di sini… di dalam hatimu. Setiap kali kamu merasa takut, setiap kali kamu ingin menyerah, ingatlah suaramu sendiri yang sudah berubah kuat. Itu artinya aku masih ada bersamamu.”


Eliana kecil menggeleng keras-keras, air matanya tumpah. “Aku nggak mau cuma bayangan, Mbak! Aku mau Mbak beneran ada di samping aku!”


Mbak Ira tersenyum getir. “Kamu tahu tidak? Kehadiranmu adalah alasan kenapa aku bisa bertahan sejauh ini. Tapi sekarang, sudah waktunya kamu sendiri yang melanjutkan langkah. Dunia ini menunggumu, Eliana. Masa depanmu menunggumu.”


Hening sejenak. Angin malam berembus lembut, seperti ikut menyaksikan perpisahan itu.


“Eliana…” suara Mbak Ira merendah, hampir seperti bisikan. “Aku percaya kamu bisa. Kamu akan jadi gadis yang tangguh, lebih dari yang kamu bayangkan. Dan kamu tidak sendirian. Ada mama yang selalu sayang sama kamu. Jaga mama, ya?”


---


Eliana kecil masih terisak dalam pelukan Mbak Ira, meski akhirnya berusaha mengerti. Mbak Ira mengusap rambutnya dengan lembut, senyum tipis di wajahnya tetap hangat.


“Aku selalu ada di hatimu, Dik,” bisik Mbak Ira lirih. “Kalau kamu merasa lelah, ingatlah kalau aku pernah ada di sini untukmu. Sekarang giliran kamu yang menjaga mama, ya?”


Eliana kecil mengangguk meski dengan air mata deras. “Aku janji, Mbak. Aku janji nggak akan nangis lagi. Aku akan kuat buat Mama.”


Mbak Ira tersenyum, lalu pandangannya beralih pada sosok Mama Eliana yang berdiri tak jauh dari sana. Dengan penuh arti, ia berkata pelan, “Tolong jaga anakmu dengan baik. Ia sudah tumbuh kuat. Aku pamit.”


Pelukan terakhir itu hangat sekaligus menyayat hati. Dan setelah itu, perlahan-lahan cahaya mulai menyilaukan pandangan Eliana kecil. Semua terasa ringan, hangat, lalu menghilang begitu saja.


---


Eliana tersentak. Matanya terbuka lebar. Pandangan pertama yang ia lihat adalah atap putih rumah sakit dengan cahaya lampu neon yang menyilaukan. Tubuhnya terasa berat, ada selang infus di tangan, dan suara detak mesin medis terdengar teratur di telinganya.


“Kenapa aku di sini...?” batinnya tercekat. Napasnya tersengal.


Lalu, di samping ranjang, ia melihat wajah seseorang yang sangat dirindukannya. Wajah cantik itu kini mulai dihiasi kerutan, dengan kedua mata sembab seolah baru saja menangis lama.


“Mama...” suara Eliana serak, nyaris hanya berupa bisikan.


Mama terperanjat, tubuhnya sedikit gemetar. Air mata yang tadi hanya tertahan langsung mengalir deras. “Eliana...? Eliana, kamu sadar, Nak? Ya Tuhan... akhirnya kamu bangun juga...”


Mama langsung meraih tangan Eliana yang dingin dengan kedua tangannya. Hangat, penuh kasih, dan penuh kerinduan.


Eliana menatap lekat wajah mamanya, mata sendunya, kerutan yang menunjukkan betapa keras perjuangan hidup tanpa kasih sayang dari suaminya dulu. Air matanya ikut jatuh, kali ini bukan karena lemah, tapi karena syukur.


“Mama... maafin Eliana... Ma... Eliana janji sekarang Eliana akan selalu ada buat Mama,” ucapnya terbata, suaranya parau.


Mama tersenyum dalam tangis. “Nggak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Mama cuma butuh kamu sehat, itu saja. Tuhan sudah kasih kita kesempatan lagi... jangan sia-siakan, ya.”


Eliana memejamkan mata sebentar, meresapi hangatnya genggaman tangan Mama. Ia tahu, perjalanan hidupnya belum selesai. Tapi kali ini, ia bangun dengan hati yang baru—lebih kuat, lebih tabah, dan dengan janji untuk menjaga satu-satunya orang yang paling berarti dalam hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar