![]() |
| Cerita seri pendek Nayera dan Abimanyu - Blog Cerita Kemuning |
Bab 2 – Lelaki Magang di Toko Keluarga
Pagi itu, pusat grosir bahan kue milik keluarga Nayera mulai ramai didatangi pelanggan. Suara pintu kaca berderak, aroma manis dari vanili dan cokelat bubuk menyeruak, bercampur dengan wangi tepung terigu yang khas. Rak-rak tinggi berjejer rapi, penuh dengan gula, margarin, hingga berbagai kemasan keperluan pembuat roti.
Yera, seperti biasa, sudah berdiri di belakang meja kasir. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya segar meski semalaman ia baru menyelesaikan tugas kuliah. Ia menyapa pelanggan dengan senyum ramah, membantu mereka menghitung belanjaan, lalu mengarahkan Andri untuk mengangkat karung-karung besar yang terlalu berat.
“Yera, tolong cek stok cokelat bubuk ya, kayaknya tinggal sedikit,” seru Mama dari balik meja pencatatan pesanan grosir.
“Baik, Ma!” jawab Yera ceria. Ia segera bergegas ke gudang, mengambil buku catatan kecilnya. Namun, di balik keceriaannya, sesekali rasa pening menyerang kepala. Ia menepuk-nepuk pelipisnya sebentar, lalu kembali melanjutkan aktivitas. Tidak ada seorang pun yang ia biarkan melihat kelelahannya.
Hari itu berbeda dari biasanya. Seorang pemuda berdiri kikuk di depan pintu masuk toko, membawa map berisi beberapa dokumen. Tingginya menjulang, kulitnya kecokelatan khas anak pesisir, dengan tatapan mata yang teduh tapi penuh rasa ingin tahu.
“Permisi, ini toko grosir bahan kue milik Pak Surya Mahendra, benar?” tanyanya sopan, sambil sedikit menunduk.
Ayah Yera, yang baru saja keluar dari ruang belakang, mengangguk. “Betul, Nak. Kamu siapa?”
“Saya Abimanyu, Pak. Mahasiswa Universitas Nusantara. Saya dapat info ada lowongan kerja paruh waktu di sini. Dosen pembimbing saya yang menyarankan untuk mencoba.”
Pak Surya tersenyum. “Oh iya, iya. Kamu yang kirim CV kemarin lewat email itu, ya? Baik, mari ikut saya ke belakang sebentar.”
Yera yang baru keluar dari gudang, menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan pemuda itu sejenak. Ada sesuatu dalam caranya menunduk sopan, juga dalam matanya yang jernih, yang membuat Yera terdiam sepersekian detik.
“Yera, ini Abimanyu. Mulai hari ini dia bantu-bantu di sini, sambil belajar. Tolong kenalkan sistem kasir sama alur kerja, ya,” ujar Pak Surya setelah berbicara sebentar dengan Abimanyu.
“Baik, Pa.” Yera tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangan. “Halo, saya Nayera. Tapi biasanya dipanggil Yera aja.”
Abimanyu menjabat tangannya sekilas. “Senang berkenalan, Yera. Saya Abimanyu. Bisa panggil Bima kalau lebih mudah.”
Andri yang sedari tadi sibuk menata dus biskuit, langsung mendekat dengan wajah penasaran. “Wah, Mas Bima ini mahasiswa juga? Fakultas apa?”
“Teknik Elektro dan Informatika,” jawab Abimanyu singkat.
Andri bersiul kecil. “Wih, keren! Pasti pinter komputer, ya?”
“Belum tentu juga,” Abimanyu tersenyum rendah hati. “Saya masih banyak belajar. Tapi kalau soal medsos, promosi online, sedikit-sedikit bisa lah.”
Kalimat itu membuat mata Andri berbinar. Ia memang sedang mencoba belajar pemasaran online untuk membantu grosir keluarga mereka, tapi selalu bingung harus mulai dari mana.
---
Hari-hari berikutnya, Abimanyu cepat berbaur dengan ritme kerja di toko. Ia tidak segan mengangkat karung tepung yang berat, menyusun rak, atau bahkan melayani pembeli kecil yang membeli sekantong gula. Senyumnya selalu ramah, tutur katanya lembut.
Yera memperhatikan semua itu diam-diam. Ia kagum pada sikap rendah hati pemuda itu. Tidak ada kesan sombong, padahal dari ceritanya, Abimanyu berasal dari keluarga nelayan besar yang punya banyak kapal.
“Mas Bima,” panggil Andri suatu sore. “Kalau jualan bahan kue di medsos, enaknya gimana ya?”
Abimanyu yang sedang menyusun margarin di rak, menoleh. “Pertama, kita harus tahu siapa target pembelinya. Ibu-ibu rumah tangga, pemilik toko roti, atau mahasiswa yang suka baking. Dari situ kita bisa buat konten yang sesuai. Misalnya foto bagus, caption menarik, atau bahkan bikin video cara pakai bahan tertentu.”
Andri mengangguk-angguk semangat. “Wah, keren! Aku boleh belajar lebih banyak, kan?”
“Tentu. Besok bawa laptop, kita coba bikin akun khusus untuk grosir ini,” jawab Abimanyu.
Yera yang mendengarnya dari balik kasir, tersenyum kecil. Ada kehangatan aneh di dadanya. Entah kenapa, ia merasa Abimanyu tidak hanya sekadar pegawai magang. Ia membawa semacam cahaya baru ke dalam kehidupan mereka.
---
Malam harinya, ketika toko sudah tutup, Yera membantu Mamanya merapikan catatan penjualan. Rasa pusingnya kembali menyerang, kali ini lebih kuat.
“Yera, kamu pucat sekali. Capek, ya?” tanya Mama khawatir.
Yera tersenyum menenangkan. “Enggak, Ma. Cuma agak pusing. Mungkin kurang minum tadi.”
Mama mengelus rambutnya. “Jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Kamu kan juga kuliah. Kalau lelah, bilang saja.”
Yera mengangguk, padahal dalam hatinya ia tahu ada yang tidak beres. Sudah beberapa minggu ini pusing dan rasa lelah sering datang tanpa sebab. Tapi ia memilih diam. Ia tidak ingin membuat keluarganya cemas.
---
Keesokan paginya, Abimanyu datang lebih awal dari biasanya. Ia membawa sebungkus ikan asap dari kampung halamannya, hadiah kecil untuk keluarga Yera.
“Ini, Bu. Oleh-oleh dari rumah. Semoga suka,” katanya sambil menyerahkan bungkusan pada Mama Yera dan Andri.
Mama tersenyum lebar. “Wah, terima kasih banyak, Bima. Repot-repot bawa ini segala.”
Yera yang baru keluar dari kamar belakang melihat kejadian itu. Ia tidak bisa menahan senyum saat melihat betapa tulusnya pemuda itu.
Hari itu juga, Abimanyu membantu Andri membuat akun media sosial untuk toko mereka. Ia mengajarkan cara mengambil foto produk dengan pencahayaan alami, menulis caption yang menarik, dan mengunggahnya secara konsisten.
“Coba upload foto tepung ini, kasih caption: ‘Tepung segar, kualitas premium untuk roti selezat buatanmu. Tersedia di Grosir Laras Kue.’” ujar Abimanyu sambil menunjuk layar.
Andri mengikuti dengan antusias. “Wah, langsung ada yang komentar, Mas!”
“Bagus. Nanti lama-lama bisa banyak yang pesan lewat online,” Abimanyu menjelaskan.
Yera yang mengamati dari meja kasir, merasa dadanya hangat lagi. Abimanyu tidak hanya membantu fisik, tapi juga memberikan ide-ide baru yang sangat berharga bagi usaha keluarga mereka.
Namun, tiba-tiba pandangan Yera berkunang-kunang. Ia cepat-cepat menopang meja agar tidak jatuh. Untung saja tidak ada yang menyadari selain Abimanyu, yang kebetulan menoleh ke arahnya.
“Yera, kamu baik-baik saja?” tanya Abimanyu khawatir, langkahnya langsung mendekat.
Yera buru-buru tersenyum. “Ah, iya. Cuma sedikit pusing. Enggak apa-apa kok.”
Tatapan Abimanyu seolah ingin menggali lebih dalam, tapi ia tidak memaksa. Hanya berkata pelan, “Kalau butuh bantuan, jangan dipendam sendiri.”
Kata-kata itu membuat hati Yera bergetar. Ia belum pernah mendengar seseorang yang bukan keluarganya begitu peduli padanya.
---
Hari-hari berjalan dengan lebih sibuk. Penjualan grosir perlahan meningkat berkat promosi online. Andri semakin semangat belajar, Abimanyu semakin akrab dengan keluarga, dan Yera… semakin sulit mengabaikan perasaan aneh di hatinya.
Di tengah tawa, pekerjaan, dan kehangatan keluarga, ia tidak sadar bahwa penyakitnya terus berkembang diam-diam.
Namun satu hal yang ia sadari: kehadiran Abimanyu membuat hidupnya terasa lebih berarti, seakan bunga liar yang tumbuh di sela bebatuan, memberi warna baru di taman hatinya.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar