Pasangan Lebih Muda, Tetangga Lebih Tua

Ilustrasi Septianingtyas dan Damar bergandengan tangan di depan ibu-ibu julid tetangga kontrakan.
Ilustrasi Septi, Damar, dan Ibu-ibu tetangga kontrakan - Blog Cerita Kemuning



Suasana Kontrakan


Sebuah gang kecil di pinggiran kota Bandung. Deretan kontrakan berdiri rapat, motor berjejer di depan pintu, suara anak-anak bermain, dan bau gorengan dari warung depan gang.


Di teras salah satu kontrakan, Bu Euis (paling vokal, ketua geng julid), Bu Ijah (suka salah info), dan Bu Tati (paling cerewet, gaya sok tahu) sedang duduk di bangku kayu sambil ngemil keripik. Mereka adalah “grup arisan gosip” andalan kontrakan.


---


Pagi, Septi Berangkat Kerja


Septi keluar dengan seragam kerjanya: kemeja putih rapi, celana hitam, dan tas selempang. Wajahnya kalem. Baru 23 tahun, tapi sikapnya dewasa. Ia menyapa seadanya.


Septi:

“Assalamualaikum, Bu… permisi.”


Bu Tati (langsung nyeletuk):

“Waalaikumsalam. Ih, rapih banget, Sep. Mau jadi manager ya?”


Bu Ijah (nambahin sambil ngunyah):

“Kerja di toko baju aja bajunya gaya, kayak mau fashion show.”


Bu Euis (senyum sinis):

“Wajar lah, Bu. Kan pacarnya lebih muda. Harus keliatan fresh terus, biar nggak ditinggal.”


Ibu-ibu ketawa cekikikan. Septi cuma senyum kikuk lalu jalan cepat-cepat keluar gang.


---


Sore, Damar Jemput Septi


Sore hari, jalanan ramai. Motor matic merah berhenti di depan toko besar. Damar turun dengan pede: anak muda umur 20 tahun, baru kerja di pabrik Honda, gayanya kasual tapi sok gentleman.


Damar:

“Septi! Udah selesai? Aku jemput nih.”


Septi keluar sambil membawa tas. Wajahnya sedikit malu karena dilihat rekan kerja.


Septi:

“Dam, jangan teriak-teriak gitu… malu ah.”


Damar (sengaja keras):

“Biarin! Aku pengen semua orang tahu, aku pacarnya Septianingtyas!”


Orang-orang di sekitar senyum-senyum. Septi menunduk, pipinya memerah. Damar ngambil tasnya, lalu dengan gaya sok manis, mengelap jok motor pakai saputangan.


Damar:

“Nih, duduk yang nyaman ya, Neng. Hati-hati, kalo jatuh aku tanggung jawab seumur hidup.”


Septi (bisik cepat):

“Dam! Aduh, kebanyakan gaya!”


Mereka berdua naik motor, lalu melaju menuju kontrakan.


---


Pulang Lewat Kontrakan


Motor berhenti di depan kontrakan. Suara knalpot langsung bikin ibu-ibu yang lagi ngerumpi heboh.


Bu Euis (melirik tajam):

“Nah tuh, dateng lagi. Si pacar bocil jemput.”


Bu Ijah:

“Eh tapi ganteng juga ya. Badannya tinggi, kayak artis FTV.”


Bu Tati (cengar-cengir):

“Ganteng mah ganteng, tapi umurnya kan di bawah Septi. Itu kayak anak bawang pacaran sama senior!”


Septi turun dari motor. Damar dengan sok gentle, langsung sigap pegangin tangan Septi.


Damar (keras, sengaja):

“Hati-hati turun, sayang. Kamu pasti capek banget kerja seharian. Tenang, aku siap pijetin kapan aja.”


Ibu-ibu langsung refleks batuk palsu.


Bu Euis (bisik ke Bu Tati):

“Astaga, itu bocah ngomong ‘sayang’ di depan umum!”


Bu Tati (geleng-geleng):

“Ini kontrakan atau sinetron? Aku sampai lupa jemuran belum diangkat.”


Anak-anak kecil yang main petak umpet langsung teriak:


Anak-anak:

“Cieeee kakak sayang kakak Septiiiii!”


Septi makin malu, wajahnya merah padam.


Septi (pelan ke Damar):

“Dam, udah ah. Malu diliatin orang sekampung.”


Damar (santai):

“Biarin. Aku kan serius sama kamu. Umur cuma angka. Hati aku buat kamu, Sep!”


Ibu-ibu melongo mendengar ucapan itu.


---


Malam Arisan Gosip


Malamnya, di rumah Bu Tati ada arisan kontrakan. Semua ibu-ibu hadir. Sambil minum teh, obrolannya pasti balik ke Septi dan Damar.


Bu Tati:

“Eh, kalian denger tadi siang? Damar bilang ‘umur cuma angka’! Hadeuh, anak sekarang puitis sekali.”


Bu Ijah (lebay):

“Ya ampun, jangan-jangan mereka itu pacaran beneran serius. Tapi, apa kuat Septi punya pacar lebih muda? Biasanya kan kebalik.”


Bu Euis (julid tingkat dewa):

“Lha, itu yang aku bilang dari kemarin. Septi tuh takut jomblo kali, jadi nerima bocil. Nanti kalau bosen gimana? Yang rugi siapa? Ya perempuannya!”


Semua ibu-ibu mengangguk dramatis, seolah sedang rapat akbar.


Tiba-tiba pintu kebuka, Damar muncul sambil bawa plastik besar.


Damar:

“Ibu-ibu, permisi… saya bawain bala-bala sama cireng buat cemilan. Biar arisannya makin rame.”


Ibu-ibu langsung kaget, wajah merah kayak ketahuan.


Bu Tati (gagap):

“Eh… iya, makasih ya, Dam. Kamu baik banget…”


Damar (senyum nakal):

“Iya, kan calon menantu harus nyenengin semua calon mertua.”


Suasana langsung hening. Ibu-ibu saling pandang, pura-pura batuk.


Bu Ijah (pelan, salah tingkah):

“Calon… menantu?”


Damar:

“Iya dong. Saya serius sama Septi. Jadi saya anggap ibu-ibu di sini orang tua kedua saya.”


Ibu-ibu ngakak nervously, pura-pura nggak malu.


---


Fitnah Salah Kaprah


Beberapa hari kemudian, gosip baru muncul. Katanya, Septi sering pulang malam sama Damar. Padahal kenyataannya mereka cuma mampir makan batagor.


Bu Ijah (serius):

“Kata tukang cilok, Septi sama Damar pulang malem terus. Jangan-jangan… hmm, kalian ngerti lah.”


Bu Euis:

“Hah? Bahaya ini. Kalau bener, bisa bikin nama kontrakan kita jelek.”


Bu Tati (lebay):

“Ya ampun, jangan-jangan mereka udah… astaghfirullah, nggak berani ngomong deh.”


Gosip makin liar. Septi jadi bahan omongan.


Siang itu, Septi sedang jemur baju. Beberapa tetangga melirik-lirik sambil bisik-bisik. Septi merasa risih.


Septi (dalam hati):

“Aduh, kenapa hidup aku jadi kayak infotainment? Rasanya pengen pindah kontrakan aja.”


Tiba-tiba Damar datang bawa gitar. Dia duduk di depan kontrakan, lalu nyanyi keras-keras.


Damar (teriak sambil nyanyi ngawur):

“Buat tetangga julid, jangan salah paham. Aku sama Septi itu serius, nggak pernah aneh-aneh. Pulang malem paling cuma makan batagor!”


Semua orang keluar rumah, kaget sekaligus ngakak. Ibu-ibu buru-buru masuk rumah pura-pura nyapu. Anak-anak malah tepuk tangan.


---


Balik Damai, Tetap Julid


Malamnya, Septi dan Damar duduk berdua di teras kontrakan sambil makan cilok.


Septi:

“Dam, kadang aku capek banget jadi bahan gosip.”


Damar (nyengir):

“Yaudah, biarin aja. Anggap aja kita lagi main sinetron. Yang penting, aku sama kamu happy.”


Septi (senyum malu):

“Ya ampun, Dam… kamu tuh bikin gemes.”


Damar (sok puitis):

“Pacar boleh lebih tua, tapi cintaku nggak pernah keduluan orang lain.”


Tiba-tiba anak-anak kecil teriak lagi:


Anak-anak:

“Cieee pacaran cieee!”


Semua tetangga ketawa lagi. Kontrakan kembali heboh dengan tawa, gosip, dan drama yang nggak ada habisnya.


---


Septi & Damar Menikah Muda


Hidup di kontrakan memang seperti menonton sinetron tanpa henti. Ada tokoh utama, tokoh antagonis, figuran yang selalu muncul kalau ada ribut-ribut, sampai “sutradara” alias pemilik kontrakan yang diam-diam jadi penentu jalan cerita. Begitu pula yang dialami Septianingtyas, atau akrab dipanggil Septi, gadis Sumedang yang bekerja di sebuah toko baju besar di pusat kota Bandung.


Septi sering jadi sasaran gosip ibu-ibu kontrakan karena pacaran dengan Damar, cowok Cirebon tiga tahun lebih muda darinya. Namun, dunia berbalik lebih cepat dari gosip ibu-ibu, karena tak lama kemudian, Damar melamar Septi dengan cara yang cukup mengejutkan.


---


Lamaran Ala Cucu Kyai


Awalnya Septi sendiri masih ragu. Bagaimana tidak? Dia baru 23 tahun, sedangkan Damar baru 20. Usia yang bagi sebagian orang dianggap terlalu muda untuk melangkah ke pelaminan. Tapi Damar datang dengan mantap, bawa serta keluarganya yang ternyata bukan keluarga sembarangan.


“Septi,” kata Damar waktu itu, “aku serius sama kamu. Aku nggak mau lama-lama pacaran. Kata Abah, kalau udah yakin, langsung halal.”


Septi terkejut mendengar kata “Abah”. Ia pikir Abah itu cuma panggilan biasa. Ternyata Abah yang dimaksud adalah Kyai besar di Cirebon, seorang tokoh agama yang sangat dihormati. Kyai itu dikenal sebagai sosok alim, sederhana, dan selalu menekankan pentingnya menjaga kehormatan.


Begitu kabar ini bocor ke telinga kontrakan, ibu-ibu langsung geger.


“Ih, pantesan aja ngebet banget si Damar. Cucu Kyai toh.”

“Berarti kita kalo ngegosipin mereka dosa, dong?”

“Ya nggak gitu juga, Bu. Namanya juga hiburan sore…”


Ibu Hajah, pemilik kontrakan yang netral, cuma tersenyum sambil menimang kunci rumah. “Udah, udah. Jangan kebanyakan komentar. Anak muda itu kalau serius, doakan aja lancar. Nggak usah ditambahin micin gosip.”


---


Pernikahan di Kampung


Akhirnya acara pernikahan dilaksanakan di kampung halaman Septi di Sumedang. Suasananya ramai luar biasa, khas pesta desa yang meriah.


  • Ada tenda biru dan kursi plastik yang kalau diduduki suka bunyi “kretek-kretek” bikin deg-degan.
  • Anak-anak kecil berlarian sambil rebutan balon, kadang masuk ke pelaminan cuma buat pegang-pegang bunga.
  • Ibu-ibu sibuk bergosip di pojok, komentarin dekorasi sampai makanan.


“Aduh, nasi kotaknya ayam goreng, ya? Kirain rendang.”

“Eh, itu kue sus-nya cuma satu per kotak ya? Pelit amat.”

“Tapi bajunya Septi cantik banget sih. Makanya kemarin keliatan sering ke salon, toh.”


Sementara itu, Damar kelihatan gugup di kursi pelaminan. Umurnya baru 20 tahun, tapi sudah duduk berdampingan dengan Septi yang tersenyum malu-malu.


Ada saja kelakuan tamu undangan yang bikin suasana komedi:


  • Seorang bapak salah antre, malah masuk jalur “keluarga mempelai” padahal dia cuma tetangga jauh yang nggak diundang resmi.
  • Seorang nenek tiba-tiba maju ke pelaminan cuma buat bilang, “Eh, ini yang laki-laki siapa, yang perempuan siapa?” karena matanya sudah rabun.


Tapi semua berlangsung meriah. Orang-orang desa ikut senang, meskipun ada juga yang berbisik-bisik, “Ih, muda banget ya. Ntar kalau ribut gimana?”


---


Balik ke Bandung: Ngontrak Satu Atap Jadi Pusat Gosip


Setelah menikah, Septi dan Damar kembali ke Bandung. Mereka memutuskan tinggal di kontrakan Septi, karena menurut ukuran kontrakan, tempat itu lumayan enak. Ada kamar mandi dalam, lantai keramik, dan dekat dengan warung Bu Wati yang jual gorengan lima ribu tiga. Gorengan bukan sembarang gorengan, di Bu Wati bakwan aja selebar tangan orang dewasa.


Begitu pasangan baru ini masuk kontrakan bersama-sama, suasana langsung panas.


“Ih, enak banget ya. Baru nikah udah langsung satu atap.”

“Padahal kita dulu ngontrak aja misah-misah dulu, nunggu ada rezeki.”

“Ya tapi kan Damar cucu Kyai. Pantes aja dapet fasilitas spesial.”


Septi cuma bisa senyum-senyum kecut. Ia tahu betul kalau jadi pengantin baru di lingkungan kontrakan padat itu berarti jadi bahan tontonan 24 jam. Bahkan waktu mereka menjemur handuk berdua, ada saja komentar.


“Lihat tuh, handuknya berdua. Romantis banget, ya Allah.”

“Kayak sinetron Indosiar.”


Yang lebih absurd lagi, waktu Damar nyapu halaman depan, seorang ibu nyeletuk, “Pantes rajin, Kyai kan ngajarin bersih-bersih hati sama halaman.”


---


Ibu Hajah, Sang Penjaga Kedamaian


Untungnya ada Ibu Hajah, pemilik kontrakan yang bijak. Ia selalu jadi penengah di antara komentar julid ibu-ibu lain.


Suatu sore, ketika gosip makin liar—ada yang bilang Septi “ngerebut” Damar karena usianya lebih tua—ibu Hajah turun tangan.


“Sudah, sudah. Jangan bikin fitnah. Saya tahu betul Septi anak baik-baik. Dari dulu ngontrak di sini nggak pernah bikin masalah. Kalau sekarang dia menikah, ya kita doakan saja. Namanya juga anak muda, kalau cinta ya disegerakan. Daripada pacaran lama, dosa, kan?”


Komentar itu membuat ibu-ibu terdiam sejenak. Walaupun setelahnya mereka masih bisik-bisik juga, setidaknya volume gosip agak menurun.


---


Hidup Baru, Drama Baru


Tentu saja, hidup pengantin baru di kontrakan tidak pernah sepi. Ada saja kejadian lucu sehari-hari:


  • Septi belajar masak sayur asem, tapi kepedesan karena salah ambil cabai rawit satu genggam. Akhirnya satu kontrakan kecium aroma cabe rebus.
  • Damar semangat pasang gorden baru, tapi salah ukuran, jadinya gorden cuma nutup setengah jendela.
  • Malam-malam listrik anjlok karena Damar colok rice cooker, setrika, dan charger HP sekaligus. Ibu-ibu kontrakan langsung teriak, “Damar, sekringnya jebol lagi!”


Namun di balik semua kekonyolan itu, terlihat jelas satu hal: Septi dan Damar saling melengkapi. Meski usia muda, mereka berusaha menjalani pernikahan dengan kompak.


---


Warna-warni Kontrakan


Bagi orang luar, menikah muda mungkin terlihat nekat. Bagi ibu-ibu kontrakan, itu sumber gosip tanpa habis. Tapi bagi Septi dan Damar, itu adalah awal kehidupan baru yang penuh perjuangan dan canda tawa.


Setiap hari ada saja komentar yang bikin geli:


 “Pengantin baru, jangan lupa pintunya dikunci.”

 “Kalau nanti punya anak, jangan lupa traktir satu kontrakan.”


Dan setiap kali gosip muncul, Ibu Hajah selalu jadi penutup manis:

“Sudahlah, namanya juga anak muda. Kita dulu juga pernah muda, kan?”


Begitulah kehidupan kontrakan di Bandung. Riuh, padat, penuh julid, tapi sekaligus hangat. Karena di balik semua gosip dan canda, selalu ada tawa yang membuat hidup jadi terasa lebih ringan.


---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar