![]() |
| Ketika niat diet harus berhadapan dengan nasi goreng pedas dan segelas moccachino. 🌶️☕😊 - Blog Cerita Kemuning |
Antara Sambal, Kopi, dan Niat yang Sering Kalah
Ada yang sama seperti aku?
Setiap kali bercermin, rasanya semangat diet langsung membuncah. Mulai membayangkan berat badan turun, baju lama muat lagi, dan badan terasa lebih ringan. Bahkan, di kepala sudah tersusun rencana yang begitu rapi. Besok makan lebih sehat. Besok kurangi gorengan. Besok berhenti minum kopi.
Tapi masalahnya... "besok" itu sepertinya hobi sekali pindah ke hari berikutnya.
Lucunya, semakin bertambah usia, aku semakin paham dengan tubuhku sendiri. Aku memang tipe orang yang kalau lagi banyak pikiran malah jadi lebih lahap makan. Tapi ternyata bukan itu saja. Ada dua kebiasaan lain yang juga sering bikin dietku jalan di tempat, yaitu makanan pedas dan kopi. Berkali-kali aku membuktikan, saat berhasil mengurangi keduanya, berat badanku ikut turun. Sayangnya, mengurangi itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dijalani.
Kalau aku berhenti makan pedas dan berhenti minum kopi, berat badanku bisa turun lumayan drastis.
Iya, sesederhana itu.
Sayangnya, mengetahui penyebab bukan berarti mudah menjalaninya.
Justru di situlah perjuangan sebenarnya dimulai.
Aku ini pecinta makanan pedas. Bukan sekadar suka, tapi benar-benar menikmati sensasi pedas yang menggigit tenggorokan. Ada kepuasan yang aneh setiap kali sambal mulai terasa membakar lidah. Rasanya seperti makan jadi lebih hidup.
Yang lebih parah lagi, menjelang datang bulan.
Entah kenapa, rasa ingin makan pedas itu meningkat berkali-kali lipat. Rasanya seperti ngidam. Dari pagi sudah kepikiran sambal. Lihat cabai di dapur saja rasanya sudah bahagia.
Kalau sedang seperti itu, niat diet biasanya langsung melambaikan tangan.
"Besok aja dietnya."
Kalimat yang sudah terlalu sering aku ucapkan.
Padahal aku tahu akhirnya seperti apa.
Perut mulai protes.
Lambung terasa tidak nyaman.
Kadang sampai diare.
Saat sakit, aku selalu berjanji pada diri sendiri.
"Udah deh, kapok. Habis ini nggak makan pedas lagi."
Janji itu terdengar sangat meyakinkan.
Saking yakinnya, aku sendiri hampir percaya.
Tapi setelah badan mulai enakan...
Ya sudah.
Balik lagi.
Sambal lagi.
Pedas lagi.
Seolah-olah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.
Kalau dipikir-pikir memang lucu. Manusia memang sering begitu ya? Sudah tahu sesuatu itu tidak baik untuk dirinya, tetap saja diulang lagi.
Bukan karena tidak sadar.
Tapi karena rasa nikmatnya sering kali lebih kuat daripada niatnya.
Lalu ada satu lagi "musuh" dietku.
Kopi.
Aku memang berusaha menjaga tubuh dengan rutin minum jamu, biasanya sekitar seminggu sekali. Walaupun rasanya tidak selalu bersahabat di lidah, aku tetap percaya jamu punya banyak manfaat untuk kesehatan.
Masalahnya...
Setelah minum jamu, pikiranku malah terbang ke secangkir kopi moccachino.
Aduh.
Membayangkan aromanya saja sudah bikin air liur menetes.
Wangi kopi itu memang punya kekuatan yang sulit dijelaskan. Belum lagi rasa manis berpadu pahitnya yang pas. Ditambah busa lembut di atasnya.
Selesai sudah.
Diet kembali kalah.
Kadang aku sampai menertawakan diri sendiri.
Niatnya hidup sehat.
Yang dicari malah kopi.
Sebenarnya aku bukan tipe orang yang mengejar bentuk tubuh sempurna. Bagiku, tubuh sehat jauh lebih penting daripada angka di timbangan.
Hanya saja, berat badan yang terlalu naik juga membuat badan terasa cepat lelah. Naik tangga sedikit ngos-ngosan. Bangun tidur rasanya pegal. Kadang pakaian favorit juga mulai terasa sempit.
Di situ biasanya semangat diet muncul lagi.
Lalu menghilang lagi.
Begitu terus seperti lingkaran yang tidak ada habisnya.
Mungkin memang aku tidak sendirian. Banyak orang punya hubungan yang rumit dengan makanan favoritnya. Ada yang sulit lepas dari gorengan, ada yang tidak bisa hidup tanpa minuman manis, dan ada juga yang seperti aku, selalu kalah oleh sambal dan kopi.
Kalau dipikir lagi, mungkin diet memang tidak harus selalu sempurna. Mungkin yang lebih penting adalah belajar mengurangi sedikit demi sedikit daripada memaksa berhenti total lalu menyerah di tengah jalan.
Siapa tahu nanti sambalnya cukup satu sendok, bukan setengah mangkuk.
Kopinya cukup sesekali, bukan setiap hari.
Setidaknya masih ada kemajuan, walaupun pelan.
Untuk saat ini, aku masih sering gagal.
Masih sering bilang mau diet besok.
Masih sering tergoda aroma kopi.
Masih sering mencari sambal ketika makan.
Tapi tidak apa-apa.
Namanya juga proses belajar berdamai dengan diri sendiri.
Kalau suatu hari nanti aku benar-benar berhasil konsisten menjalani pola makan yang lebih sehat, aku pasti akan datang lagi ke blog ini dan tertawa mengingat tulisan ini.
Kalau ternyata belum berhasil juga...
Ya sudah.
Mungkin aku akan menulis artikel berikutnya dengan judul, "Dietku Masih Wacana, Episode Selanjutnya."
Semoga saja sebelum artikel itu terbit, aku sudah berhasil berdamai dengan sambal dan secangkir kopi moccachino yang sampai hari ini masih sering menang melawan niat dietku.
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar