![]() |
| Aku tidak lagi melihat layangan dengan takut. Kini aku hanya melihatnya sebagai pelajaran hidup - Blog Cerita Kemuning |
Kadang yang ingin memegang benang hidup kita datang sambil membawa senyum.
Kalau dipikir-pikir sekarang, aku sering ketawa sendiri.
Bukan karena masa laluku lucu. Justru setelah semuanya berlalu, aku baru sadar kalau pola mereka hampir sama. Bedanya cuma bungkusnya.
Ada yang romantis.
Ada yang agamis.
Ada yang kelihatannya paling dewasa.
Ada juga yang datang dengan semangat ingin menjadi pahlawan.
Kalau dibuka satu per satu, isinya kok ya mirip. Rasanya seperti beli gorengan di warung yang berbeda, eh ternyata minyaknya masih saudaraan.
Dulu aku tipe perempuan yang betah di rumah. Lebih suka menghabiskan waktu di rumah daripada keluyuran. Aku juga bukan tipe yang gampang akrab dengan semua orang. Tapi kalau sudah nyaman, ya... bisa cerewet sampai lupa waktu.
Mungkin karena itu aku terlihat "aman" di mata sebagian orang.
Atau... kelihatan seperti perempuan yang mudah diatur?
Entahlah.
Yang jelas, ada satu kalimat yang ternyata sering sekali mampir di hidupku.
"Kalau butuh apa-apa bilang aja sama aku."
Kalimat itu sebenarnya indah.
Tidak ada yang salah.
Kalau diucapkan dengan tulus, itu bentuk perhatian.
Masalahnya, kadang setelah kalimat itu muncul bab lanjutan yang tidak tertulis.
Pelan-pelan kita dibuat terbiasa meminta bantuan.
Pelan-pelan dibuat merasa tidak mampu.
Pelan-pelan dibuat berpikir bahwa tanpa dia, hidup akan berantakan.
Sampai akhirnya hubungan itu terasa seperti layangan.
Masih bisa terbang.
Tapi arah anginnya bukan kita yang menentukan.
Yang memegang benangnya orang lain.
---
Aku pernah punya pasangan yang sering berkata, "Kamu kan sudah dewasa."
Aku mengangguk.
Lalu disambung lagi, "Harusnya kamu sudah mikir mandiri."
Aku mengangguk lagi.
Tapi beberapa saat kemudian muncul kalimat berikutnya.
"Kalau ada apa-apa bilang aja sama aku."
Awalnya terdengar seperti perhatian.
Lama-lama aku sadar, ada yang terasa janggal.
Aku diminta mandiri.
Tapi juga diajak bergantung.
Kalau dipikir sekarang, lucu juga.
Aku ini orang dewasa, tapi rasanya seperti mau beli cilok saja harus dapat restu kerajaan.
Capek.
Akhirnya aku memilih pergi.
---
Beberapa tahun kemudian...
Eh, ketemu lagi pola yang hampir sama.
Versi ini lebih halus.
Lebih rapi.
Lebih religius.
Bahasanya penuh nasihat.
Aku sempat berpikir, "Mungkin kali ini berbeda."
Ternyata tidak.
Di depan banyak orang, dia terlihat baik.
Di belakang layar, aku justru lebih sering diminta memahami keadaan, menjaga perasaan, menjaga citra, bahkan menjaga image.
Lucunya...
Yang diminta menjaga image bukan yang punya image.
Aku.
Sampai suatu hari aku diberi pilihan.
Kalau mau lanjut, ya terima semuanya.
Kalau tidak mau, ya sudah.
Aku pulang tanpa banyak bicara.
Beberapa waktu kemudian, aku memilih mengakhiri hubungan itu.
Lalu muncul kalimat yang sampai sekarang masih kuingat.
"Kamu nggak kasihan sama aku?"
Aku sempat terdiam.
Lalu dalam hati berpikir...
Kalau hubungan hanya bertahan karena rasa kasihan, itu namanya bukan cinta.
Itu program donasi.
---
Lalu hidup membawaku ke pernikahan.
Aku berharap kali ini ceritanya berbeda.
Ternyata...
Ya sudahlah.
Ada bab dalam hidup yang cukup dibaca sekali saja.
Tidak perlu diulang.
Aku memilih mengakhiri pernikahan itu.
Berat?
Jelas.
Menyesal?
Tidak.
Karena ada satu hal yang lebih menyakitkan daripada perpisahan.
Yaitu kehilangan diri sendiri sedikit demi sedikit.
---
Setelah sekian lama sendiri, ternyata tetap saja ada yang datang.
Dan lucunya...
Kalimat pembukanya masih terasa familiar.
Saat aku berkata, "Ya sudah, temenan saja."
Jawabannya bukan, "Baik, aku menghargai keputusanmu."
Melainkan...
"Yakin nggak bakal nyesel nolak aku?"
Aku membaca pesan itu.
Lalu senyum kecil.
Bukan karena ingin mengejek.
Tapi karena rasanya seperti mendengar lagu lama diputar lagi.
Dulu mungkin aku akan bingung.
Sekarang?
Aku cuma bergumam, "Wah... naskahnya ternyata masih dipakai."
---
Dari semua pengalaman itu, aku belajar satu hal.
Manipulasi tidak selalu datang dengan bentakan.
Kadang justru datang memakai senyuman.
Kadang dibungkus perhatian.
Kadang dibalut kata-kata manis.
Kadang memakai embel-embel, "Demi kebaikanmu."
Yang paling sulit dikenali adalah ketika kita dibuat merasa semua keputusan ada di tangan kita.
Padahal pilihannya sudah diarahkan.
Kalimat favoritnya biasanya begini.
"Terserah kamu."
Tapi ketika kita benar-benar memilih...
Muncullah jurus pamungkas.
"Kasihan aku."
"Kamu bakal nyesel."
"Kamu belum kenal aku."
"Kamu egois."
Kalau sudah begini, aku malah ingin bertanya sambil senyum.
"Lho... tadi katanya terserah aku?"
---
Sekarang aku tidak lagi marah pada masa lalu.
Aku juga tidak membenci mereka.
Setiap orang punya cerita.
Punya luka.
Punya cara masing-masing menjalani hidup.
Aku tidak ingin menjadi hakim bagi siapa pun.
Aku hanya bersyukur karena akhirnya belajar sesuatu yang sangat berharga.
Bahwa cinta tidak seharusnya membuat kita kehilangan suara.
Bahwa pasangan bukan pemegang remote hidup kita.
Bahwa bantuan itu indah, selama tidak dijadikan tali pengikat.
Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling berkuasa.
Melainkan dua orang yang sama-sama berjalan, tanpa saling menyeret.
---
Aku juga pernah bertanya kepada Allah SWT.
"Ya Allah... apa aku memang tidak beruntung soal pasangan?"
Jawabannya tidak datang dalam bentuk suara.
Tetapi pelan-pelan aku mengerti.
Mungkin Allah SWT bukan sedang menghukumku.
Mungkin Allah SWT sedang mengajariku mengenali manusia.
Dulu aku mudah percaya.
Sekarang aku belajar mengamati.
Dulu aku mudah tersentuh oleh kata-kata.
Sekarang aku lebih melihat tindakan.
Karena kata-kata bisa disusun seindah puisi.
Tetapi sikap... hampir selalu berkata jujur.
---
Kalau hari ini ada yang bertanya, "Apa kamu kapok mengenal orang baru?"
Jawabanku sederhana.
Tidak.
Aku hanya tidak ingin lagi menjadi layangan.
Aku ingin berjalan berdampingan.
Bukan ditarik.
Bukan diarahkan.
Bukan diterbangkan sesuka hati orang lain.
Kalau memang nanti Allah SWT mempertemukan dengan seseorang yang tepat, semoga dia datang bukan untuk memegang benang hidupku.
Melainkan menggenggam tanganku.
Karena ternyata, tangan yang saling menggenggam jauh lebih menenangkan daripada benang yang terus-menerus ditarik ulur.
Dan buat kamu yang mungkin diam-diam pernah mengalami cerita yang mirip denganku...
Percayalah.
Menjadi betah di rumah bukan berarti lemah.
Menjadi lembut bukan berarti mudah diatur.
Dan memilih pergi dari hubungan yang tidak sehat bukan berarti kalah.
Kadang, itu justru kemenangan paling sunyi yang hanya kita dan Allah SWT yang benar-benar tahu.
Oh ya...
Kalau ada yang masih penasaran kenapa aku betah di rumah, jawabannya sederhana.
Di rumah ada teh hangat, kasur empuk, dan ketenangan.
Sementara di luar... kadang ada yang datang bawa bunga, tapi diam-diam lagi nyari benang layangan. 😄
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar