Memilih Menghindar Bukan Berarti Takut

Ilustrasi semi-lukisan perempuan berambut merah duduk termenung di kursi ayunan balkon saat senja, mengenakan gaun hijau stabilo dengan latar langit jingga dan pot-pot kaktus.
Kadang, jalan memutar bukan tanda takut. Itu hanya cara menjaga hati agar tetap tenang - Blog Cerita Kemuning


Jalan Memutar Demi Hati yang Lebih Tenang


Pernah nggak sih, baru lihat wajah seseorang beberapa detik saja, eh... baterai kesabaran langsung turun dari 100% jadi mode hemat daya?

Aku pernah.

Bukan karena masih ada rasa. Tenang, ini bukan sinetron yang mantan datang sambil hujan-hujanan. Justru kebalikannya. Rasanya seperti lihat notifikasi tagihan pas saldo lagi senyum tipis.

Ada orang yang kalau muncul, otak langsung memutar ulang semua kenangan yang pengin dilupakan. Bukan karena dia penting, tapi karena jejak kelakuannya masih membekas.

Akhirnya aku mengambil keputusan yang menurutku paling waras.

Kalau masih ada jalan lain, ya ambil jalan lain.

Iya, sesederhana itu.

Dulu aku mengira menghindar itu tanda kalah. Sekarang aku sadar, menghindar dari orang yang membawa energi negatif itu sama pentingnya seperti menghindari gorengan kalau minyaknya sudah hitam pekat. Bukan takut, tapi tahu risikonya.

Lagian, hidup ini sudah cukup bikin pusing. Masa iya kita sengaja antre buat tambah pening?

Yang lucu, kadang masih ada saja orang yang merasa dirinya pusat semesta.

Baru melirik sedikit, sudah merasa semua orang pasti senang diperhatikan.

Maaf ya...

Tidak semua tatapan itu membuat orang berbunga-bunga. Ada juga yang justru bikin seseorang dalam hati berkata, "Ya Allah, semoga habis ini kami tidak satu arah lagi."

Aku belajar satu hal.

Tidak semua hubungan harus dipelihara hanya karena ada embel-embel keluarga, kenalan lama, atau tetangga.

Kalau kehadiran seseorang lebih banyak membawa rasa tidak nyaman daripada manfaat, menjaga jarak bukan dosa.

Itu bentuk menjaga diri.

Sebagai perempuan, apalagi seorang ibu, aku lebih memilih menyimpan tenagaku untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Anak.

Pekerjaan.

Rumah.

Masa depan.

Bukan untuk meladeni orang yang bahkan kehadirannya saja sudah mengganggu ketenangan hati.

Dan ada satu hal yang menurutku masih sering salah dipahami masyarakat.

Kalau melihat perempuan yang sudah menyandang status janda, sebagian orang mendadak merasa punya hak untuk memandang seenaknya, bercanda seenaknya, bahkan menggoda tanpa diminta.

Entah siapa yang mengajarkan logika seperti itu.

Status janda bukan undangan terbuka untuk bersikap kurang ajar.

Janda juga manusia.

Punya batas.

Punya harga diri.

Punya hak untuk merasa tidak nyaman.

Kalaupun memang ada perempuan yang suka menggoda laki-laki, ya itu urusan pribadi orang tersebut.

Sama seperti laki-laki.

Ada yang sopan.

Ada yang tidak.

Tidak adil kalau karena ulah segelintir orang, semua janda kemudian diberi cap yang sama.

Padahal kenyataannya, banyak janda yang justru sedang sibuk bekerja, membesarkan anak, memperbaiki hidup, dan berusaha bertahan tanpa merepotkan siapa pun.

Mereka tidak sedang mencari perhatian.

Mereka hanya sedang menjalani kehidupan.

Jadi kalau suatu hari kalian melihat seorang janda memilih memutar jalan, diam, atau menghindari seseorang, jangan buru-buru menyebutnya sombong atau penakut.

Bisa jadi itu bukan karena ia lemah.

Bisa jadi ia sudah terlalu lelah menghadapi orang-orang yang tidak tahu cara menghargai batas.

Menurutku, kedewasaan bukan selalu soal berani menghadapi.

Kadang, kedewasaan adalah tahu kapan harus pergi.

Toh tidak semua pertarungan layak dimenangkan.

Ada yang lebih indah.

Yaitu pulang dengan hati yang tetap tenang.

Kalau kamu bertanya, "Apa salahnya memilih jalan memutar?"

Jawabanku sederhana.

Tidak ada.

Karena jalan memutar kadang bukan tentang menghindari seseorang.

Melainkan tentang menjaga diri sendiri.

Sekarang aku ingin bertanya kepada kalian.

Kalau ada seseorang yang kehadirannya hanya membawa rasa tidak nyaman, apakah kita masih wajib menyapanya hanya demi terlihat sopan?

Dan satu hal lagi...

Jangan pernah menganggap status janda sebagai alasan untuk merendahkan, menggoda, atau memandang perempuan dengan sebelah mata.

Sebab status hanyalah bagian dari perjalanan hidup.

Yang menentukan nilai seseorang tetaplah akhlaknya.

Tidak semua janda pandai menggatal.

Tapi semua manusia seharusnya pandai menjaga adab.


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar