![]() |
| Ibu yang termenung ditemani gerimis, sementara putrinya terlelap dengan tenang. 🌧️💚 - Blog Cerita Kemuning |
Belajar Berteman, Belajar Mengerti, dan Belajar Bahwa Tidak Semua Keinginan Harus Dituruti
Ternyata menjadi ibu itu bukan cuma soal memastikan anak makan, mandi, tidur, dan tidak memasukkan benda aneh ke mulut. 😠Ada satu hal yang diam-diam juga harus diperhatikan: pergaulan anak.
Anakku masih 5 tahun. Sementara beberapa teman bermainnya sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Kelihatannya sepele, cuma anak-anak main bersama. Tapi ternyata usia dan kematangan mereka berbeda.
Anakku masih moody-an. Namanya juga anak 5 tahun. Di rumah pun tidak punya saingan. Jadi kalau menginginkan sesuatu, kadang maunya dituruti. Kalau tidak dituruti, ekspresinya bisa berubah secepat cuaca. Lima menit lalu tertawa, lima menit kemudian sudah seperti pemeran utama sinetron yang baru kehilangan warisan. ðŸ˜
Tapi tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia berpikir bahwa semua orang harus mengikuti kemauannya.
Aku menasihatinya perlahan. Tidak dengan bentakan atau ceramah panjang yang mungkin masuk telinga kanan lalu keluar lewat pintu belakang. Aku berusaha menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin bahwa kalau bermain bersama teman, kita harus belajar bergantian, mendengarkan, meminta maaf, dan menerima kalau keinginan kita tidak selalu dituruti.
Karena menurutku, kemampuan bersosialisasi itu juga perlu dilatih sejak kecil.
Dan ternyata bukan hanya anakku yang perlu belajar.
Suatu hari, aku sedang duduk manis menunggu anak bermain. Lalu aku melihat ada anak yang menjahili temannya. Sandalnya disembunyikan oleh dua anak lain.
Buatku, jahil dan bercanda itu dua hal yang berbeda.
Bercanda seharusnya membuat semua orang tertawa. Kalau hanya satu pihak yang tertawa sementara yang lain bingung, kesal, atau bahkan menangis, menurutku itu sudah bukan bercanda lagi.
Akhirnya aku tunjukkan di mana sandalnya.
Sederhana saja.
Aku tidak punya niat mengambil hati anak-anak itu. Tidak sedang mencari simpati. Tidak juga ingin dianggap sebagai ibu paling baik sedunia. Aku cuma berpikir, kalau yang dijahili itu anakku, aku tentu berharap ada orang dewasa yang mau membantunya.
Sesederhana itu.
Tapi eh, tapi, tapi, tapiiii...
Besoknya, ketiga anak itu, termasuk anak yang kemarin aku tunjukkan letak sandalnya yang disembunyikan oleh dua temannya, malah ikut-ikutan membuang muka kepadaku.
Yang biasanya berkata "permisi", kali ini lewat begitu saja.
Aku sampai berpikir, Lho? Sandal siapa yang kemarin aku selamatkan dari persembunyian berjamaah? 😂
Aku tidak meminta dihormati secara berlebihan. Tidak meminta mereka menyapa aku setiap bertemu. Apalagi sok akrab.
Namun jujur, hatiku terasa ngenes.
Mereka masih kecil.
Aku malah merasa kasihan.
Karena kalau benar mereka sudah mulai belajar bahwa kebaikan orang dewasa bisa dibalas dengan menjauh hanya karena sesuatu yang tidak mereka sukai, aku justru berharap mereka mendapatkan lingkungan yang mengajarkan hal berbeda.
Yang lebih membuatku sedih adalah ketika anak-anak seusia itu sudah mulai bisa saling memengaruhi dengan cara yang kurang baik.
Aku pun hanya bisa menghela napas.
Naudzubillahimindalik.
Semoga bukan itu yang menjadi kebiasaan mereka.
Aku tidak mau membesar-besarkan kejadian kecil. Anak-anak masih belajar. Mereka masih sangat muda dan masih mungkin salah memahami banyak hal.
Mungkin hari ini mereka belum mengerti.
Mungkin besok mereka akan mengerti.
Dan mudah-mudahan, semakin bertambah usia, semakin bertambah pula pengetahuan mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang pikirannya terbuka, hatinya luas, dan mampu memahami bahwa tidak semua orang akan selalu berada di posisi yang sama.
Sebab hidup ini seperti roda.
Hari ini kita mungkin berada di atas. Besok bisa saja di bawah. Hari ini kita dibantu. Besok mungkin kita yang harus membantu orang lain.
Dan untuk anakku sendiri, aku hanya punya satu doa sederhana:
Semoga Allah menjauhkanmu dari pertemanan yang membuatmu kehilangan kebaikan dalam dirimu. Dan semoga kamu tidak pernah menjadi seperti orang yang menyakiti atau merendahkan orang lain.
Bukan berarti kamu harus menjauhi semua orang.
Bukan pula berarti kamu harus membalas perlakuan buruk dengan perlakuan buruk.
Belajarlah tetap baik, tetapi juga belajar mengenali batas.
Karena menjadi anak baik bukan berarti harus selalu mengalah.
Dan menjadi orang dewasa yang peduli juga bukan berarti harus disukai semua orang.
Aku pun belajar dari kejadian kecil ini.
Kadang niat kita tulus, tetapi tetap bisa disalahpahami. Tidak apa-apa.
Yang penting Allah tahu niat kita.
Untuk anak-anak itu, semoga hati kalian selalu bahagia dan penuh syukur. Semoga pikiran kalian semakin terbuka, pengetahuan kalian semakin luas, hidup kalian dipenuhi kebaikan, dan langkah kalian selalu diberi keberuntungan.
Aamiin.
Dan untuk anakku...
Semoga kamu tumbuh menjadi manusia yang baik, tetapi tidak polos. Lembut, tetapi tidak mudah dipermainkan. Pemaaf, tetapi tahu kapan harus menjaga jarak.
Karena dunia ini luas, Nak.
Temanmu akan banyak.
Tidak semuanya baik.
Tidak semuanya buruk.
Dan tugas Ibu bukan memilihkan seluruh temanmu sampai kamu dewasa, melainkan membekalimu supaya kelak kamu mampu memilih sendiri mana yang layak kamu pertahankan. ❤️
---
Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar