Ada Hari Saat Aku Tidak Ingin Melakukan Apa Pun

Ilustrasi semi lukisan seorang ibu berambut merah dan putrinya duduk santai di beanbag biru aqua sambil berbincang hangat di sudut balkon rumah.
Kadang, mendengarkan dengan tenang adalah bentuk cinta yang paling sederhana. 💙🌼 - Blog Cerita Kemuning


Kadang aku cuma ingin jadi manekin yang dipajang di etalase, diam, cantik, dan tidak ditanya apa-apa.


Pernah gak sih, bangun tidur, badan sebenarnya gak pegal, gak sakit, gak habis maraton, tapi rasanya... "aduh, hari ini jangan suruh aku jadi manusia dulu, deh."

Aku lagi pengen jadi manekin.

Berdiri? Bisa.

Duduk? Bisa.

Senyum? Ya, kalau diatur.

Disuruh mikir? Nah... jangan dulu.

Kalau dulu, sebelum ada Seruni, aku benar-benar bisa menghilang dari dunia. Dari matahari masih semangat menyinari bumi sampai dia capek dan pulang, bahkan sampai besok paginya lagi, aku bisa tetap di kamar. Bukan karena lagi sedih. Bukan juga habis dimarahi siapa-siapa.

Aku cuma... diam.

Bahkan HP kadang cuma jadi pajangan. Mau buka media sosial malas. Mau nonton malas. Mau baca malas. Mau tidur juga belum tentu tidur. Ya pokoknya lagi ingin diam saja.

Aneh ya?

Padahal kalau dipikir-pikir, otakku tetap berisik.

Lucunya, badanku sedang diam, tapi isi kepala malah rapat RT tanpa notulen.

Ada suara yang ngomong nanti harus begini.

Ada yang ngingetin belum itu.

Ada yang tiba-tiba ingat kejadian lima tahun lalu yang sebenarnya gak penting.

Ada yang mengkhayal kalau besok tiba-tiba jadi miliarder.

Pokoknya lengkap.

Makanya aku sering bilang, aku ini bukan sedang capek badan. Otakku saja yang sedang bilang, "Aku izin rebahan dulu ya."

Dulu aku bisa menuruti mode itu sesuka hati.

Sekarang?

Sekarang ada Seruni.

Jadi walaupun aku sedang mode mute, dunia tetap berjalan.

Seruni tetap bangun.

Seruni tetap lapar.

Seruni tetap ngajak ngobrol.

Seruni tetap bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang sederhana, tapi di kepalaku yang sedang loading rasanya seperti soal ujian nasional.

"Mama, kenapa awan jalan?"

Di kepala normal mungkin langsung muncul jawaban.

Di kepala yang lagi mode manekin?

"..."

CPU sedang memproses.

Loading 3%...

Loading 7%...

Loading gagal.

Untungnya anak-anak itu sabar. Kadang mereka malah sudah sibuk sendiri sebelum jawaban kita selesai dipikirkan.

Lalu waktunya makan.

Waktunya mandi.

Waktunya ngaji.

Waktunya menemani cerita yang isinya bisa loncat dari kucing, es krim, dinosaurus, sampai tiba-tiba bertanya apakah semut punya ibu.

Dan aku tetap menjalaninya.

Pelan-pelan.

Walaupun otakku sedang seperti komputer jadul yang kebanyakan membuka tab.

Banyak orang mengira kalau sedang seperti ini berarti sedang malas.

Mungkin iya.

Atau mungkin tidak juga.

Aku sendiri tidak tahu.

Yang aku tahu, kalau memang sudah mulai mengerjakan sesuatu, aku akan serius mengerjakannya.

Makanya aku tidak terlalu khawatir.

Karena fase ini selalu datang, lalu pergi lagi.

Besok atau lusa biasanya aku sudah bisa heboh lagi.

Sudah bisa semangat bikin artikel.

Sudah bisa ketawa sendiri.

Sudah bisa punya ide sampai bingung mau nulis yang mana dulu.

Makanya sekarang aku tidak terlalu melawan.

Aku membayangkan diriku sedang mengapung di sungai.

Aku bisa berenang.

Aku tahu caranya.

Tapi hari ini aku sedang ingin mengapung saja.

Mengikuti arus sebentar.

Mendengar suara air.

Merasakan angin.

Tidak sedang menyerah.

Tidak sedang tenggelam.

Hanya sedang memberi kesempatan pikiranku untuk tidak sibuk menjadi pahlawan setiap hari.

Bukankah alam juga begitu?

Pohon tidak selalu berbunga.

Langit tidak selalu biru.

Angin tidak selalu kencang.

Kadang semuanya mengambil jedanya masing-masing.

Mungkin manusia juga begitu.

Apalagi perempuan.

Mood bisa berubah hanya karena hormon sedang rapat bulanan.

Belum lagi musim kemarau yang panasnya seperti matahari sedang balas dendam kepada genteng rumah.

Ditambah angin yang bertiup ke mana-mana.

Entah kenapa, suasana seperti ini bikin aku ikut melambai-lambai seperti daun mangga.

Kadang semangat.

Kadang ingin rebahan.

Kadang ingin minum es.

Kadang ingin kaya raya.

Yang terakhir itu kayaknya permanen.

Kalau dipikir-pikir lucu juga ya.

Dulu aku bisa diam seharian karena memang tidak ada yang memanggil.

Sekarang, walaupun ingin diam, tetap ada satu suara kecil yang memanggil,

"Mamaaa..."

Dan anehnya, suara itu justru yang membuatku tetap bergerak.

Bukan bergerak dengan penuh semangat seperti tokoh utama film aksi.

Lebih mirip NPC yang sedang menjalankan misi harian.

Pelan.

Sederhana.

Tapi tetap maju.

Aku tidak sedang mengeluh.

Aku baik-baik saja.

Aku hanya sedang berada di hari ketika pikiranku ingin memakai mode hemat daya.

Besok mungkin sudah normal lagi.

Kalau belum juga?

Ya tidak apa-apa.

Kita jalani saja.

Nikmati saja.

Syukuri saja.

Karena hidup ini ternyata tidak selalu soal berlari sekencang mungkin.

Kadang hidup juga mengajarkan bahwa diam sebentar bukan berarti kalah.

Mengapung sebentar bukan berarti tenggelam.

Dan menjadi manusia yang sedang "mute" sesaat bukan berarti kehilangan arah.

Siapa tahu, setelah cukup diam, kita justru menemukan tenaga baru untuk kembali berenang.

Jadi... ada yang sama sepertiku?

Atau jangan-jangan, kalian juga pernah diam menatap tembok lima belas menit, lalu lupa sebenarnya sedang memikirkan apa?


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar