Kali Ini Aku Tidak Akan Main-Main Memilih Pasangan Hidup

Ilustrasi semi lukisan perempuan berambut merah duduk di meja kerja sambil memandang taman bunga dari balkon, dengan kertas-kertas dan pena di atas meja.
Kadang yang berubah bukan kemampuan untuk mencintai, melainkan keberanian untuk memilih siapa yang pantas tinggal - Blog Cerita Kemuning


Karena Aku Tidak Lagi Berjalan Sendiri


Ada masa ketika seseorang memilih pasangan hanya karena merasa cocok. Ada juga yang memilih karena sedang jatuh cinta. Bahkan ada yang memilih hanya karena takut sendirian.

Aku pernah berada di fase itu. Fase ketika hati lebih sering berbicara daripada logika. Ketika kata-kata manis terdengar seperti janji masa depan. Ketika perhatian kecil terasa seperti bukti keseriusan.

Tapi hidup ternyata guru yang cukup tegas.

Sekarang, di usiaku yang sudah tidak lagi belasan atau awal dua puluhan, aku tidak punya kemewahan untuk sekadar mencoba-coba. Aku tidak punya waktu untuk menebak-nebak isi hati seseorang. Aku juga tidak ingin menghabiskan energi pada laki-laki yang bahkan belum tahu apa tujuan kedatangannya.

Kalau ingin datang, datanglah dengan niat yang jelas.

Kalau hanya ingin mengisi waktu luang, maaf... aku sudah terlalu sibuk membangun masa depan.

Bukan hanya masa depanku.

Tapi juga masa depan Seruni.

Karena hidupku sekarang bukan lagi tentang "aku", melainkan tentang "kami."


---


Aku Tidak Lagi Mencari Rama-Rama


Dulu mungkin aku masih bisa tertawa mendengar rayuan receh. Masih bisa menganggap candaan-candaan yang sedikit menggoda sebagai sesuatu yang lucu.

Sekarang?

Entah kenapa justru terasa melelahkan.

Laki-laki yang terlalu banyak bercanda soal hubungan intim atau seks sejak awal perkenalan bukan lagi tipe yang menarik bagiku.

Bukan karena aku tidak punya selera humor.

Justru karena aku tahu ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan.

Bagaimana cara membangun keluarga.

Bagaimana menyelesaikan masalah.

Bagaimana menghargai perempuan.

Bagaimana menjadi ayah.

Bagaimana bertanggung jawab.

Bagiku, kedewasaan seseorang sering terlihat dari apa yang ia pilih untuk dijadikan bahan obrolan.

Kalau dari awal isi pembicaraannya sudah ke arah yang membuatku tidak nyaman, mungkin memang kami tidak berada di jalan yang sama.


---


Aku Tidak Butuh Laki-Laki yang Masih Bingung dengan Hidupnya


Mungkin terdengar cukup tegas.

Tapi memang begitu adanya.

Aku tidak ingin membangun rumah bersama seseorang yang bahkan belum selesai membangun dirinya sendiri.

Aku ingin mengetahui pekerjaannya.

Aku ingin tahu bagaimana ia bertanggung jawab terhadap hidupnya.

Aku ingin melihat apakah ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Bukan karena aku mengejar kemewahan.

Aku hanya ingin melihat kesungguhannya.

Bagiku, pekerjaan bukan tentang gengsi.

Penghasilan bukan tentang pamer.

Tetapi keduanya adalah bentuk tanggung jawab.

Laki-laki yang bekerja dengan sungguh-sungguh, berusaha mencari nafkah dengan cara yang baik, selalu memiliki nilai lebih di mataku.

Karena keluarga tidak dibangun hanya dengan kata "sayang".

Rumah tangga juga membutuhkan usaha, kerja keras, dan tanggung jawab.


---


Mendekatiku Berarti Siap Menerima Seruni


Inilah bagian yang tidak bisa ditawar.

Aku datang bersama Seruni.

Kami satu paket.

Tidak ada istilah hanya mencintaiku tetapi mengabaikan anakku.

Kalau seseorang ingin mengenalku lebih jauh, maka ia juga harus siap mengenal dunia kecil yang paling berharga dalam hidupku.

Seruni bukan penghalang.

Ia justru alasan terbesar mengapa aku semakin berhati-hati.

Aku ingin seseorang yang ketika melihatku, ia juga melihat masa depan bersama Seruni.

Seseorang yang tidak merasa terganggu dengan keberadaan anakku.

Seseorang yang tidak sekadar menerima, tetapi benar-benar menyayanginya.

Karena bagaimanapun juga, Seruni adalah bidadari kecil yang Allah SWT titipkan kepadaku.

Dan titipan itu akan selalu menjadi prioritas utamaku.


---


Tidak Ada Lagi Kode-Kode


Aku sudah lelah dengan hubungan yang isinya saling menebak.

Tidak ada lagi kode-kode.

Tidak ada lagi tarik ulur.

Tidak ada lagi pura-pura tidak peduli.

Kalau memang serius, katakan serius.

Kalau memang ingin mengenalku untuk tujuan baik, sampaikan baik-baik.

Aku lebih menghargai kejujuran daripada permainan perasaan.

Karena usia mengajarkan satu hal.

Yang benar-benar ingin tinggal, tidak akan membuatmu bingung.


---


Aku Mencari Rumah, Bukan Roller Coaster


Aku tidak sedang mencari hubungan yang penuh drama.

Aku tidak sedang mencari laki-laki yang membuat jantung berdebar karena ketidakpastian.

Aku mencari ketenangan.

Rumah.

Tempat pulang.

Seseorang yang ketika berbicara membuatku merasa aman.

Yang ketika berjanji benar-benar berusaha menepatinya.

Yang ketika berkata "aku ada", benar-benar hadir.

Karena cinta yang dewasa ternyata tidak selalu gaduh.

Sering kali justru tenang.


---


Ada Beberapa Hal yang Tidak Bisa Aku Tawar Lagi


Kalau ditanya seperti apa laki-laki yang akan sangat aku pertimbangkan menjadi suami, jawabanku sederhana.

Bukan harus paling tampan.

Bukan harus paling kaya.

Tetapi ia harus memiliki hati yang baik.

Tidak pelit.

Punya pekerjaan yang jelas.

Bertanggung jawab.

Tulus.

Menyayangiku.

Menyayangi Seruni.

Menghormati keluargaku tanpa membiarkan keluarganya mengendalikan seluruh keputusan hidupnya.

Aku percaya seorang laki-laki tetap harus berbakti kepada orang tuanya.

Itu hal yang mulia.

Tetapi ketika nanti membangun rumah tangga, ia juga harus mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya sendiri.

Bukan sekadar mengikuti semua keputusan orang lain.

Karena rumah tangga akan sulit bertumbuh jika kemudinya selalu dipegang banyak tangan.


---


Aku Tidak Takut Hidup Sederhana


Banyak orang mungkin mengira aku sedang mencari laki-laki mapan karena takut hidup susah.

Padahal bukan itu.

Aku tidak takut memulai dari nol.

Aku juga tidak takut hidup sederhana.

Yang aku takutkan adalah hidup tanpa arah.

Aku takut menjalani rumah tangga bersama seseorang yang tidak punya tanggung jawab.

Aku takut melihat anakku tumbuh dalam ketidakjelasan.

Aku takut mengulang luka yang seharusnya bisa dihentikan.

Karena pengalaman hidup membuatku sadar, cinta saja tidak selalu cukup.

Rumah tangga membutuhkan komitmen.

Kejujuran.

Kesetiaan.

Kerja keras.

Dan rasa saling menjaga.


---


Penutup


Kalau suatu hari nanti Allah SWT mempertemukanku dengan seseorang, semoga ia datang bukan hanya membawa bunga atau kata-kata indah.

Semoga ia datang membawa niat baik.

Membawa tanggung jawab.

Membawa ketenangan.

Dan membawa kasih sayang yang mampu memelukku sekaligus memeluk Seruni.

Kalau belum bertemu, tidak apa-apa.

Aku tidak sedang berlomba dengan usia.

Aku sedang menjaga masa depan.

Karena kali ini, aku benar-benar tidak akan main-main dalam memilih pasangan hidup.

Aku sudah belajar banyak dari perjalanan yang panjang.

Dan sekarang, yang aku cari bukan sekadar seseorang untuk mencintaiku.

Melainkan seseorang yang siap menjadi rumah bagi kami berdua.

Aku dan Seruni.


--- 


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.


--- 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar