Tarawih Pertama Runi, Hujan Doa, dan Jeda yang Diberi

Ilustrasi semi lukisan ibu muda dan anak perempuan duduk ceria di paviliun putih saat hujan malam, mengenakan busana biru dan kuning emas bermotif bunga, dengan masjid berkubah emas di seberang.
Tarawih pertama yang manis, lalu jeda karena sakit. Hujan turun, doa tetap naik - Blog Cerita Kemuning


Malam pertama Ramadan selalu punya rasa yang berbeda.

 

Udara seperti lebih pelan. Langit seperti lebih dalam. Lampu-lampu masjid menyala lebih terang dari biasanya, seakan ikut menyambut tamu agung yang datang setahun sekali.

 

Dan di rumah kecil kami, ada satu anak perempuan empat tahun yang paling heboh sendiri.

 

“Ma, nanti kita tarawih ya? Runi mau ikut!”

 

Matanya berbinar. Tangannya sibuk merapikan mukena kecilnya yang sebenarnya sudah rapi dari tadi. Anak kecil memang begitu. Antusiasnya murni, belum tercampur lelah dunia.

 

Aku tersenyum sambil mengangguk. Dalam hati, ada bahagia yang sulit dijelaskan. Ini momen yang sudah lama kubayangkan. Tarawih pertama Runi. Malam sebelum sahur pertama. Malam sebelum puasa pertama bagi umat Islam.

 

Rasanya seperti membuka lembaran baru.

 

Aku sendiri sudah menyiapkan niat jauh-jauh hari. Tahun ini, aku ingin membawa Runi setiap malam tarawih. Biar ia terbiasa. Biar ia tumbuh dengan kenangan berjalan ke masjid bersama ibunya. Biar ia tahu bahwa Ramadan bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga tentang mendekat.

 

Malam itu kami benar-benar berangkat.

 

Langit gelap, angin tipis, jalanan lebih ramai dari biasanya. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu tersenyum, bapak-bapak memakai sarung terbaiknya. Suasana yang selalu kurindukan.

 

Runi menggenggam tanganku erat. Kadang ia melompat kecil, kadang mendongak melihat lampu masjid.

 

Di dalam, saf perempuan sudah mulai terisi. Aku berdiri, Runi di sampingku. Rakaat pertama ia masih khusyuk. Rakaat berikutnya mulai bergerak sedikit. Tapi ia bertahan. Sampai selesai.

 

Aku menatapnya sambil tersenyum bangga.

 

“Runi kuat ya.”

 

Ia mengangguk puas, seolah baru saja menyelesaikan misi besar.

 

Malam itu pulang dengan hati penuh. Dalam hati aku berkata, “InsyaAllah, kita lakukan ini setiap malam.”

 

Ternyata rencana tinggal rencana.

 

Satu hari setelahnya, Runi mulai pilek. Awalnya cuma bersin kecil. Lalu hidungnya meler. Lalu batuk berdahak muncul, membuatnya terbangun tengah malam.

 

Sebagai ibu, aku sudah hafal siklusnya. Anak sakit dulu, ibunya menyusul kemudian.

 

Benar saja.

 

Runi batuk berdahak dan pilek. Aku? Dapat jatah batuk kering dan pilek.

 

Kalau Runi batuknya berbunyi berat, batukku seperti suara orang menelan duri. Tenggorokan perihnya bukan main. Setiap menelan terasa seperti ada serpihan kecil yang menggores.

 

Aku masih berusaha kuat. Dalam hati masih ingin memaksakan tarawih. Tapi tubuh mulai protes.

 

Subuh di bulan Ramadan datang lebih dini. Alarm berbunyi, badan terasa seperti baru tidur lima menit. Menyiapkan sahur dalam kondisi tenggorokan seperti tertusuk itu rasanya luar biasa.

 

Dan aku terlalu malas ke pasar pagi untuk beli jeruk nipis.

 

Jujur saja.

 

Akhirnya aku melakukan sesuatu yang mungkin tidak dilakukan ibu-ibu zaman dulu: beli jeruk nipis online.

 

Iya, teknologi menyelamatkan tenggorokan.

 

Begitu sampai, langsung kupotong. Kuperas ke sendok. Kutambahkan kecap manis. Ramuan klasik yang selalu jadi andalan.

 

Asamnya tajam. Manisnya lembut. Hangatnya terasa pelan-pelan turun ke tenggorokan.

 

Alhamdulillah.

 

Beberapa jam kemudian, aku sadar menelan air putih sudah tidak terasa seperti ditusuk lagi. Batuk memang belum hilang total, tapi jauh lebih ringan.

 

Kadang solusi itu sederhana. Bukan obat mahal. Bukan sirup warna-warni. Cukup jeruk nipis dan keyakinan bahwa Allah memberi kesembuhan lewat apa saja.

 

Belum selesai sampai di situ.

 

Tubuh yang sedang drop itu kedatangan tamu bulanan.

 

Haid.

 

Lengkap sudah paket Ramadan edisi tahun ini.

 

Aku tidak berpuasa beberapa hari. Badan terasa nyeri semua. Pinggang pegal. Kepala berat. Emosi pun ikut sensitif.

 

Runi juga masih pilek dan batuk, jadi kami memutuskan tidak tarawih lagi untuk beberapa malam berikutnya.

 

Di sinilah peran mama-ku menjadi cahaya.

 

Mama membantu menjaga Runi di rumah. Kadang Mama yang menemani main. Kadang Bapak yang menggendongnya. Bergantian. Tanpa banyak tanya.

 

Aku bisa beristirahat. Bisa rebahan tanpa rasa panik berlebihan.

 

Sebagai single mom, jujur saja, aku sering merasa harus kuat terus. Harus bisa semuanya sendiri. Harus sigap setiap waktu.

 

Tapi Ramadan kali ini mengajarkanku satu hal: menerima bantuan bukan berarti lemah.

 

Itu berarti kita sadar diri.

 

Aku duduk di kamar, mendengar suara azan Isya dari kejauhan. Ada sedikit rasa sedih. Tarawih yang baru sempat satu malam itu harus berhenti sementara.

 

Pahala Ramadan katanya dilipatgandakan. Ibadah bernilai dua kali lipat. Dan aku justru terbaring dengan batuk kering dan perut mulas.

 

Tapi kemudian aku berpikir ulang.

 

Bukankah sakit juga bagian dari takdir?

 

Bukankah perempuan yang haid memang diberi keringanan?

 

Bukankah Allah Maha Tahu isi hati?

 

Aku percaya, niat tetap dicatat.

 

Aku sudah melangkah di malam pertama bersama Runi. Sudah merasakan saf tarawih berdampingan dengannya. Sudah melihat ia berdiri kecil di sampingku.

 

Sisanya mungkin memang diminta untuk jeda.

 

Ada malam ketika Runi datang ke kasurku.

 

“Ma, Runi batuk lagi.”

 

Aku usap punggungnya. Kubisikkan doa. Di momen itu, rasanya ibadah bukan lagi berdiri lama di masjid. Tapi menjaga anak yang sakit dengan sabar.

 

Aku belajar bahwa Ramadan tidak selalu harus megah.

 

Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: segelas air putih yang akhirnya bisa kutelan tanpa perih. Tawa kecil Runi meski hidungnya merah. Tangan Mama yang menggantikan tugasku sebentar.

 

Aku juga belajar berdamai dengan rasa “tidak maksimal”.

 

Dulu, aku mungkin akan menyalahkan diri sendiri. Kenapa sakit di awal Ramadan? Kenapa tidak bisa lebih kuat? Kenapa tidak bisa tetap tarawih?

 

Sekarang aku lebih tenang.

 

Allah tidak butuh kita memaksakan diri sampai tumbang.

 

Ia ingin kita taat, bukan nekat.

 

Beberapa hari ini aku memang tidak puasa karena haid. Badan juga belum pulih betul. Tapi aku tetap berzikir. Tetap berdoa. Tetap mengajarkan Runi tentang Ramadan dengan caraku.

 

“Kalau sakit, kita istirahat ya. Biar nanti sehat lagi.”

 

Ia mengangguk.

 

Anak kecil belajar bukan dari ceramah panjang, tapi dari sikap ibunya.

 

Jika ibunya sabar, ia belajar sabar.

Jika ibunya menerima takdir, ia belajar ikhlas.

 

Aku berharap, sakit ini menjadi penggugur dosa. Setiap batuk, setiap nyeri, setiap malam tanpa tarawih, semoga dihitung sebagai penghapus kesalahan-kesalahan kecilku.

 

Aamiin.

 

Ramadan bukan lomba siapa paling rajin. Bukan juga panggung untuk terlihat paling kuat.

 

Ia adalah perjalanan pulang.

 

Dan kadang, perjalanan itu harus berhenti sebentar untuk menarik napas.

 

Tarawih pertama Runi sudah tercatat indah di hati kami. Malam-malam berikutnya mungkin diisi dengan tisu, minyak telon, jeruk nipis, dan istirahat panjang.

 

Tapi tidak apa-apa.

 

Masjid tetap berdiri. Kubahnya tetap bersinar. Ramadan tetap berjalan. Dan aku percaya, Allah melihat semuanya.

 

Melihat niat seorang ibu yang ingin membangun kenangan.

Melihat lelah yang disembunyikan.

Melihat doa-doa kecil yang dipanjatkan dalam sunyi kamar.

 

Jika nanti kami sehat, kami akan kembali melangkah ke masjid. Pelan-pelan. Tidak perlu heroik.

 

Karena yang terpenting bukan berapa banyak rakaat yang kita kumpulkan.

 

Tapi berapa tulus hati kita ketika diuji.

 

Ramadan tahun ini mungkin tidak sempurna menurut standarku.

 

Tapi mungkin justru sempurna menurut rencana-Nya.

 

Dan itu sudah cukup.

 

Aamiin.

 

---


Terima kasih sudah mau mampir membaca tulisanku. Aku masih belajar menulis, jadi aku sangat senang kalau ada yang betah baca sampai akhir. Kalau berkenan, tinggalkan komentar atau masukan ya, supaya aku bisa terus belajar dan membuat cerita yang lebih enak dibaca.

 

---

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar